Kenangan

Kenangan
Flashback 11-Revealed


__ADS_3

Tak merasakan sakit apa pun, aku membuka sedikit mataku, mendapati pria itu tersungkur kesakitan dengan luka tembak di lengannya, dan pistol itu jatuh di sampingnya.


Aku menghela napas lega. Menggosok-gosok dadaku yang terasa hampir meledak ketakutan tadi. Tanganku masih terasa hangat. Aku menoleh padanya yang tampak terkejut. Dan rasa kehilangan karena setelah itu dia melepaskanku.


"Nikooo. Putriii!"


Sudah kuduga. Rangga dan Rani bersama beberapa polisi tengah menuju ke arah kami, yang kuyakini salah satu dari mereka lah yang menembak pria itu tadi.


Rani menghambur memelukku. Aku terisak. Dan seolah ketakutan tadi terlepas.


"Kalian gak apa-apa,kan? Kita khawatir banget tadi."


"Hampir aja kita terlambat."


Rangga ikut buka suara.


Rani melepas rangkulannya dan tampak celingukan mencari seseorang. "Mana Reno?"


Aku baru tersadar atas kecerobohannya.


"Ya ampun, Reno kutinggal di..."


Belum genap aku berpikir, Reno muncul dari kejauhan. Terkihat ketakutan dan hendak berbalik arah, mendapati polisi telah mengepung tempat ini. Rani langsung menghampirinya.


"Hiks. Syukurlah ternyata lo masih hidup."


Reno menghela napas, pasrah karena Rani menyeretnya mendekati kami. Rangga memeluknya ala anak cowok.


"Karena semuanya dah kumpul. Tolong Pak Polisi, kami ingin melihat siapa pelaku di balik topeng ini," ujar Niko. Kembali mencuri perhatian kami. Aku hampir saja melupakan pria itu tadi.


Polisi membuka topeng yang dikenakannya. Kami terkesiap.


"Dia...."


Entah mengapa alasannya dan siapa orang itu yang jelas pria ini iblis!


Dia berniat melakukan konspirasi untuk mencemarkan nama orang lain, kemudian melenyapkannya secara diam-diam. Benar-benar jahat.


"Pak Astro, Pengacara terkenal itu, kan?" ujar salah seorang aparat tersebut mengenali. Pria itu membuang muka.


"Dia...pria di rumah sakit waktu itu," tambah Rangga.


"Dia majikan Ibu gue. Ayahnya David."


"Hah?," suara kami bersamaan.


"ANAK-ANAK SIALAN!!! KALIAN SUDAH MENGGAGALKAN SEMUA RENCANAKU. KAMU..." Dia menunjuk ke arah Reno. "PEMBUNUH, KAMU YANG SUDAH MEMBUNUH ANAK SAYA. MATI KAMU!"


Orang itu berteriak kesetan, mencakar-cakar udara, mencoba menggapai Reno.


Reno menunduk dan terisak. Rani yang berada di sebelahnya mengusap punggungnya, menenangkan.


"Bukan saya yang membunuh David, itu salah Kevin!!!" Reno menghiba dengan suara lemah.


Pria itu masih bersikeras.


"Ran. Gue punya sesuatu buat lo." Reno beralih pada Rani, mengeluarkan sesuatu dari saku celana belakangnya. Sebuah handycam.


"Ini semua demi lo." Reno menatap Rani prihatin.

__ADS_1


"Ap-apa ini?"


"Alasan semua ini terjadi."


Semakin terkejutlah kami. Semua menunggu dengan getir kelengkapan cerita Reno. Terkhusus Rani yang merasa tak terlibat apapun.


"Gue bakal ceritain kronologi yang sebenarnya..."


***  


"Hari itu, dia nemuin gue sama temen-temen brengseknya...."


Mata Reno menerawang jauh pada hari yang dimaksud. Kepedihan, dan suara sangau terdengar dari runut kisah yang akan dikatakannya.


