
Aku telah mengenalnya bahkan sebelum hari itu.
Gegas langkahku melewati belakang rumah Rani. Firasat yang menuntunku menemukan pintu itu. Ada tembok setinggi dua meter yang harus kulewati. Dapat kulewati dengan mudah. Rasanya seperti di luar kebiasaanku, aku bahkan tak tahu apakah aku pernah memanjat tembok sebelumnya.
Rencana kaburku berjalan mulus saat kakiku menapak tanah. Dan ketika berbalik, mataku serasa akan melompat keluar, karena anak yang berada dalam foto dengan Rani kini berdiri tepat di hadapanku.
“Hei, Badak Bercula Satu, kenapa coba masuk kayak maling BH?” Pria itu berkacak pinggang. Penampilannya lebih kasual dari foto yang kulihat. “Gak usah kaget gitu.”
Aku gelagapan dibuatnya. “Anu tadi… aku--”
“Kayaknya kamu udah baik-baik aja ya.” Pria itu memindaiku dari atas ke bawah.
“Maksu-- Kamu mengenalku?”
“Apa?” Raut wajahnya yang jenaka--tipikal orang yang senang bercanda—langsung berubah mengernyit,
“Ehm… maksudku, kamu tunangan sama Rani?”
“Ya, belum resmi sih. Aku belum cerita ya, kalau abis dari Alaska, dia udah ku-taken. Jadi ya, doain aja ke depannya.”
Ekspresinya berubah lagi. Kini ia tampak seperti perawan yang hendak dilamar. Dia mungkin sangat menyukai Rani.
Aku harus bisa mengorek informasi tanpa anak ini curiga.
“Kamu kenapa, Put?” tanyanya lagi. Aku terlalu banyak berpikir sepertinya.
“Aku agak pusing, bisa kamu anterin aku pulang?”
“Pusing? Kita masuk dulu aja ya ke dalam.”
Owh gawat, aku tidak ingin masuk dan bertemu mereka. Apa yang harus segera kulakukan!
Aku berpura-pura lemas dan bersimpuh, seketika pria itu menahanku.
“Eh, tunggu-tunggu jangan pingsan di sini, aku telponin dia aja ya.”
Dia? Siapa yang pria ini maksudkan?
Lenganku dikalungkannya ke pundaknya, lalu hendak membawaku entahkemana. Tetapi bahkan sebelum aku be rdiri dengan benar, Rani dan Syarif sudah menghampiri kami. Aku sudah menyangka, tunangan Rani terlalu ribut sampai menarik perhatian mereka.
Huh, menyebalkan!
“Itu mereka! Woi, kalian!”
Rani berlari, mengkhawatirkanku. Aku menyembunyikan wajahku dari Syarif.
Ini tidak bagus. Bukannya mendapat informasi dan bisa kabur, aku justru hendak dibawa masuk kembali.
“Rangga? Sejak kapan kamu dateng?”
“Baru aja. Rencana mau ngagetin kamu, malah ada gorilla manjat te-- Aww!”
Dengan sengaja aku menginjak sepatuny, supaya anak itu tidak membuka mulut lebih jauh lagi dan membuatku lebih malu.
“Aku mau pulang. Tolong anterin aku.” Perkataanku tertuju pada Syarif yang tampak canggung.
“Ko-- Aww! Apa sih kok gue diinjak mulu!” Pria bernama Rangga kembali mengaduh. Kali ini Rani.
Pria itu mungkin sedang sial karena secara beruntun diinjak oleh dua wanita sekaligus.
“Eh, maaf aku enggak sengaja, Ga. Kamu pasti capek. Ayo masuk dulu deh. Kamu anterin dia aja ya. Putri butuh banyak istirahat.”
Rani menggamit Rangga yang tampak bingung ke dalam rumah, dan pesan antar-mengantar ditujukan pada cowok dengan ekspresi tak terbaca.
“Ran, aku anterin Putri pulang dulu ya, nanti aku balik.”
“Siip. Daah Putri, besok kita lanjutkan lagi pembicaraan kita.” Rani melambai singkat sembari memasukkan pria itu ke dalam rumahnya, lalu menutup pintu.
Aku mengangguk pada Rani, mengikuti Syarif yang membukakan pintu samping depan mobil. “Aku akan duduk di belakang.” Dan duduk di jok belakang meski tanpa persetujuannya.
Meski enggan, Syarif menyopiriku. Keheningan meliputi kami.
Sampai akhirnya dia yang bersuara terlebih dahulu.
“Kamu enggak apa-apa, kan?”
“Memang aku kenapa?”
“Kamu keliatan kacau.”
__ADS_1
Oh, aku hampir melupakan penampilankku tadi. Rasanya malu harus menghadapinya dalam keadaan begini. Apa dia juga menyadari bahwa aku menangis?
