
Alza menatap bangun minimalis yang akan menjadi tempat tinggalnya yang baru. Setelah berpikir dengan matang, Alza memilih untuk keluar dari apartemen milik Argan.
Tanpa menghubungi Argan lebih dulu, Alza meminta bantuan Falia untuk dicarikan tempat tinggal baru untuknya. Meski merasa curiga, namun Falia tak berani bertanya lebih lanjut mengenai hubungan Alza dan Argan.
"Ayo masuk! Semoga kamu betah ya disini!" Falia menyeret koper Alza sambil memasuki rumah.
"Temanku seorang pengembang perumahan. Jadi, kamu beruntung karena dapat harga diskon."
Alza mengulas senyuman tipis. "Terima kasih banyak ya, Fal. Aku jadi merepotkan kamu."
"Tidak, Za. Bahkan Mama Lia masih sangat peduli padamu."
Alza tersenyum kecut. Jika mengingat tentang keluarga Pratama, Alza merasa bersalah pada Lia. Wanita yang sudah sangat baik padanya dan sudah menganggapnya layaknya putri sendiri, tapi Alza malah menyakiti mereka.
"Jangan memikirkan masa lalu, Alza. Pikirkanlah masa depanmu. Jika kamu yakin dengan Argan, maka... Perjuangkan cinta kalian."
Kalimat Falia membuat Alza terharu dan berkaca-kaca. Alza memeluk Falia dan mengucap banyak terima kasih pada mantan adik iparnya itu.
"Terima kasih banyak, Falia. Terima kasih..."
...***...
Tiga hari sudah berlalu sejak Argan pergi ke luar kota. Malam ini Argan kembali ke Kota B dan langsung menuju ke apartemen miliknya yang ditempati Alza.
Dengan hati yang bersenandung, Argan tak sabar untuk bertemu dengan kekasih hatinya.
"Alza!" Argan memanggil nama Alza namun tak ada sahutan. Apartemen miliknya terasa sunyi dan dingin.
Tidak terasa ada hawa manusia di dalamnya.
"Alza! Kamu dimana, sayang?" Argan meneriakkan nama Alza sambil berkeliling.
Hingga Argan tiba di kamar Alza dan merasakan kamar itu begitu dingin dan kosong. Ketakutan Argan mengenai kepergian Alza akhirnya terjadi juga.
Padahal sejak ia pergi, komunikasi mereka masih terjalin baik. Argan membuka pintu lemari Alza dan melihat isinya yang kosong.
"Alzaaaaa!" teriak Argan.
Ia terduduk lemas di tepi tempat tidur. Ia langsung menghubungi nomor ponsel Alza tapi tak tersambung.
"Aarrgghh!" Argan menggeram kesal. Lalu ia menghubungi Ammar dan memberinya perintah.
"𝘏𝘢𝘭𝘰, 𝘛𝘶𝘢𝘯. 𝘈𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘵𝘶?"
"Ammar, cepat cari tahu dimana tempat tinggal Alza yang baru. Dia pergi dari apartemen milikku!"
"𝘌𝘩?! 𝘉𝘢𝘪𝘬, 𝘛𝘶𝘢𝘯. 𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘳𝘪𝘮𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘳𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘈𝘯𝘥𝘢."
Argan masih terlihat kesal. "Alza... Bagaimana bisa kamu meninggalkan aku begini? Apa semua karena Oma?"
Argan ingin menghubungi sang nenek tapi ia urungkan. Tak ada gunanya marah pada sang nenek. Argan juga tak ingin kondisi Oma Ratna kembali memburuk karena kemarahannya.
Argan mengusap wajahnya kasar. Ia menunggu dengan harap-harap cemas kabar dari Ammar. Ia yakin anak buah Ammar bisa mengurus ini dengan mudah.
__ADS_1
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Ammar mengirim pesan pada Argan. Pria itu segera membukanya.
"𝙄𝙣𝙞 𝙖𝙡𝙖𝙢𝙖𝙩 𝙉𝙤𝙣𝙖 𝘼𝙡𝙯𝙖𝙧𝙞𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙖𝙧𝙪. 𝙅𝙖𝙡𝙖𝙣 𝘿𝙚𝙡𝙞𝙢𝙖 𝙣𝙤𝙢𝙤𝙧 5."
Tanpa menunggu lama lagi, Argan segera menuju ke alamat yang diberikan Ammar. Hatinya dipenuhi amarah dan kerinduan yang membuncah. Argan harus segera bertemu dengan Alza.
#
#
#
Rindu.
Sebuah rasa yang kadang sulit untuk diungkapkan meski sebenarnya mudah untuk diucap.
Kerinduan, kini sedang melanda hati Alza. Rindu terhadap seseorang yang kini mengisi hatinya.
"Maafkan aku, Bang. Mungkin ini yang terbaik... Meski hatiku tidak baik-baik saja... Tapi..."
