Kemilau Cinta Alzarin

Kemilau Cinta Alzarin
Bab 52


__ADS_3

Kini semua orang menunggu di depan kamar Johan. Seorang dokter keluarga sedang memeriksa kondisi Johan.


Arnis duduk terpisah dari yang lain bersama dengan Alza. Mereka ikut cemas karena takut terjadi sesuatu dengan Johan.


Jesly yang geram setelah mengetahui Alza adalah cucu Johan, mengendap-endap untuk menemui Alza.


"Selamat ya! Kamu berhasil masuk ke dalam keluarga ini lagi!"


Arnis melotot tajam. Ia tak terima jika ada yang menyakiti putrinya.


"Jaga bicaramu! Alza adalah putriku! Dan kamu... Kamu hanyalah menantu di rumah ini!" Arnis berdiri berhadapan dengan Jesly.


"Sudahlah, Ma. Kita tidak perlu meladeni dia." Alza melerai perdebatan.


"Ada apa ini?" Arion ikut datang menghampiri para wanita. Ia melirik Alza sekilas. Dilihatnya sebuah cincin berlian melingkar di jari manis Alza. Mungkinkah itu tanda bukti jika hubungannya Alza dan Argan mengarah ke hal yang serius? Arion tak bisa menjawab.


"Jesly, jangan buat keributan disini! Ayo kita pergi!" Arion menarik tangan Jesly agar menjauhi Alza.


Setelah kepergian pasutri itu, Falia datang menghampiri.


"Kakek sudah siuman. Kalian bisa menemuinya."


Arnis mengangguk membujuk Alza. Meski terasa berat, Alza tetap melangkah memasuki kamar Johan.


Mata Johan telah terbuka sempurna. Ia hanya syok setelah mendengar fakta mengenai cucunya yang ia buang 25 tahun yang lalu.


Sultan yang berdiri di sebelah ranjang Johan, mengundang Arnis dan Alza untuk mendekat.


"Pa... Maaf jika aku melakukan ini. Pasti ini sangat mengejutkan Papa. Tapi, aku ingin bersama dengan keluargaku." Sultan berlutut di depan Johan.


"Aku mohon terima aku dan keluargaku..."


Arnis dan Alza menatap Sultan sendu.


"Mas... Jangan lakukan ini!" Arnis meminta Sultan untuk berdiri.


Johan memalingkan wajahnya tak ingin melihat putranya memelas padanya. "Keluar kalian semua!" Hanya itu yang Johan katakan.


"Aku ingin istirahat!"


Dengan menelan rasa kecewa, Alza, Sultan, dan Arnis keluar dari kamar Johan.


"Berikan waktu untuk Kakek Johan." Argan mencoba menghibur Alza.


"Iya, Bang. Kita pulang saja ya, Bang. Suasananya sudah tidak enak."


"Ya sudah, kamu pamit dulu sama mama dan papamu."


Alza mengangguk. Ia menemui Arnis dan Sultan.

__ADS_1


"Pa, Ma. Mungkin waktunya masih belum tepat. Aku dan Bang Argan pulang dulu ya!"


"Lho, kamu kan belum makan. Mama udah siapkan semuanya buat kamu. Setidaknya makanlah dulu!"


"Betul apa kata mamamu, Nak. Makanlah dulu sebelum pergi," bujuk Sultan.


Akhirnya Alza dan Argan menerima ajakan Arnis. Mereka makan dalam diam dan pikiran yang berkelana masing-masing.


Alza merasa tak enak hati karena membuat Johan sakit karena kehadirannya. Meski begitu, Alza tidak mau menyerah. Sejak dulu memimpikan memiliki keluarga yang utuh, dan kini ia akan mendapatkannya.


...***...


Sudah beberapa hari Alza tak bertemu dengan Arnis dan Sultan. Sejak hari itu pula Sultan terus berusaha memberi pengertian pada Johan untuk bisa menerima Alza sebagai cucunya.


Dan setelah berhari-hari, Arnis dan Sultan kembali menemui Alza di rumahnya.


"Bergabunglah dengan perusahaan, Nak." Kalimat Sultan membuat Alza menatapnya bingung.


"Maksud Papa?"


"Bekerjalah di Nusantara Grup. Mungkin dengan begitu kamu bisa meluluhkan hati kakek."


Alza melirik Argan. Ia merasa butuh sebuah pendapat.


"Kurasa itu ide yang cukup bagus," sahut Argan.


"Tapi..." Alza ragu.


