Kemilau Cinta Alzarin

Kemilau Cinta Alzarin
Bab 31


__ADS_3

Suasana nampak menegang ketika semua orang telah duduk bersama di ruang keluarga. Johan sebagai orang yang paling tua diantara mereka semua mengambil alih perbincangan sebelum mengarah ke topik yang lebih serius.


Arion duduk berdampingan dengan Alza dan Falia. Sultan bersama dengan Arnis. Dan Jenny yang selalu mendampingi Jesly yang masih terisak.


Johan berdeham sebelum bicara. "Ehem! Sebagai orang yang paling tua di rumah ini. Aku menerima kedatangan Anda Nyonya Jenny Chung dan juga putrimu. Aku akan berikan kesempatan pada cucuku untuk bicara. Kalian jangan ada yang menyela dan biarkan Arion bicara."


Johan menatap Arion yang terlihat terdiam dan menunduk pasrah.


"Arion! Silakan kau jawab pernyataan yang dilontarkan oleh Nyonya Jenny. Sebagai pria, kau harus mengakui kesalahan jika memang kau bersalah."


Arion mulai mendongakkan wajahnya. Sudah tak ada cara lagi untuk pergi.


"Kakek... Papa, mama, Falia, dan... Istriku, Alza..."


Falia tak sedikitpun melepaskan genggaman tangannya dari Alza. Meski Alza hanya diam tanpa mengeluarkan suara, Falia tahu hati Alza sedang bergemuruh menantikan apa yang akan dikatakan oleh Arion.


"Aku minta maaf..."


"𝙈𝙖𝙖𝙛? 𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝘼𝙧𝙞𝙤𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙩𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙖𝙛? 𝘼𝙥𝙖 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙙𝙞𝙖 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙠𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙝𝙖𝙡 𝙩𝙚𝙧𝙡𝙖𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙅𝙚𝙨𝙡𝙮?" Batin Alza menerka-nerka dengan cemas.


"Aku melakukan kesalahan dengan Jesly..."


Hancur sudah hati Alza mendengar pengakuan Arion. Suami yang ia percaya sangat mencintainya. Suami yang selalu berkata jika dia mencintai Alza hingga bisa melakukan apapun untuk mendapatkan cinta wanita itu. Kini semua runtuh bagaikan gedung pencakar langit yang tergerus oleh bom atom.


Alza memejamkan mata. Sedikitpun air mata masih belum ada yang tergenang di pelupuk matanya. Hanya sebersit rasa sesak dan sesal karena lagi dan lagi harus merasakan kekecewaan.


"Nah, kalian dengar sendiri kan? Arion memang sudah menghamili Jesly. Jadi, sekarang kamu harus bertanggung jawab dengan menikahi Jesly! Bagaimana bisa Jesly mengandung tanpa suami? Apa kata orang-orang nantinya? Jesly adalah seorang artis. Nama baik keluarga ini juga dipertaruhkan karena masalah ini." Jenny bicara panjang kali lebar mendesak Arion agar menikahi Jesly.


"Tapi, Nyonya... Arion sudah menikah, bagaimana mung..."


"Anda juga seorang ibu kan? Anda pasti tahu bagaimana perasaan seorang ibu yang anaknya disakiti seperti ini! Apa salahnya jika seorang pria memiliki istri lebih dari satu? Toh Arion lebih dari mampu untuk melakukan itu!" Ucapan Arnis langsung dicegat oleh Jenny. Sepertinya wanita ini sudah mempersiapkan segalanya dengan rapi agar bisa mencapai tujuannya.


Johan menghela napas mendengar pernyataan Arion. Satu kali lagi Arion membuatnya kecewa. Johan menatap Arion dan menunggu apa keputusan yang akan diambil Arion tentang desakan Jenny.


"Kenapa kamu diam? Ayo jawab! Kamu akan menikahi putriku kan? Jesly sedang mengandung anakmu! Kamu bahkan bisa melakukan tes DNA jika mau. Agar kalian tak ragu lagi tentang kebenaran semua ini."


Disini hanya Jenny yang terlihat mendominasi perbincangan. Semuanya masih bungkam karena terlalu syok dengan kenyataan yang ada.

__ADS_1


"Baik, aku akan bertanggung jawab!"


Jawaban Arion membuat Alza menoleh padanya. Alza tak percaya jika Arion langsung setuju untuk bertanggung jawab tanpa menunggu bukti akurat dari rumah sakit.


"Arion! Kamu yakin?" Tanya Sultan. "Mereka belum menunjukkan bukti jika Jesly hamil. Jadi, harusnya..."


"Enak saja! Putriku benar-benar hamil! Ini buktinya!" Jenny menunjukkan hasil pemeriksaan Jesly kemarin di dokter kandungan. "Itu bukan rekayasa, itu asli!"


Dalam hati, Arion sudah mengakui kesalahannya. Arion kembali membuat luka untuk Alza.


"Aku akan bertanggung jawab dengan syarat anak yang dikandung Jesly harus berjenis kelamin laki-laki."


Tubuh Alza meremang. Usai sudah semua perjuangan yang coba ia raih bersama Arion. Dalam pertempuran ini... Alza sudah kalah.