Reno tengah bermain basket dengan beberapa temannya ketika mereka datang mengacau, mengusir semua orang keluar, menyisakan dirinya.


Beberapa anak laki-laki tampak mencoba mengintimidasi, dan salah satu teman setim basketnya, Kevin juga ada di sana.


Reno awalnya bingung dengan pengepungan itu, barulah ia mengerti setelah satu cowok membuka suara.


"Lo harus jadi budak gue."


David nama anak itu, menyeringai sinis ke arahnya.


Bagas yang ia tahu adalah kekasih baru Rani, bergerak maju, memutarkan video di hadapannya.


Dalam video ditampilkan wajah seorang cewek yang sudah hangover, di sebelahnya seorang cowok terus mencekokinya dengan minuman, meski cewek itu terus menolak dan menahannya.


Reno meremas jemarinya, ia tahu persis siapa anak perempuan dalam video itu.


Matanya melotot garang menyaksikan kelanjutannya.


Rasanya Reno sudah tak sanggup lagi menyaksikan. Cairan bening tipis sudah melesak keluar dari pelupuk mata. Tangannya bergerak tak terkontrol, mencekik leher Bagas yang dengan entengnya memutar video itu di hadapannya, hingga handycam itu terplanting jatuh ke lantai.


Anak yang lain mencoba menolong Bagas dari cekalannya. Reno bergerak maju hendak menghajar David.


"Gue pingin banget bunuh anak itu hari itu juga...."


Beberapa orang mencegah pergerakannya, membuat Reno tersungkur langsung ditindih dari belakang.


David terbahak sadis. "Gue gak punya waktu buat main-main sama anak kere kayak lo. Yang gue butuh, lo jadi budak gue, atau..." David menginjakkan kepala Reno, menarik rambutnya, sampai mendongak, kemudian berbisik tepat di telinga Reno."Gue sebarin video ini, dan Cewek jalang itu bakalan hancur."


Anak itu mengusap bibirnya seperti ular. Reno menatapnya dengan tatapan laser, yang seharusnya mampu membuat begundal itu mati saat ia berbalik memungginya dengan santai.


"Gue tunggu jawaban lo, jing," lanjutnya, kemudian menghilang dari balik pintu.


Baru kemudian mereka melepaskan dan meninggalkannya dalam keadaan frustrasi.


"Gue bingung apa yang harus gue lakuin. Gue sama sekali gak keberatan ngelakuin apapun buat nyelametin masa depan Rani, tapi gak buat jadi budak David. Sampai malam Sabtu lalu. Dia neror gue lagi. Mereka minta ketemu di markas mereka. Dan nyuruh gue nylundupin barang haram yang mereka minta, sekaligus buat ngebungkam pengantar barangnya. Gue nolak tapi gue tetep dateng ke tempat yang dijanjikan. Di sana cuma ada dua orang, David dan Kevin. Dari situ tragedi itu berawal...."


"Mana barangnya?"


"Gak ada, gak gue ambil," jawab Reno dingin.


"EH ANAK SETAN. LO PINGIN MATI YA?!"


Anak itu, Kevin mencengkram kaus yang dikenakan Reno.


"GUE PINGIN BUAT PERHITUNGAN SAMA KALIAN!"

__ADS_1


Tak lama, David muncul dari arah dalam, menanyakan hal yang sama.


Kedua orang itu terlihat seperti habis meneguk obat atau ngefly.


Dan terlihat marah mendengar jawaban Reno. Reno tahu dia kini tengah berada di sangkar ular dan dia bisa saja di patuk dengan bisa beracun mereka sewaktu-waktu.


Hari itu berakhir di bumbui penuh dengan umpatan caci maki dan adu tonjok.


"Kita bunuh aja anak tak tau diuntung ini!"


