Kenangan

Kenangan
Flashback 4-Mahar


__ADS_3

Awal mantra bekerja. Miawww


_________________________________


Aku menjerit kecil melihat beberapa barang lucu di barisan kolom diskon sebuah brosur salah satu departement store.


"Maaa... ayo kita ke sana. Pliss pliss pliss."


Rengekanku tak membuat mama beranjak dari menguleni adonan.


"Nirmala, Mama agak sibuk sekarang, ada acara makan malam sama rekan-rekan Papa di rumah nanti malam. Kamu perginya sama Oma saja, ya."


Aku beralih memberi tatapan melas kepada Oma yang sedikit tak terima, tapi demi cucunya tersayang apa sih yang nggak.


Aku berdecak girang,dengan segera mengganti daster bulukan kesayanganku, juga mengambil tali pengikat milik Bluffy. Kali ini aku ingin membawanya ke salon kucing.


Saat aku telah siap, Oma justru enggan beranjak dari kursi goyangnya.


"Omaaa!" rengekku lagi.


Oma membuka mata dan tersenyum ke arahku.


"Liat tuh, langitnya mendung, besok aja ya ke sananya. Oma juga lagi encok, Sayang."


"Aaah gak mau... ini kan hari terakhir diskonnnya."


"Kamu ini ya, kalau sudah maunya."


"Sini, biar aku yang nganter." Kak Farel menyembul dari dalam kamar. Bajunya sudah rapi, sepertinya memang berniat keluar.


"Nah, ada Farel yang mau nganter tuh."


"Nah, gitu dong! Sekali-kali berguna gitu buat adiknya."


Kak Farel tersenyum  jahil, ia mendekat dan merangkul pundakku sambil berbisik. "Tapi ada bayarannya."


"Ih dasar! Ada maunya ternyata."


"Gak ada yang gratis, girl."


"Terserah," balasku ketus.


Terpaksa, aku berangkat dengan kak Farel dan Bluffy. Sekalian, pingin nyalonin Kucing Persia Himalayan ini.


Di parkiran basemen, aku dan Bluffy turun, tetapi kak Farel justru menutup pintu.


"Kamu jalan-jalan sendiri aja, ya. Nanti kalau udah, kakak jemput."


"Ihhh, Kakak gak nepatin janji! Entar kalau aku sendiri trus diculik, gimana?"


"Nanti bilang saa penculiknya, turunin di rumah Rasya Adrian Smith."


Lelucon tergaring of the year!


Dia malah tertawa-tawa.


"Call me oke," pungkasnya, sembari memundurkan mobil dan kemudian melaju meninggalkanku sendiri.


Aku menghela nafas kesal.


"Tenang Nirmala,kamu itu cuma di mall besar, sendirian. bukan masalah, bukan masalah."


Aku memang belum bisa menghilangkan rasa paranoid ketika bepergian di tempat ramai sendirian. Semoga aku bisa pulang dengan selamat. Kalau enggak, awas aja Kak Farel kujadiin Sarden Mafarel entar!


Aku memberanikan diri berjalan masuk menuju tempat-tempat yg memang kebanyakan sudah kuhafal betul karena seringnya kukunjungi. Lama-kelamaan aku sudah bisa beradaptasi dan merasa nyaman berjalan sendiri.


Bluffy tampak segar dan cantik setelah selesai perawatan. Pemiliknya sendiri tidak memikirkan penampilan. Baju yang kupakai saat ini, tak lebih bagus daripada penjual ikan di pasar. Rambut digelung karet harga goceng, jaket babytery pink polkadot dan kaus dalaman putih, rok hitam selutut dipadu celana biru kedodoran, plus sandal jepit warna pink. Fashion yang aneh, bukan?


Sembari menenteng beberapa paper bag, aku sengaja berjalan ke beberapa toko buku. Bluffy memang kuikat agar tak lari, tumben sekali dia tak banyak tingkah, mungkin dia bosan.


Aku hendak menggendongnya, tapi saat aku menoleh ke samping.


"Bluffy!"


Kemana kucingku pergi?


"Bluffy! Bluffy!"


Aku memindai ke segala arah, seluruh tempat di penuhi lautan manusia. Aku sudah hampir menangis putus asa. Sungguh suatu kesalahan membawanya ke tempat seperti ini.


Beruntungnya,tak jauh dari sana kulihat kucing putih-coklat itu berlari memasuki sebuah stand.


"Bluffy!"

