
Ammar mendatangi ruangan Argan dengan terburu-buru. Asisten kepercayaan Argan ini pastinya membawa berita penting untuk bosnya.
"Tuan!" Ammar mengatur napasnya yang terengah.
"Ada apa?" Argan tahu ada yang tak beres dengan kedatangan Ammar.
"Saya sudah menemukan tempat tinggal Kakek Beni. Dia tinggal di hotel Melati. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Kakek Beni sedang sakit parah. Sekarang beliau ada di rumah sakit."
"APA?! Kalau begitu kita kesana sekarang! Aku akan hubungi Alza!"
Ammar dan Argan segera bergegas menuju ke rumah sakit. Tak lupa Argan mengajak Alza untuk ikut bersamanya.
Tiba di rumah sakit, Argan bertemu dengan Sultan yang lebih dulu ada disana.
"Om Sultan?"
"Lho? Argan? Alza?"
"Pa...pa..." Alza agak ragu untuk memanggil Sultan sebagai ayahnya. Hasil tes DNA belum resmi diumumkan, jadi Alza masih bingung untuk bersikap.
"Kalian juga tahu soal Pak Beni?" Sultan bertanya pada keduanya.
"Iya, Om. Saya mencari tahu tentang Pak Beni."
Sultan mengangguk. Ia sudah meyakini jika Argan banyak membantu Alza. Sultan senang karena putrinya mendapatkan pria yang tepat sebagai pendamping hidupnya.
"Bagaimana kondisi kakek Beni, Pah? Apa dia sakit parah?" Alza menunjukkan empatinya terhadap Beni.
"Dokter bilang penyakitnya sudah parah. Kita tidak tahu sampai kapan Pak Beni bisa bertahan."
Alza ikut sedih dengan kabar yang diterimanya mengenai Beni.
"Kita tunggu dokter saja!" putus Argan.
Setelah menunggu di depan ruang IGD, Sultan, Alza dan Argan diarahkan menuju ke kamar rawat Beni. Atas bantuan Sultan, Beni mendapatkan kamar kelas VIP untuk perawatannya.
"Pasien sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Silakan jika keluarga ingin menjenguk," ucap seorang perawat.
Dengan langkah terburu-buru, Alza ingin segera menemui Beni. Tiba didepan sebuah kamar VIP, ketiga orang itu langsung masuk ke dalam kamar.
Nampak Beni terbaring lemah diatas brankar dengan infus yang menancap di tangannya. Beberapa alat juga terpasang di tubuhnya.
"Pak Beni..." Sultan memanggil Beni lirih.
Beni membuka matanya. "Tuan Sultan," lirih suara Beni.
"Terima kasih sudah menolong saya... Sejujurnya, saya tidak pantas mendapatkan kebaikan dari kalian. Saya adalah orang berdosa karena sudah memisahkan keluarga kalian..."
Melihat kondisi Beni, Alza turut bersedih. Matanya berkaca-kaca menatap tubuh renta Beni.
"Tuan, apa ini... Yang bernama Alzarin...?" Beni menatap sosok Alza.
__ADS_1
"Iya, dia adalah Alza."
"Nona Alza... maafkan saya... Maafkan saya karena sudah membuat Nona jadi anak yatim piatu dan tinggal di panti asuhan."
Alza mendekati brankar Beni. "Saya sudah memaafkan Kakek. Sekarang kakek jangan memikirkan apapun. Kakek harus bisa sembuh. Ya?"
Beni menggeleng sambil tersenyum. "Aku tidak mau kembali, Nona. Tanganku ini penuh dosa. Dan aku akan menebusnya..."
Alza tak berkata apapun lagi dan memilih bungkam.
"Tuan... Izinkan saya bertemu dengan Tuan Johan... Sebelum saya pergi, saya ingin bicara dengan Tuan Johan. Saya akan mengakui semua kesalahan saya di depan beliau..." Beni mulai terisak. Ia sudah pasrah menerima takdirnya.
Di luar kamar, Sultan berunding dengan Argan dan Alza.
"Kurasa Papa tidak akan bersedia datang kemari."
Argan setuju. Argan mendukung sepenuhnya apa keputusan Sultan.
...***...
Hari ini hasil tes DNA Sultan dan Alza akan segera diketahui. Alza sangat gugup. Berkali-kali Argan menggenggam tangan Alza dan memintanya untuk tetap tenang.
Arnis yang melihat perhatian Argan terhadap Alza mengulas senyum kelegaan.
𝘈𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘶𝘵𝘳𝘪𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘰𝘥𝘰𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘯𝘺𝘢. 𝘈𝘳𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘢𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘈𝘭𝘻𝘢.
Dokter menyerahkan sebuah amplop pada Sultan. Sultan menatap semua orang sebelum membaca isi hasil tes DNA mereka.
Sultan membeku setelah membaca isi lembaran di tangannya.
"Sayang..." Sultan menatap istrinya dengan mata mengembun.
"Alza memang putri kita..."
Arnis langsung memeluk Sultan dan menangis haru dalam dekapan suaminya.
