
Alza sudah kembali ke aktifitasnya semula. Berita buruk mengenai dirinya pun kini telah redup. Ditambah lagi pihak kepolisian juga sudah mengumumkan tersangka penyebaran berita hoax tentang Alza. Meski tak menyebutkan nama, keluarga Pratama tahu jika itu adalah Zetta.
Hari ini, Lia berencana menemui Alza. Setidaknya Lia ingin meminta maaf pada Alza agar hukuman untuk Zetta diringankan. Ide Lia untuk menemui Alza ditentang oleh Juno dan Dennis.
"Zetta harus menerima hukumannya, Ma," ucap Dennis.
"Tapi, Bang... Zetta itu adik kamu. Pah, tolong berikan jaminan untuk Zetta." Kini Lia merajuk pada Juno.
Juno melirik Dennis lalu menghela napas. "Papa rasa biarkan dulu Zetta mendapat hukuman. Dia harus belajar jadi dewasa. Jika kita terus membantunya, dia tidak bisa bersikap dewasa."
Lia merasa putus asa. Tidak ada yang mendukung keputusannya kali ini. Karena itu Lia ingin menemui Alza tanpa sepengetahuan Juno dan Dennis.
Saat jam makan siang, Lia menemui Alza di kantornya. Sebelumnya Lia sudah menghubungi Alza melalui pesan singkat.
Dengan senang hati Alza menerima kedatangan Lia.
"Mama..." Alza memeluk Lia.
"Bagaimana kabarmu, sayang? Kamu terlihat kurus. Apa kamu makan dengan baik?"
Alza tersenyum mendengar Lia yang khawatir padanya.
"Aku baik-baik saja, Ma. Apa Mama ingin membicarakan soal Zetta?"
Ternyata maksud kedatangan Lia sudah bisa tercium oleh Alza.
"Maafkan Zetta, Alza. Dia pasti hanya iri terhadapmu. Sejak dulu, kalian tinggal bersama. Pastinya ia hanya ingin menjadi seperti dirimu."
Alza menggenggam tangan Lia. "Aku tahu, Ma. Aku juga tak tega melakukan ini pada Zetta. Tapi... Apa yang dilakukannya ini sudah diluar batas. Aku sakit hati, Ma..."
"Mama mengerti. Tapi kamu sudah memaafkan Zetta kan? Dia sudah mendapatkan hukumannya."
"Iya, Ma. Aku sudah memaafkan Zetta."
"Terima kasih, Alza. Terima kasih..."
...***...
Sore hari, Arnis sudah menunggu di depan rumah Alza. Entah dari mana Arnis mendapatkan alamat Alza, yang jelas, Arnis ingin memastikan jika Alza benar adalah putrinya.
Sebenarnya, Arnis siang tadi datang ke kantor Alza. Namun karena melihat Lia juga sedang bersama Alza, akhirnya Arnis mengurungkan niatnya.
Arnis sendiri juga tak memberitahu Sultan jika dirinya akan menemui Alza. Arnis hanya mengirim pesan singkat pada suaminya.
𝘼𝙠𝙪 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙚𝙢𝙪𝙞 𝘼𝙡𝙯𝙖 𝙙𝙞 𝙧𝙪𝙢𝙖𝙝𝙣𝙮𝙖
Sultan sendiri tak habis pikir dengan ide Arnis yang dirasa terlalu terburu-buru. Bagaimana jika Alza menolak? Atau bahkan ternyata Arnis salah mengenali putrinya?
"Kamu terlalu gegabah, Mah..." Hanya itu yang bisa Sultan ungkapkan.
Pukul enam petang, sebuah mobil memasuki halaman rumah Alza. Itu adalah mobil Argan.
Alza turun dari mobil dan melihat sosok Arnis yang duduk di kursi teras rumahnya.
__ADS_1
"Mama Arnis?" Alza menyapa.
"Alza!" Arnis langsung memeluk Alza.
"Mama dari mana tahu rumahku?"
"Tidak penting Mama tahu dari mana. Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik, Ma."
Arnis melirik pada pria yang kini ada disamping Alza.
"Kamu pasti Nak Argan ya?"
"Iya, Tante. Apa kabar?"
"Baik, terima kasih. Alza, ada yang ingin mama bicarakan denganmu."
Alza melirik Argan. "Mari masuk, Ma."
Meski terlihat canggung karena harus bertemu lagi dengan mantan ibu mertuanya, tapi sebisa mungkin Alza bersikap sopan pada Arnis.
"Aku buatkan teh dulu!" Alza masuk ke dapur.
"Tidak perlu, Nak. Mama hanya perlu bicara denganmu."
Tatapan mata Arnis yang memelas membuat Alza tak tega untuk menolak.
"Baik. Apa yang ingin mama bicarakan?"
Alza terdiam. Alza bungkam. Alza tidak ingin menanggapi apapun tentang cerita Arnis.
"Mama yakin kamu adalah anak mama yang dibawa pergi Pak Beni..." Arnis sudah berlinang air mata ketika bercerita tentang deritanya kehilangan anak.
Alza tetap bungkam. Hingga Argan ikut bicara.
