Kemilau Cinta Alzarin

Kemilau Cinta Alzarin
Bab 34


__ADS_3

Alza jengah dengan sikap Arion yang mencurigainya. Alza memilih bungkam dan terus melanjutkan aktifitasnya untuk membersihkan diri di kamar mandi. Setelahnya Alza memilih untuk tidur dan tak peduli dengan Arion yang masih terus mengomel.


Ketegangan diantara Arion dan Alza masih terus terjadi selama beberapa waktu. Meski mereka terlihat baik-baik saja di depan semua orang, karena tak ingin menyakiti hati orang-orang yang menyayangi Alza.


Hingga akhirnya waktu untuk pemeriksaan kandungan Jesly dan juga melakukan tes DNA akan segera dilakukan. Alza merasa harap-harap cemas dengan apa yang akan terjadi selanjutnya dengan hubungannya dan Arion. Ingin bertahan, tapi hati terlalu sulit menerima. Rasa kecewanya terlampau besar dibanding rasa cinta yang pernah ia pupuk.


Di kantor, Alza banyak melamun hari ini. Alza tidak ingin mendengar apapun soal kabar jenis kelamin anak Jesly. Namun rasa penasaran juga menghantuinya.


"𝘼𝙥𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙁𝙖𝙡𝙞𝙖 𝙨𝙖𝙟𝙖? 𝘼𝙩𝙖𝙪 𝙈𝙖𝙢𝙖?"


Alza melirik kalender yang ada di meja kerjanya. Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Namun tak ada satupun orang yang berbahagia merayakan bersamanya. Alza hanya bisa menghela napas. Ia memejamkan mata dan berusaha pasrah menerima takdir hidupnya.


Sore hari usai bekerja, Alza pergi ke sebuah kafe sendirian. Alza juga memesan kue ulang tahun untuk dirinya sendiri.


"Haaaah!" Alza mendesah kasar. "Entah kenapa aku melakukan ini sendiri."


Alza menatap kue ulang tahun yang masih belum ia nyalakan lilinnya. Hingga beberapa jam berlalu, Alza masih berdiam di tempatnya.


Tanpa Alza sadari ada sepasang mata yang memperhatikannya sejak Alza keluar dari gedung Grup DS. Dia adalah Argan yang khawatir dengan kondisi Alza yang sejak pagi tadi murung dan tidak bersemangat dalam bekerja.


Argan menatap sendu kearah Alza yang duduk sendiri selama berjam-jam sambil memandangi kue ulang tahun berwarna coklat itu.


"𝘼𝙡𝙯𝙖, 𝙖𝙥𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙡𝙖𝙠𝙪𝙠𝙖𝙣? 𝘼𝙥𝙖 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙪𝙣𝙜𝙜𝙪 𝘼𝙧𝙞𝙤𝙣? 𝘼𝙩𝙖𝙪..."


Argan tak berani mendekat karena tak ingin suasana hati Alza makin memburuk. Argan memilih untuk mengawasi Alza dari kejauhan saja.


Kembali pada Alza yang masih betah dengan kesunyiannya. Denting ponsel membuat Alza melirik sebentar kearah ponselnya.


Sebuah pesan dari Falia. Alza memutuskan untuk membacanya.


"𝘈𝘭𝘻𝘢, 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘨𝘪𝘭𝘢! 𝘞𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘶𝘭𝘢𝘳 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘮𝘪𝘭 𝘣𝘢𝘺𝘪 𝘭𝘢𝘬𝘪-𝘭𝘢𝘬𝘪. 𝘋𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘺𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪. 𝘈𝘭𝘻𝘢, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢? 𝘗𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩! 𝘈𝘥𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘶𝘬𝘶𝘯𝘨𝘮𝘶!"


Mata Alza terpejam setelah membaca pesan dari Falia. Air matanya hampir saja jatuh jika ia tak segera mengatur ritme jantungnya.


Alza memilih untuk menyalakan lilin yang menjadi saksi bertambahnya usia Alza.


"Happy birthday to me..." Ucap lirih Alza lalu meniup lilin itu. Air matanya turun membasahi pipi yang sejak tadi memucat.


Dalam hati Alza berdoa agar kehidupannya lebih baik dari apa yang terjadi sekarang. Alza berharap ada dewa penolong yang bisa menjadi sandaran ketika dirinya rapuh nanti.


Setelah meniup lilin, Alza pergi dari kafe tanpa memakan kue ultahnya dan juga sekedar mengisi perutnya dengan makanan. Alza memanggil taksi lalu pulang ke kediaman Nusantara.


Tiba di rumah, suasana sudah sepi. Alza sengaja ingin pulang larut karena tak ingin bertemu Jesly maupun Arion.


Alza mendatangi kamar Falia dan mengetuk pelan.


"Fal, ini aku! Apa kamu udah tidur?" Alza mengucap pelan sambil mengetuk pintu.


Tak lama kemudian...


"Alza!" Falia celingukan melihat situasi.


"Falia, boleh aku masuk?"

__ADS_1


"Ayo masuk!" Falia menarik tangan Alza.


Kedua wanita seumuran itu duduk bersama di tepi ranjang milik Falia.


"Alza... Kamu dari mana saja?" Falia memperhatikan wajah Alza yang terlihat sembab. "Alza... Apa yang terjadi?"


Alza menggeleng. "Bolehkah aku menginap di kamarmu?"


"Iya, kamu boleh disini sesukamu." Falia memeluk Alza. Falia mengusap punggung Alza yang kini bergetar. Alza kembali menangis dalam pilu.


...***...


