
Pagi hari menyapa, Alza keluar dari kamar dan menuju ke dapur. Seperti dulu, Alza selalu suka membantu untuk menyiapkan sarapan pagi keluarganya.
"Eh, Mbak Ani. Lagi bikin apa, Mbak?" Alza menyapa Ani, pengasuh Arbi.
"Ini, Non. Lagi bikin nasi tim buat Den Arbi."
Alza manggut-manggut. Alza segera memposisikan diri untuk menyiapkan bahan-bahan makanan yang akan dimasaknya pagi ini.
Tiba-tiba terdengar suara Arbi menangis. Ani bingung harus memilih memasak atau menghampiri Arbi. Kalau Jesly mendengar Arbi menangis, pastilah Ani yang akan jadi sasaran kemarahan Jesly.
"Mbak Ani temui Arbi saja. Biar aku yang lanjutkan memasaknya."
"Beneran, Non? Makasih ya Non Alza."
"Iya, Mbak. Sama-sama."
Alza mengambil alih masakan Ani. Tinggal memasak sayuran untuk Arbi. Ani adalah pengasuh yang cekatan. Ia selalu memberikan makanan terbaik untuk Arbi.
Saat sedang asyik mengaduk masakannya, Alza dikejutkan dengan sebuah pelukan di pinggangnya. Alza menengok ke bawah dan melihat dua buah tangan kekar melingkar di perut ratanya.
Alza tahu siapa pelaku yang memeluk dirinya. "Kak Arion! Tolong jangan lakukan ini! Kalau kak Jesly melihat nanti dia bisa salah paham."
Arion malah makin mengeratkan pelukannya. "Jesly sudah pergi pagi-pagi sekali. Alza... Aku sangat merindukanmu. Maaf karena dulu aku egois dan tidak memperlakukanmu dengan baik."
Alza memejamkan mata. "Sudahlah, Kak. Semua sudah berlalu. Aku sudah melupakan semuanya. Sekarang tolong lepaskan aku!"
"Tidak, Alza. Aku tidak akan melepaskanmu!"
"Ehem!"
Suara dehaman dari arah belakang membuat Arion dan Alza terhenyak. Alza segera menjauh dari Arion.
"Falia?!" Alza bernapas lega karena itu hanya Falia dan bukan ibunya.
"Falia, tolong jangan salah paham. Tadi aku..."
"Aku tahu. Kamu tidak bersalah, Alza. Dialah yang bersalah!" Falia menunjuk Arion.
"Jaga sikap kakak pada Alza. Kalian sudah bukan lagi suami istri. Dan kakak sendiri yang sudah memilih untuk menikahi Jesly. Jadi, sebaiknya kakak bertanggung jawab dengan pernikahan kakak. Jangan jadi pecundang, Kak!"
Tak ingin menimpali ucapan Falia atau menimbulkan keributan, Arion memilih pergi dari dapur. Falia menggeleng pelan dengan sikap kakaknya itu.
"Kamu gak apa-apa, Alza?"
"Iya, aku baik. Terima kasih ya, Fal."
...***...
Pagi hari di rumah keluarga Syailendra,
Argan dan Oma Ratna duduk berhadapan sambil menyantap sarapan pagi mereka. Argan sesekali melirik sang oma sambil menyiapkan kata-kata yang akan ia ucapkan.
"Ada apa? Apa ada yang ingin kamu katakan?" Oma Ratna seakan tahu sikap aneh cucunya.
"Mmm, begini Oma. Ini tentang Alza..."
Oma Ratna terlihat cuek saat mendengar nama Alza. Oma Ratna tahu jika ia tidak bisa memisahkan Argan dari Alza.
"Katakan saja!" balas Oma Ratna datar.
"Alza sudah menemukan keluarga kandungnya."
__ADS_1
Oma Ratna terhenyak. "Oh ya? Bagaimana bisa?"
"Ceritanya panjang. Aku ingin kita menemui keluarga Alza. Aku ingin meresmikan hubungan kami."
Oma Ratna menatap Argan. "Apa kamu pikir Oma sudah merestui kalian?"
"Oma! Alza bukan anak yatim piatu. Dia punya orang tua lengkap. Ayah dan ibunya masih hidup. Tidak seperti aku yang tidak memiliki siapapun selain Oma. Jika ada yang harus tidak setuju dengan hubungan kami, maka harusnya itu adalah keluarga Alza."
Oma Ratna terlihat kesal. "Jangan mendramatisir! Meski kamu tidak punya orang tua, tapi kamu lihat siapa dirimu! Siapa yang berani menolakmu, hah?"
Argan tersenyum penuh kemenangan. "Kalau begitu Oma setuju untuk menemui keluarga Alza?"
Oma Ratna menghela napas kasar. "Mau bagaimana lagi? Kamu juga tidak mau berpisah dengannya kan?"
"Sampai kapanpun aku tidak akan meninggalkan Alza. Aku mencintainya, Oma."
"Iya, iya. Oma tahu. Sudah saatnya kamu menikah, Nak. Jika memang keluarga Alza menerimamu, maka... Oma bisa apa?"
Argan langsung memeluk Oma Ratna. "Terima kasih, Oma. Terima kasih."
...***...
Malam harinya, Argan bersiap untuk pergi ke rumah keluarga Nusantara. Hingga detik ini, Argan belum memberitahu Oma Ratna jika Alza adalah bagian dari keluarga Nusantara.
Sebelumnya, Argan sudah memberitahu Alza jika dirinya dan Oma Ratna akan datang berkunjung ke rumah. Tentu saja Alza gugup sekaligus senang. Akhirnya perjuangan cintanya dan Argan akan segera berakhir indah.
