Kemilau Cinta Alzarin

Kemilau Cinta Alzarin
Bab 47


__ADS_3

Warni menatap dua orang tamunya yang duduk di sofa ala kadarnya di rumahnya. Warni menelisik satu persatu penampilan tamunya itu.


Pria tampan dengan setelan jas lengkap, lalu seorang wanita cantik dengan dress sederhana tapi bisa ditebak jika harganya lumayan mahal untuk ukuran orang biasa seperti Warni.


"Ehem!" Warni membasahi tenggorokannya yang terasa kering.


"Jadi, ada perlu apa kalian mencari kakakku?" Akhirnya pertanyaan itu meluncur juga dari bibir Warni.


Alza kembali bertatapan dengan Argan. Alza meminta Argan untuk bicara dengan Warni.


"Apa Ibu bisa ceritakan bagaimana Kakek Beni membawa bayi Alzarin?"


"Eh? Alzarin?" Warni nampak kaget. Pasalnya Beni bercerita padanya jika kelak memiliki seorang anak perempuan, Beni akan memberi nama bayinya itu dengan nama Alzarin.


"Jadi... Bang Beni memberi nama pada bayi itu dengan nama Alzarin?" Warni menekankan pertanyaannya.


"Iya, saya Alzarin." Alza menunjuk dirinya sendiri.


"Apa? Ka-kamu adalah Alzarin? Kamu adalah bayi yang dibawa kakakku malam itu?"


Alza mengangguk. "Tolong ceritakan bagaimana bisa Kakek Beni mengenal diriku, Bu. Aku mohon..."


Mata sendu dan teduh Alza membuat Warni tak tega. Ia menghela napas sebelum bercerita.


"Bang Beni bukanlah orang yang mudah bergaul. Sejak istri dan anaknya meninggal, Bang Beni pergi merantau ke kota B. Disana dia bekerja pada sebuah keluarga kaya."


Alza dan Argan saling pandang.


"Apa Ibu tahu pada siapa Kakek Beni bekerja?" Alza yang tak sabar segera memotong cerita Warni.


Warni menggeleng. "Sudah kubilang, kakakku bukan tipe orang yang gampang bercerita dengan orang lain. Dia itu sangat tertutup. Aku benar-benar tidak tahu dimana Bang Beni bekerja."


"Apa yang terjadi malam itu, Bu?" tanya Argan.


"Malam itu... Bang Beni yang jarang pulang itu tiba-tiba saja datang dengan membawa seorang bayi perempuan. Bang Beni memintaku untuk mengasuh bayi itu. Dia bahkan memberiku uang banyak. Tapi, aku menolaknya. Aku berkata jika sebaiknya bayi itu dititipkan di panti asuhan saja. Dan ternyata Bang Beni melakukan itu. Aku... Benar-benar meminta maaf, Nona Alzarin."


Alza memejamkan mata. Kini Alza mulai paham kenapa dirinya dibuang di panti. Keluarganya memang tidak menginginkan dirinya. Mungkinkah dirinya adalah anak hasil hubungan diluar nikah? Alza makin pening memikirkannya.


"Apa tidak ada yang ibu ingat mengenai pekerjaan Kakek Beni? Sedikit saja informasi dari Ibu, mungkin dapat membantu kami..." Argan memelas.


"Sudah cukup, Bang! Kita pulang sekarang..."


Alza terlihat kelelahan dan juga pucat. Argan mengikuti keinginan Alza yang ingin segera pergi dari sana.


"Bu, jika ada informasi apapun, tolong kabari saya!" Argan menyerahkan kartu namanya pada Warni.


"Iya, Tuan."


...***...

__ADS_1


Alza dan Argan kembali ke panti untuk berpamitan dengan Astuti. Namun melihat wajah pucat Alza, membuat Argan tak tega.


"Sayang, kamu tidak ingin menginap disini beberapa hari? Sepertinya kamu perlu istirahat. Masalah pekerjaan kamu jangan khawatir. Ada Rosma yang bisa menghandlenya."


Alza mengangguk. Alza masuk ke dalam kamar yang selalu dirawat Astuti untuk Alza. Kamar itu sengaja disiapkan Astuti untuk Alza jika sewaktu-waktu Alza datang dan menginap.


Argan membantu Alza merebahkan tubuhnya ke ranjang. "Kamu istirahat saja disini. Dua atau tiga hari sampai hatimu tenang."


Argan mengusap puncak kepala Alza dengan lembut.


"Iya, Bang. Terima kasih banyak karena Abang sudah repot membantuku."


"Tidak, sama sekali tidak repot kok." Argan melirik jam tangannya. "Aku harus kembali ke kota B. Kamu baik-baik ya disini. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku."