Sementara Alza... Tubuhnya menegang setelah mendengar penuturan Sultan, ayah kandungnya. Dengan sigap Argan merangkul bahu Alza. Ia takut jika terjadi sesuatu dengan Alza.
"Sayang... Kamu baik-baik saja?" tanya Argan lembut.
"Aku baik, Bang. Terima kasih..."
"Alza..." Arnis menatap Alza lalu mendekati Alza.
"Putriku..." Arnis menumpahkan segala luapan kerinduannya pada Alza. Tangis kencang Arnis juga tak bisa tertahan. Arnis terlalu bahagia menemukan putrinya.
...***...
Malam ini, dengan kemantapan hati, Arnis dan Sultan akan mengenalkan Alza secara resmi kepada Johan. Mereka tak peduli dengan reaksi yang akan diberikan Johan.
Jika Johan mengatakan sebuah ancaman, maka Arnis dan Sultan siap untuk melawan balik Johan. Meski Johan adalah ayah Sultan sendiri.
"Ada acara apa, Ma? Tumben masak banyak." Jesly memperhatikan Arnis yang sedang menata meja makan.
"Malam ini akan ada tamu istimewa. Tolong panggilkan Arion ya!" jawab Arnis tanpa menatap Jesly.
__ADS_1
Dengan langkah menghentak, Jesly meninggalkan ruang makan. Arnis hanya menggeleng dengan sikap menantunya itu.
"Rasanya keluarga ini seakan mendapat kutukan karena memiliki menantu seperti dia," gumam Arnis.
Tepat pukul tujuh malam, Alza datang ditemani Argan, tentunya. Pria itu tak pernah absen dalam setiap momen berharga Alza.
"Terima kasih karena sudah menemaniku, Bang."
"Apa sih yang enggak buat kamu." Argan menjawil hidung Alza.
Tanpa disengaja, perbuatan Argan dilihat oleh Arion yang kebetulan sedang ada disana.
"Kalian? Ada perlu apa datang kemari?" tanya Arion dingin disertai tatapan tajamnya.
"Mama yang mengundang mereka." Arnis datang dan menyambut Alza dan Argan.
"Mama!" Alza bercipika cipiki dengan Arnis.
Kening Arion mengerut dalam. "𝘈𝘥𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢? 𝘚𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘔𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘻𝘢?"
"Ayo kita langsung ke ruang makan saja. Mama sudah siapkan makanan kesukaan kamu, Alza."
Baru saja mereka melangkah, tiba-tiba saja Johan datang dan menghentikan langkah Alza, Argan juga Arnis.
"Ada apa ini, Arnis? Kau mengundang tamu tanpa persetujuanku? Beraninya kau!" Johan marah. Tak sudi rasanya melihat Alza ada di rumahnya. Ditambah lagi kehadiran Argan, cucu Dewangga Syailendra yang sangat ia benci.
"Aku dan Arnis yang mengundang mereka, Pah. Mereka adalah tamu kami." Sultan datang untuk mereda perdebatan.
Namun hasilnya tak sebaik yang ia inginkan. Johan bertambah murka dengan apa yang dilakukan putranya.
"Sebelum Papa marah. Ada baiknya Papa melihat ini dulu!"
Sultan memberikan ponselnya pada Johan. Sebuah video terputar disana. Itu adalah rekaman video Beni yang mengakui semua kesalahannya.
Volume video yang cukup keras, membuat semua orang yang ada disana bisa mendengarkan pernyataan terakhir Beni sebelum meninggal. Ya, Beni telah pergi dengan tenang setelah mengakui semua perbuatannya di masa lalu. Baginya, ini adalah hukuman setimpal dari Tuhan yang diberikan padanya.
Ponsel ditangan Johan terlepas hingga jatuh ke lantai. Johan menatap Alza dengan tatapan tak percaya.
Bagaimana bisa Johan mempercayai semua ini?
"Tidak mungkin!" lirihnya.
"Ya, Pah. Alza adalah putriku dan Arnis. Yang dulu Papa buang dengan memanfaatkan Pak Beni. Kini Pak Beni telah tiada. Dia sudah mengakui semuanya sebelum dia meninggal. Kami juga sudah melakukan tes DNA, dan hasilnya memang cocok. Alza adalah putri kami. Dia adalah cucu Papa!" seru Sultan.
Tubuh Johan terhuyung ke belakang. Falia yang berada didekatnya segera memegangi tubuh renta Johan.
"Ini tidak mungkin..." Begitulah terus Johan menggumamkan kalimat yang sama.
Lama kelamaan Falia sudah tak kuat lagi menopang tubuh Johan.
"Kakek!" pekik Falia karena Johan sudah tak sadarkan diri.
...***...
*𝙰𝚔𝚊𝚗𝚔𝚊𝚑 𝙹𝚘𝚑𝚊𝚗 𝚋𝚒𝚜𝚊 𝚖𝚎𝚗𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝙰𝚕𝚣𝚊 𝚜𝚎𝚋𝚊𝚐𝚊𝚒 𝚌𝚞𝚌𝚞𝚗𝚢𝚊?
__ADS_1