Kenangan

Kenangan
Flashback 29-Nenek Lampir Psiko


__ADS_3

Hari ini, tak ada lagi kegiatan antar-jemput oleh supir Farel atau supir Papa Rasya. Kembali ke awal, hanya ada Pak Rudi yang setia mengantarku, meski masih terselip rasa kesal untuknya-- si biang keladi dari masalahku.


Kekesalanku rupanya dapat dirasakan olehnya.


"Non, jangan cemberutin saya, dong. Saya kan enggak tau apa-apa. Sumpah, Non, saya dipaksa bicara sama Nyonya Besar. Kasihan saya, Non. Anak istri saya mau makan apa kalau sampai saya nanti dipecat."


Aku mengembuskan napas kasar. Memaklumi. Semua memang bukan sepenuhnya salah Pak Rudi. Oma saja yang terlalu protektif, benar-benar membuatku sesak napas.


Untungnya, alamat yang Rangga berikan kemarin salah. Aku ingat, saat menuju rumah yang tertera dengan nomor terakhir yang tidak jelas, kemungkinannya ada tiga angka enam, sembilan, dan nol.


Rumah pertama yang kudatangi berakhiran nomor sembilan. Aku malah dikejutkan dengan suara gonggongan anjing Bulldog. Ah, Niko enggak mungkin punya anjing. Coret.


Next, nomor berakhiran enam ternyata milik seorang veteran tua. Ketika kuberitahu nama Niko, dia bilang tidak kenal, baru setelah kukatakan tempat kami bersekolah, pria itu mengenali.


"Oh, anak lakinya Pak Al yang baik budi itu?"


Aku tidak tahu nama orangtua Niko, jadi ketika pria itu memberitahu alamatnya, aku mengikuti saja, dan ternyata benar. Terpecahkan sudah nomor terakhir alamat rumah Niko adalah tujuh. Rangga bener-bener anak ajaib, angka tujuh bisa melingkar gitu ya? Tetapi, berkat dia aku masih selamat.


Pagi-pagi, sekolah sudah digemparkan dengan desas-desus yang membuatku muntab seketika.


"Niko anak pungut."


Bah! Hari gini masih ada orang-orang berhati busuk yang suka menjatuhkan orang lain dengan cara rendahan!


Setahuku, Niko enggak mungkin punya musuh. Dia orang yang terlalu baik untuk dimusuhi, bahkan sekali pun dengan sisi kasarnya yang membuat orang benci, mereka akan kembali mengagumi kebaikan budinya.


Aku memang sudah curiga sejak awal.


Fix, ini kerjaan si Nenek Lampir Psiko, Nesya!

__ADS_1


Cuma dia yang bakal nekad, kan? Tetapi, sebelum itu, aku harus benar-benar memastikannya. Dan tebakanku tepat seratus persen!


Nesya itu maunya apa sih?


Padahal, kukira semua sudah clear saat Niko mengklarifikasi, tapi sepertinya pendendam adalah nama tengahnya. Jadi, jangan berpikir bisa lolos dari si boneka Annabele anak pejabat yang disegani, yang terlalu sibuk mendidik rakyat, sampai lupa mendidik anak sendiri. Karena dia yang ngerasa jadi Tuhan, bisa bikin neraka sendiri untuk para pemberontak yang tidak mau menuruti perintahnya.


A little demon girl!


Tiga hari berturut-turut aku memperhatikan reaksi Niko secara intens.


Pada hari pertama, dia tampak biasa dengan tatapan mencemooh para pengikut Nesya.


Hari kedua, desas-desus secara seporadis bertambah luas, juga semakin memanas. Rangga melakukan sesuatu untuk membungkam para nyinyiriyun dengan menyebarkan foto Niko waktu bayi. Sebagian orang percaya, sebagian tidak, tetapi Niko tetap tak terpengaruh.


Aku tak mengerti kenapa Rangga berbohong dengan menyangkalnya, tetapi aku mengapresiasi yang dia lakukan. It work.


Aku bukannya senang di atas penderitaan orang lain, tapi kandasnya hubungan Neeta mengurangi rasa gundahku karena pernah membantunya.


Niko bilang, membantu orang pacaran sama aja tolong-menolong dalam keburukan. Bisa jadi kecipratan dosa, kalau mereka melakukan hal yang tidak-tidak. Kecuali, kalau mereka sudah cukup matang dan hendak menikah, maka mencomblangi mereka(bukan pacaran) menjadi pahala besar bagiku.


Aku sendiri sudah memprediksi hubungan mereka tak kan lama, karena banyaknya percekcokan yang diceritakan Neeta, di samping ketidakcocokan mereka.


Back to the topic. Niko berubah tampak lesu, tak bersemangat seperti biasanya.


Apa karena masalah ini?


Tidak biasanya anak itu begitu terganggu dengan pendapat orang lain. Perubahan mood Niko juga berarti perubahan moodku. Aku merasa harus tahu apa yang dia pikirkan.


Saat itu, cewek-cewek, tengah berbincang di kantin, saat aku merasa jengah dengan pembicaraan tentang Niko pada bangku sebelah.

__ADS_1


Tak tahan, aku bangkit dan menggebrak meja. Aku tak takut sama sekali dengan neraka buatan Nesya.


"Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan! Kalau kalian gak tau kebenarannya, enggak usah banyak berkicau!"


Salah satu dari mereka menyeringai. Nesya bangkit sambil mengangkat dagu. "Trus kamu akan ngadu ke kak Niko, ya?"


"Aku enggak pernah ngadu, karena aku enggak pernah takut sama kamu! Atu malah kamu, Nesya, yang suka madul!"


"Gak usah pura-pura deh! Sampah!"


Dia mendorongku. Aku menggeram. Emosiku tersulut. Aku sudah maju dan berhasil menjambaknya. Dia memekik. Teman-temannya mencoba membantu. Rani dan Abel lebih cepat melerai sebelum peperangan memanas dan menarik perhatian.


"Stop it, girls! Putri, Nesya. Putri lepasin!"


Rani mendorongku menjauh. Aku masih merasakan tanganku menggenggam sebagian rambut Nesya yang rontok, dan suara-suara umpatan, kutukan dan sumpah serapah dari mulut nenek lampir psiko itu.


"Lepasin, Ran, Bel. Biar aku cakar wajah songongnya itu!"


"Calm down, Putri, controlling yourself! Aku enggak nyangka kamu bisa lepas kendali kayak gini."


Aku menarik napas, hembuskan. Aku merasa bersalah telah membiarkan emosiku menang dan mengambil alih.


"Ini cuma Niko, dia gak akan terpengaruh dengan omong kosong sampah mereka. Kamu berantem sama mereka juga enghak ada gunanya."


Rani benar. *Its nonsense.


Poor me*.


Tbc....

__ADS_1


__ADS_2