Kenangan

Kenangan
Flashback 39-Kencan Berakhir


__ADS_3

Sudah menuju konflik


-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Hujan sudah berhenti total, meski mendung masih menggelayut manja


di atas langit.


Aku ingat, jalan yang kami lewati adalah jalan


yang kulewati saat pertama kalinya aku bertemu dengan gadis florist


tunanetra, Farah.


Niko berhenti di pom bensin terdekat untuk


memakai kamar kecil.


Aku memutar arah, sampai di perempatan yang


sama.


Intaianku tersendat hanya dari jarak jauh.


Sebuah


drama terjadi tepat di hadapanku.


Kak Farel yang selama tiga hari


menghilang dari rumah setelah kami merayakan kelulusannya, ada di


sana.


Terlihat perseteruan yang terjadi di antara keduanya.


Dari bahasa tubuh kak Farel seperti memohon, tapi gadis itu terus


menggeleng-gelangkan kepala dengan tangis tertahan.


Farah membuang muka seolah tak peduli, tapi Kak Farel bersikeras.


Aku penasaran, ingin mendengar lebih jauh percakapan mereka. Maka dari itu  kuparkir


sepeda, bersembunyi di semak-semak, tidak dekat tapi juga tidak


terlalu jauh untuk menguping.


Firasatku berubah tak enak ketika Kak Farel menyetarter motornya, berlalu meninggalkan Farah yang


menggapai-gapai udara hampa, seolah mencegah hal salah yang akan disesali kak Farel nantinya. Aku bahkan belum mendengar apapun.


Farah bersimpuh pasrah dengan tangis yang pecah setelah kepergiannya.


Seorang wanita lain mendatangi dan ikut tertunduk menenangkannya.


Gejolak perasaan bersalah, amarah, dan tak


nyaman menjadi satu padaku.


Mungkinkah Kak Farel menyerah dan


meninggalkan gadis itu?

__ADS_1


Asumsiku mungkin salah, melihat betapa


berpengaruhnya Farah terhadap Kak Farel. Di sisi lain, aku ragu. Bisa


saja benar karena kak Farel tak punya pilihan.


"Nirmala."


Panggilan Niko membawaku kembali. Segala macam perasaan yang berkecamuk menguap


begitu saja, hanya ada perasaan aman dan nyaman setiap memandangnya.


"Kita pulang atau kamu masih mau


jalan-jalan?"


Biko memang selalu baik. Apa dia melihat kejadian tadi? Mungkin


tidak, tapi dia pasti mengerti kegelisahanku saat ini.


"Aku pingin ke danau."


"Ayo, aku tau jalannya."


***


Kami sampai di Kebun Bibit Wonosari.


Jaraknya sedikit jauh dari rumah, tapi lebih dekat ke sekolah.


Pemandangan indah danau di padu dengan banyak tanaman dan buah-buahan. Landscape yang bagus


untuk menenangkan pikiran.


Bermain Peletakan, melempar batu terjauh, bercerita tentang perang yang pernah diceritakan


Almarhum Opa Chandra. Dia begitu menikmati dan bukannya merasa terganggu dengan celotehanku.


Aku sengaja mengantongi hadiahku di jaketnya tanpa tedeng aling-aling terlebih dulu.


"Inihadiahku. Jangan dibuka sebelum sampai rumah."


Dia menuruti dan tak banyak bertanya.


Kami kembali bercerita banyak hal. Sambil memandanginya tanpa bosan, meski jantungku sudah tak tahu lagi


harus bekerja bagaimana.


Ini semua seperti mimpi.


Berdua dengannya, berjalan bersama,  tertawa bersama, berbagi hadiah,


bukankah ini yang namanya kencan?.


Wajah Niko lebih sering terlihat bersemu, Kurasa dia mungkin terserang demam.


"Niko, kamu demam? Wajah kamu keliatan remang-remang."


Dia memeriksa dirinya sendiri.


"Ah, masa'? Iya mungkin. Aku emang gak bisa kena hujan," katanya sambil tersenyum.


"Duuh, maafin aku ya, pasti gara-gara tadi."

__ADS_1


Sekarang wajahku yang berubah memerah.


"Kamu juga demam? Kok muka kamu merah?"


"Eh, enggak kok."


Bergegas bangkit, aku menaiki sebuah pohon mangga yang berbuah. Salah tingkah,


sekaligus salah langkah.


"Woy, gorila betina, bisa gak


bertingkah normal aja, ngapain kamu naik pohon segala!"


Niko berkacak pinggang di bawah.


Aku terkikik sendiri.


"Gorilla kan rumahnya di pohon."


"Baru ngaku kalau kamu gorilla?"


"Enggak, kamu yang bilang kan."


"Whatever. Ayo turun, kita harus pulang sekarang."


"Nanggung Niko. Bentar lagi dzuhur. Pas dzuhur aja pulangnya."


Niko mengerutkan kening, menatap jam di lengannya. Ekspresinya tak


terbaca. Dia berlari meninggalkanku dengan segera.


"Eh, Niko mau kemana? Tunggu!"


Aku melompat turun, berlari ke parkiran, menunggangi sepedaku. Niko melaju dengan kecepatan tinggi


seperti dikejar hantu. Aku tak bisa mengikutinya. Dia bahkan menerobos lampu merah. Mengabaikan keselamatannya, padahal lalu lintas sudah mulai padat.


Dia kenapa? Dan mau kemana?


Naluriku mengatakan Niko menuju ke arah sekolah. Aku melaju dengan kecepatan penuh.


Sampai di sana, kudapati sepedanya tergeletak sembarangan.


Apa hal yang membuatnya begitu terburu-buru? Aku masih bertanya-tanya.


Bunyi guntur menggelegar, sepertinya hujan akan turun lagi. Aku mendirikan sepeda Niko, baru kemudian menyusul pemiliknya. Berlari menyusuri selasar, ke bagian belakang, dia tak ada. Di halaman parkir aku mendapati Niko dan Om Syafiq tampak berbicara serius.


Om Syafiq menepuk pundak Niko. Niko tertunduk sedih setelah Om


Syafiq melajukan mobilnya.


Apa yang terjadi?


***


tbc....


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2