Tanganku mengepal, rasa sakitdan penasaran menjadi satu dalam benakku.
“Boleh… aku tanya satu hal?” Kuberanikan diri menghadapi.
“Hmmm? Mau tanya apa?”
“Apa kita pernah bertemu sebelum di rumah sakit?”
tubuh kami yang berguncang, rem dadakan adalah jawaban Syarif. Rambu-rambu menunjukkan
warna merah, Syarif belum menjawab pertanyaanku bahkan setelah mobil kembali melaju.
“Ken--” apa tak menjawabku. Pertanyaanku terpotong jawaban
Syarif.
“Never,” jawabnya.
Sayang, aku tidak dapat melihat wajahnya, aku hanya bisa menerka-nerka apakah dia berbohong atau tidak.
“Oke.”
“Ada pertanyaan lain?”
Oh, apa ini? Dia berniat meladeniku. Sejujurnya banyak. Sangat amat banyak yang ingin kutanyakan padanya. Namun, semua itu, aku sendiri yang akan mencari jawabannya. Aku tak ingin kembali dibohongi. Mereka
terlalu memandang lemah diriku. Menganggapku tak dapat menanggungnya.
“Tidak.”
“Kalau begitu, aku yang akan tanya.”
“Aku tidak memberimu kesempatan bertanya.” Takut, aku sangat takut dia akan menyadari tingkah ganjilku, menyembunyikan kehamilan dan bahkan mencoba melenyapkannya. Sekarang aku baru merasa kejamnya diriku.
“Apa yang terjadi,Nirmala?” Dia bersikeras. Aku hanya bungkam hingga kami sampai di rumah.
Saat aku hendak turun, dia mencegahku. “Kalau kamu tidak ingin memberitahu, maka aku akan mencari tahu
sendiri.”
“Terserah,” balasku acuh tak acuh. Aku melenggang pergi tanpa mempedulikannya.
Kuintip di balik jendela. Alih-alih pergi, pria itu masih di depan bersama satpam, berbicara sebentar, kemudian mencegat taksi di depan gerbang. Gawat kalau tujuannya adalah rumah Rani. Aku memutuskan meng-SMSnya untuk merahasiakan pembicaraan kami. Berharap aku bisa mempercayainya kali ini.
Saat itu aku langsung teringat kilasan frame foto-foto itu tadi. Firasatku, mungkin di rumah ini akan kutemukan banyak petunjuk lebih banyak, seperti bingkai foto atau semacamnya.
Seluruh kamar kubongkar. Buku. Aku rasa akan lebih baik jika aku menemukan semacam diari, mengingat dulu aku pernah menulisnya sesekali. Menelusuri seisi rumah, tempat biasanya kusimpan barang-barang penting.
Nihil. Aku mungkin tak akan pernah mendapatkannya. Semua seolah tertutup rapat dari jangkauan ingatanku. Benar-benar keterlaluan!
Kucoba menenangkan diri. masih ada satu tempat lagi yang belum kuperiksa.
Aku mengendap-endap supaya tak terlihat pembantu, dan menuju ke gudang penyimpanan di samping kandang ayam. Debu dan sarang laba-laba mengabut di sekitarku. Ini adalah tempat paling tak terjamah. Dan mungkin mereka mengira, aku tak akan menemukannya.
Aku menekan saklar lampu, menyisihkan sebagian sarang. Memindai kotak-kotak dengan label nama pemiliknya.
Farel baby’s cloth, Nirmala’s uniforms, Buku pelajaran SD, Punya Anna, Punya Mama, Punya Nirmala.
Aku mengambil kotak bertuliskan Punya Nirmala. Tidak terlalu berdebu seperti yang lain. Mungkin ini yang kucari.
Jantungku berdebar gugup. Apa yang akan kudapatkan nanti. Kuharap kenyataan tidak lebih pahit dari yang terlihat.
Aku membukanya perlahan. Isinya hanya beberapa buku, partitur, seragam dengan banyak coretan, lalu sebuah kotak besi terkunci. Aku mengambil seragam yang terlihat unik itu, banyak tanda tangan di sana. Apakah aku punya teman sebanyak ini? Ini menyakitkan, karena kenangan menyenangkan seperti itu yang telah kulupakan. Aku memeluk dan menciumnya, berharap mendapat sekelebat ingatan saja.
Percuma saja, aku tak dapat mengingat apapun.
Perhatianku beralih pada kotak besi. Aku yakin kali ini lebih berguna. Aku terpaksa merusaknya karena tak kuingat di mana meletakkan kuncinya.
Gemboknya telah terbuka. Saat aku mengintip di dalamnya, yang kutemukan hanya kotak cincin beludru merah berbentuk hati, sebuah buku diary, dan sebuah dreamcatcher.
