Kenangan

Kenangan
Flashback 20-Pengalaman Hidup


__ADS_3

"Itu Rangga." Rani berubah panik.


"Rayhan. Niko."


"Tante Ris."


"Mama."


Situasi diperburuk dengan datangnya seorang suster berkerudung putih yang ternyata Mamanya Rangga.


"Gawat, Putri!"


Aku hampir tergelak menyaksikan Rani membenahi pakaian dan rambutnya.


"Cie, yang mau ketemu camer."


Entah apa yang dibicarakan ketiga orang di depan pintu, suster itu menoleh ke arah Rani sambil tersenyum.


"Manis ya."


Rani tersipu-sipu di tempat. Perawat yang ternyata mama Rangga akhirnya masuk ke dalam untuk menyuntik Rani. Sedangkan aku, keluar menghampiri keduanya. Niko memberi sekresek camilan entah apa saja isinya.


"Kalian gak mau masuk?"


Bukan menjawab, Niko mengalihkan pertanyaan. Aku sempat melihat punggung Rangga yang menjauh.

__ADS_1


"Gimana keadaan Rani?"


"Dia masih nangis terus semalaman."


"Dia butuh kamu."


"Iya aku tahu. Sorry, aku baru ngabari sekarang. Sebenarnya operasinya sudah kemarin--."


"Gak apa-apa. Jadi kapan sudah boleh pulang?"


"Nanti sore sekitar jam 3."


"Jam 3 kita jemput."


"Eh?"


Aku kembali masuk dan mendapati Rani tengah bercanda dengan Mama Rangga.


"Put, kenalin ini tante Risma." Rani memperkenalkanku.


Sebenarnya ini adalah pertemuan ketiga mereka. Tante Ris adalah perawat bidan yang menangani Rani ketika pertama kali mengetahui kehamilannya. Obrolan pun melebar ke mana-mana. Mama Rangga orang yang asyik diajak bercanda, tidak menggurui, dewasa, khas orangtua memberi petuah.


"Jangan malu. Semua orang juga punya masa lalu. Jadikan kesalahan itu sebagai bekal dan pelaran berharga di masa mendatang."


Tante Ris juga menceritakan tentang masa lalunya, tentang darimana mata abu-abu milik Rangga berasal. Orang Indonesia sangat jarang yang memiliki manik abu-abu. Aku bahkan tak menyadari kalau Rangga punya mata berbeda dari kebanyakan. Awalnya, kukira Rangga punya penyakit atau semacamnya, ternyata dugaanku salah.

__ADS_1


Semua berawal ketika Tante Ris menjadi TKW di Malaysia, dan bekerja kepada seorang bohemian atheis yang antikomitmen. Tuannya punya kebiasaan buruk senang minum-minum dan selalu melampiaskannya kepada tante Ris. Sampai akhirnya mengandung kakak Rangga, namanya Hilbram. 3 bulan kehamilannya tante Ris sudah akan mengambil cuti tapi ternyata pria itu kembali ke kampung halamannya di Alaska selama 6 bulan, dan tante Ris akan dipanggil kembali.


Setelah melahirkan Hilbram secara diam-diam, tante Ris menitipkan kepada ibunya, Eyang Rangga, dan kembali ke Malaysia. Tante Ris merasa sakit hati ketika pria itu membawa wanita lain ke rumahnya. Sayangnya, hubungan itu tak berlangsung lama, karena wanita yang dibawanya menginginkan komitmen, sedangkan pria itu tetap pada pendiriannya untuk tidak pernah menikah.


Tante Ris yang benar-benar di landa jatuh cinta tidak berpikir waras dan terus mengabdikan diri pada tuannya. Pria itu kembali kepada kebiasaan lamanya. Pada akhirnya, tante Ris kembali mengandung Rangga. Kehamilannya kali ini tanpa sengaja dipergoki oleh tuannya. Pria itu marah besar, memintanya untuk menggugurkannya atau dia yang akan melenyapkan tante Ris.


Singkat cerita, tante Ris mendapat bantuan dan berhasil kembali ke Indonesia dengan selamat.


Aku ternganga. Hal yang sebenarnya kukira hanya ada dalam drama, khayalan, atau karangan semata, ternyata benar-benar ada. Dan ini saksi hidupnya.


Tante Ris memang menyesal telah mencintai orang yang salah, tapi beliau tidak pernah menyesal melahirkan Hilbram dan Rangga.


"Cinta tanpa kedewasaan hanya mendatangkan kehancuran. Saya ceritakan ini kepada kalian, bukan untuk mengumbar aib, melainkan supaya kalian mengambil hikmahnya. Tante percaya sama kalian, karena Rangga juga sangat mempercayai kalian."


Aku termenung. Betapa beruntungnya aku yang tidak memiliki masalah kisah rumit seperti teman-teman. Dan kenapa aku masih lalai dalam bersyukur.


"Kamu tau, Rani? Malam itu, setelah tragedi di gedung tua, Rangga menangis untuk pertama kalinya di pelukan tante. Dia bilang, kalau dia tidak pantas menjadi lelaki karena merasa gagal menjaga gadis yang dia cintai."


Rani tertunduk seperti merasa bersalah.


"Rangga tidak pernah semelankolis hari itu, tapi dia menangis pasti karena sesuatu yang menurutnya berharga, gagal untuk dia pertahankan. Jika itu kamu, boleh kamu beri dia kesempatan kedua?"


Tante Ris masih memegangi tangan Rani. Air mata Rani sudah berkumpul hampir tumpah. Rani mengangguk samar.


"Jaga diri kamu."

__ADS_1


Wanita itu lalu bangkit meninggalkan aku yang membeku, bersama Rani yang tergugu.


Tbc....


__ADS_2