Kemilau Cinta Alzarin

Kemilau Cinta Alzarin
Bab 33


__ADS_3

Malam harinya seperti biasa Alza dan Arion saling mengobrol meski seharian tak bertemu. Mereka duduk di atas ranjang sambil bersandar pada sandaran ranjang.


Dulu perbincangan seperti ini terasa penuh keromantisan untuk mereka. Namun kini hanya status yang mereka sandang sebagai suami istri. Sedangkan hati entah berlabub kepada siapa.


"Tadi melamar kerja dimana?" Tanya Arion dengan masih fokus pada laptopnya.


"Grup DS," Jawab Alza santai.


"Grup DS? Kenapa melamar disana?"


"Kenapa memangnya? Menurut Falia itu adalah perusahaan besar seperti Pratama dan Nusantara."


Arion berdecih. "Apa karena kamu kenal pemiliknya? Makanya kamu memilih melamar disana?"


Alza mulai tak suka dengan nada bicara Arion. "Apa maksudmu?"


"Argantara! Kamu mengenalnya kan?"


Alza memutar bola matanya malas. Ia memilih untuk menarik selimut dan terlelap dalam mimpi.


...***...


Keesokan harinya, Alza pergi ke kantor dengan semangat yang menggebu-gebu. Bahkan ia tak peduli pada Jesly ataupun Arion yang bertanya tentang kepergiannnya.


"Kemana Alza?" Jesly bertanya pada salah satu ART.


"Mmm, anu Non. Nona Alza..."


"Alza pergi bekerja," Sahut Arnis dengan menghampiri Jesly.


"Apa? Bekerja?"


"Kamu sendiri bagaimana? Apa kamu senang menumpang hidup pada suami orang? Serendah itukah dirimu sebagai selebriti?"


"Hei! Jangan sembarangan ya, Tante. Aku ini mengandung cucu tante. Cucu yang sangat kalian nantikan yang tidak bisa diberikan oleh Alza."


Arnis memutar bola mata malas. "Terserah kau saja! Lakukan saja sesukamu hingga kita mengetahui pasti jenis kelamin anakmu itu!" Arnis melenggang pergi usai bersarkas ria terhadap Jesly.


Jesly menggeram kesal. "Huh! Awas saja kalian! Aku pastikan anak ini berjenis kelamin laki-laki. Anak ini akan jadi penguasa Nusantara Grup suatu hari nanti."


Sementara itu, Alza yang sedang menunggu bus umum dihampiri oleh mobil Falia.


"Alza! Ayo ikut denganku saja!"


"Tapi, Fal... Nanti kamu telat, gimana?"


"Tidak akan! Kamu lupa, kalau kita searah. Ayo cepat! Ini hari pertamamu kerja, kamu harus tunjukkan disiplinmu."


Alza mengangguk. "Baiklah. Makasih ya, Fal."


"Sama-sama. Jangan lupakan, aku adalah orang yang akan selalu mendukungmu!"


Alza tersenyum. Ia sangat bersyukur bisa mengenal Falia. Ia pikir Falia adalah gadis dingin yang tak berperasaan seperti kakaknya.


Tiba di kantor, Argan memperkenalkan Alza secara langsung pada bagian marketing dimana Alza akan bekerja. Sempat ada yang berbisik-bisik karena Alza diterima kerja tidak melalui bagian HRD, tapi hal itu langsung ditepis oleh Alza dengan menunjukkan kinerja dan attitude yang bagus.


Hari pertama Alza bekerja, mendapat respon positif dari rekan kerjanya. Alza adalah pribadi yang menyenangkan dan suka membantu orang lain.


Argan yang memperhatikan interaksi Alza dan rekan kerjanya dibuat senyum-senyum sendiri tak jelas. Hingga Ammar juga ikut tersenyum melihat tingkah absurd bosnya itu.


"Sepertinya Nona Alzarin adalah orang spesial ya, Tuan?"


Pertanyaan Ammar dibalas dengan spontan oleh Argan. "Iya, dia adalah wanita yang istimewa."


Sadar dengan apa yang diucapkannya, Argan langsung menatap Ammar yang sedang mentertawakannya meski lirih.


"Ngapain kamu? Sana kerja lagi!" Tegas Argan dengan mode kembali berwibawa.