Kotak beludu itu tak ada isinya, dreamcatcher, aku merasa mengingat perasaan hening, gemericik air, dan bunyi kecipak air yang terpecah. Seperti di sebuah lembah, danau, atau sungai.
Diary ini. Akhirnya aku menemukannya. Segera kukembalikan segalanya seperti semula. Diam-diam membawa kotak besi itu dan mengurung diri di kamar.
Aku membuka halaman pertama. Tanggalnya tertera tiga tahun yang lalu.
Dear dairy,
__ADS_1
Ternyata nama cowok itu Niko.
Niko? Nama itu mengingatkanku pada
wanita bernama Nesya.
Pertemuan yang klise seperti dalam novel picisan. Terlambat
sekolah. Bertabrakan di koridor, lalu berakhir dengan saling
mengenal.
Mengenal? Aku tidak sudi mengenalnya. Dia cuma anak tukang
kebun songong yang sombong. Menyebalkan!
Kenapa aku menulisnya di buku ini, jikadia memang menyebalkan? Aku yakin terjadi beberapa insiden yang membuatku secara urgent menuliskannya di sini. Tetapi anak bernama Niko ini, kenapa menarik perhatianku saat itu?
Aku melanjutkan pada halaman kedua. Masih dengan topik yang sama. Niko yang terlibat beberapa insiden denganku. Dia anak kelas sebelah. Aku pun mencari tahu tentangnya. Ketahuan bahwa dia bukan anak tukang kebun. Curhatanku kali ini memakan lebih banyak halaman.
Kubuka lembar sekian. Lagi-lagi tentang dia. Aku masih tak habis pikir. Apa ini semacam penguntitan? Apa aku sehype ini dengan cowok yang baru kuketahui. Aku berpikir mungkin akan memiliki pandangan berbeda jika aku membaca keseluruhan cerita. Jadi, aku memilih halaman secara acak. Mataku tercekat pada tulisan cinta pertama sebagai judul.
Dear dairy,
Entah sejak kapan itu terjadi. Seperti musim yang menunggu musim semi. Hatiku telah berbunga di tengah salju yang beku. Karena dia yang mengubahku.
Meski hanya aku yang menunggu sendirian, merindu sendirian, bahkan mencintai sendirian.
Seketika aku merasakan rasa sesak yang hebat. Niko… nama cowok itu. Ternyata, dia adalah cinta, juga patah hati pertamaku.
Aku mengulang pada halaman yang sama. Merasa tertarik dengan alasan yang membuat Nirmala 17 tahun jatuh hati pada anak kaku sepertinya. Sehebat apa anak itu?
Aku membaca lembar demi lembar. Setiap kata yang kutulis melibatkan perasaan yang dalam. Hingga membuat perasaanku campur aduk.
Aku menyandarkan kepala, mengusap keringat di wajahku. Ini benar-benar menguras tenaga dan jiwa.
Kupaksakan sedikit lagi. Ini harusnya membuatku mengenal pribadi Niko lebih dalam. Atau bahkan mungkin aku mendapatkan alamatnya.
Senyum terulas di bibirku. Akhirnya, kutemukan sebuah alamat rumah Niko bertempat. Bergegas aku turun, meminta pembantu kami mengatakan izinku untuk bertemu dengan Iriana. Tentu saja sebuah kebohongan. Aku meminta Pak Rudi menyiapkan mobil. Seingatku, Pak Rudi sempat kusebut-sebut di dalam diary karena membocorkan alamatnya.
“Pak Rudi.”
“Iya, Non.”
“Masih ingat teman saya yang namanya Niko?”
“Niko? Mbonten, Non. Waduh saya enggak inget tuh nama setiap temen yang Non
bawa.”
Aku tidak bisa percaya begitu saja, Pak Rudi bisa saja juga menyembunyikannya. Aku mengamati sopir itu mengusap peluhnya dengan gugup.
“Ya udah, kalau gitu antarkan saya ke alamat ini.” Aku menyodorkan selembar kertas berisi catatan yang kutulis.
“Ke sini, Non?”
“Iya. Buruan!”
“B-baik, Non.”
Mobil akhirnya melaju dengan cepat, secepat deru jantungku. Aku akan bertemu dengannya. Niko. Cinta pertamaku.
Kami akhirnya sampai ke sebuah rumah yang sangat cantik. rumah itu terhalang pagar besi yang dibuka. Sebagian depannya didominasi kaca-kaca tembus pandang, halamannya lumayan luas. Ada satu mobil yang terparkir di halaman. Saat itu seorang keluar dari dalam rumah. Aku mengobservasi semua itu dari kejauhan. Dengan binocular, aku dapat melihat lebih jelas.
__ADS_1
Jantungku seolah melompat keluar karena mengenalinya. Pria itu adalah Syarif si anak IT yang disukai Iriana.
***