Kemilau Cinta Alzarin

Kemilau Cinta Alzarin
Bab 23


__ADS_3

Alzarin menatap pria muda yang ada di depannya. Alza tidak merasa kenal dengan orang yang menyapanya.


"Maaf, Tuan. Apa saya mengenal Anda?" tanya Alza sambil menundukkan wajah.


Pria yang adalah Argan hanya tersenyum melihat tingkah Alza yang salah tingkah.


"Apa kamu lupa? Kita pernah bertemu, Nona. Tapi... Saat itu kamu dalam keadaan tidak sadarkan diri."


"Eh?!"


"Aku menolongmu saat kamu pingsan di jalan. Aku membawamu ke rumahku dan..."


"Tuan adalah cucu Oma Ratna?" Akhirnya Alza ingat insiden hari itu.


"Benar. Kenalkan, namaku Argantara, panggil saja Argan."


Argan mengulurkan tangannya. Alzarin menyambutnya.


"Alzarin."


"Bagaimana kabarmu? Aku tidak percaya jika kamu adalah istri Arion Nusantara."


"Eh? Apa Tuan salah satu rekan bisnis Arion?"


"Benar. Dan... Jika ada waktu, berkunjunglah ke rumah. Oma akan senang bertemu denganmu. Dia sangat mengkhawatirkanmu saat kamu pergi begitu saja dari rumah."


Alza kembali menunduk. "Maaf... Aku benar-benar minta maaf karena aku tidak tahu terima kasih. Tolong sampaikan permintaan maafku pada Oma Ratna. Dan terima kasih sudah menolongku."


"Sebenarnya apa yang terjadi saat itu?"


Pertanyaan Argan membuat Alza kurang nyaman. Pastinya mereka hanyalah orang asing dan tidak sepantasnya Alza bercerita masalah hidupnya pada orang asing.


"Aku hanya..." Alza bingung harus menjawab apa. Ada satu sisi dalam dirinya yang berucap jika Argan adalah orang baik. Buktinya Argan mau menolongnya meski tidak saling mengenal.


"Alza!"


Panggilan dari arah belakang membuat Alza menoleh. Itu adalah Arion.


"Argan?" Arion menyapa Argan.


"Ah, Arion. Selamat ya! Akhirnya kau menikah juga." Argan mengulurkan tangannya. "Kalau begitu aku permisi dulu!" Argan pamit undur diri lebih dulu.


Arion menatap Alza yang terlihat pucat. "Sayang, kamu baik-baik saja?"


Alza mengangguk. "Sudah lebih enakan."


"Kamu... Kenal dengan Argan?"


"Eh?! Ti-tidak. Tadi kami hanya bertemu di depan toilet."


"Ya sudah, mari kita kembali ke panggung. Orang-orang sudah menunggu kita."


Alza mengangguk. Arion tampak memapah langkah Alza dengan hati-hati.


Dari kejauhan, Argan memperhatikan interaksi antara Alza dan Arion. Ada sesuatu yang aneh yang ia tangkap dari raut wajah Alza.

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang disembunyikan gadis itu? Sepertinya dia sangat tertekan bersama Arion."


Argan memutuskan untuk meninggalkan pesta lebih awal. Argan berkendara hingga tiba di rumah mewah milik keluarganya.


"Argan? Kamu sudah pulang, Nak?" Sapaan Oma Ratna tidak digubris olehnya.


"Argan!"


"Eh?! Iya, Oma. Kenapa?"


"Kamu itu yang kenapa? Kenapa malah melamun? Gimana pestanya?"


Argan terlihat berpikir sejenak. "Hmm, ramai. Banyak rekan bisnis kita yang datang juga. Oh ya, apa Oma tahu? Ternyata Arion menikahi gadis yang waktu itu kita tolong."


"Heh?! Maksudmu gadis yang pingsan di jalan itu?"


Argan mengangguk. "Iya, Oma. Namanya Alzarin."


"Jadi, gadis itu menikahi cucu Johan Nusantara? Kebetulan macam apa ini?" batin Oma Ratna.


"Ya sudah, kamu sepertinya sangat lelah. Istirahat langsung saja ke kamar."


"Iya, Oma. Selamat malam!" Argan mengecup pipi Oma Ratna sebelum masuk ke dalam kamarnya.


...***...


Pesta pun telah usai. Alza dan Arion kembali ke rumah keluarga Nusantara, begitu juga dengan yang lainnya.


Arion dan Alza akan masuk ke dalam kamar, tapi Falia menarik tangan Arion dan membisikkan sesuatu di telinga Arion.


"Sialan kau! Kupikir kau mau bicara apa!" Arion menjitak kepala Falia yang menjulurkan lidah kearahnya.


Arion kembali ke kamar dan menemui Alza.


"Sini aku bantu lepaskan gaunnya."