"Sudah, biarkan saja bibi yang siapkan makan malamnya. Kamu bersiap saja. Sebentar lagi Argan pasti datang." Arnis menghampiri Alza yang sedang sibuk di meja makan.
"Ini tinggal sebentar lagi kok, Ma."
"Kamu ini... Keluarga Argan pasti sangat menyukaimu."
Dari kejauhan, mata tajam seseorang terus memperhatikan Alza. Siapa lagi kalau bukan Arion.
"Ehem! Kakak jangan mengacaukan acara malam ini. Jangan membuat diri kakak malu sendiri." Falia menyindir Arion yang sejak tadi sibuk memperhatikan Alza.
"Berisik! Urus saja urusanmu sendiri!" Arion melengos pergi.
Falia tertawa geli melihat tingkah kakaknya itu.
"Dasar pecundang sejati! Sudah pergi baru merasa kehilangan."
...***...
Pukul tujuh malam, mobil Argan memasuki halaman rumah keluarga Nusantara. Selama perjalanan, Oma Ratna hanya diam tanpa mengajak Argan bicara.
"Oma, kita sudah sampai."
Oma Ratna hanya diam dan menurut. Mereka berdua berjalan memasuki rumah besar keluarga Nusantara.
Ketika pintu terbuka, Alza menyambut dengan senyum mengembang.
"Bang Argan! Oma Ratna!" Alza menggamit tangan Oma Ratna dan menciumnya dengan takzim.
"Silakan masuk, Oma, Bang."
Alza mempersilakan kedua tamu istimewanya masuk. "Aku akan panggilkan mama dan papa dulu."
Belum sempat Alza melangkah, tatapan dingin Johan sudah menyambutnya.
"Kakek?" Alza merasa ada yang tak beres dengan tatapan Johan pada kedua tamunya.
__ADS_1
"Akhirnya kita bertemu lagi, Ratna Syailendra."
Alza menatap dua orang yang kini saling menatap tajam.
"Kakek... Oma..." lirih Alza.
"Hmm, aku tidak pernah menyangka jika Alza adalah cucumu. Tapi dengan aku datang kemari, aku jadi tahu kebenarannya. Jadi aku bisa memutuskan hal yang baik untuk masa depan cucuku!" ucap Oma Ratna.
"Oma? Apa maksud Oma?" Argan bingung dengan ucapan neneknya.
"Argan, maafkan Oma. Sampai kapanpun, Oma tidak akan merestui hubunganmu dengan Alza."
"Eh?!"
Tentu saja pernyataan Oma Ratna membuat semua orang terkejut. Ditambah lagi kini Arnis dan Sultan juga sudah bergabung dengan mereka.
"Baguslah kalau begitu. Aku juga tidak akan pernah sudi berbesanan denganmu, Ratna. Sebaiknya kau dan cucumu angkat kaki dari rumahku!"
"Tunggu, Kakek, Oma! Apa kalian sudah saling mengenal sebelumnya?" Argan mencoba mencari jawaban dari kebingungannya.
"Tentu saja, Nak. Oma sudah mengenal Johan Nusantara yang terkenal licik dalam dunia bisnis."
"Jaga bicaramu, Ratna!" Johan murka. "Aku tidak pernah melakukan apa yang kau tuduhkan!"
"Sudahlah! Tidak ada gunanya membahas hal itu sekarang. Argan, ayo kita pergi dari sini! Dan mulai malam ini, jangan lagi berhubungan dengan Alza ataupun keluarga ini!"
"Tapi, Oma..."
Oma Ratna langsung menarik tangan Argan untuk keluar dari rumah itu.
Alza yang sedari tadi mematung, kini bergegas menyusul Argan dan Oma Ratna.
"Oma! Tolong jangan begini! Jika Oma ada masalah dengan kakek, kita bisa menyelesaikan dengan baik-baik kan?" Alza memohon dengan mata berkaca-kaca.
"Sudah cukup, Alza. Jangan membuat drama di hidup cucuku! Kau dan kakekmu sama saja!"
Oma Ratna tak peduli lagi dengan Alza dan memilih untuk masuk ke dalam mobil.
"Oma!" Alza memanggil Oma Ratna, tapi Argan segera mencegahnya.
"Sayang, sudahlah. Mungkin kita harus bicarakan ini lain kali. Aku janji aku akan bicara dengan Oma. Sekarang kamu masuk saja."
Alza menggeleng. "Abang nggak akan tinggalin aku kan?"
"Tidak! Sampai kapanpun tidak akan kulakukan!" Argan mencium puncak kepala Alza dengan penuh cinta.
"Argan!" teriakan Oma Ratna membuat Argan harus rela berpisah dengan kekasih hatinya malam ini.
"Masuklah! Jangan cemas!"
Tanpa bisa melakukan apapun, Alza membiarkan Argan pergi bersama dengan Oma Ratna. Alza berjalan gontai memasuki rumahnya.
"Kau dengar sendiri kan? Ratna tidak menerimamu sebagai cucu menantunya. Jadi, sebaiknya menyerah saja. Aku juga tidak akan merestui hubungan kalian."
Setelah berkata demikian, Johan masuk ke dalam kamarnya. Meninggalkan berjuta tanya dibenak Alza. Air mata Alza luruh tanpa diminta. Kesedihan yang ia kira akan berujung kebahagiaan, kini malah tidak terwujud.
"Sayang..." Usapan lembut tangan Arnis membuyarkan kesedihan Alza.
"Mama..." Alza menumpahkan segala air matanya di pangkuan sang ibu.
...***...
__ADS_1