Reno kalah jumlah. David membekap tubuhnya agar tak lari. Kevin menggas sepedanya, menebarkan efek ngeri, sebelum melaju dengan kekuatan tinggi. Reno terpekik, dan ketika David melepasnya untuk menyelamatkan diri, Reno mengganti posisi mereka, sehingga Davidlah yang berada di posisinya. Bukannya menghindari temannya, Kevin justru menambah laju. David tertabrak dan terpental beberapa ratus meter ke jalan.


Kengerian menggerayapi bulu romanya. Dia bertarung dengan seorang psikopat. Reno tak tau bagaimana nasib David saat itu. Yang dia pikirkan hanya cara untuk menyelamatkan diri.


Kevin kembali mengejar dengan motornya, Reno memukulnya hingga terjatuh dari sepeda. Kevin selamat, bangkit dengan tubuh sempoyongan, merogoh sakunya dan menyeringai.


"DAVID UDAH SELESAI. SEKARANG GILIRAN LO@


!"


Matanya menatap penuh kebencian. Tiba-tiba menyerang Reno yang masih bergetar hebat menatap darah mengalir dari pelipisnya, dengan belati.


"MATI LO DI TANGAN GUE, ANJING!"


Kevin tak berhenti sampai di situ, terus mencoba melukai, mengoyak kulit Reno dengan belatinya. Menggiring mereka ke sebuah jembatan, dari situ Reno yang terdesak, mendorong tubuh Kevin hingga jatuh ke atas sungai kering dengan batuan besar menghadangnya. Tubuh Kevin hancur menghantam permukaan batu tajam.


Tubuh Reno bergetar semakin hebat, ia bersimpuh berurai air mata dengan tangan penuh noda darah.


"Gue gak tau harus kemana, Rasa takut menghalangi untuk kembali, sampai akhirnya gue ketemu kalian di sini," Reno mengakhiri kisahnya.


Rani menangis sejadi-jadinya. Menyalahkan dirinya sebagai penyebab Reno harus menaggung beban seberat ini. Aku memeluknya dan kami kembali sama-sama menangis.


Pria itu diam tertunduk. Setelah cukup tenang, polisi membawanya pergi.


"Jadi, itu alasan kamu ada di rumah sakit." Niko membuka tabir yang lain.


Rani kembali terisak.


"Sudah 4 minggu usianya. Hiks. Gue gak tau harus apa lagi. Gue pingin ngebunuh anak ini, tapi gue gak bisa."


Ya Tuhan, Rani... aku tak pernah menyangka Rani aka mengalami kejadian seperti ini. Dia terus menyembunyikannya bahkan dari sahabatnya sendiri.


"Rani, kenapa? Kenapa gak pernah cerita sama aku." Aku menangis lebih keras. Memeluk Rani dengan erat. "Ini pasti sangat berat buat kamu. Maafin aku, Rani. Maafin aku yang gak perhatian jadi teman."


Rangga menghajar tembok yang tak bersalah sampai melukai tangannya sendiri.


"Sial..Sial...Sial...Aah BRENGSEK!"


Niko dengan tenang menyuruh Rani agar tidak terlalu bersedih.


"Rani dengerin gue...." Niko mencoba mengendalikan situasi. Semua terdiam. "Setiap jiwa yang akan lahir, punya hak untuk hidup. Jangan pernah lo berfikiran untuk membunuh, sekalipun gue tau, hal ini pasti sangat berat buat lo tanggung."


"Trus, ngebiarin anak ini lahir tanpa Ayah? Gimana nasibnya nanti? Gue masih muda, Ko. Gue tau semua karena kesalahan gue, tapi gue juga dilema tentang nasibnya."


"Lo gak perlu mikirin itu lagi. Gue yang bakal nanggung semuanya," jawab Niko yang membuatku tercengang.


"Maksud kamu?"


Niko melihat ke arahku entah mengapa.

__ADS_1


"Gue yang bakal tanggung jawab sama anak lo."


Tbc....


__ADS_2