Kemilau Cinta Alzarin

Kemilau Cinta Alzarin
Bab 39


__ADS_3

Mobil Argan berhenti tepat di depan lobi hotel X. Alza langsung melepas seatbelt dan berpamitan.


"Terima kasih banyak untuk hari ini, Bang..."


Alza nampak menunduk lalu turun. Sedang Argan hanya memperhatikan Alza dengan kening berkerut.


Alza berjalan pelan menuju kamar hotelnya tanpa menyadari jika Argan mengikutinya di belakang. Saat Alza akan membuka kamar, Alza tersentak melihat sosok di belakang tubuhnya.


"Bang Argan? Kenapa ikut kemari?" tanyanya bingung.


"Kemasi barang-barangmu dan ikut denganku!"


"Eh?"


Argan melenggang masuk ke kamar Alza dan mencari-cari koper untuk membawa barang-barang Alza.


"Tu-tunggu, Bang!" Alza memegangi tangan Argan.


"Ada apa? Kamu harus pindah dari sini!" tegas Argan.


Alza menggeleng. Wajah sembabnya sungguh menggemaskan di mata Argan.


"Kenapa tidak mau?"


"Aku mau tinggal disini saja!"


"Sampai kapan kamu mau tinggal di hotel, Alza?" Argan memegangi kepalanya. "Tinggalah di rumahku bersama Oma. Oma pasti senang karena ada kamu."


"Tidak Bang. Aku tidak mau. Apa kata orang kalau aku tinggal di rumah Abang?"


"Haaah!" Argan menghela napas kasar. "Baiklah! Tinggalah di apartemenku saja. Aku punya apartemen kosong yang tidak kutempati."


Alza berpikir sejenak. Lalu menatap Argan. Wajah pria itu selalu ramah dan mengembangkan senyum.


"Iya, baiklah. Tapi aku akan tetap bayar sewanya!"


"Apa?!"


"Jika Abang tidak bersedia dibayar, maka aku juga gak mau pindah!" kukuh Alza.


Argan mengalah. Ia manggut-manggut. "Iya, iya, baiklah. Aku akan menerima biaya sewanya."


Senyum Alza akhirnya terkembang. Sungguh ia bersyukur karena bisa bertemu dengan Argan. Apa jadinya dirinya jika tak ada Argan yang membantunya?


"𝙏𝙚𝙧𝙞𝙢𝙖 𝙠𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙗𝙖𝙣𝙮𝙖𝙠, 𝘽𝙖𝙣𝙜. 𝙎𝙪𝙖𝙩𝙪 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙣𝙖𝙣𝙩𝙞 𝙖𝙠𝙪 𝙥𝙖𝙨𝙩𝙞 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙖𝙡𝙖𝙨 𝙠𝙚𝙗𝙖𝙞𝙠𝙖𝙣𝙢𝙪 𝙞𝙣𝙞..."


...***...


Alza tiba di sebuah apartemen yang bisa dikatakan mewah itu. Fasilitas lengkap dan perabotan yang juga berkelas atas.


"Bang, kalau begini sih... Biaya sewanya mahal dong!" Alza menggigit bibir bawahnya.


Argan malah tertawa. "Sudah! Jangan pikirkan soal itu. Yang penting kamu nyaman tinggal disini."


"𝙉𝙮𝙖𝙢𝙖𝙣?" Hati Alza bertanya-tanya. Selama ini Alza memang nyaman bersama Argan. Pria itu selalu mengerti dirinya.


"Kamu istirahat saja ya! Besok pagi aku jemput kamu."


Alza mengangguk. "Terima kasih, Bang."


"Jangan terus berterima kasih. Bayarlah dengan hal lain."


"Eh?! Hal lain? Hal lain apa, Bang?"


Argan jadi salah tingkah. Tak mungkin juga ia memaksakan perasaannya pada Alza di saat gadis itu baru saja mengalami kegagalan hubungan.


"Ah, tidak ada. Lupakan saja! Sudah ya, aku pergi dulu."


Sepeninggal Argan, Alza mengedarkan pandangan menatap ruangan mewah yang akan jadi tempat tinggalnya. Alza memilih untuk masuk ke kamar. Ada dua kamar disana. Alza harus memilih salah satunya.

__ADS_1


"Aku pakai kamar yang ini saja!"


Alza merapikan barang-barang yang dibawanya kedalam lemari. Tak sengaja matanya tertuju pada tas slempang miliknya.


Alza ingat tentang surat perpisahannya dengan Arion. Alza kembali membuka lembaran itu.


Matanya berembun menatap tanda tangan Arion ada disana. Selemah itukah Alza? Hingga harus kembali menangis karena seorang Arion? Pria yang sudah mengkhianati cintanya. Pria yang dulu berjanji untuk hidup bersama dengannya.


