Kenangan

Kenangan
Flashback 16-Bullying


__ADS_3

Aku melongok ragu ke dalam kelas. Semua sudah terisi, hanya tersisa bangku di urutan kedua yang memang disediakan Abel untukku, padahal bel masuk masih lima menit lagi.


Penglihatanku belum rabun, karena kelas ini hampir semua diisi oleh anak-anak cerdas dan terpilih dari mulai juara kelas sampai juara-juara yang lain.


Kelas yang asing dengan wajah-wajah baru. Dan... mataku menangkap penampakan pangeran putih di pinggir depan pojok dekat dinding, tampak tak terganggu menyelami buku bacaannya. Bisa kulihat curi-curi pandang beberapa pasang mata kaum hawa berparas cantik ke arahnya.


Hmm... sainganmu banyak, Nirmala!


Haha. Saingan? Dia teman, INGAT!


Mengalihkan pandanganku, jangan sampai perasaan kebat-kebit terjadi di saat yang tidak tepat lagi. Aku mencoba duduk dengan tenang meski kegelisahanku mungkin dirasakan Abel.


Aku menunggu sampai bel pulang berdentang, bahkan tak sempat beranjak untuk istirahat tadi, padahal pelajaran belum benar-benar aktif.


Secepat kilat, aku mencegat dia di depan pagar sebelum pulang.


Dia tak membawa sepeda. Ya, dia kehilangan sepeda, karena kamu Nirmala, INGAT!


Perasaan bersalah kembali menggelayut di benakku. Dia terlihat kuyu dan lelah. Lukanya gimana, ya? Apa sudah enggak sakit?


Tunggu dulu! Potongan rambut model tentara? Dia terlihat bagus. Aku menahan diri untuk tidak beranjak dan mencubit pipinya sekarang juga. Oh, he is so cute!


Kasih, ngomong, langsung kabur, itu rencana yang sedang kususun, tak ingin berlama-lama karena efeknya yang kurang baik bagi kesehatan batinku nantinya. Dia masih berbincang dengan guru lain. Aku menunggu dengan tak sabar, keringat sudah menetes sejak tadi.


Ayolah, kamu bukannya mau ujian skripsi, Nirmala. Its just him.


Sampai Guru itu pergi dan Niko melanjutkan perjalanannya sambil menunduk. Sekolah sudah cukup lenggang, jadi aku tak perlu jadi bahan gosip karena dikira mirip adik kelas yang suka kasih 'hadiah'.


"Niko!"


Dia berhenti, mendongak, terkejut melihatku. "Kamu?"


Ini dia. Satu, dua, tiga.


"Ehem. Inidarimamakumerekamintamaafkarenagakbisakasihlangsungketemumerekamaungajakkamumakantapiakutaukamugaksukajadiinisebagaiwujudterimakasihmerekaterimaya!"


Aku menarik dan menghembus nafas cepat, setelah ocehan panjang tanpa titik koma dalam satu tarikan nafas. Terdengar kekehan kecil entah darimana, yang pasti bukan dari orang di hadapanku karena dia mungkin sedang mencoba men-translate dan memahami bahasa alienku barusan.


"Kamu gak perlu--"


"Aku gak terima penolakan. Makasih untuk semuanya. Aku duluan. Bye," aku memotong cepat, tancap gas, berlari ke arah mobil


"Boleh aku bagi gak?!" teriaknya sebelum aku masuk.

__ADS_1


"Terserah!" jawabku juga setengah berteriak.


Masuk ke mobil, mengatur nafas, merutuki kebodohanku. Bagus Nirmala, dia pasti bakal mikir kamu cacingan atau kebelet boker. Aku mengerang. Begooo!


***


"Kamu bukan tipenya kata dia. Sayang banget, padahal Om percaya kalian ini serasi."


Rasanya ingin memutar bola mata--tapi gak sopan. Mau terasi kek, serasi kek, masabodo. Ini bukan membela diri, aku memang jadi kesal dengan pembicaraan perjodohan yang diprakarsai Om Syafiq. Bikin malu yang ada. Mau taruh dimana mukaku tiap ketemu dengannya nanti 'kan?


Aku menjawab dengan dengkusan malas.


"Tapi dia milih kamu, karena itu jangan bikin Om malu." Yang ada beliau yang bikin aku malu, kan. Huuh. Tapi urung kukatakan, sama saja cari mati.


"Hmm. Udah Om?"


Aku beranjak bangkit setelah beliau mengangguk dengan senyum jahil di setiap kesempatan bertemu.


"Jangan dandan cantik-cantik nanti dia berubah pikiran." Beliau terkekeh sambil mengedipkan sebelah mata.


Aku mendelik seketika. What the...!


"Dan sayangnya, dia juga bukan tipeku, Om. