
Cuaca masih cerah, saat kami memutuskan untuk menikmati beberapa pertunjukan festival seni yang diselenggarakan.
Bukan ide yang buruk. Aku jadi bisa menikmati waktu bebasku lebih lama, apalagi kalau ada...ehem...dia.
Ada Olivia dan Ranti yang juga mengikuti kami.
Oliv menyikut lenganku, mengedip sebagai isyarat sambil berbisik, "Kak Niko kok masih gak pulang?"
Aku menggendikkan bahu. Mana kutahu. Aku sendiri juga terheran.
Aku melirik tampang bosan Niko yang menyaksikan pegelaran wayang di depan kami. Dia memperbaiki posisi
duduknya supaya lebih santai. Dari gelagatnya, tak tampak ada niatan akan berpamitan pulang.
Bagus juga sih, tapi tingkahnya malah membuatku makin bingung. Ini anak satu kenapa?.
"Kamu bilang apa sama dia?Ah, atau jangan-jangan bener ya, kalian...." Oliv memicingkan mata dengan curiga.
"Apa? Kalian apa?" tanyaku tak memahami jalan pikiran Oliv.
Oliv tiba-tiba bangkit dari duduknya, menarik tangan Ranti untuk mengikutinya.
"Wah, kayaknya kita salah momen nih, Kir. Kita duluan ya, Putri. Kak Niko! Kita duluan ya."
Kedua manusia itu ngibrit entah kemana, setelah mendapat perhatian Niko, dan
membuatku melongo, bahkan Ranti masih disorientasi dengan apa yang
sebenarnya terjadi.
Gadis-gadis itu memang sulit dimengerti.
"Mereka balik?" Suara Niko menyadarkan dan menutup mulutku yang terbuka.
"Eh, iya."
Selebihnya tak ada percakapan diantara kami.
Kok aku jadi ngerasa si Oliv sengaja bikin aku berduaan sama dia ya. Hmm... mencurigakan.
Tak berselang lama, pagelaran wayang selesai. Langit terlihat sedikit mendung, padahal semakin siang orang-orang yang datang semakin ramai.
Kami akhirnya memutuskan untuk pulang. Tapi lalu berbalik arah menyaksikan
aksi panggung Bunraku tak jauh pandang, yang notabene hanya di sukai
anak-anak dan remaja.
Niko tak banyak berkomentar dan mengekori kemana kakiku melangkah.
Penonton didominasi oleh para Ibu dan anak, sedikit remaja tanggung, dan kurasa hanya kami berdua yang berusia 17 dan 19 tahun.
Kami memilih duduk di ujung bangku panjang, di tengahi seorang anak gendut berbaju biru dongker yang suka mengupil
Ini anak siapa lagi, merusak pemandangan.
Bagaimanapun aku begitu menikmati pertunjukan drama boneka tangan yang memang
kesukaanku dan kak Farel sejak kecil. Sekalian nostalgia ceritanya.
Suasana begitu ceria. Tersenyum, tertawa, begitu terbawa ke dalam cerita.
Hembusan hawa panas serasa menerpa wajahku. Aku merasa gugup, merasa ada yang mengamati.
Melirik ke arah kanan, semua orang masih menyaksikan dengan antusias.
Melirik ke arah kiri, aku melihat Niko masih terfokus ke depan.
Deg
Jantungku dengan tidak tahu diri krmbali melakukan balapan. Tepat saat itu aku tertangkap basah mengamatinya. Aku menunduk untuk mengambil napas juga karena malu, lalu kembali mendongak.
Manik hitam dan manik coklat bersitemu. Perasaanku sama dengan wujud percampuran dua bola warna tersebut, nano-nano.
__ADS_1
Berpadu rasa manis, asam, asin yang menciptakan rasa candu dan nyaman.
Kami bersitatap dengan intensitas berbahaya. Aku jadi takut kehilangan kendali diri. Manik hitamnya seperti blackhole yang menyerapku masuk lebih dalam. Tak ada yang memutuskan, sama-sama terbawa.
Beberapa detik yang lama, terpotong suara guntur dan tetesan rintik hujan menyentuh kulit. Orang-orang berhamburan memecah kerumunan untuk mencari tempat berteduh.
"Ayo!"
Niko mengajakku menaiki sepeda dan berteduh di halte terdekat. Aku masih tercenung dengan kejadian tadi.
Tatapan apa itu tadi?
Aku baru tersadar telah menjatuhkan sapu tangan pemberiannya di tempat tadi setelah kami sampai di halte terdekat.
Aku bergegas menerobos rintik hujan yang semakin deras. Kudengar dia memanggil-manggil di belakang. Aku sampai dengan jaket setengah basah, dan menemukannya di bangku kami tadi.
Menghembus nafas lega. Aku menyimpannya dengan hati-hati, seolah benda itu adalah barang berharga yang tak ternilai harganya.
"Untung gak hilang."
"Hey. Ayo."
Aku terperanjat mendapati Niko berada tepat di belakangku, mengangkat jaketnya untuk memayungi kami dari hujan.
Aku menurut, dengan sigap berada di satu jaket payung yang sama, untuk
meminimalisir intensitas sentuhan lebih jauh dengan basah.
Kami tiba di halte dalam posisi yang dramatis. Mirip adegan drama korea yang Rani tonton saban hari.
Jantungku berdentam hampir melompat dari tempat. Wajah kami begitu dekat. Kami terdiam masih mencerna apa yang terjadi, sebelum dia mendorong jaketnya tepat ke wajahku.