Alza menyeka air matanya. Sudah cukup semua air mata yang ia keluarkan untuk Arion.


Alza mengambil bolpoin, lalu membubuhkan tanda tangannya di kertas itu. Dengan begini, ia dan Arion resmi tidak memiliki hubungan apapun lagi.


...***...


Pagi sekali Alza sudah bangun dari tidurnya lalu pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan untuknya memasak. Hari ini rencananya ia akan mengundang Argan untuk sarapan di tempatnya.


"Mungkin dengan melakukan ini, Bang Argan lebih menyukainya ketimbang hanya ucapan terima kasih saja."


Usai berbelanja, Alza mengirim pesan pada Argan jika dirinya mengundang pria itu sarapan pagi bersama.


Di sisi Argan, ia baru saja keluar dari kamar mandi dan melihat ponselnya berkedip. Argan membuka aplikasi pesan dan melihat ada satu pesan dari Alza.


Sudut bibirnya tertarik keatas membaca undangan sarapan dari Alza. Tentu saja dia akan datang.


Setelah berpakaian rapi, Argan menemui sang oma dan bercerita jika dirinya akan sarapan di tempat Alza.


"Jadi, Alza sekarang tinggal di apartemen milikmu?" tanya Oma Ratna.


"Iya, Oma. Dia bilang dia menyewanya. Jika tidak... Dia tidak akan mau pindah."


"Kenapa tidak membawanya kemari saja? Kasihan kan dia tinggal sendiri disana."


"Jika Alza mau aku tidak akan menawarinya apartemenku. Mungkin dia masih butuh waktu, Oma. Dia kan baru saja berpisah dari suaminya."


Oma Ratna mengangguk paham. "Ya baiklah. Kapan-kapan ajak Alza kemari ya! Oma kangen sama dia."


"Iya, Oma. Kalau gitu, aku pergi dulu ya! Maaf ya, aku gak sarapan di rumah."


Argan mencium pipi Oma Ratna sebelum pergi.


...***...


Argan menekan bel di pintu apartemen Alza. Tak lama, wanita cantik itu menyembul keluar dan memperlihatkan senyum pada Argan.


Wajahnya memang tersenyum. Namun Argan tahu, dalam lubuk hatinya Alza masih terluka. Terbukti dengan matanya yang masih terlihat sembab. Semalam pasti Alza menangis lagi, begitulah pikir Argan.


"Ayo masuk, Bang! Aku masak nasi goreng aja sama telor ceplok. Aku belum tahu apa makanan kesukaan Abang."


Argan memposisikan dirinya duduk di kursi meja makan.


"Aku suka semua makanan buatanmu, Za. Apapun yang kamu masak, akan ku makan."


Alza tersenyum. Dalam hati ia kembali mengucap terima kasih.


"Aku pikir mungkin dengan begini aku bisa membalas kebaikan Abang. Meski masih jauh dengan apa yang Abang lakukan untukku."


"Ssst, Alza! Aku tidak membutuhkan apapun untuk dibalas. Aku hanya ingin kamu bahagia. Itu saja!"


Alza menundukkan pandangannya. Untuk saat ini bukan waktu yang tepat memikirkan soal hati. Alza harus menata hidupnya lebih dulu.


Di tempat berbeda, keluarga Pratama juga sedang berkumpul di meja makan dan menyantap sarapan mereka. Kabar mengenai pernikahan Arion dan Jesly sudah terdengar diantara para pelaku bisnis, termasuk Dennis dan Juno.


"Jadi, kabar mengenai pernikahan Arion itu benar?" tanya Lia yang masih peduli dengan Alza.


"Iya, Ma." Dennis menjawab sendu. Dennis juga masih peduli pada Alza.


"Lalu sekarang Alza bagaimana?"


"Aku dengar mereka sudah bercerai, Ma."

__ADS_1


Lia menatap Juno. "Ya Tuhan, malang sekali nasib kamu, Nak. Bang, bisakah kamu cari tahu soal kondisi Alza? Mama ingin ketemu sama dia. Mama ingin memberi dukungan sama dia."


Dennis menggeleng. "Aku gak tahu Alza sekarang gimana."


"Coba kamu cari tahu dong, Bang. Mama kok kasihan sama Alza."


Perasaan Lia sebagai seorang ibu tentu tidak bisa dibohongi. Lia sudah mengasuh Alza selama 12 tahun. Dan ikatan mereka tentunya sudah cukup dekat.


