Kemilau Cinta Alzarin

Kemilau Cinta Alzarin
Bab 48


__ADS_3

𝗚𝗲𝗱𝘂𝗻𝗴 𝗚𝗿𝘂𝗽 𝗗𝗦


"Tuan, saya sudah menemukan orang yang menyebarkan berita mengenai Nona Alza."


Ammar menghadap Argan setelah mendapat informasi dari anak buahnya.


Argan yang sedang memeriksa berkas di meja seketika mendongak menatap Ammar.


"Oh ya? Siapa pelakunya?"


Ammar menyerahkan sebuah map ke atas meja. Argan segera membukanya.


"Arzetta Pratama? Jadi dia yang menyebarkan gosip tentang Alza?"


Ammar mengangguk. "Benar, Tuan."


Argan mengusap dagunya. "Ini aneh. Kenapa dia melakukan ini pada Alza? Apa karena Arion? Apa dia masih menyukai Arion?"


"Lalu, apa tindakan yang harus saya ambil selanjutnya, Tuan? Apa kita akan langsung mengeksekusi dia?"


Argan menggeleng. "Jangan lakukan apapun! Aku akan bicarakan ini dengan Alza lebih dulu. Sekarang kau kembalilah bekerja!"


"Baik, Tuan. Saya permisi!"


...***...


Sore harinya, Argan terbang ke kota A untuk menjemput Alza. Sudah dua hari Alza singgah di kota A. Menurut Argan, sudah saatnya Alza menghadapi roda kehidupan selanjutnya.


Tiba di panti asuhan, Argan melihat Alza sedang bermain dengan anak-anak panti. Alza terlihat tertawa lepas dan gembira.


"𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘢𝘸𝘢 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶, 𝘈𝘭𝘻𝘢. 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘯𝘫𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘯𝘺𝘶𝘮 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘵𝘶."


Argan menghampiri Alza dan menyapanya.


"Hai, sayang..."


"Bang Argan?" Alza berseru gembira. "Abang kapan datang?"


"Baru saja. Ini sudah hampir malam, sebaiknya kita masuk. Ajak anak-anak untuk masuk juga."


Alza mengangguk. "Ayo anak-anak kita masuk ke rumah ya!"


Alza menggandeng tangan anak-anak yang tadi bermain bersamanya lalu berjalan memasuki bangunan panti.


"Kalian masuk ke kamar masing-masing ya! Sebentar lagi waktunya makan malam."


"Baik, Kak Alza!" Anak-anak menjawab serempak.


Setelahnya Alza menoleh kearah Argan.


"Abang kenapa? Kenapa melihatku begitu?"


Argan menggeleng. "Aku senang kau gembira tinggal disini. Aku senang karena bisa melihat senyummu."

__ADS_1


"Kita bicara di kamar saja ya!" Alza menggenggam tangan Argan dan mengajaknya masuk ke kamar.


Tiba di kamar, mereka duduk berdampingan di tepi tempat tidur. Maklum saja, kamar Alza di panti tidak sebesar kamarnya setelah jadi putri keluarga Pratama. Atau juga saat jadi istri Arion.


"Alza, ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Wajah Argan terlihat serius.


"Soal apa, Bang?"


"Ini soal penyebar berita tentangmu. Pelakunya sudah ketemu."


"Eh?" Alza cukup kaget. "Si-siapa orangnya, Bang?"


"Kau lihat saja sendiri berkasnya." Argan menyerahkan sebuah map pada Alza.


Meski nampak ragu, Alza perlahan membuka map itu. Tangannya menutup mulut setelah membaca nama yang tertera di kertas itu.


"Zetta? Jadi yang melakukan semua ini adalah Zetta?" Alza menggeleng pelan. Tak habis fikir kenapa Zetta melakukan ini padanya.


"Benar. Sekarang, aku serahkan semua padamu. Kau mau aku menghakiminya dengan cara kasar atau..."


"Jangan, Bang. Lebih baik serahkan pada pihak berwajib saja. Biar mereka yang memprosesnya."


"Kau yakin?"


Alza mengangguk. "Iya, Bang. Biar dia mempertanggungjawabkan perbuatannya di penjara."


"Baiklah, jika itu maumu. Jadi, apa sekarang kau sudah siap untuk kembali?"


Alza menatap Argan. Tidak ada gunanya Alza berada disini. Sementara karir dan kehidupannya ada di kota B.


"Oke! Malam ini juga kita kembali ke kota B."


...***...


𝗞𝗲𝗱𝗶𝗮𝗺𝗮𝗻 𝗞𝗲𝗹𝘂𝗮𝗿𝗴𝗮 𝗡𝘂𝘀𝗮𝗻𝘁𝗮𝗿𝗮


Arnis dan Sultan duduk berdua sambil memandangi surat kaleng yang diterima Arnis siang tadi. Sultan nampak menimbang-nimbang untuk berkata sesuatu. Sultan tak ingin membuat Arnis kecewa maupun sedih.


"Katakan sesuatu, Mas..." pinta Arnis.


Sultan menatap istrinya dan menggenggam tangan Arnis.