__ADS_1


Gawat! Aku berlari mengikutinya, merunduk-runduk ke bawah tak memperhatikan orang-orang di sekitarku. Aku merangkak dengan cepat mengikutinya yang kali ini berjalan tenang melewati sebuah pintu yang terbuka.


"Yaaa... tertangkap!"


Yang tak kusadari, di hadapanku kini telah berdiri pemilik sepasang sepatu sneaker biru, seekor kucing jenis Russian blue, dan tempat makan berbentuk bundar yang telah terisi separuhnya.


Aku mendongak dan melihat sosok yang memiringkan kepalanya bingung dengan tingkahku.


N-I-K-O!


Astaga! Aku segera menegakkan tubuh, membersihkan lutut sambil menggendong Bluffy. Malu sekali rasanya harus bertemu dengannya dalam keadaan bodoh dan pakaian begini.


"Maaf sudah mengganggu. Saya permisi."


Aku menutupi wajahku dengan tangan dan hendak pergi seolah kami memang tak saling kenal dan tak pernah bertemu. Tetapi dasar Bluffy, dia melompat dan kembali menghampiri piring makan kucing abu-abu kebiruan yang anehnya tak mencakar atau mennghalanginya dan hanya bergumam khas kucing.


"Bluffy nakal!" raungku nyaring, membuatnya terkejut. Aku menutup mulut sialanku dengan segera.


"Ehem. Biarkan saja," ujar sebuah suara yang telah lama tak kudengar.


Pemilik suara itu menambahkan pakan kucing menjadi setengah setengah, sehingga Bluffy tak mengganggu kucingnya.


"Kamu mau berteman, ya. Ini Boy, dia kucing yang suka kedamaian, jadi dia tidak akan mencakar."


Dia mengelus-elusnya sambil berbicara seolah kepada anak kecil yang ingin berkenalan dengan temannya.


Aku sangat jarang melihat laki-laki pecinta kucing, tetapi itu tadi sangat manis.


Niko berdiri tegak, mengusap tengkuknya gugup. Satu pernyataan tak terduga terlontar dari bibirnya.


"Kamu mau duduk?" tawarnya canggung.


Di-dia menawariku duduk?


Mataku membola. Jujur ,aku terkejut mendengarnya, mengingat perlakuan tak menyenangkanku beberapa waktu lalu.


"Aku mau basuh tangan, kamu bisa menunggu sambil duduk" tambahnya lagi, sembari berjalan dan membasuh tangannya di wastafel.


Aku melihat sekeliling ruang tersebut. Ini semacam ruang istirahat yang cukup luas dan nyaman. Di pojok ruang ada sofa melingkar yang bisa dibuat tidur kecil, dapur kecil-kecilan dan kulkas, meja setengah lingkaran, mesin sigmatic coffee maker, beberapa gelas di sampingnya dan dua pintu lain.


"Mmm... Niko," kataku  membuka suara, tapi dia masih dengan gayanya yang seolah tak mendengar dan mengabaikanku.


"Maaf."


Entah bagaiman ekspresinya, dia hanya memunggungiku, menata cangkir dan menuang kopi.


"Mengolokmu ingeuno. Juga kakimu, aku belum sempat meminta maaf." Aku menunduk, menyesal.


"Kein Problem" (enggak apa-apa) jawabnya singkat.


Cuma begitu. Setidaknya, hatiku jadi lebih lega.


Aku mengulum senyum karena bisa bercakap dengannya, meski sangat singkat.


"Ada siapa, sayangku?"


Suara itu menarik atensi kami berdua.


Seorang wanita yang sangat cantik mirip aktris India. Matanya sangat indah, hidungnya mancung, sangat anggun dengan hijab berwarna merah dan gamis panjang berwarna stela.


Aku sedikit terpana awalnya.


Siapa ini?


"Eh, ada temen kamu, ya."


Siapa sih gadis ini? Tadi kok dia bilang sayangku. Wajahnya babyface sekali. Apa dia pacarnya Niko?


Tapi kata Rani... mungkinkah dia sudah punya di luar sekolah makanya dia bersikap seolah-olah tidak tertarik? Hmmm... mencurigakan.


Aku menyelidik Niko yang malah terlihat kesal dengan kehadiran wanita itu. Loh?


"Sayang pala lu peyang," jawabnya ketus.


Aku melongo di tempat. Baru pertama kali ini aku mendengar Niko bicara kasar dan tak sopan seperti tadi. Gadis itu bahkan tak marah dan malah terkekeh.


