Kemilau Cinta Alzarin

Kemilau Cinta Alzarin
Bab 68


__ADS_3

Setelah mendapatkan penjelasan dari perawat jika golongan darah Aryan tidak cocok dengan Arbi, kini Alza hanya bisa berpasrah jika ada golongan darah di tempat penyimpanan cocok dengan darah Arbi.


Alza kini duduk bersandar sambil memeluk Falia. Kenyataan pelik kembali mendera kehidupan Alza. Kepalanya terasa berdenyut setelah mengetahui satu lagi fakta mengenai Arbi.


Apa Jesly sengaja menjebak Aryan untuk memisahkan kami? Lalu siapa ayah kandung Arbi?


"Kalian kenapa diam? Tolong jelaskan padaku ada apa ini? Kenapa kau memintaku untuk menolong Arbi? Memangnya aku ini orang tua Arbi?"


Pertanyaan Aryan tidak ada yang berani menjawab. Aryan sendiri lupa tentang masa lalunya. Jadi Alza juga tak berani mengatakan yang sebenarnya.


"Aryan, sudahlah. Jangan memperkeruh suasana. Alza sedang sangat sedih." Dennis menarik tangan Aryan agar tidak mengganggu Alza untuk sementara waktu.


Tak lama setelahnya, Arnis datang bersama dengan Sultan. Mereka menghampiri Alza.


"Bagaimana kondisi Arbi?" tanya Arnis.


"Dokter masih memeriksanya, Ma. Dan... Arbi butuh donor darah karena lukanya sepertinya serius." Falia menjelaskan dengan tetap memeluk Alza.


"Sayang..." Arnis duduk disamping Alza dan mengusap punggungnya.


"Maafkan Alza, Ma... Jika saja aku menuruti saran Mama, pasti Arbi tidak akan mengalami kecelakaan. Ini semua salahku, Ma. Ini semua salahku!" Alza kembali menangis dan menyalahkan dirinya.


Melihat Alza yang terus menangis, Aryan sebenarnya tidak tega. Aryan ingin memeluk Alza dan menenangkannya.


...***...


Akhirnya Arbi mendapatkan donor darah yang cocok. Kini kondisinya mulai membaik. Arbi sudah dipindahkan ke ruang perawatan.


Dengan telaten Alza terus berada di sisi Arbi. Ia tak mau meninggalkan putranya barang sebentar.


"Nak, makan dulu. Ini sudah malam dan kau belum makan." Arnis membawakan satu kotak makanan untuk Alza.


Falia dan Dennis sudah kembali ke rumah. Tinggal Arnis dan Sultan yang masih menemani Alza.


"Aku tidak lapar, Ma. Aku hanya ingin melihat mata anakku terbuka. Jika aku bisa, harusnya aku saja yang menggantikan dia ada di ranjang ini."


"Sayang... Jangan bicara begitu. Arbi adalah anak yang kuat. Dia pasti bisa bertahan. Kamu juga harus memikirkan kesehatanmu, Nak."


"Apa yang dikatakan mamamu itu benar, Alza. Jika Arbi melihatmu begini, dia pasti akan sedih."


Alza tersenyum menatap kedua orang tuanya. "Terima kasih. Aku pasti akan makan kok. Tapi tidak sekarang. Sudah malam, papa dan mama sebaiknya pulang ke rumah. Biar aku yang menjaga Arbi disini."


Sultan dan Arnis tahu jika tidak akan bisa membuat Alza menjauh dari Arbi. Mereka akhirnya mengalah.


"Baiklah. Kami pulang dulu. Jangan lupa dimakan ya nasi kotaknya."


"Iya, Ma. Sekali lagi terima kasih ya Ma, Pa."


Sepeninggal Sultan dan Arnis, Alza kembali duduk di samping ranjang Arbi dan menggenggam tangan mungil bocah itu. Sungguh Alza merasa bersalah meski ia juga masih bingung kenapa Arbi ternyata bukan anak kandung Aryan.

__ADS_1


𝙏𝙤𝙠 𝙩𝙤𝙠


Pintu ruangan di ketuk. "Masuk!" Alza pikir itu adalah perawat yang ingin memeriksa Arbi, tapi ternyata ia salah.


"Aryan?" Alza berbalik badan dan melihat sosok Aryan di depannya.


"Hai, maaf ya aku baru datang lagi."


"Terima kasih sudah datang. Tapi... Kenapa kamu datang lagi? Kupikir kamu sudah pulang."


Aryan melirik nasi kotak yang ada di meja. "Kamu pasti belum makan."


"Aku tidak lapar, Aryan."


"Tapi kamu harus tetap makan, Alza." Tanpa persetujuan Alza, Aryan menarik tangan Alza dan memintanya duduk di sofa.


"Kamu harus makan!" perintah Aryan.


"Nanti saja jika aku sudah merasa lapar."


