
Suasana canggung tiba-tiba terjadi diantara Alza dan Arion. Tatapan mata mereka sempat beradu selama beberapa saat. Kenangan saat mereka masih bersama dulu di panti asuhan tiba-tiba melintas di benak Alza.
Namun sesegera mungkin Alza menepis semuanya. Ia segera melepaskan diri dari Arion.
"Masuklah ke dalam mobil! Aku akan antarkan kakak pulang!" perintah Alza.
Tanpa bantahan Arion menurut dan duduk di kursi depan. Selama perjalanan mereka hanya diam. Arion juga tak bicara apapun. Sesekali ia hanya melirik Alza yang fokus menyetir.
Tiba di depan rumah, Alza turun dari mobil diikuti Arion. Tami yang sejak tadi mencari-cari keberadaan Arion segera menghampiri mereka berdua.
"Aryan! Syukurlah kamu baik-baik saja, Nak!" Tami memeriksa kondisi Arion.
Tami lalu menatap Alza. "Nak Alza, terima kasih. Mari mampir sebentar!" ajak Tami.
Meski sebenarnya Alza ragu, tapi tidak ada salahnya jika mengobrol sebentar dengan Tami mengenai kondisi Arion.
Tami meminta Arion untuk istirahat di kamarnya. Sementara dirinya membuatkan secangkir teh untuk Alza.
"Sekali lagi terima kasih karena sudah menemukan Aryan. Dia masih belum sembuh total."
"Jika Ibu tahu kondisi kak Arion belum pulih, kenapa ibu tidak mengawasinya?"
"Maafkan ibu, Nak. Ibu tadi hanya berbelanja ke pasar sebentar. Tadi saat ibu pergi, Aryan masih tidur, jadi ibu pikir dia tidak akan kemana-mana."
Tami terlihat menyesali perbuatannya. Alza tak mungkin menyalahkan Tami sepenuhnya. Karena memang Arion adalah pria dewasa yang bisa saja keluar dari rumah sesuka hatinya.
"Bu, saya minta sama ibu untuk lebih ketat mengawasi kak Arion. Ibu tahu sendiri kan, jika status kak Arion yang dinyatakan sudah meninggal dunia. Apa jadinya jika ada orang yang melihat kak Arion masih hidup? Bisa saja nyawanya terancam. Kak Arion adalah orang penting di dunia bisnis. Dia adalah pebisnis yang hebat, Bu."
"Iya, Nak. Maafkan Ibu." Tami menundukkan wajahnya.
"Lalu, kenapa Ibu tadi memanggilnya Aryan? Sebenarnya siapa nama asli kak Arion?"
Pertanyaan Alza membuat Tami mendongak dan tersenyum. Tami akhirnya menceritakan kisah masa kecil Arion.
"Nama asli yang kuberikan padanya adalah Aryan Aswatama. Tapi karena dia kurang suka dengan panggilan Aryan, makanya dia memanggil dirinya Arya."
Alza mendengarkan dengan seksama cerita Tami. Alza bahkan lupa jika dirinya harus kembali ke kantor karena jam makan siang telah usai.
"Nak Alza, sering-seringlah datang berkunjung kemari. Aryan sangat mengharapkan kehadiran Nak Alza."
"Benarkah?"
Tami mengangguk. "Meski dia tidak ingat masa lalunya, tapi dia merasa jika Nak Alza adalah orang istimewa dalam hidupnya."
__ADS_1
Alza tersenyum samar. Alza tahu seperti apa masa lalunya bersama Arion.
"Ibu sudah dengar cerita masa lalu kalian dari Falia. Ibu tidak bisa berharap lebih, tapi ibu berharap kondisi Aryan kembali membaik seperti dulu."
Perbincangan Alza dan Tami harus berakhir karena gadis itu harus kembali ke kantor. Dari balik pintu kamar, Arion tersenyum mendengar percakapan ibunya dan Alza. Rupanya sejak tadi Arion menguping apa yang dibicarakan ibunya dan Alza.
...***...
Hubungan Dennis dan Falia akhirnya akan memasuki babak baru. Setelah mengutarakan keinginannya untuk serius dengan Falia, malam ini keluarga Dennis datang berkunjung ke rumah keluarga Nusantara.
Meski Johan sempat ragu untuk memberi restu karena masa lalu yang dimiliki Dennis dan Alza, tapi akhirnya Johan setuju berkat dukungan dari Alza. Alza meyakinkan Johan jika dirinya dan Dennis berhubungan baik meski pernah gagal dalam pernikahan. Alza juga mendukung hubungan Dennis dan Falia.
Dua keluarga bertemu dalam suasana yang hangat. Mereka bersepakat jika pernikahan Dennis dan Falia akan dilangsungkan satu bulan lagi.
Senyum bahagia terus merekah di bibir Falia. Gadis itu memeluk Alza yang sudah banyak membantu dalam hubungannya dan Dennis.
"Fal, apa kamu tidak ingin memberi kabar bahagia ini dengan Bu Tami? Bagaimanapun juga, dia adalah ibu kandungmu." Alza bicara saat acara pertemuan keluarga telah berakhir.
Falia mendadak malas membicarakan soal keluarga kandungnya. "Aku akan memberitahu dia, tapi tidak sekarang."
"Ibu Tami pasti sedih karena kamu tidak melibatkannya dalam acara pernikahanmu."
