Kenangan

Kenangan
Flashback 23-Keceplosan


__ADS_3

Hari ini sekolah dipulangkan lebih awal karena rapat. Masih pukul sepuluh saat aku sampai di rumah dan menolak ajakan Ina untuk hangout.


Di dalam ada tamu. Sepertinya teman kak Farel. Aku hendak melenggang masuk, dan terhenti ketika tamu itu bertanya.


"Oh, sekolah di EYG juga, Dek?" Aku mengangguk singkat.


"Alumni tahun berapa, Kak?"


Aku membatalkan niat masuk, dan meletakkan bokong di sofa. Tertarik dengan bahasan kakak di depanku. Maniknya abu-abu, mengingatkanku pada Rangga.


"Iya, saya alumni tiga tahun lalu."


Tiga tahun lalu, berarti usianya lebih muda dua tahun dari kak Farel.


"Temen kuliah Kak Farel, ya?"


"Oh bukan, kami teman Futsal. Ini lagi minta petuah kakak senior ceritanya," katanya sambil tertawa. Aku membalasnya dengan senyum sopan.


"Kebetulan adik saya juga sekolah di situ, mungkin kamu kenal."


"Oh, ya? Siapa namanya?"


"Namanya Rayhan Alifandra Mayesh Anggara, biasa dipanggil Rangga."


What? Tuh kan bener.


"Jadi ini Mas Hilbram ya?"


"Lah kok tahu? Saya belum ngenalkan diri juga."

__ADS_1


Kalau begini, dunia kok jadi selebar daun kelor ya? Hihi


"Iya, Rangga temen baik kita--"


"Maaf, Non. Ada telepon dari mbak Ana," potong si Mbok, yang kemudian menyodorkan gagang telepon.


"Aku tinggal dulu ya, Kak." Dia mengangguk.


Tak lama, Kak Farel memunculkan diri dan aku berlalu untuk menerima telepon Ana. Ana menelpon untuk menanyakan kabar, dan ingin bertemu di tanggal merah, bertepatan di hari Jum'at.


Mama juga memintaku membantu membuat kue kering untuk kudapan tamu.


Setelah seharian kelelahan, merebahkan diri di kasur kesayangan jadi kenikmatan tersendiri. Aku yang sudah kriyep-kriyep, diganggu dengan derikan engsel pintu terbuka. Kak Farel berdiri dengan muka jutek. Aku sudah jarang melihatnya begitu. Gak ada wajah tengil khas Farel, apalagi pas jadi ustadz dadakan. Beda banget tingkahnya belakangan ini.


"Ada apa?" tanyaku setengah mengantuk.


Dia masih berdiri miring di kusen pintu, menyilangkan tangan di depan dada.


"Temennya Niko-lah," jawabku asal.


"Siapa Niko?"


Dan ketika itu aku tersadar sudah kelepasan bicara. Aku yang masih setengah sadar seperti tersengat listrik. Bangkit seketika.


"Eh Anu...."


Kak Farel menatap tajam. Aku menelan saliva susah payah. Tetap tenang, Nirmala. Jangan ceroboh atau semua akan makin runyam.


"Anu apa? Ada hubungan apa kamu sama mereka?"

__ADS_1


"Mereka cuma temen-temen Rani kok," jawabku hati-hati.


"Trus kamu harus ikut temenan sama mereka juga?"


"Enggak gitu kak--" Kak Farel mengangkat tangan menyuruhku diam.


Aduh kan.


"Kakak sudah peringatin kamu, Dek. Jangan deket-deket sama cowok! Kamu malah berteman."


"A-a-a--"


"Jadi bener ya selama ini. Niko Niko itu yang bikin kamu jadi baperan, galau sampai nangis tiap malam? Kakak enggak nyangka ternyata kamu udah berani pacar-pacaran."


"Enggak kak Farel sumpah kak aku gak ada apa-apa sama dia.


Aku harus berapa kali bilang sih. Kita gak ada apa-apa, cuma partner lomba. Suwer."


Salahkan Om Syafiq yang main jodohin.


"Trus kamu pikir kakak percaya?" Aku tertunduk takut mendengar nada bicara kak Farel yang sudah naik oktaf.


"Kamu tau, kan, sekali kamu ketahuan, habis kamu dibikin nikah muda sama Oma. Sekali lagi kakak peringatin. Jauhi dia, Nirmala!"


Dan ketika dia memanggil namaku, itu berarti adalah batas akhir kesabarannya. Kak Farel marah besar. Semua karena kesalahanku. Karena Mas Hilbram juga nih pake acara cerita segala.


Aduh, gimana dong?


***

__ADS_1


Tbc....


__ADS_2