
Dua bulan kemudian...
"Hueeek! Hueeeek!"
Jenny mendengar suara yang mengganggu indra pendengarannya dari kamar sang putri. Tak ingin menduga-duga, Jenny masuk ke kamar Jesly dan memergoki gadis itu sedang berada di wastafel dan memuntahkan isi dalam perutnya.
"Astaga, Jesly! Kamu kenapa, Nak? Apa kamu sakit?"
Jenny khawatir melihat wajah pucat putrinya. Jesly hanya menggeleng.
"Aku gak apa-apa kok, Mi. Hanya mual aja tiap pagi beberapa hari ini."
Sontak mata Jenny mendelik mendengar pengakuan putrinya. "Mual dan muntah?"
Jesly mengangguk. "Mungkin aku hanya masuk angin saja, Mi. Udah Mami jangan khawatir. Nanti juga sembuh kok."
Tiba-tiba Jenny memegangi lengan Jesly. "Jangan-jangan kamu..." Jenny tak berani menduga-duga.
"Kamu ... Tidak melakukan hal diluar norma kan?"
"Maksud mami?"
"Kapan terakhir kali kamu datang bulan? Mami perhatikan kamu tidak mengeluh sakit dua bulan ini. Biasanya kan kamu selalu nyeri perut kalau sedang datang bulan."
"Hah?!" Dugaan Jenny membuat Jesly mematung.
"𝘼𝙥𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞𝙠𝙖𝙩𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙢𝙞 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙟𝙪𝙜𝙖. 𝙎𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙙𝙪𝙖 𝙗𝙪𝙡𝙖𝙣 𝙞𝙣𝙞 𝙖𝙠𝙪 𝙜𝙖𝙠 𝙙𝙖𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙪𝙡𝙖𝙣. 𝘼𝙥𝙖 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙖𝙠𝙪 𝙝𝙖𝙢𝙞𝙡?"
Jesly menutup mulutnya. Ia teringat dengan kegiatan panas yang ia lakukan bersama Arion malam itu. Waktu itu mereka melakukannya hingga berkali-kali. Tentu saja karena Jesly sangat menyukai permainan Arion. Meski saat melakukannya, Arion selalu menyebut nama Alza dan bukan dirinya.
"Jesly, jawab! Kamu gak melakukan hal diluar norma kan? Hal terlarang sebelum menikah?" Jenny memegangi kedua lengan Jesly.
Jesly hanya diam. Dan diamnya Jesly membuat Jenny tak kuasa menahan rasa sabarnya.
"Ikut mami!" Jenny menarik tangan Jesly.
"Mi, kita mau kemana?"
"Ke dokter! Mami gak mau menduga-duga sebelum mami tahu kebenarannya dari dokter."
"Tapi, Mi... Aku gak sakit. Aku gak perlu ke dokter!"
"Ke dokter tidak harus saat sakit saja. Hamil itu bukan penyakit!"
𝘿𝙀𝙂
"Hamil?" Jesly tak mampu menolak lagi. Ia juga harus memastikan apakah benar dirinya hamil atau tidak. Jika benar dirinya hamil, maka anak yang dikandungnya adalah anak Arion, begitulah pikir Jesly.
__ADS_1
Di rumah sakit, Jesly dan Jenny menemui dokter kandungan. Dokter Wirda memeriksa kondisi Jesly.
"Selamat ya! Sebentar lagi Anda akan jadi nenek, Nyonya. Nona Jesly benar sedang hamil."
Jenny dan Jesly saling pandang. Jenny sangat geram karena kecolongan dengan sikap putrinya yang kelewat batas.
Jenny memukuli putrinya saat berada di dalam mobil. "Siapa ayah bayimu? Kenapa kamu sampai melakukan hal terlarang itu, hah? Kamu harusnya tahu kamu itu seorang selebriti. Apa yang akan dikatakan papimu jika sampai tahu? Kamu benar-benar mengecewakan mami!"
"Ampun, Mi. Aku tahu aku salah. Tolong jangan katakan dulu pada papi, Mi..."
"Haaaahh!" Jenny menghela napas kasar. "Baiklah! Sekarang kamu bisa istirahat dulu. Besok pagi jika kamu belum mengaku juga, mami akan beritahu papimu."
...***...
Malam harinya di rumah Nusantara. Alza yang bersiap dengan piyama tidurnya, melirik Arion yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
Alza mendekat dan duduk disamping pria itu.
"Mas..."
Sejak kejadian meninggalnya anak mereka, Alza memilih memanggil Arion dengan nama aslinya.
"Hmm, kamu pasti capek. Kamu tidurlah dulu. Aku masih harus selesaikan pekerjaan."
Alza tak menuruti perintah Arion. Alza malah mengusap pelan paha Arion.