"Ah iya, ma-makasih." Alza nampak gugup. Ia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Lima belas menit kemudian, Alza keluar dari kamar mandi dan menyiapkan pakaian ganti untuk Arion. Alza berusaha untuk tetap tenang meski dalam hatinya sangat bergemuruh.


"Ya Tuhan, apa dia akan melakukannya malam ini? Bagaimana ini? Rasanya aku masih belum percaya jika aku menikah dengan Arya."


Alza menetralkan degup jantungnya yang tak beraturan sembari menunggu Arion keluar dari dalam kamar mandi. Alza yang mengantuk akhirnya merebahkan diri di tempat tidur hingga dirinya malah benar-benar terlelap.


Arion keluar dari kamar mandi dan melihat Alza sudah terlelap. Ia hanya menghela napas.


"Bersabarlah ArJun, kita harus mendapatkan hatinya lebih dulu agar bisa bersenang-senang dengannya nanti." Arion berkata sambil menunduk ke bawah menatap sesuatu yang mulai terbangun.


...***...


Keesokan harinya, Alza bangun lebih cepat karena ia sadar posisinya sebagai istri yang harus mengurus suaminya. Alza ingin beranjak tapi tangan kekar seseorang ternyata sedang memeluknya.


"Arion...?" gumam Alza sambil melepas pelukan Arion perlahan.


Alza menatap wajah tenang Arion saat tertidur. Sangat berbeda dengan wajah Arion dalam kesehariannya yang dingin dan datar.

__ADS_1


"Coba saja kamu selalu semanis ini. Mungkin aku tidak perlu membencimu karena sudah menyakitiku."


Alza bangkit dari tidurnya dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelahnya ia menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk keluarga barunya.


"Lho, Alza? Kamu mau apa di dapur?" Pertanyaan Arnis disambut senyuman oleh Alza.


"Aku ingin memasak, Ma."


"Jangan, itu tidak perlu. Sudah ada Mbok Sum yang akan memasak nanti."


"Tidak apa, Ma. Aku akan bantu-bantu juga."


Arnis mengulas senyum melihat kegigihan menantunya itu. "Oh ya, nanti mama buatkan juga sesuatu untuk kamu. Itu bagus untuk ibu hamil."


Hari-hari Alza cukup menyenangkan tinggal bersama keluarga Nusantara. Apalagi Arnis selalu bersikap baik padanya layaknya ibu kandung.


Bulan demi bulan telah terlewati. Perut Alza semakin membuncit dan ia bisa merasakan tendangan kecil yang dilakukan bayinya.


"Ini, minumlah! Orang tua jaman dulu bilang ini bagus untuk ibu hamil agar dimudahkan dalam persalinan nanti."


Alza menerima segelas minuman bening yang katanya adalah VCO atau virgin coconut oil. Alza merasakan kasih sayang Arnis terhadapnya. Alza sangat bahagia bisa merasakan kasih sayang seorang ibu.


"Terima kasih, Ma."


"Ya sama-sama. Kalau begitu Mama ke belakang dulu mau lihat tanaman mama di kebun belakang."


"Iya, Ma."


Alza menatap kepergian Arnis sambil tersenyum lega.


"Sepertinya mama Arnia tahu banyak soal kehamilan ya, Mbok." Alza bicara dengan Mbok Sum yang sedang memasak di dapur.


"Iya, Non. Dulu sekali Nyonya Arnis kan pernah hamil dan melahirkan. Jadi wajar kalau beliau memiliki pengetahuan soal ibu hamil."


"Eh?! Mama pernah hamil dan melahirkan?" Mata Alza membola saat mendengarnya.


"Benar, Non. Tapi sayang..." Mbok Sum terlihat sedih.


"Sayang kenapa, Mbok?" Alza penasaran.


"Putrinya meninggal setelah dilahirkan."


Alza menutup mulutnya. Tentu ia sangat terkejut mendengar hal yang tidak disangkanya. Alza pikir selama ini Mama Arnis mengadopsi anak karena tidak bisa memiliki keturunan. Nyatanya Arnis pernah melahirkan seorang putri dan meninggal.


Kegelisahan mengenai Arnis akhirnya Alza sampaikan kepada Arion.


"Sayang, kamu dengar dari mana soal itu?" tanya Arion.


"Dari Mbok Sum. Aku yakin Mbok Sum tidak berbohong."


"Trus kalau Mbok Sum memang gak bohong, kita bisa apa? Toh anak Mama Arnis sudah meninggal."


Alza terdiam. "Benar juga apa kata Arion. Memang apa yang bisa dilakukan dengan orang yang sudah meninggal?"


"Sayang, besok jadwalnya kamu ke dokter kan? Aku akan antar kamu ya!"

__ADS_1


Alza mengangguk. Setidaknya meski Johan belum bisa menerima pernikahan mereka, Alza memiliki Arion dan Arnis yang selalu menyayanginya. Dan ia bersyukur untuk itu.


__ADS_2