"Tante, apa orang yang bernama Beni adalah orang ini?"
Argan menunjukkan video saat Beni mendatangi panti asuhan beberapa saat lalu. Argan harus memastikan jika orang yang ditemui Arnis adalah orang yang sama dengan yang sedang dicarinya.
"Iya, benar. Ini adalah Pak Beni." Tangis Arnis makin pilu. "Anakku..."
Arnis memeluk Alza erat seakan tidak ingin kehilangan lagi putrinya. Sedangkan Alza, ia masih bungkam meski sebenarnya banyak hal yang ingin ia tanyakan.
...***...
𝘽𝙚𝙗𝙚𝙧𝙖𝙥𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙞 𝙠𝙚𝙢𝙪𝙙𝙞𝙖𝙣...
Arnis berhasil membujuk Alza untuk melakukan tes DNA. Meski yakin jika Alza adalah putrinya, tapi bukti valid mengenai ikatan darah mereka harus tetap dibeberkan secara jelas.
Dan kini Alza ditemani Argan, lalu Arnis bersama Sultan, sedang berada di rumah sakit untuk pengambilan sampel DNA dari masing-masing pihak.
Sejak datang tadi, Arnis tak henti memeluk Alza. Ia ingin menebus waktu yang hilang selama mereka terpisah.
__ADS_1
"Hasilnya akan diketahui dua hari lagi," ucap seorang dokter.
"Tanpa hasil itu, Mama sudah yakin jika kamu adalah anak mama. Putri yang mama lahirkan." Arnis merangkum wajah Alza.
"Mas... Akhirnya kita menemukan putri kita..."
Sultan masih agak canggung bersikap pada Alza. Pasalnya mereka hanya dekat sebatas ayah kepada menantunya saja.
"Sayang, kamu harus tinggal sama kami setelah bukti DNA itu keluar."
"Eh?" Alza bingung. Ia menatap Argan. Pria itu hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Akan aku pikirkan dulu, Mah..." Alza memjawab sekenanya.
Usai melakukan tes DNA, Alza pergi bersama Argan. Mereka harus kembali ke kantor.
Sepanjang jalan Alza lebih banyak diam. Argan sesekali melirik kearah kekasih hatinya.
"Sayang..." Argan meraih tangan Alza.
"Ada apa, Bang?" Alza menoleh.
"Kenapa diam? Apa kamu tidak senang bertemu dengan keluarga kandungmu?"
Alza menggeleng. "Bukan begitu, Bang. Aku hanya masih tidak percaya kalau aku... Adalah bagian dari keluarga Nusantara." Alza menundukkan kepalanya.
Argan menepikan mobilnya. Sepertinya ia harus mendengarkan cerita Alza lebih dulu.
"Keluarga itu pernah menolakku, Bang. Bahkan kakek Johan sangat membenciku. Dan aku... Aku diusir dari rumah itu... Bagaimana aku bisa kembali kesana?"
Tangis Alza pecah. Setelah menahan selama berhari-hari, akhirnya Alza menumpahkan semua kesedihannya di depan Argan.
Tak tega dengan kekasih hatinya yang menangis, Argan segera membawa Alza kedalam dekapannya. Susah payah Argan selalu membuat Alza tersenyum, sekarang ia harus melihat air mata Alza kembali jatuh.
"Menangislah sepuasmu! Aku akan selalu ada untukmu bersandar."
Setiap kata yang terdengar di telinga Alza bagaikan oase ditengah gersangnya hati Alza yang kembali dilema. Kemarin dia sangat ingin bertemu dengan keluarganya, tapi sekarang ia berpikir ulang untuk bersama keluarga kandungnya.
"Jangan menjadi lemah hanya karena orang-orang ingin menjatuhkanmu. Sekarang kamu boleh menangis, tapi besok kamu harus bisa menatap ke depan dengan tegak. Jangan biarkan mereka meremehkanmu lagi, Alza. Kamu adalah wanita yang kuat."
Alza melerai pelukannya. Ia hapus sisa air mata yang masih mengalir di pipinya.
"Baiklah, Bang. Mulai sekarang, aku akan jadi wanita kuat. Aku tidak takut apapun karena ada Abang disampingku. Jangan tinggalkan aku, Bang..."
Argan mendekat. Ia seka buliran bening terakhir di pipi Alza. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Percayalah!"
Alza mengangguk. "Aku percaya!"
Suasana haru yang sempat terjadi kini berubah menjadi manis ketika Argan memiringkan wajahnya dan menempelkan bibirnya tepat di bibir Alza. Suara decapan mulai terdengar di dalam mobil yang terhenti di tepi jalan itu.
Lambat namun pasti, Argan menyematkan sebuah cincin ke jari manis Alza ketika bibir mereka masih beradu. Kaget dengan gerakan tangan Argan, Alza mendorong pelan tubuh Argan.
"Apa ini, Bang? Cincin?" Alza bingung.
__ADS_1
"Huum. Itu sebagai tanda jika aku serius denganmu. Terimalah!"
Alza tersenyum senang lalu kembali memeluk Argan. "Terima kasih, Bang."