Falia menghela napas dalam. "Apa boleh buat? Apa yang akan kukatakan pada keluarga ini kalau aku sampai melibatkan Ibu Tami? Apa aku harus jujur pada mereka kalau aku masih memiliki ibu kandung?"
"Tidak tidak! Tidak sekarang, Alza! Sebentar lagi aku akan menikah. Aku tidak mau orang dari masa laluku malah membuat kekacauan di hari bahagiaku."
Alza mendesah pelan. "Setidaknya katakan kabar bahagia ini padanya. Jangan sampai beliau tahu dari orang lain. Bu Tami pasti sedih."
"Ya ya ya, baiklah, Alza sayang..."
...***...
Hari ini Argan memenuhi keinginan Oma Ratna untuk pulang kerja lebih awal. Oma Ratna bilang, malam ini ia menyiapkan makan malam spesial untuk Argan.
Tiba di rumah, Argan segera disambut oleh sang nenek. Oma Ratna memeluknya erat selama beberapa saat. Namun ada yang aneh dirasakan Argan.
Argan melihat ada satu orang lagi yang akan makan malam bersama mereka.
"Argan, kenalkan. Ini Agatha. Dia adalah putri dari rekan bisnis kita, Tuan Kris Hatta."
"Halo, aku Agatha." Gadis cantik dengan kesempurnaan fisik itu kini mengulur tangan kearah Argan.
"Halo juga. Aku Argantara."
__ADS_1
"Agatha akan makan malam bersama kita. Sekalian biar kalian bisa saling mengenal. Selama ini Agatha tinggal di luar negeri. Dia baru menyelesaikan studi S2 nya." Oma Ratna bercerita dengan bersemangat.
Argan yang tak ingin mengecewakan sang nenek hanya bisa membalas dengan seulas senyum. Selama makan malam berlangsung, Oma Ratna tampak asyik berbincang dengan Agatha. Ada kecocokan yang sengaja diperlihatkan di depan Argan.
"Argan, tolong antarkan Agatha pulang ke rumah ya!" pinta Oma Ratna ketika makan malam berakhir.
Tanpa penolakan Argan hanya bisa menurut. Sejak dulu Argan selalu menuruti keinginan Oma Ratna. Argan tak ingin membuat Oma Ratna yang sudah membesarkannya menjadi sedih.
Dalam perjalanan menuju rumah Agatha, Argan hanya fokus menyetir dan tak berniat mengajak gadis disampingnya berbincang ringan.
"Kenapa diam saja? Kenapa tidak bertanya dimana rumahku? Apa kamu sudah tahu?" Agatha membuka percakapan.
"Oma sudah memberitahuku," jawab Argan datar.
"Oh, kupikir kamu memang sudah tahu." Agatha sengaja memancing Argan.
"Sejak kapan kamu mengenal nenekku? Jarang sekali gadis muda sepertimu berteman dengan nenek-nenek."
Agatha malah tertawa. Sebuah tawa kecil yang masih terdengar malu-malu. Agatha sangat menjaga sikapnya di depan Argan. Begitulah gadis dari keluarga terpandang bersikap. Jauh berbeda dengan sosok Alza yang apa adanya dan terdengar ceria. Argan jadi ingat dengan kekasihnya itu.
"Jadi, apa tujuanmu makan malam di rumah Oma Ratna?" tanya Argan langsung pada intinya.
"Astaga, Argan! Apa kamu serius bertanya? Atau hanya berpura-pura tidak tahu? Tentu saja kita ini akan dijodohkan. Keluargaku sudah setuju dengan rencana para orang tua. Dan aku sendiri... Aku juga tidak menolak. Aku sudah banyak mendengar tentangmu, Argan."
"Apa kamu tahu kalau aku sudah memiliki kekasih?"
Agatha tersenyum simpul. "Kekasih? Maksudmu si janda itu?"
Tangan Argan mengepal sempurna. Ingin rasanya memarahi Agatha saat ini juga karena sudah menghina Alza dengan panggilan janda. Namun Argan sendiri juga tahu jika status Alza memang seorang janda. Alza sudah pernah menikah.
Tanpa bisa menjawab, Argan terus melajukan mobil hingga tiba dikediaman Agatha.
"Mau mampir?" tawar Agatha.
"Tidak, terima kasih."
"Baiklah. Selamat malam, Argan." Sebelum turun dari mobil, Agatha sempat mengecup singkat pipi Argan. Pria itu terkesiap tapi tak bisa menolak karena semua terjadi dengan begitu cepat.
"Astaga!" Argan mengusap kasar wajahnya. "Apa lagi ini? Kenapa jalanku bersama Alza begitu berliku? Apa kami memang tidak ditakdirkan bersama?"
...***...
𝙬𝙖𝙝 𝙬𝙖𝙝 𝙬𝙖𝙝, 𝙠𝙞𝙧𝙖2 𝙨𝙞𝙖𝙥𝙖 𝙮𝙖 𝙟𝙤𝙙𝙤𝙝𝙣𝙮𝙖 𝘼𝙡𝙯𝙖? 𝙖𝙠𝙖𝙣𝙠𝙖𝙝 𝙢𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝘼𝙧𝙜𝙖𝙣? 𝙖𝙩𝙖𝙪 𝙠𝙚𝙢𝙗𝙖𝙡𝙞 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙠𝙞𝙨𝙖𝙝 𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙖 𝘼𝙧𝙞𝙤𝙣? 😁😁😁
__ADS_1