Kenangan

Kenangan
Chapter 15- Escape


__ADS_3

Aku telah mengenalnya bahkan sebelum hari itu.


Gegas langkahku melewati belakang rumah Rani. Firasat yang menuntunku menemukan pintu itu. Ada tembok setinggi dua meter yang harus kulewati. Dapat kulewati dengan mudah. Rasanya seperti di luar kebiasaanku, aku bahkan tak tahu apakah aku pernah memanjat tembok sebelumnya.


Rencana kaburku berjalan mulus saat kakiku menapak tanah. Dan ketika berbalik, mataku serasa akan melompat keluar, karena anak yang berada dalam foto dengan Rani kini berdiri tepat di hadapanku.


“Hei, Badak Bercula Satu, kenapa coba masuk kayak maling BH?” Pria itu berkacak pinggang. Penampilannya lebih kasual dari foto yang kulihat. “Gak usah kaget gitu.”


Aku gelagapan dibuatnya. “Anu tadi… aku--”


“Kayaknya kamu udah baik-baik aja ya.” Pria itu memindaiku dari atas ke bawah.


“Maksu-- Kamu mengenalku?”


“Apa?” Raut wajahnya yang jenaka--tipikal orang yang senang bercanda—langsung berubah mengernyitkan dahi.


“Ehm… maksudku, kamu tunangan sama Rani?”


“Ya, belum resmi sih. Aku belum cerita ya, kalau abis dari Alaska dia udah ku-taken. Jadi ya, doain aja ke depannya.”


Ekspresinya berubah lagi. Kini ia tampak seperti perawan yang hendak dilamar. Dia mungkin sangat menyukai Rani. Aku harus bisa mengorek informasi tanpa anak ini curiga.


“Kamu kenapa, Put?” tanyanya lagi. Aku terlalu banyak berpikir sepertinya.


“Aku agak pusing, bisa kamu anterin aku pulang?”


“Pusing? Kita masuk dulu aja ya ke dalam.”


Owh gawat, aku tidak ingin masuk dan bertemu mereka, harus segera aku lakukan. Aku berpura-pura lemas dan bersimpuh. Pria itu semakin kebingungan.


Ayo cepat antar aku saja. tingkahnya membuatku gemas, karena dia hanya mondar-mandir sendiri.


“Eh, tunggu-tunggu jangan pingsan di sini, aku telponin dia aja, ya.”


Dia? Siapa yang pria ini maksudkan?

__ADS_1


Lenganku dikalungkannya ke pundaknya, lalu hendak membawaku entah kemana. Tetapi bahkan sebelum aku berdiri dengan benar, Rani dan Syarif sudah menghampiri kami. Aku sudah menyangka, tunangan Rani terlalu ribut sampai menarik perhatian.


“Itu mereka! Woi, kalian!”


Rani berlari, mengkhawatirkanku. Aku menyembunyikan wajahku dari Syarif. Ini tidak bagus. Bukannya mendapat informasi dan bisa kabur, aku justru dibawa masuk kembali.


“Rangga? Sejak kapan kamu dateng?”


“Baru aja. Rencana mau ngagetin kamu, malah ada gorilla manjat


te-- Aww!”


Aku sengaja menginjak sepatunya supaya anak itu tidak membuka mulut lebih jauh lagi dan membuatku lebih malu.


“Aku mau pulang. Tolong anterin aku.” Perkataanku tertuju pada Syarif yang tampak canggung.


“Ko-- Aww! Apa sih kok gue diinjak mulu!” Pria bernama Rangga itu kembali mengaduh. Kali ini Rani yang tak sengaja melakukannya.


“Eh, maaf aku enggak sengaja, Ga. Kamu pasti capek. Ayo masuk dulu deh. Kamu anterin dia aja ya. Putri butuh banyak istirahat.”


“Ran, aku anterin Putri pulang dulu ya, nanti aku balik.”


“Siip. Daah Putri, besok kita lanjutkan lagi pembicaraan kita.”


Aku mengangguk pada Rani, lalu mengikuti Syarif yang membukakan pintu samping depan.


“Aku akan duduk di belakang.” Aku masuk ke jok belakang tanpa persetujuannya.


Meski enggan, Syarif menyopiriku. Keheningan meliputi kami. Sampai akhirnya dia yang bersuara terlebih dahulu.


“Kamu enggak apa-apa kan?”


“Memang aku kenapa?”


“Kamu harus ngaca, Putri. Kamu keliatan kacau.”

__ADS_1


Oh, aku hampir melupakan penampilankku tadi. Malu harus menghadapinya dalam keadaan begini.


“Boleh… aku tanya satu hal?”


“Hmmm? Mau tanya apa?”


“Apa kita pernah bertemu sebelum di rumah sakit?”


Mengerem mendadak adalah jawaban Syarif. Rambu-rambu menunjukkan warna merah, Syarif belum menjawab pertanyaanku bahkan setelah mobil kembali melaju.


“Ken--” apa tak menjawabku. Pertanyaanku terpotong jawaban


Syarif.


“Never,” jawabnya.


Sayang, aku tidak dapat melihat wajahnya, aku hanya bisa menerka-nerka apakah dia berbohong atau tidak.


“Oke.”


“Ada pertanyaan lain?”


oh, apa ini? Dia berniat meladeniku. Sejujurnya banyak. Sangat amat banyak yang ingin kutanyakan padanya. Namun, semua itu, aku yang akan mencari jawabannya. Aku tak ingin kembali dibohongi. Mereka terlalu memandang lemah diriku. Menganggapku tak dapat menanggungnya.


“Tidak.”


“Kalau begitu, aku yang akan tanya.”


“Aku tidak memberimu kesempatan bertanya.”


“Apa yang terjadi?” Dia bersikeras. Aku hanya bungkam hingga kami sampai di rumah.


Saat aku hendak turun, namun dia mencegahku. “Kalau kamu tidak ingin memberitahu, maka aku akan mencari tahu


sendiri.”

__ADS_1


“Terserah,” balasku acuh tak acuh. Aku melenggang pergi tanpa menoleh lagi, Padahal tubuhku sudah gemetar ketakutan hanya dengan dia berada di dekatku.


__ADS_2