
Mematut diri dan berlama-lama berdiri di hadapan cermin adalah rutinitas langka, yang kulakukan selama 17 tahun usiaku.
Menjepit rambut, mengikatnya rapi, terakhir semprotan parfum strawberry. Aku terdiam seketika, terngiang kembali pada perkataan kak Farel yang aneh bin ajaib mulai berubah rajin sholat ke masjid, lebih sopan dan pendiam tempo dulu.
"Gak usah pake parfum segala. Itu bisa jadi godaan buat cowok-cowok sekolah kamu. Mending kamu bantuin mereka buat jaga pandangan, dan jaga diri kamu dari hal negatif."
"Kakak tadi ngelewatin pohon gede ya?" tanyaku tak percaya. Ini bener kak Farel kan gak ke tuker sama Jin Qorinnya kan?.
Seolah mengerti, dia terkekeh dan mengelus kepalaku. Membuatku makin tercengang. Fix kak Farel aneh!
Tapi ada benarnya juga, mungkin saja kejadian hari yang lalu tak kan pernah terjadi. Mungkin.
Okelah, singkirkan parfum. Toh, aku sudah pakai deodorant. Mengenakan sepatu, dan selesai sudah persiapanku.Perfect!
Hari ini suasana hatiku memang berubah secerah mentari pagi, tak ada mata bengkak dan sakit sehabis menangis yang harus mendapat teguran mama dan sekali lagi kehabisan bahan sebagai alasan mengelak.
Rasanya alasan begadang sudah terlalu basi. Belum lagi kak Farel yang selalu usil, mengompor-ngompori.
"Tuh kan, Ma. Apa aku bilang. Adek tuh dah jenius, buat apa belajar sampai begadang? Bullshit! Pasti dia habis nangis semalaman putus sama cowoknya nih, Ma."
Kak Farel seolah sangat tahu badai yang tengah melanda hatiku. Tak bisa dielak. Memang benarkan kamu begini gara-gara cowok, Nirmala?
Tapi perlu dicatat, aku gak putus cinta!
Dan selanjutnya mendapat cebikan penolakan dariku dan mama yang meletakkan jari telunjuknya di bibir memperingatkan, lebih lebih ketahuan Oma dan membuat perang dingin yang beberapa minggu terasa janggal diantara Oma dan kak Farel. Aku rasa masih taraf seperti biasanya. Jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan.
Tak henti-hentinya senyumku terulas sepanjang perjalanan dengan mobil. Aku sudah tau hal ini akan terjadi, naik sepeda ke sekolah hanya akan tinggal kenangan. Selamat tinggal sepeda, jangan rindukan aku ya! Hiks.
Aku membuka kaca jendela, membiarkan hawa pagi menyapa. Pohon-pohon yang terlihat bergerak seolah membenarkan teori Newton, menenggelamkanku dalam lamunan.
Entah perkataanku yang mana membuat suster paruh baya di sebelahnya mengikik geli.
"Duh, manisnya. Jadi pingin muda lagi," kata perawat bertubuh subur yang terus menepuk-nepuk badanku.
Perawat itu tertawa setelah aku mengatakan dengan kekeh untuk menunggunya hingga selesai diobati dan kami terlibat pertengkaran kecil. Seperti biasa.
"Aku gak apa-apa, Nirmala. Kamu boleh pulang. Orang tua kamu pasti khawatir sekarang," dia menyeru, merasa tak nyaman dengan kekehan suster.
Aku tetap pada pendirianku. Dia menatap tajam dengan manik hitam nyalangnya. Kekesalan dan pelototan yang sejujurnya sedikit melegakan, menimpal balik perasaan rindu yang sempat terasa beberapa minggu kemarin.
__ADS_1
"Hanya sampai kamu selesai diobati. Please," kataku memelas.
Dia mendesah pasrah, hanya diam sampai suster selesai mengobati. Dalam hati, aku ingin ini berlangsung lebih lama, karena entah kenapa rasa aman dan nyaman selalu sukses tercipta ketika dia berada di sekitarku.
Dengan sigap, dia bangkit. "Kamu. Harus. Pulang. Sekarang!" dia sengaja menekan kalimatnya satu per satu.
Entah kenapa aku justru tersenyum, yang tentu saja mendapat kernyitan dahi darinya.
"Take care, Niko. Hati-hati! Bye--" Aku hendak memperpanjang percakapn kami, sampai dia mendelik kalau- kamu-ngomong-lagi-aku-lempar-ke-kolam-piranha. Aku menggendikkan bahu, tersenyum kecut, dan berlari mengejar taksi.
Sampai di rumah wajah Mama yang merah sehabis menangis dan Papa yang tampak acak adul seketika menghambur cepat memeluk dan membrondongku dengan pertanyaan.
Papa bilang, beliau sudah memanggil pihak polisi dan tak menemukan siapa pun kecuali HP milikku yang dilacaknya di TKP dan mendapat info aku sudah aman dan mungkin kembali pulang.
