
Nesya dan DO memang tampak tidak relevan, tapi mengapa begitu serasi ketika disandingkan?
Bukannya diriku mendendam dalam hati, tapi karena memang orang sepertinya pantas diberi pelajaran supaya tak semena-mena terhadap orang lain, bukan?
"Serius kamu, Bel?
"Benar. Kamu sendiri tahu 'kan kalau sekolah kita intolerance sama yang namanya risak. Pantes aja dia diDO. Gak nyangka ternyata banyak juga korban bully Nesya yang kasih petisi."
Kukira hanya aku yang menjadi korbannya, ternyata aku tidak sendiri.
Dalam perjalanan, kami mendapati anak-anak yang berkerumun di depan mading.
"Ada apa tuh?"
Menarik sekali, bahkan ada yang sampai memasang teks proklamasi di mading, berikut petisinya.
Teks Proklamasi Kemerdekaan Sekolah
Proklamasi,
Kami bangsa Indonesia, dengan ini menjatakan kemerdekaan EYG SHS. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja.
Surabaya- 1- 03 - 2015 Wakil-wakil Sekolah Eminent of Young Generation Senior High School
STOP BULLYNG!!!
INDONESIA SUDAH MERDEKA, SEKARANG GILIRAN KITA.
Ttd
Seluruh Siswa/i Korban Nesya.
***
Sampai di kelas, aku disambut pelukan hangat Rani.
__ADS_1
"Merdeka!"
Euforia tampak di mana-mana. Bahkan pada teman-teman segank Nesya sendiri.
Aku baru mengerti, ternyata sosok Nesya sebegitu dibenci.
Kenapa aku jadi merasa kasihan?
Jadi penasaran, siapa yang dengan berani melaporkannya.
Aku ingin menyangkal pemikiranku yang terus berputar hanya pada pada satu orang.
Niko.
Aku perlu menanyakannnya.
"Niko!" Dia mendongak, dengan sebelah alis terangkat, ketika aku memanggilnya.
Dia sedang berbincang bersama adik kelas kemarin, yang langsung undur diri begitu aku pelototi.
Aku mengangkat tangan menyuruhnya diam. Mengobservasi wajahnya, mencari kebenaran dari matanya. Dia memalingkan wajah dariku.
"Apa? Kamu cuma punya dua menit."
Aku menghela napas saat mendapatkan jawabannya.
"Kamu senang?"
"Dalam rangka?"
"Kamu tahu yang kumaksud."
"Enggak juga, tetapi bukankah semua orang senang? This is sweet revenge. Nesya pantas mendapatkannya."
"Kamu tau tidak ada yang pantas untuk mendapat perlakuan seperti ini. Aku enggak ngerti. Apa kamu merasa senang setelah mengeluarkan seseorang dari sekolah hanya untuk balas dendam?"
__ADS_1
"Nirmala, jangan bikin aku merasa jadi satu-satunya orang jahat dan pendendam di sini. Apa yang kulakukan ini semua demi kebaikan sekolah kita. Bukan cuma kita yang sudah jadi korbannya. Sampai kapanpun Nesya gak akan berhenti sebelum ada yang berani menghentikannya. Dan akan banyak lagi korban lain dari keegoisannya."
Apa yang dia katakan seolah menyadarkanku, bukan hanya kami, masih banyak yang harus diselamatkan sebelum terlambat. Aku menyesal telah berburuk sangka padanya.
"Dua menitmu sudah lewat." Dia sudah berjalan melewatiku.
"Niko! Maaf!"teriakku, yang dibalas lambaian tangan, hingga punggungnya menghilang dari jarak pandangku.
***
Hari Rabu pagi, Pelajaran Olahraga diisi dengan kegiatan senam kebugaran juga teknik mendribble bola basket
.
Tidak buruk, karena nilaiku 70.
Lagipula, Pendidikan Jasmani adalah pelajaran yang paling tidak aku sukai.
Selesai berganti seragam, aku mengambil beberapa buku di loker. Selang tak berapa lama, Pak Tris masuk ke dalam kelas, bersiap memberi pengajaran Matematika.
Ada sesuatu yang janggal di dalam tasku. Sebuah coklat dan sebuah amplop berwarna biru laut dengan bunga mawar merah terselip di dalamnya. Aku menutup tasku kembali. Melihat sekeliling, semua tampak fokus dengan penjelasan bahasa inggris Pak Tris di depan kelas.
Standard sekolah memang berbasis Internasional.
SMA Eminent of Young Generation memang mensyaratkan siswa/i untuk terlebih dahulu menamatkan TOEFL.
Di kelas satu, guru-guru memang tidak diwajibkan menggunakan bahasa asing. Di pertengahan kelas dua, sebagian besar pelajaran sudah diharuskan menerapkannya. Di kelas tiga, hampir semua pelajaran menggunakan bahasa asing, kecuali pelajaran Bahasa Indonesia tentunya.
Susah? Itulah mengapa test dan persyaratan masuknya sangat tinggi. Hal ini juga dapat meningkatkan kemampuan fokus dan menunjang minat pada murid, karena kebanyakan siswanya berasal dari berbagai negara.
Edaran pandanganku bersiborok dengan Syarif yang tersenyum penuh arti. Aku mengabaikannya, dalam hati merapal do'a semoga bukan dia.
***
Tbc...
__ADS_1