Kemilau Cinta Alzarin

Kemilau Cinta Alzarin
Bab 35


__ADS_3

Alzarin sontak melepaskan tangan Argan yang menggenggamnya begitu mendengar suara Arion yang terlihat murka. Masalah hidupnya rumit dan kini akan semakin rumit dengan kehadiran Argan disana.


"Apa yang kalian lakukan, hah?! Dan kau? Kenapa bisa ada disini?" Arion menunjuk Argan dengan telunjuknya.


Namun Argan masih tetap tenang dan berdiri dari duduknya. "Aku hanya menjenguk Alza. Apa itu salah? Alza adalah salah satu karyawanku."


"Cih, karyawan? Dengan dalih itu kau berhak melakukan kontak fisik dengan istriku?!" Arion marah. Sungguh ia tak suka jika Alza dekat dengan orang lain. Seposesif dan obsesif itu Arion terhadapnya. Jika dulu dengan Dennis, maka sekarang dengan Argan.


"Hentikan, Mas!" Alza berusaha bangun dan menengahi kedua pria itu. Alza tahu seperti apa Arion. Orang yang akan melakukan segala hal dengan caranya sendiri tanpa memikirkan orang lain. Alza tak ingin orang baik seperti Argan terluka karena dirinya.


"Tuan Argan, sebaiknya Anda keluar dari sini. Saya baik-baik saja." Alza berucap formal karena tak ingin Arion makin murka.


"Baiklah. Saya pergi. Jika ada apa-apa hubungi saya saja." Tanpa melirik Arion, Argan pergi meninggalkan kamar rawat Alza.


Sementara Alza yang tak ingin membuat keributan, memilih untuk merebahkan diri lagi dan memejamkan mata.


"Sedekat itukah kalian berdua?" tanya Arion. Hatinya yang selalu dipenuhi obsesi terhadap Alza tak rela jika Alza didekati oleh orang lain. Alza hanya miliknya saja.


"Kami hanya dekat sebagai atasan dan bawahan." Alza memilih menjawab dengan mata terpejam.


"Lalu bagaimana dia bisa tahu kamu ada disini?"


"Aku tidak tahu. Kenapa tanya padaku?!"


"Alza!" Arion menarik tubuh Alza hingga berhadapan dengannya. "Jangan pernah bermain-main denganku, mengerti?!"


Air mata Alza luruh kembali. Ditatapnya pria yang katanya mencintainya. Pria yang katanya akan melindunginya. Pria yang akan setia bersamanya seumur hidup.


"Lepaskan aku, Mas... Tidak ada gunanya kita meneruskan hubungan ini. Lagi pula..." Suara Alza tercekat. Rasanya berat untuk mengakui jika dirinya telah kalah. Kalah dengan sebuah ego yang dimiliki Arion untuk jadi pewaris keluarga Nusantara.


"Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan. Jadi... Kita akhiri saja semuanya... Aku mohon..."


Arion mundur beberapa langkah. Tak percaya jika Alza berani berkata demikian di depannya. Ketika Arion akan mendekat kembali, sosok Falia masuk ke dalam kamar rawat inap Alza.


"Sebaiknya kakak keluar!" titah Falia karena geram dengan sikap kakaknya yang selalu membuat Alza menangis.


"Keluar kataku!" Suara Falia naik satu oktaf.


Tak ingin membuat Alza makin bersedih, Arion memilih keluar kamar. Falia menatap Alza lalu merengkuh tubuh rapuh kakak iparnya itu.


"Jangan takut! Ada aku disini!" Falia mengusap punggung Alza. "Sekarang istirahatlah! Ada aku yang akan menjagamu."


...***...


Argan duduk termenung di kamar rawat Oma Ratna. Sang Oma yang baru saja terbangun bingung melihat cucunya duduk diam seperti patung sambil memikirkan sesuatu.


"Ehem! Ngelamunin apa sih sampai segitunya!" tegur Oma Ratna.


"Oma? Oma sudah bangun?"


"Iya, seharian tiduran rasanya punggung Oma panas. Kamu kenapa tidak ke kantor? Kenapa malah masih disini?"

__ADS_1


"Aku mau nememin Oma aja disini. Lagian kalau di kantor aku juga gak akan fokus."


Oma Ratna mengernyit bingung. Pasti ada sesuatu yang terjadi. Begitulah pikirnya.


"Ada apa sih? Apa ini ... Tentang Alzarin?"


"Heh?! Bagaimana Oma tahu?"


Oma Ratna terkekeh. Akhir-akhir ini dunia cucunya memang dipenuhi dengan Alzarin. Setiap hari bercerita tentang wanita itu. Meski Oma Ratna merasa miris dengan nasib cucunya, tapi ia percaya jika suatu saat kebahagiaan pasti akan diraih cucunya.


"Ada apa lagi dengan Alza? Sini cerita sama Oma."


Argan menatap dinding yang menjadi penghalang dirinya dan Alza.


"Alza ada di kamar sebelah, Oma."


"Apa? Benarkah? Apa dia juga sakit?"


Argan mengangguk. "Dia juga khawatir dengan Oma."


"Kamu sudah bertemu dengannya?"


Argan kembali mengangguk. Oma Ratna bisa tahu kesedihan cucunya itu.


"Bersabarlah! Jika ada kesempatan untuk kalian berdua, pasti takdir akan mempertemukan kalian dalam keadaan yang berbeda."


...***...