"Alza! Tidak ada penolakan!" Aryan membuka bungkus nasi kotak dan menyendok makanan lalu mengarahkannya ke mulut Alza.


"Aryan, sudah kubilang aku tidak la..."


Satu suapan masuk ke mulut Alza.


Alza merengut. "Ini sudah malam! Nanti aku bisa gemuk kalau makan semalam ini."


"Gemuk dari mana? Kamu itu malah terlalu kurus, Alza." Aryan kembali menyuapi Alza.


Hati Alza menghangat dengan sikap Aryan. Hingga akhirnya seluruh makanan habis tak tersisa.


"Minumlah!" Aryan menyodorkan segelas air putih.


"Terima kasih. Ini sudah malam, kamu pulanglah!"


"Kamu mengusirku?" Aryan terlihat kesal.


"Tidak, bukan begitu. Hanya saja... Apa kata orang-orang jika kamu ada disini."


"Kenapa memangnya? Bukankah aku adalah ayahnya Arbi?"


"Eh?" Alza menundukkan kepalanya.


"Alza, sekarang katakan dengan jujur. Kamu memintaku datang karena aku adalah ayahnya Arbi. Benar kan?"


Alza bungkam. Apakah ia harus jujur sekarang?


"Tapi kalian kaget karena aku ternyata... Bukan ayah kandung Arbi. Sebenarnya apa yang terjadi denganku di masa lalu. Arbi anak kandungmu atau bukan?"

__ADS_1


Alza memejamkan matanya. "Maaf aku tidak bisa menceritakannya."


Tangan Aryan mengepal. Kenapa Alza tidak mau mengatakan apapun? Padahal sudah jelas jika di masa lalu mereka terhubung dengan hubungan yang cukup rumit.


"Baiklah, kalau kamu tidak bisa mengatakannya maka aku akan mencari tahu sendiri. Kamu pikir sulit untuk mencari tahu? Sementara kemarin aku bertemu dengan orang yang mengaku sebagai temannya Arion Nusantara."


Alza terhenyak mendengar kalimat Aryan. Langkah kaki pria itu terhenti ketika Alza mencekal lengannya.


"Kenapa lagi? Bukankah tadi kamu menyuruhku untuk pulang?"


Alza melepas cekalan tangannya. "Maaf..." Alza menundukkan wajahnya.


Aryan tersenyum lalu memegangi kedua bahu Alza. Ia tahu saat ini Alza sedang rapuh. Dihadapkan dengan masalah Agasa dan kini soal Arbi.


"Aku akan mendengarkan semua ceritamu. Tapi kumohon jujurlah!"


Alza merasa tidak punya pilihan lagi. Akhirnya Alza mulai bercerita tentang masa lalu Aryan. Namun Alza tidak menyebutkan jika dirinya juga ada dalam masa lalu Aryan.


...***...


Setelah bicara dengan Alza, tiba di apartemennya, Aryan langsung mencari bukti-bukti untuk melengserkan Agasa dari Nusantara Grup. Semalaman Aryab tidak tidur hanya untuk meretas semua bukti kejahatan milik Agasa.


Keesokan harinya, Aryan pergi ke rumah keluarga Nusantara dan berniat menemui Johan. Entah apa reaksi Johan melihat kedatangan Aryan yang tiba-tiba.


"Terserah Anda akan percaya pada saya atau tidak. Tapi yang jelas, saya disini hanya ingin membantu Alza." Aryan menyerahkan sebuah disk data yang berisi berkas kejahatan Agasa.


Johan hanya menatap datar pria muda di depannya. Entah ia mengenali sosok baru Aryan atau tidak. Karena memang mereka sedikit berbeda.


"Baiklah. Aku akan menerima bukti darimu. Sekarang kau boleh pergi. Dan ingat! Jika kau sengaja melakukan ini untuk memanfaatkan Alza, maka aku tidak akan tinggal diam. Kau mengerti?"


Aryan mengangguk. "Saya mengerti, Tuan."


Aryan membungkuk hormat kemudian berlalu dari hadapan Johan. Aryan mengedar pandangan dan melihat satu kamar yang pintuya terbuka.


"Nona Alza bilang kita harus merapikan kamar Den Arbi. Aku akan ambil peralatan dulu."


Aryan menguping pembicaraan dua orang ART. Aryan mendekati kamar yang ternyata milik Arbi.


Aryan masuk dan mengedarkan pandangan. Aryan menatap nakas di samping tempat tidur Arbi.


Sebuah foto keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak. Itu adalah foto Jesly, Arion dan Arbi.


Mata Aryan membola menatap bingkai foto itu. "I-itu adalah... Aku...?"


Aryan memegangi kepalanya yang terasa berdengung.


"Argh! Kepalaku...!"


"Aryan! Apa yang kau lakukan disini?"

__ADS_1


__ADS_2