"Mas... Ini kan sudah dua bulan sejak kepergian putra kita. Kurasa aku sudah siap untuk memiliki anak lagi."
"Aku sudah siap, Mas. Ayo kita lakukan!" Alza menatap Arion yang duduk disampingnya. Wajah Arion ia hadapakan ke arahnya.
"Aku menginginkan Mas malam ini..."
Alza tak peduli pandangan Arion terhadapnya. Alza tak peduli jika Arion menganggapnya murahan. Yang ia lakukan hanya untuk memperbaiki hubungan pernikahan merek. Alza ingin mereka merajut benang kasih yang sempat kusut beberapa waktu lalu.
Alza memulai semuanya lebih dulu. Alza dengan berani mencium bibir Arion. Dimulai dengan gerakan pelan. Lama kelamaan mulai membawa hawa panas diantara keduanya.
Arion yang terbawa suasana akhirnya beranjak dari sofa dan membawa Alza ke atas ranjang. Giliran Arion yang memulai permainan.
Tangan Alza dengan cepat membuka satu persatu kancing piyama Arion. Mereka bertatapan sejenak sebelum kembali mereguk manisnya gairah diantara keduanya.
Ketika tubuh Alza sudah setengah polos, tiba-tiba Arion menghentikan gerakannya.
"Kenapa berhenti, Mas?" Tanya Alza bingung.
Arion bangkit dari tempat tidur dan memunggungi Alza.
"Kita tidak perlu terburu-buru, Alza. Aku akan menunggu sampai kamu benar-benar siap. Aku paham kok." Arion memilih memakai kembali piyamanya dan menuju ke kamar mandi.
__ADS_1
Arion merutuki dirinya sendiri. Hampir saja ia kembali menyakiti Alza. Saat dirinya sudah dikuasai gairah, tiba-tiba saja bayangan malam panasnya bersama Jesly terlintas di otaknya.
"Tidak! Aku tidak boleh menyentuh Alza. Aku sudah mengkhianati Alza. Aku gak pantas untuk Alza..."
Arion membasuh wajahnya di wastafel. "Bagaimana kondisi Jesly? Dia sama sekali tidak mengabariku sejak malam itu. Bagaimana jika dia hamil seperti Alza dulu?"
Arion menatap tampilan wajahnya di cermin. "Kamu memang brengsek Arion! Kamu menyakiti Alza berkali-kali. Kamu tidak pantas untuk dicintai oleh Alza..."
...***...
Pagi hari di kediaman Nusantara...
Suasana tenang di rumah itu tiba-tiba dikejutkan dengan teriakan seorang wanita paruh baya yang menggemakan nama Arion.
"Arion! Arion keluar kamu! Kamu harus bertanggung jawab pada putriku!"
Dengan tongkat di tangan kanannya, Johan datang menemui wanita yang adalah Jenny.
"Nyonya, apa kau tidak punya sopan santun? Pagi-pagi begini sudah membuat keributan di rumah orang!"
"Kamu pasti Johan Nusantara kan? Dimana cucumu itu? Dimana Arion?!"
"Ada apa ini? Kenapa pagi-pagi ribut sekali?" Sultan dan Arnis ikut datang menghampiri Jenny.
"Bagus sekali kalian ada disini. Anak kalian harus bertanggung jawab pada putriku! Dia sudah menghamili putriku!"
Ucapan Jenny membuat Johan, Sultan dan Arnis saling pandang.
"Siapa putrimu, Nyonya?" Tanya Johan.
"Kalian tanyakan saja pada Arion. Arion! Keluar kamu!"
Hingga akhirnya Arion keluar bersama Alza dan juga Falia. Arion menatap Jenny yang dikenalnya sebagai ibunda Jesly.
"Tante? Apa yang tante lakukan disini?"
"Berani sekali kamu masih bertanya! Anakku hamil! Dan itu adalah anakmu!"
Tuduhan Jenny membuat tubuh Alza melemas. Ia mundur terhuyung namun langsung dibantu oleh Falia.
"Mami!" Teriakan seorang gadis membuat semua semakin jelas.
"Jesly Chung?" Gumam Alza.
"Mami, tolong jangan begini, Mi. Kita bisa bicarakan semua ini baik-baik!" Jesly datang sambil berderai air mata.
Entah itu air mata kesedihan atau kebahagiaan. Tapi yang jelas, Alza bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
__ADS_1
"Tanggung jawab pada anakku! Kamu sudah menghamilinya kan?" Tegas Jenny lagi.
"Kita bicarakan di ruang keluarga saja, Tante. Mari!" Arion masih bersikap tenang dan datar meski ia juga tahu apa yang akan ia hadapi setelah ini.