Baru kutahu kenyataan bahwa Oma tidak tahu dan memang tidak diberitahu, demi kesehatannya, juga keselamatan dan kelanjutan pendidikanku tentunya.
Aku mulai menceritakan kejadian sebenarnya pada mereka, memotong sebagian adegan berdarah-darah. Reaksi mereka memuji-muji keberanian Niko dan hendak menemuinya. Aku menolak ide itu, Niko pasti tak akan suka.
Akhirnya mama memutuskan untuk mengirimkan kue kesukaannya sebagai tanda terimakasih yang bahkan tak pernah ia buatkan untuk anak-anaknya.
Haish. Niko sudah seperti pahlawan saja, tapi memang begitu kenyataannya, setidaknya untukku.
Aku lagi-lagi tersenyum. Untung sudah sikat gigi hari ini. Dan lamunanku berakhir tepat di depan gerbang sekolah, didambut Rani yang terlihat semakin subur berwajah ragu. Aku turun dan menyapanya.
"Kamu kesambet apa, Put? Muka cerah, senyum merekah, pake bahasa gaul lagi. Gak cocok kamu bicara lo-gue, wong deso, ya deso aja, gak usah belagu!"
"Aih pagi-pagi dah sadis. Makanya jangan sering denger lagu Afgan kamu."
Rani memeletkan lidah, berjalan mendahuluiku. Bumil labil. Abaikan.
Di mading pembagian kelas, tampak segerombolan anak membuat kerumunan. Rani memintaku menunggu saja seseorang yang bisa ditanyai dari kejauhan daripada harus berdesakan. Beberapa teman ada yang mendekat untuk sekedar mengomentari penampilan Rani seperti:
"Rani gemukan ya."
"Kirain Rani gak bisa gemuk. Gak jadi ngefans dah."
Semua candaan itu tentu saja menohok Rani yang menyembunyikan kehamilannya setengah mati. Wajahnya sudah pucat pasi, meremas tanganku dengan erat.
"Muke gile! Makin bunter aja lo abis liburan. Abis makan gajah lo, Ran?" Rani terkekeh dengan mulut comberan Ina.
__ADS_1
"Ah masa sih? Biasa aja, ya kan, Put?"
Aku mengangguk kikuk, meski tau Rani sedang meminta bantuanku.
"I-iya nih, biasa aja kok, Na."
Ina menyipitkan mata yang sudah sipit. "Mataku belum siwer kali, Put." Kemudian tertawa jahat.
"Meylin Ai Zhilen! mentang-mentang krempeng."
Dan Ina pun berlalu dengan tawanya yang mirip ****.
Tanpa diundang, Abel yang mulai aku akrabi semenjak MOS mendekat sambil bergumam, "Jadi nama kamu Rania Ayesya Putri Nevara, Ran?" Rani mengangguk membenarkan. "Dan kamu--" ucapannya terpotong saat sebuah suara terdengar memanggil dari kejauhan.
"Rani! Putri!"
Reno melambai dan berlari ke arah kami. dalam beberapa detik kulihat Abel membeku, kemudian salah tingkah ketika Rani membalas sapaan Reno.
"Woi, Ren! Sini!"
"Eee... Putri, kita ada di kelas yang sama, kamu mau kan duduk sama aku?"
Aku mengangguk. Setidaknya Nabila Anisa Ramaniya aka Abel, adalah teman yang baik.
Dengan sigap, seolah menghindari sesuatu, Abel berpamitan langsung ngacir ke kelas.
Reno sampai dan tampak terganggu menatap punggung Abel. Dan aku jadi tahu, ada sesuatu diantara mereka, yang hebatnya membuat Reno tidak memandangnya seperti yang biasa ia lakukan terhadap Rani--bahkan setelah pengorbanan yang di lakukannya--melainkan tatapan yang lebih ditujukan Rangga kepada Rani. Serius aku masih salut dengan Reno
Wow, ada apakah gerangan?
Masih tak habis pikir, ternyata dari kecil kemungkinan hubungan persahabatan di antara cowok-cewek, aku menemukan satu di dekatku. Tetap menyayangi dan mencintai dalam batasan sahabat itu susah, tapi ada. Dan mereka buktinya.
Reno beralih ke arah Rani dengan senyuman, setelah sukmanya kembali dari alam lamunan.
"Eh iya, kita sekelas loh, Ran. Sama Rangga juga."
Rona merah tersembur dari balik wajah Rani, yang berniat ditutupinya mendengar kalimat terakhir tadi.
"Dan Putri--" Reno memang memanggilku Putri setelah tahu nama panjangku. Nirmala memang kurang relevan untuk jadi nama kecil, dan hanya satu orang yang masih memanggilku dengan nama itu. "--kamu sekelas sama Niko."
__ADS_1
HAH?!
Tbc...