"Iya, Bang," jawab Alza sambil mengangguk.


Sebelum pergi, Argan mengecup kening Alza lama dan dalam. Sungguh Argan tak rela jika harus berjauhan lagi dengan Alza.


"Aku pergi ya!"


"Abang hati-hati ya!"


Argan mengangguk lalu menghilang dibalik pintu kamar Alza.


#


#


#


"Kakek, kakek yakin mau tinggal di hotel ini sendirian? Apa kakek tidak memiliki saudara?"


Beni menggeleng. "Tidak apa. Kau cukup antar aku ke resepsionis hotel saja."


Beni tetap kukuh pada pendiriannya.


"Baiklah. Aku akan bantu kakek. Kenalkan, namaku Dani, Kek. Sejak semalam kita belum kenalan."


Beni hanya mengangguk tipis. Tubuh rentanya dipapah Dani hingga menuju ke meja resepsionis.


"Permisi, pesankan satu kamar untuk kakek ini," ucap Dani.


"Kamarnya yang biasa saja. Karena aku hanya sebentar disini."


Dani cukup bingung dengan kegigihan Beni. "𝘚𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘪 𝘬𝘢𝘬𝘦𝘬 𝘵𝘶𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘪𝘩? 𝘋𝘪𝘢 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵-𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘬𝘦 𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘬𝘰𝘵𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪𝘢𝘯."


"Terima kasih, Nak Dani. Semoga Tuhan membalas kebaikanmu, Nak!" Beni menepuk bahu Dani sekali. Kemudian tanpa salam perpisahan, Beni pergi meninggalkan Dani menuju ke kamar hotel yang dipesannya.


Dani cukup terenyuh melihat perjuangan Beni untuk menuju ke kota B. "Semoga urusanmu cepat selesai, Kakek..."

__ADS_1


Di tempat berbeda, Oma Ratna datang ke Grup DS untuk bertemu Argan. Namun Oma Ratna harus menelan kekecewaan karena tak bisa bertemu dengan cucunya.


"Kemana dia?" Oma Ratna menatap tajam Ammar yang ada di ruangan Argan.


Ammar hanya diam dan menunduk. Ammar tak ingin Oma Ratna makin marah karena sikap mereka.


"Tuan Argan sedang ke luar kota, Nyonya..."


Bibir Ammar terasa berat ketika mengatakannya.


"Oh ya? Luar kota mana? Tidak ada catatan dinas luar hari ini. Dan jika benar Argan sedang dinas diluar... Bukankah harusnya kau selalu ikut dengan Argan?"


Ammar membeku. Percuma saja berbohong. Oma Ratna lebih cerdas dari yang Ammar kira. Bahkan Ammar baru tahu jika nenek bosnya ini menjalankan bisnis dari jauh.


"Apa Argan sedang bersama dengan Alza? Kulihat tadi Alza juga tidak ada di ruangannya." Oma Ratna menuntut sebuah penjelasan yang logis.


"Tuan Argan pergi ke kota A, Nyonya."


"Hmmm, apa bersama Alza?"


"Itu..."


"Sudahlah, kau tidak perlu menjawabnya. Aku sudah tahu jawabannya. Anak nakal itu pasti sedang bersama Alza," gumam Oma Ratna.


"Rupanya telinga Alza cukup bebal juga! Padahal kemarin itu aku sudah memperingatkan dia. Mungkin sebaiknya aku menggunakan cara kasar?"


Gumaman Oma Ratna membuat Ammar bergidik ngeri. Setelah bertahun-tahun, akhirnya Ammar bisa melihat sisi lain anggota keluarga Syailendra yang terkenal baik dan ramah ini.


#


#


#


Seorang pelayan mendatangi kamar Arnis dan memberikan sebuah paket pada wanita itu.


"Dari siapa, Bik?" tanya Arnis.


"Waduh, Bibi gak tahu, Nyonya. Tadi yang kirim sama seperti kurir paket biasa."


"Ya sudah, terima kasih ya, Bik."


Arnis masuk ke dalam kamar dan membuka kotak paket yang tak ada nama pengirimnya.


"Aneh! Sebenarnya apa ini?"


Arnis terlonjak kaget saat melihat isinya. Sebuah surat kaleng ditujukan untuknya. Dengan perasaan was-was, Arnis membaca isi surat kaleng itu.


𝘼𝙣𝙖𝙠 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙖𝙪 𝙡𝙖𝙝𝙞𝙧𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙪𝙖 𝙥𝙪𝙡𝙪𝙝 𝙡𝙞𝙢𝙖 𝙩𝙖𝙝𝙪𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙞𝙩𝙪 𝙢𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥

__ADS_1


"A-apa ini...?!"


__ADS_2