"Sayang, ini... Ini hanyalah surat kaleng. Apa kau serius ingin menanggapi surat ini?"


Arnis mengangguk mantap. "Aku tahu ini terdengar konyol. Tapi apa salahnya jika kita membuktikannya!"


"Bagaimana kalau kau kecewa?"


"Tidak apa. Setidaknya aku sudah mencoba mencari tahu kebenarannya."


Sultan menghela napas. Rasanya tidak akan mudah membujuk Arnis untuk jangan terpengaruh pada surat kaleng itu.


"Apa Mas ingat? Setahuku anak kita baik-baik saja, Mas. Dalam kandungan pun dia sehat-sehat saja selama pemeriksaan. Lalu kenapa dia tiba-tiba meninggal? Bahkan kita tidak diperbolehkan untuk melihat jenasah anak kita."

__ADS_1


Sultan mengiyakan ucapan Arnis dalam hati. Ia tak mungkin berpikir jika ayahnya lah dalang dari semua ini.


"𝘈𝘱𝘢 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘗𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘪𝘯𝘪? 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘶𝘴𝘵𝘢𝘩𝘪𝘭. 𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘗𝘢𝘱𝘢 𝘵𝘦𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘯𝘺𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘤𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪?"


"Mas!" Arnis menyentak lamunan Sultan. "Jangan diam saja! Kita harus menemui pengirim surat ini!"


"Bagaimana caranya?"


Arnis menunjukkan catatan kecil yang ada di dalam amplop. "Pengirimnya menulis sebuah alamat. Kita harus kesana, Mas!"


Sultan masih tak yakin dengan keputusan sang istri. Namun apa boleh buat. Sebaiknya Sultan menuruti keinginan Arnis. Jika memang terbukti orang itu hanya mengerjai mereka, mungkin setelah itu Arnis tidak lagi membahas soal anak mereka yang telah tiada.


...***...


Berkat bantuan Argan, Alza bisa meringkus pelaku yang sudah mencemarkan nama baiknya. Kini beberapa petugas polisi sedang menuju ke gedung Tama Grup dan akan menemui Zetta.


Sebenarnya Alza tidak tega melakukan ini terhadap Zetta, tapi sekali lagi, apa boleh buat. Zetta sendiri lah yang sudah membuat Alza terpaksa menempuh jalur hukum.


"Nona Arzetta Pratama!" Seorang polisi berpakaian preman masuk ke ruangan Zetta.


"Iya, saya sendiri. Kalian siapa? Dan ada perlu apa kemari?" Zetta menjawab dengan ketus.


"Kami dari kepolisian kota B. Anda harus ikut dengan kami ke kantor. Ada yang melapor jika Anda sudah melakukan perbuatan pencemaran nama baik terhadap saudari Alzarin."


"Heh?! A-apa?! Kalian pasti salah sangka! Aku tidak menyebarkan apapun tentang Alza." Zetta berdalih.


"Sebaiknya Nona ikut kami sekarang. Kita akan buktikan apakah Nona bersalah atau tidak."


Zetta nampak berpikir keras. Batinnya sudah sangat kesal karena Alzarin.


"𝘚𝘪𝘢𝘭𝘢𝘯! 𝘐𝘯𝘪 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘴𝘪 𝘈𝘭𝘻𝘢! 𝘋𝘢𝘴𝘢𝘳 𝘮𝘶𝘳𝘢𝘩𝘢𝘯! 𝘉𝘦𝘳𝘢𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘱𝘰𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘦 𝘱𝘰𝘭𝘪𝘴𝘪. 𝘔𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘶𝘬𝘵𝘪 𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘦𝘵𝘬𝘶 𝘬𝘦 𝘫𝘢𝘭𝘶𝘳 𝘩𝘶𝘬𝘶𝘮?"


Karena tak memiliki pilihan lain, akhirnya Zetta menurut dan ikut dengan polisi yang menjemputnya.


"Zetta! Tunggu, Pak! Mau dibawa kemana adik saya?" Dennis tiba-tiba datang dan menghentikan langkah si polisi dan juga Zetta.


"Abang?"


"Zetta, kau baik-baik saja kan?"


Zetta mengangguk. Dennis menatap kedua polisi yang membawa Zetta.


"Pak, apa yang terjadi?" Dennis kembali bertanya.


"Maaf, saudari Arzetta harus kami bawa ke kantor atas laporan tindak pencemaran nama baik terhadap Nona Alzarin."


"A-apa...?" Dennis sangat syok. Dennis bahkan tidak sadar jika sosok Zetta sudah menghilang bersama dua polisi yang membawanya.


...***...


Zetta bersikukuh tidak bersalah atas semua tuduhan yang ditujukan padanya.


"Pak, saya tidak bersalah! Apa yang saya katakan itu memang benar! Alzarin itu sudah menikah sebanyak dua kali. Dia juga pernah melahirkan seorang bayi, tapi sayang bayi itu meninggal. Dan selama menikah dengan kakak saya, Alza itu berselingkuh dengan tunangan saya sendiri hingga hamil!"

__ADS_1


"ZETTA!" Gelegar suara dari arah pintu membuat dua orang yang ada di dalam ruangan menoleh kearahnya.


__ADS_2