𝘿𝙪𝙜 𝘿𝙪𝙜 𝘿𝙪𝙜
Lamunan Alza berakhir ketika ada yang dengan keras menggedor pintu rumahnya.
"Siapa yang datang?"
Alza berjalan menuju pintu. Ia mengira jika itu adalah ketua RT setempat. Setelah pindah Alza belum sempat berkenalan dengan tetangga sekeliling rumahnya.
Pintu rumah terbuka. Menampilkan sosok Argan yang berwajah merah padam karena menahan kekesalan dalam hatinya.
"Abang Argan...?"
Alza perlahan mundur. Ia takut saat melihat wajah Argan yang menatapnya tajam.
"Abang..."
Argan melangkah maju dan menarik tubuh Alza lalu mendekapnya erat.
"Aku merindukanmu... Kenapa kamu pergi tanpa berpamitan, ha?"
Alza merasakan begitu besarnya cinta Argan padanya. Alza membalas pelukan Argan. Alza juga sangat merindukan Argan.
"Maaf... Maafkan aku, Bang..." Alza terisak. Ia ingat bagaimana ia pergi dengan berat dari apartemen Argan, dari hidup Argan. Namun ternyata ia tak sanggup. Alza menginginkan Argan lebih dari apapun.
Argan mengurai pelukannya. Ia tatap lekat wanita yang sangat dirindunya ini.
"Aku ingin marah. Tapi aku tidak bisa melakukannya."
Argan merangkum wajah Alza dengan kedua tangannya. Ia seka air mata yang mengalir di pipi Alza.
"Maafkan aku, Bang..."
"Ssstt, jangan banyak bicara. Mulai sekarang jangan pernah pergi dariku. Karena aku tidak akan sanggup kehilanganmu..."
__ADS_1
Alza mengangguk. Argan menatap bibir Alza yang bergetar. Begitu ia rindukan mengecap rasa yang begitu manis dari seorang Alza.
Argan menautkan bibirnya dengan bibir Alza. Menyesapnya pelan dan menyalurkan kerinduannya yang terpendam.
Alza juga tak mau kalah. Ia sudah memantapkan hati untuk memperjuangkan cintanya untuk Argan. Alza membalas sapuan bibir Argan hingga menciptakan gelenyar aneh diantara keduanya.
"Bang..." Alza mendorong pelan tubuh Argan.
"Sekarang aku yakin jika aku akan berjuang mempertahankan cintaku. Aku mencintaimu, Bang..."
Tanpa malu lagi Alza memulai lebih dulu untuk mencium bibir Argan.
𝘔𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘥𝘦𝘵𝘪𝘬 𝘪𝘯𝘪, 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘫𝘶𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘬𝘶, 𝘉𝘢𝘯𝘨... 𝘋𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘮𝘶...
...***...
Panti Asuhan Kasih Bunda, Kota A.
Seorang pria tua berdiri di depan gerbang pintu utama panti asuhan Kasih Bunda. Pria itu menatap sendu ke dalam panti.
Dengan memegangi dadanya yang terasa sakit. Ia memegangi gerbang tinggi dan menyandarkan tubuh rentanya.
"Maafkan aku, Nona..." lirihnya dengan mata terpejam.
Ibu Astuti yang melihat ada seseorang di depan gerbang, segera menghampiri pria tua itu.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?"
Kebetulan Astuti baru saja pulang ke panti setelah pergi untuk suatu urusan.
Pria tua itu menggeleng. Lalu setelahnya menatap Ibu Astuti.
"Nyonya, apa kau adalah pengurus panti ini?" tanya pria tua itu dengan napas tersengal.
"Iya, benar. Saya adalah pengurus panti. Ada apa ya?"
"Saya ingin tahu tentang bayi yang dititipkan disini, dua puluh lima tahun yang lalu."
"Eh? Maksud bapak siapa? Banyak sekali bayi yang dititipkan disini, Pak."
Pak tua itu nampak berpikir sejenak. "Namanya Alzarin. Apa Nyonya mengenalnya?"
"Alzarin?" Ibu Astuti menutup mulutnya tak percaya. "Bapak siapa? Kenapa bertanya tentang Alzarin?"
"Katakan saja!" Pria itu memaksa.
"Alzarin sudah diadopsi sebuah keluarga sejak 15 tahun lalu. Sekarang katakan Anda siapa? Ada perlu apa dengan Alza?"
Pria tua itu tak menjawab. Ia malah mendekati taksi yang tadi di tumpangi oleh Ibu Astuti. Pria tua itu memasuki taksi dan langsung meminta si sopir untuk tancap gas meninggalkan halaman panti asuhan.
Tanpa bisa mencegah, Ibu Astuti hanya diam. "Siapa dia? Kenapa mencari Alzarin?"
Ibu Astuti menggeleng pelan. "Astaga! Apa jangan-jangan orang itu tahu tentang masa lalu Alzarin? Aku harus memberitahu Alza tentang hal ini..."
__ADS_1