Aku tertawa menyamarkan kegugupanku, sekaligus wajahku yang memerah di balik jaketnya. Apalagi
di tambah scent parfum yang menempel di jaketnya, semakin membuatku ke awang-awang.
Ah, aku mau pingsan!
"Serius deh, itu tadi mirip banget sama drama Korea favorit Rani," Aku mencoba
tak ada efeknya buatku.
Munafiqin Nirmala!
Menanggalkan jaket dari wajahku, menghirup nafas sebanyak-banyaknya. Aku tertawa lagi tapi tak ada respon darinya. Baru kutahu dia sedang melakukan sambungan telepon ternyata.
Aish di kacangin lagi!
Aku melempar jaket tepat di wajahnya untuk menarik perhatian.
"Tuh, jaket kamu bau," ujarku kesal.
Dia masih tak merespon sama sekali.
Aku memilih duduk di bangku halte dan terdiam mencerna apa yang baru saja terjadi. Rasanya ingin mengulang adegan tadi.
Merasakan hawa panas yang begitu dekat, melambungkanku dengan gelenyar tak biasa,
membuat otot-ototku.melemah, dan otakku kehilangan kontrolnya.
Faktanya, kami bahkan tak bersentuhan, tapi reaksi tubuhku sudah seperti itu.
Gimana kalau.. kalau.. Ah. Jantungku masih kejang-kejang sampai saat ini.
Diam-diam mataku melirik, mengamatinya dengan jeli.
Tingginya mungkin 180-an meski Rani bilang 178, karena aku yang 165 cm hanya sebahunya. Tulang kering yang terlihat kokoh dengan celana 3/4nya. Kaus hitam lengan pendek, menonjolkan lekukan otot yang baru tumbuh.
Punggung dan pundak lebar yang terlihat kokoh dan pelukable.
Uhm. Aku jadi malu sendiri.
"Hey kak Niko gebetannya Nesya!"
__ADS_1
"Hmm," gumamnya. Setelah selesai menutup teleponnya.
"Itu toko beneran punya Boy atau punya kamu?"
Dia hanya memutar bola mata. "Menurut kamu?"
"Menurutku, punya kamu. Boy kan kucing, mana bisa dia jaga toko, hehe."
"Hmm."
Garing.
"Eh kamu beneran gak punya pacar ya?"
Mengejutkan karena dia tiba-tiba tersedak ludahnya sendiri.
"Kamu gak apa-apa?"
Niko menghela nafas, mungkin karena pertanyaanku yang aneh.
"Kenapa tanya begitu?"
"Oh, cuma mastiin aja kalau kamu gak punya pacar yang punya kucing perempuan
juga, jadi Bluffy gak punya saingan. Boy kan cinta pertamanya Bluffy."
Aku tertunduk malu, lalu merutuki. Kenapa kok jadi main hati, padahal tadi niatnya bercanda. Hmm, semoga dia gak notice yang enggak-enggak.
Dia menaikkan alis. Sekilas wajahnya berubah memerah.
Apa dia demam gara-gara hujan?
"Kamu lagi nembak aku ceritanya?"
"Nembak? Aku gak bawa pistol kok, gimana mau nembak kamu? Mana tega lagi aku nembak kamu."
Dia menatapku lekat. Lalu menepuk jidatnya sendiri. memangnya perkataanku silly?
"Eh maksudnya, mending kamu tembak aku daripada harus menerima Bluffy jadi sama Boy."
"Loh kenapa?. Memangnya kamu gak suka sama Bluffy?" Aku masih tidak mengerti, kenapa soal nembak menjjadi sedikit misteri. Aku rasa akan menanyakannya pada Rani nanti.
"Aku suka."
"Trus?"
"Ya soalnya dia cerewet, absurd, ngeselin, nyablak, nyusahin, kadang terlalu polos stadium oon lagi."
Eh dia ngomong apa?
"Emang kamu pernah bicara sama Bluffy? Ooh jadi kamu ngerti bahasa kucing?"
Dia malah terbahak. "Aku lambai tangan ke kamera. Nyerah deh bicara sama kamu."
Aku jadi ikut tertawa dibuatnya. Tak ingin membahas lebih jauh tentang pembicaraan satu arah kami. Kami kembali diam. Dia duduk kembali mengutak-atik HPnya sembari menunggu hujan reda. Aku sendiri bermain game dengan HPku.
Lama keheningan menyelimuti, dan hujan masih belum berhenti. Dia merebut ponselku tiba-tiba.
"Bukan gitu caranya, gini biar kamu naik level."
Dia memperlihatkan kelihaiannya bermain. Sebenarnya aku juga tak berniat menamatkannya. Tersentak dengan jarak kami yang terpangkas. Aku merebut HPku kembali. Dia mencebik tanpa protes lagi.
Hening.
Hanya suara gemericik air hujan yang jatuh. Hawa dingin yang menyergap. Semoga riuh degub jantungku yang seperti orang habis lari marathon tak terdengar olehnya.
"Kamu tahu, hujan itu berkah. Karena itu ketika hujan merupakan waktu dikabulkannya do'a."
Dia membaca do'a 'Allahumma Shoyyiban nafi'a'. Lalu memejamkan mata dengan khusyu'. Aku mengikuti.
Merasakan kehangatan dan perasaan bahagia menyelimutiku.
Jika ini saatnya berdo'a.
__ADS_1
Aku meminta, agar hujan turun lebih lama, agar aku dan dia, bisa terus menikmati kebersamaan ini lebih lama.
***