__ADS_1


"Maaf, Tuan. Saya kembali ke ruangan saya dulu!" Ammar memberi hormat kemudian keluar dari ruangan Argan.


Sepeninggal Ammar, Argan mengusap wajahnya kasar. "Astaga! Apa yang kau pikirkan, Argan? Alza adalah istri orang. Bagaimana bisa aku jatuh hati pada istri orang?" Argan menggeleng pelan.


...***...


Pukul lima sore, para karyawan mulai berhamburan keluar dari gedung Grup DS, termasuk Alza. Kali ini Alza memesan ojek online saja untuk pulang ke rumah. Tak mungkin juga Alza menghubungi Falia. Alza tahu Falia juga sibuk karena memegang jabatan penting di Nusantara Grup.


"Alza!" Panggilan Arga membuat Alza celingukan. Ia takut jika ada orang yang melihat dan akan berpikiran yang buruk tentang hubungan mereka.


"Tuan Argan?"


"Alza, kamu sudah mau pulang?"


"Iya, saya sedang menunggu ojek online, Tuan."


"Tolong jika kita hanya berdua, jangan panggil aku Tuan. Rasanya itu terlalu formal. Panggil namaku saja."


Alza menggaruk tengkuknya. "Tapi... Rasanya kurang pantas, Tuan. Saya kan memang bawahan Tuan."


"Jam kerja sudah habis, Alza."


"Baik, Tuan. Eh maksudku... Abang Argan! Tidak apa kan aku panggil Abang?"


Argan tersenyum. "Aku suka. Oh ya, bagaimana kalau kita rayakan hari pertama kamu kerja dengan menemui Oma? Oma pasti senang kalau kamu datang."


"Eh?!" Alza ragu untuk menerima tawaran Argan. Meski di satu sisi hatinya ia juga malas untuk pulang ke rumah Nusantara karena kehadiran Jesly disana.


"Ayolah, Alza. Ini demi Oma." Argan memohon.


Alza menghela napas lebih dulu. "Baiklah. Aku akan batalkan pesanan ojek online nya dan membayar denda."


"Eh, tidak perlu." Argan menghampiri seorang sekuriti dan memberikan beberapa lembar uang padanya.


"Jika nanti ada ojek yang mencari Nona Alza, berikan saja uang tips ini padanya. Dan ini untuk bapak."


"Bang, harusnya aku saja yang..."


"Sudahlah! Ayo cepat masuk!" Argan membuka pintu mobilnya dan mempersilakan Alza masuk. Sikap hangat Argan membuat Alza luluh.


Setelah berkendara selama beberapa saat, akhirnya mobil Argan memasuki halaman rumah keluarga Syailendra.


"Ayo masuk!"


Ini adalah kedua kalinya Alza menapakkan kaki di rumah besar itu. Dulu saat ia memasukinya dalam kondisi tak sadarkan diri, tapi keluar dalam keadaan sadar.


Alza mengikuti langkah kaki Argan.


"Oma! Oma dimana? Oma, coba lihat siapa yang datang!" Seruan Argan membuat Oma Ratna langsung menghampiri cucunya.


"Alzarin!" Oma Ratna berbinar senang melihat kedatangan Alza.


"Oma! Apa kabar?" Alza bercipika cipiki dengan Oma Ratna.


"Oma baik-baik saja. Kamu sendiri bagaimana? Lalu gimana dengan..." Oma Ratna menatap perut Alza yang kini sudah tidak membesar.


Alza tersenyum tipis dan tak menjawab. Argan memberi kode agar tidak bertanya lebih lanjut jika bukan Alza sendiri yang bercerita. Selama ini sebenarnya Argan tahu jika Alza telah kehilangan bayinya. Namun sedikitpun Argan tidak bertanya dan tak ingin membahas urusan pribadi Alza.


"Ah, ayo kita ke meja makan! Oma masak yang enak-enak buat kalian. Untung saja Oma sengaja tambahkan porsinya. Entah kenapa Oma seperti sudah punya firasat bakalan ada tamu yang datang."


Oma Ratna meminta Alza untuk duduk.


"Argan cerita kalau kamu akan bekerja di perusahaan. Tapi, dia tidak cerita kalau kamu akan datang kemari."