𝘉𝘦𝘯𝘢𝘳𝘬𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘬𝘦𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢𝘬𝘶 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘢𝘣𝘶𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘩𝘢𝘢𝘯?


"Cobalah saja dulu!" bujuk Argan.


"Apa abang gak apa-apa aku keluar dari kantor abang?"


Argan malah tertawa kecil. "Tentu tidak apa. Aku akan sangat senang jika kamu bekerja di sana. Kamu pasti bisa meluluhkan hati Kakek Johan."


"Mama dan papa sudah sepakat. Kami akan memberikan seluruh saham perusahaan kepadamu."


"Eh?!" Tentu saja Alza kaget.


"Kamu akan menjadi pemegang saham terbesar di Nusantara Grup."


Alza makin tak faham kenapa kedua orang tuanya melakukan ini.


𝘈𝘱𝘢 𝘪𝘯𝘪? 𝘔𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪 𝘴𝘢𝘩𝘢𝘮 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘥𝘪 𝘕𝘶𝘴𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘎𝘳𝘶𝘱? 𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘪𝘮𝘱𝘪?


...***...


Setelah pembicaraan hari itu bersama Alza, kini Arnis dan Sultan mantap untuk menemui Johan dan mengatakan rencana mereka yang akan menyerahkan seluruh saham mereka kepada putri mereka.

__ADS_1


Tentu saja Johan marah dan menentang ide mereka.


"Kami ingin papa melihat jika Alza juga mampu untuk memimpin perusahaan. Papa harus percaya padanya!" pinta Sultan.


"Seorang perempuan tidak cocok untuk memimpin perusahaan besar seperti Nusantara Grup."


"Tapi bagaimana jika Alza bisa?" Arnis ikut menyahut.


"Berikan Alza waktu untuk mencoba, Pah."


Johan melihat kegigihan kedua orang di depannya ini. Kedua orang tua Alza memohon padanya. Johan bisa apa. Johan menghela napas berat.


"Baiklah. Aku akan beri waktu padanya selama tiga bulan. Jika dia bisa berhasil menaikkan laba perusahaan sebesar 25 persen dalam waktu tiga bulan, maka... Aku akan menerimanya sebagai cucuku."


Mata Arnis dan Sultan berbinar. Ini adalah sebuah kesempatan bagus untuk Alza dalam membuktikan jika dirinya juga seorang Nusantara. Dalam darahnya mengalir darah bisnis yang dimiliki Johan dan Sultan.


Tiga bulan berjalan dengan sangat lambat. Alza mempelajari banyak hal dari Argan. Tak lupa Arion juga turut membantunya.


Mantan suami Alza itu mendukung Alza penuh untuk memimpin perusahaan. Entahlah. Alza merasa aneh dengan hal itu. Namun Alza senang karena Arion sudah banyak berubah.


Dan hari ini adalah hari penentuan untuk melihat hasil keras Alza selama tiga bulan. Akankah ia berhasil?


#


#


#


Alza memasuki rumah yang pernah ia tapaki sekali lagi. Hatinya berdegup kencang setelah mendengar jika kakeknya meminta dirinya untuk tinggal di rumah yang sama dengannya.


Tentu Alza terkejut. Apakah dirinya berhasil? Alza tidak pernah tahu hasil perjuangannya selama tiga bulan itu. Yang ia tahu, kini Johan meluruhkan egonya dan menerima Alza sebagai cucu di keluarga Nusantara.


"Selamat datang, Alza..." sambut Johan dengan tangan merentang.


Haruskah Alza membalasnya?


Arnis menatap Alza dan mengangguk. Itu tanda bahwa jika Alza harus menerima pelukan sang kakek, bukan?


Alza mendekat. Berhadapan langsung dengan orang yang dulu pernah membuangnya ke panti asuhan. Orang yang jelas-jelas tidak butuh cucu perempuan sebagai pewarisnya. Kini orang itu menyambutnya dengan sebuah pelukan? Bisakah Alza percaya?


"Kemarilah, Nak!" ucap Johan.


Alza makin mendekat. Tubuhnya direngkuh oleh Johan.


"Cucuku..."


Satu kata yang entah benar atau tidak terdengar di telinga Alza. Nyatakah semua ini?


"Kakek..." Buliran bening mengalir ke pipi Alza.

__ADS_1


Semua orang tersenyum haru melihat pemandangan itu. Tidak ada kata maaf terucap dari bibir Johan. Alza tahu seberapa keras hati kakeknya. Alza memahami itu. Hatinya akan ia buka seluas samudera untuk bisa memaafkan kakek yang sudah membuangnya.


__ADS_2