Setelah bergelut dengan batinnya selama berada di rumah sakit, Alza memutuskan bicara dengan Arnis. Karena wanita itu yang paling mengerti tentang dirinya.


Alza merasa Arnis bagai ibu kandung yang selalu mendukung anaknya.


"Jika Jesly minta dinikahi oleh Mas Arya, maka... Aku sebaiknya mengalah, Ma. Aku gak sanggup berbagi. Apa lagi sikap Jesly yang selalu menekanku. Dia gak akan tinggal diam jika aku masih di rumah ini!"


Arnis menggenggam tangan Alza. "Bicarakan baik-baik dengan Arion. Meski Mama tak suka dengan keputusan Arion, tapi Mama tidak mau kehilangan kamu."


Alza tersenyum. Sepenting itukah dirinya untuk Arnis? Bolehkah Alza berbangga hati?


Alza memeluk Arnis. "Terima kasih Mama selalu mendukung aku. Mama selalu ada untuk aku..."


Dalam dekapan Arnis, Alza merasakan ketenangan dan kedamaian. Hatinya bergelitik nyaman dengan semua kehangatan Arnis tanpa tahu hubungan darah yang terikat diantara mereka.


...***...


Argan memanggil Alza untuk datang ke ruangannya. Sejak kejadian di rumah sakit, Argan tak lagi menyambangi kamar rawat Alza dan fokus pada kesembuhan sang Oma.


"Tuan memanggil saya?"


"Iya, Alza. Dan tolong jangan bicara formal padaku jika kita hanya berdua."


Alza mengacak pandangan sekeliling. Tak ada siapapun memang disana. "Tapi... Ini kan di kantor, Tuan."

__ADS_1


"Iya, tapi kan hanya ada kita berdua disini!"


Alza menundukkan pandangan. "Bagaimana kondisi Oma Ratna? Apa sudah membaik?"


"Hmm, sudah. Oma juga menanyakan kamu. Tapi maaf, aku tidak datang lagi ke kamar kamu..."


"Iya, aku paham kok. Aku juga gak mau ada salah paham antara Abang dan Mas Arya."


Argan tersenyum mendengar Alza memanggilnya abang. "Mm, meski sudah terlambat, aku ingin memberikan ini."


Argan menyodorkan kotak kado di depan Alza.


"Apa ini?"


"Itu kado ulang tahun untuk kamu."


"Eh? Tapi... Ulang tahun aku sudah lewat."


"Terima saja!"


Alza menggaruk tengkuknya. Rasanya tak percaya jika Argan akan memberinya sebuah kado di saat suaminya sendiri bahkan telah lupa hari ulang tahunnya.


Padahal dulu Arya adalah orang pertama yang selalu mengucap selamat pada Alza. Namun sekarang semua berubah. Manusia memang berubah. Dan Alza juga harus berubah.


"Apa aku pantas menerima ini?" tanya Alza setelah membuka kotak yang berisi kalung berlian dengan liontin inisial A itu.


"Tentu saja. Jika tidak bisa memakainya, kamu simpan saja."


Mata Alza berkaca-kaca. Ia sangat bahagia dan terharu dengan semua sikap hangat Argan padanya.


Argan yang melihat Alza menangis, bangkit dari duduknya dan menghampiri wanita itu. Tangannya terulur menyeka bulir-bulir bening yang mengalir di wajah pucat Alza.


"Kenapa malah menangis? Apa hadiah dariku kurang bagus?"


Alza terkekeh dalam tangisnya. Ia malah menggeleng. "Terima kasih. Terima kasih karena sudah sangat baik padaku. Aku merasa tidak pantas menerima se..."


Kalimat Alza terpotong ketika merasakan basahnya bibir Argan menyentuh keningnya. Alza terpejam merasakan sebuah gelombang bodoh yang takutnya akan membawanya kembali dalam kesengsaraan. Namun Alza menerimanya.


Alza seorang wanita normal. Diperlakukan begitu manis oleh pria pastinya membuat Alza sedikit tergoda dan ingin mendapat lebih.


"Bang Argan?" Alza akhirnya sadar dengan apa yang baru saja terjadi.


"Selamat ulang tahun, Alza."


Peduli setan dengan mereka yang sedang berada di kantor. Sebuah letupan tiba-tiba menggerakkan tangan Argan untuk kembali mengecup kening Alza. Sadar jika si empunya hanya diam dan menerima, Argan melanjutkan ke tahap yang lebih intens. Memeluk tubuh mungil itu dengan segenap rasa di hatinya.


"𝘼𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖𝙞𝙢𝙪, 𝘼𝙡𝙯𝙖. 𝘽𝙞𝙨𝙖𝙠𝙖𝙝 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙢𝙞𝙡𝙞𝙠𝙠𝙪?"


Alza terpejam dan merasakan hangatnya pelukan Argan yang menyentuh hingga ke relung hatinya. Salah. Ini salah. Hatinya berkata demikian. Namun rasa nyaman yang menjalari hati telah merobohkan pertahanan Alza. Tangannya terulur untuk membalas pelukan Argan. Bahkan Alza dengan beraninya menghirup aroma maskulin dari tubuh pria itu. Hanya satu kata. 𝘕𝘺𝘢𝘮𝘢𝘯.


𝙏𝙤𝙠 𝙏𝙤𝙠 𝙏𝙤𝙠

__ADS_1


Ketukan di pintu membuat dua insan yang sedang menempel tak berjarak itu mendadak saling melepaskan dan menjauh.


__ADS_2