"S-saya permisi dulu" kataku tak ingin mengacau masalah keduanya.


"Eh, mau kemana?" gadis itu menggamit lenganku tiba-tiba. "Kamu temannya anak ini, kan?" tanyanya, menunjuk Niko yg sudah memasang wajah cemberut.


Aku ragu-ragu hendak mengangguk atau menggeleng.


"Y-ya. Kami satu sekolah tapi beda kelas kok."

__ADS_1


"Oh begitu. Kamu sendirian aja jalan-jalannya?"


Aku mengangguk ragu.


"Nah, kalau gitu kamu di sini aja temenin saya, ya."


Aku terkejut dengan pernyataan gadis itu. Kulihat Niko melotot tajam padanya, dia justru nyengir enggak jelas.


"Panggil saja Ira. Ayo duduk sini!" Dia menunjuk sofa di ujung ruang.


Aku jadi tak enak hati berada di tengah-tengah mereka. Terasa sekali aura tak menyenangkan dari Niko. Aku takut dia semakin tak suka padaku.


Kudengar Bluffy mengeong. Tampak kenyang dan mengantuk.


Dasar kucing!


Tatapan tajamku berubah melunak melihat Bluffy mengelus bulu-bulunya pada betisku.


Fiuh, untung kamu kucing, Pus.


"Maaf? tapi sepertinya saya harus pulang, Kakak saya sudah menunggu," dustaku.


Padahal aku kan enggak tahu dimana itu anak sekarang.


Gadis itu tampak sedikit kecewa. I am sorry, Ira, this is for our best.


Aku menggendong Bluffy, mengikatnya kembali, dan keluar dari ruangan tadi.


Aku baru tersadar kalau ini adalah stand elektronik dan komputer. Standnya cukup besar. Tapi, ini toko punya siapa? Kok Niko bisa ada di sini?


Gadis tadi mengejarku hingga keluar.


"Tunggu! Kucing kamu perempuan, kan?"


Aku mengangguk membenarkan.


"Kalau begitu kita bisa berbesan ya kapan-kapan?"


Aku mengernyit bingung. Maksudnya apa? Dan aku hanya menatapnya.


"Ini maharnya."


Gadis bernama Ira itu menyodorkan sebuah paperbag kecil.


Hah?


"Maksudnya?"


Dia menyelipkan benda itu di jari tanganku yang jadi penuh karena mahluk berbulu dan beberapa belanjaan lain.


"Sampai ketemu lagi," ujarnya ceria. Lalu ngeloyor pergi.


Aku terperanjat ketika seseorang menepuk pundakku tiba-tiba.


"Kakak, ngagetin aja!"


"Udah belum? Lama amat dari tadi," keluhnya. Dia mengomel susahnya mencariku ke saa ke mari. Rasain deh, suruh siapa main tinggalin.


"Udah ni bawain!"


Aku berjalan mendahuluinya bersama Bluffy, masih sedikit kesal dengannya. Sepanjang perjalanan, pertanyaan demi pertanyaan berputar di otakku.


Siapa ya gadis itu? apa dia pacarnya Niko? Atau tunangan?


Bodohnya aku tidak menerima tawarannya tadi.


Sampai di rumah, aku langsung menuju kamar masih menyesali perbuatanku. Seluruh Paperbag kuletakkan di atas ranjang.


Setelah mengganti baju, aku membukanya satu persatu. Isinya kebanyakan buku-buku dan beberapa barang lucu juga perlengkapan milik Bluffy.


Ada satu lagi paperbag terakhir, mahar dari Ira. Untuk siapa? Bluffy?


Aku membukanya perlahan, jantungku berdebar penasaran. Isinya adalah sebuah jam tangan canggih berbentuk setengah hati.


Waaah! Aku melompat kegirangan, ini kan Smart-Watch yanh bisa digunakan seperti handphone. Tapi apa maksudnya memberiku hadiah seperti ini?


Ini pasti mahal. Apa sebaiknya kukembalikan. Aku mengerang di bantal. Bluffy juga tidak bisa menggunakannya. Kenapa bukan buatku?


Aku terduduk di samping ranjang, mengamatinya dengan saksama.


"Besok, mungkin akan aku kembalikan melalui Niko. Tapi...  sekarang aku pakai dulu deh!"


Bluffy mendengus karena aku mengguncangnya yang tengah tertidur.

__ADS_1


"Thank you Bluffy!"


Tbc....


__ADS_2