Kenangan

Kenangan
Flashback 35-Berdua.


__ADS_3

Pameran Sience yang akan di selenggarakan pada hari minggu ini, menjadi topik hangat yang di bicarakan para siswa/i untuk menghabiskan weekend bersama.


Sekitar sepuluh orang yang kutahu tertarik dan hendak datang dari kelas kami.


Olivia menyarankan kami untuk bersepeda, berkumpul dengan teman-teman lain yang jaraknya berdekatan dan bertemu di tempat janjian.


Selagi ada kesempatan, beberapa waktu mengumpulkan keberanian, akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya padanya.


"Niko juga mau ikut?"


Dia mendongak menatapku.


Entah ini hanya perasaanku saja atau sekarang kami memang jadi lebih sering bertatapan. Dia terlihat antusias.


"Apa? Kemana?"


"Banyak yang ikut kok. Kita mau pergi ke pameran Sience weekend ini, kalau kamu ada waktu, ikut aja."


Dia tampak berpikir sebentar. "Jam berapa?" tanyanya.


Wajahku berubah semringah.


"Good. Kita berangkat jam 8 pagi."


"Oke."


Kudengar Rangga menggerutu di sampingnya entah karena apa, karena aku sudah beranjak menyusul Olivia dan Abel berjalan keluar kelas.

__ADS_1


***


Kak Farel benar. Jatuh cinta bisa jadi positif atau negatif bergantung dari orang yang mengalami.


Kenapa aku jadi merasa bersalah sudah melanggar tiga perintah sekaligus?


Pertama, naik sepeda. Kedua, bertemu dia. Terakhir, aku bahkan berani berbohong akan ke rumah Rani agar diizinkan, padahal Rani sedang keluar kota.


Meminjam sepeda Rani, meski aku jadi parno sendiri takut ketahuan, tetapi semua terbayar lunas.


Dia datang!


Dari sepuluh anak yang berencana ikut, hanya sekitar lima anak yang mengikuti kelompok ini. Sisanya berada di jalur berbeda, dan menunggu di sana.


Aku, Syarif, Ilham, Farah, dan Niko mengayuh sepeda. bersama-sama.


For Your Ingormation, Ilham dan Farah adalah saudara kembar tak identik. Banyak yang tidak tahu mengenai ini. Aku juga tahu dari Rani. Rani seolah sebuah buku profil tahunan siswa. Aku bersyukur Rani tidak jadi berhenti meski turut bersedih atas kehilangan baby.


"Woy, Pa, Band Indie kesukaanmu bakalan tampil hari ini!"


Farah terlihat berbinar. Kemudian menghentikan laju sepedanya yang otomatis semua mengikuti.


"Ayo putar haluan!" Dia beralih padaku. "Put, kita balik duluan ya."


"Loh, Far, Ham!"


Percuma juga dikejar, mereka langsung menggaspol tanpa berbalik. Sekarang tinggal Syarif dan Niko bersamaku.

__ADS_1


Tak banyak percakapan yang terjadi, karena selalu Syarif yang mendominasi. Lebih banyak flirting padaku dengan gombalan recehnya yang membuat Niko menguap.


Perjalanan masih lumayan jauh, tiba-tiba HP Syarif berdering di saat tak tepat. Seolah menyadari sesuatu, Syarif mengubah haluan.


"Waduh, aku lupa harus jemput Omku di bandara. Aku duluan semua."


"Eh, kamu mau cabut juga?" Niko tampak bimbang.


"Kamu juga boleh pergi. Biar aku sendiri aja, yang lain udah pada nunggu di sana."


Niko melajukan sepedanya ke arah Syarif. Kali ini aku harus menelan perasaan kecewa. Untuk apa juga dia menemaniku, kan? Enggak mungkin juga dia mau.


Tak dinaya bahwa aku sedikit sedih dengan keputusannya. Niko selalu tidak tertebak. Pada awalnya, aku mengira dia ikut kerena ajakanku, nyatanya aku ditinggalkan juga.


Tak seberapa jauh aku mengayuh, aku mendengar suara sepeda lain menyusulku.


Niko kembali dengan wajah merengut. Aku cukup terkejut karena ia kembali.


"Jangan ketawa, Nirmala!"


"Kenapa balik lagi?"


"Gak apa-apa."


Tak ingin merusak moodnya, aku menutup mulut rapat-rapat.


Senyumku terkulum. Kami akhirnya melanjutkan perjalanan hanya berdua.

__ADS_1


Tbc....


__ADS_2