"Cukup, Ma! Sejak dia keluar dari rumah ini, dia bukan lagi bagian dari keluarga ini! Mama harus ingat jika dia sudah mengkhianati Dennis dan juga Zetta. Kenapa mama malah peduli pada orang lain dari pada anak-anak mama sendiri?" Juno mulai naik pitam.


Lia akhirnya bungkam dan tak bertanya soal Alza lagi. Baginya, Alza tetap seperti putrinya meski ia tak terlahir dari rahimnya.


Di kantor, Dennis mulai mencari cara untuk mendapatkan informasi mengenai Alza. Hingga akhirnya Dennis mendapat satu cara, yaitu menemui Falia, adik Arion. Dennis akan mencari tahu info tentang Alza dari Falia.


Secara di sengaja, Dennis mengikuti kegiatan Falia. Hingga mereka kembali di pertemukan di tempat umum yang pastinya sudah dipersiapkan oleh Dennis.


"Lho? Dennis Pratama?" Falia terkejut karena mereka bertemu di toko buku.


"Oh, hai. Kamu ... Falia kan?"


"Iya."


Dennis mengulurkan tangannya. "Kita belum berkenalan dengan benar."


Falia tertawa kecil. "Oh, come on! Kita sudah saling mengenal karena perusahaan kita adalah saingan." Falia melipat tangannya di depan dada.


Dennis merasa canggung dan menggaruk tengkuknya.


"Katakan ada perlu apa? Aku tidak suka orang yang berbasa basi."


Falia dengan sikap dinginnya telah kembali. Falia dengan tatapan menusuknya kini menatap Dennis penuh curiga.


"Mmm, begini... Saya..."


"Stop! Aku yakin kamu ingin bertanya soal Alzarin. Benar kan?" terka Falia sambil tersenyum smirk.


"I-itu..."


"Katakan dengan jelas, apa yang kamu ingin tahu? Aku yakin kamu sudah tahu apa yang terjadi dengan Alzarin."


Dennis menghela napas sejenak. "Kita bicara di tempat lain saja. Bagaimana?"


Falia tersenyum. "Baiklah. Kita mau bicara dimana?"


...***...


Di kantornya, Alza memikirkan soal masa depan yang akan ia jalani. Ia harus bisa hidup mandiri meski tanpa dukungan siapapun.


"𝘼𝙠𝙪 𝙜𝙖𝙠 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨-𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨𝙖𝙣 𝙩𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖𝙡 𝙙𝙞 𝙖𝙥𝙖𝙧𝙩𝙚𝙢𝙚𝙣 𝘽𝙖𝙣𝙜 𝘼𝙧𝙜𝙖𝙣. 𝘼𝙠𝙪 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙘𝙖𝙧𝙞 𝙩𝙚𝙢𝙥𝙖𝙩 𝙩𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖𝙡."


Alza membuka internet dan mencari beberapa alternatif rumah yang bisa ia tinggali.


"𝘿𝙪𝙝, 𝙝𝙖𝙧𝙜𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙚𝙧𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙢𝙖𝙝𝙖𝙡. 𝙐𝙖𝙣𝙜𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙘𝙪𝙠𝙪𝙥 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙚𝙡𝙞𝙣𝙮𝙖. 𝘼𝙥𝙖 𝙢𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜 𝙡𝙚𝙗𝙞𝙝 𝙗𝙖𝙞𝙠 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙙𝙞 𝙖𝙥𝙖𝙧𝙩𝙚𝙢𝙚𝙣 𝘽𝙖𝙣𝙜 𝘼𝙧𝙜𝙖𝙣?"


"Kamu lagi lihatin apa, Za?" Tiba-tiba Argan datang dan berada dibelakang punggung Alza.


"Bang Argan?" Alza buru-buru menutup ponselnya. Alza tak ingin Argan curiga dengannya yang sedang mencari tempat tinggal.


"A-ada apa, Bang?" Alza mendadak gugup karena tubuh Argan yang terlalu dekat dengannya.


"Ini sudah waktunya makan siang. Ayo kita keluar!"


"Eh? Ah, iya Bang. Aku keasyikan sampai lupa kalau udah jam makan siang. Abang mau makan apa?" Alza bangkit dari duduknya dan berdiri berhadapan dengan Argan.


Wajah polos Alza membuat Argan makin gemas. Ia memegang kedua pipi Alza dan menggerakkannya ke kanan dan kiri.


"Aku mau makan kamu!" candanya.


"Heh?!"

__ADS_1


𝘌𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘦𝘭𝘢𝘺𝘶𝘵𝘪𝘬𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘨𝘦𝘭𝘢𝘮 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘪𝘯𝘪. 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘪 𝘉𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘳𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘬𝘢𝘬𝘢𝘬𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩. 𝘚𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯𝘱𝘶𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘵𝘶...


__ADS_2