Keesokan harinya, Alza bersiap untuk pergi ke kantor seperti biasa. Arion yang tak melihat kehadiran Alza sejak semalam kini mencecar Alza dengan pertanyaan.


"Kamu dimana semalam?"


"Aku di rumah ini."


"Jangan bohong, Alza! Kamu bahkan gak pulang semalaman."


"Alza tidur di kamarku!" Falia ikut menyahut.


Arion menatap Alza dan Falia bergantian.


"Apa kakak pikir Alza masih sudi tinggal satu kamar dengan suami yang sudah mengkhianati pernikahan?"


"Falia! Jangan kurang ajar kamu!"


"Kakak yang keterlaluan!"


Arion dan Falia memilih bungkam. Terlebih Alza yang merasa semua keributan pagi ini adalah karena dirinya.


"Oh ya ampun, kebetulan sekali semua orang berkumpul disini."


Alza memicingkan mata saat melihat Jenny ada di rumah itu. Jenny mendekati Alza yang terus menatapnya.


"Alza, apa kamu sudah tahu? Jika putriku mengandung bayi laki-laki. Kau tahu kan apa artinya itu?" Jenny menyilangkan tangannya di depan dada.


"Apa maksud Anda?" Tanya Alza tak mengerti. Ia juga menatap Arion yang menunduk.


"Perjanjian yang dilakukan oleh suamimu dengan putriku. Apa kau tahu? Jika Jesly mengandung bayi laki-laki, maka Arion akan menikahinya secara sah."


Kepala Alza mendadak berdengung mendengar penuturan Jenny. Pandangannya mulai kabur. Setiap kata yang terucap dari bibir Jenny hanya seperti angin yang berhembus dengan lembut menerpa wajah Alza.


Hingga akhirnya...


𝘽𝙍𝙐𝙆!


Alza jatuh pingsan. Tubuhnya sudah tak kuat lagi menahan beban psikis yang terus mendera.


Gegas Arion mengangkat tubuh Alza dan membawanya ke rumah sakit. Dalam lubuk hatinya, Arion masih sangat mencintai Alza. Namun kebodohan demi kebodohan selalu dilalukan Arion hingga membuat Alza menjauh.


Tiba di rumah sakit, Arion meminta perawat untuk segera memeriksa kondisi Alza.

__ADS_1


"Suster, tolong istri saya!" Seru Arion.


Di tempat yang sama, Argan juga ada disana karena Oma Ratna mendadak pingsan dan harus dilarikan ke rumah sakit. Dari kejauhan Argan sudah melihat sosok Arion yang sedang menggendong Alza.


"Alza, kenapa dia?" Gumam Argan yang ikut khawatir dengan kondisi Alza.


"Keluarga Nyonya Ratna!" Hingga suara perawat menyadarkan lamunan Argan.


"Iya, Sus. Saya cucunya!"


"Oh begini, Tuan. Nyonya Ratna harus dirawat inap dulu karena tekanan darahnya cukup tinggi. Silakan Tuan menghubungi administrasi untuk memesan kamar rawatnya."


"Baik, Sus. Terima kasih."


Argan menghampiri Oma Ratna setelah memesan kamar VVIP untuk neneknya.


"Argan... Oma gak apa-apa. Kenapa harus rawat inap segala?"


"Oma, tekanan darah Oma tinggi. Aku khawatir Oma kenapa-napa. Lebih baik dirawat inap dulu beberapa hari. Ya?"


"Haaaah! Tapi..."


"Tidak ada tapi! Suster, cepat pindahkan Oma ke kamar rawatnya ya!"


"Baik, Tuan." Dua orang perawat mendorong brankar milil Oma Ratna menuju ke kamar yang sudah dipesan Argan.


...***...


Entah ini kebetulan atau bukan, kamar yang ditempati Alza berdampingan dengan kamar rawat Oma Ratna. Saat semua orang sudah keluar dari kamar Alza, Argan masuk ke kamar itu karena khawatir dengan kondisi Alza.


Argan menatap wanita yang kini terbaring lemah itu. Argan tak ingin mengganggu tidur lelap Alza. Makanya ia hanya diam dan hanya menatap Alza.


Namun ternyata Alza membuka matanya. "Tuan Argan?" Lirih Alza.


"Eh? Alza? Ka-kamu bangun? Apa ada yang sakit?"


Alza menggeleng. "Tuan ngapain disini?"


"Eh?!" Argan mendadak gugup. "A-aku... Aku disini nemenin Oma Ratna. Dia dirawat di kamar sebelah."


"Eh? Benarkah? Oma Ratna kenapa?" Alza ikut cemas.


"Alza, kamu sendiri sedang sakit. Kenapa malah memikirkan orang lain? Kamu sendiri kenapa bisa ada disini?"


Alza memalingkan wajah. Ia tak mungkin bercerita jika dirinya pingsan karena suaminya akan menikahi wanita lain yang sedang hamil. Masalah hidupnya terlalu rumit untuk dimasuki oleh Argan. Alza tidak ingin Argan terlibat dalam kerumitan masalah hidupnya.


"Alza..." Argan menggenggam tangan Alza hingga membuat wanita itu menoleh.


"Bisakah kamu menjadikan aku sandaranmu? Jangan menghadapi semua ini sendirian. Karena kamu tidak sendiri..."


Alza menatap Argan dengan mata berkaca-kaca. Rasanya ia ingin menumpahkan semuanya di depan Argan. Tapi itu tidak mungkin.


"Tolong percayalah padaku!" Tatapan mata Argan menyiratkan sebuah kesungguhan dan ketulusan.

__ADS_1


"Aku..."


"Apa-apaan ini?!"


__ADS_2