"Apa katamu?!" Jenny tak terima. "Bagaimana jika nanti anaknya perempuan? Apa kau akan lepas dari tanggung jawabmu?


"Aku akan tetap menafkahi kehidupan anak itu, Tante."


"Mi, tidak apa. Kita jangan menuntut terlalu banyak. Aku tahu posisiku lemah disini, karena ada Alza sebagai istri sah. Tapi, aku minta sama kamu, Ar. Jika anak ini laki-laki, aku ingin kamu benar-benar menikahi aku..." Jesly yang mulai menguasai diri, akhirnya ikut bicara.


Falia ingin menyanggah ucapan Arion, tapi Alza mencegahnya. Alza menggeleng pelan. Alza ingin lihat apa yang sebenarnya diinginkan oleh Jesly.


...***...


Setelah kejadian menguras hati Alza. Kini semua orang kembali ke kamar masing-masing, termasuk Alza dan Arion. Sampai saat ini Alza masih dalam mode diam dan tenangnya.


Sepertinya hati Alza sudah mati rasa dengan apa yang dilakukan Arion. Padahal ia baru ingin memulai kehidupan baru dengan Arion.


Namun agaknya takdir masih mempermainkan kebahagiaan Alza.


"Apa tidak ada yang ingin kamu jelaskan, Mas?"


Akhirnya Alza bertanya karena Arion juga diam sejak masuk ke dalam kamar. Tiba-tiba Arion berlutut di depan Alza.


"Maafkan aku, Alza. Aku bersalah. Aku orang hina yang tak pantas mendapat maafmu..."


Alza memalingkan wajah. Sungguh ia tak ingin jadi lemah sekarang. Suara dalam hatinya mengatakan Alza tak boleh menangis. Untuk apa menangisi pria yang tak pernah mengerti dirimu?

__ADS_1


"Kenapa Mas memintanya tinggal disini? Apa Mas sengaja ingin menunjukkan padaku jika wanita itu berharga untukmu karena mengandung anakmu?"


Alza malah menanyakan hal yang menggelitik hatinya.


"Tidak, Alza. Aku hanya tidak ingin masalah ini dibesar-besarkan oleh Tante Jenny. Mereka berdua licik, Alza. Aku harus memastikan apakah Jesly benar hamil atau hanya sekedar sandiwara. Makanya aku memintanya tinggal disini agar bisa mengawasinya."


Alza makin tak mengerti dengan jalan pikiran Arion. "𝙅𝙖𝙙𝙞, 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙠𝙞𝙧𝙠𝙖𝙣 𝙣𝙖𝙢𝙖 𝙗𝙖𝙞𝙠 𝙠𝙚𝙡𝙪𝙖𝙧𝙜𝙖 𝙞𝙣𝙞 𝙩𝙖𝙣𝙥𝙖 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙠𝙞𝙧𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙖𝙨𝙖𝙖𝙣𝙠𝙪? 𝘼𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙨𝙚𝙧𝙚𝙣𝙙𝙖𝙝 𝙞𝙣𝙞, 𝙈𝙖𝙨."


"Sayang..." Arion kini telah berdiri dan memegangi pundak Alza. "Aku yakin kita bisa menghadapi badai ini. Ujian cinta kita masih belum selesai."


Alza menepis tangan Arion. "Entahlah, Mas. Apa kamu pikir aku sekuat itu untuk bertahan? Kita akan lihat nanti!"


Alza keluar dari dalam kamar dan memilih untuk membantu para ART di dapur. Sarapan yang harusnya dimulai satu jam yang lalu, harus mundur karena kehadiran Jesly dan ibunya.


Alza sedang menata sarapan di meja ketika Jesly tiba-tiba datang. Setelah mengantar ibunya yang pamit pulang, Jesly menuju ruang makan karena merasa perutnya mulai lapar.


"Ehem!" Jesly berdeham.


Alza tak peduli dengan kehadiran Jesly. Meski sebenarnya Alza ingin memaki dan mengamuki Jesly, tapi Alza merasa semua itu tak ada gunanya. Marah tidak akan mengembalikan waktu yang sudah terputar.


"Hei, pelayan!" Jesly sengaja mengejek Alza.


Alza menoleh dengan tatapan sinis. "Ada apa?"


Jesly menutup mulutnya tak percaya. "Astaga! Ternyata kamu memang seorang pelayan ya! Baiklah, kalau begitu aku mau pesan dibuatkan steak untuk makan siangku nanti!"


"Apa katamu?"


"Ck, steak! Kamu tahu? S T E A K, daging sapi, kamu paham kan?" Jesly benar-benar menguji kesabaran Alza.


"Iya, aku tahu. Tapi kenapa kamu memintanya padaku?"


"Karena kamu kan pelayan di rumah ini. Kamu harus tahu diri siapa posisimu di rumah ini!"


"Keterlaluan kamu!" Bentak Alza.


"Ada apa ini?" Suara seseorang dari arah belakang membuat Alza dan Jesly terdiam.

__ADS_1


__ADS_2