Alza melirik Argan. Pria itu memang pria yang baik. Andai saja Arion bisa perhatian seperti Argan. Aaah, Alza hanya bisa berharap dalam hati.


Mereka bertiga menikmati makan malam dengan diiringi candaan di sela-sela menyantap hidangan lezat itu. Sungguh Alza merindukan suasana seperti ini. Dulu Alza merasakan kehangatan saat bersama dengan keluarga Pratama.

__ADS_1


"Alza... Kamu bisa cerita sama Oma kalau ada masalah. Oma sudah anggap kamu seperti cucu Oma sendiri."


Kini Alza dan Oma Ratna sedang duduk di sofa ruang keluarga. Oma Ratna ingin membuat Alza nyaman dan akhirnya terbuka kepadanya.


"Aku... Aku kehilangan bayiku, Oma. Dia meninggal saat masih dalam kandungan..."


Air mata Alza kembali pecah saat mengingat perjuangannya melahirkan putra pertamanya yang sudah tak bernyawa. Oma Ratna sigap memeluk Alza.


"Setiap orang memiliki ujian hidup masing-masing. Semoga saja kamu kuat untuk menghadapi masalah hidupmu. Jika kamu butuh bantuan, Oma siap untuk membantumu."


Alza mengurai pelukan Oma Ratna. "Makasih, Oma. Sepertinya aku harus pulang. Ini sudah malam."


"Iya, biar Argan yang mengantarmu!"


Alza menggeleng. "Gak perlu, Oma. Aku naik taksi saja. Bang Argan pasti lelah."


"Aku gak lelah kok!" Argan datang dengan pakaian santainya, kaus dan celana jeans dibawah lutut.


Alza sempat terpesona melihat penampilan santai Argan. Sangat berbeda dengan Argan yang biasa ia lihat di kantor.


"Ah, tapi Bang... Sebaiknya aku naik taksi saja."


"Ini sudah malam, Alza. Kalau terjadi sesuatu denganmu bagaimana?"


"A-aku bisa jaga diri kok!"


"Oma! Tolong nasehati dia! Sulit sekali bicara dengannya!" Argan meninggalkan ruang keluarga.


"Oma..." Alza menatap Oma Ratna. Sebenarnya Alza takut Argan marah karena selalu ditolak olehnya.


"Turuti saja dia! Dia hanya khawatir denganmu!"


Alza menurut. Ia menghampiri Argan yang berdiri membelakanginya.


"Bang... Baiklah, aku mau diantar olehmu."


Dalam hati Argan berseru gembira. "Nah, gitu dong! Aku ini peduli pada bawahanku. Makanya jangan menolak."


Alza mengangguk. Ternyata Argan hanya menganggapnya sebagai bawahan saja dan tak lebih.


Mobil Argan melaju membelah jalanan kota yang mulai sepi. Meski di beberapa tempat masih terlihat ramai. Tapi tetap saja waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


Alza sendiri tak sadar jika sudah selama itu ia berada di rumah Argan.


"Mmm, ngomong-ngomong dimana orang tua Abang?" Alza memutuskan berbincang ringan dengan Argan.


"Orang tuaku sudah meninggal, Alza."


"Ah, maaf. Aku tidak tahu. Aku turut berduka." Alza jadi tak enak hati.


"Tidak apa. Kejadiannya sudah sangat lama kok." Argan mengeratkan kedua tangannya dikemudi. Mengingat tentang kecelakaan yang menimpa orang tuanya membuat hatinya sesak.


"Sekali lagi maafkan aku..."


"Tidak masalah. Kamu sendiri? Kenapa kamu memilih untuk bekerja lagi? Apa terjadi sesuatu denganmu dan Arion?"


Alza menunduk. Sungguh ia tak ingin orang lain tahu tentang kehidupan rumah tangganya dengan Arion yang sedang tidak baik-baik saja.


"Tidak apa jika kamu masih belum mau cerita."


"Maaf..."


...***...


Tiba di kediaman Nusantara, Alza langsung masuk ke dalam kamar karena suasana rumah sudah sepi. Semua orang sudah masuk ke dalam kamar masing-masing.


Baru saja Alza melangkah masuk ke kamar, sosok Arion sudah bersedekap dan menatap Alza tajam.

__ADS_1


"Dari mana saja kamu sampai pulang selarut ini?"


__ADS_2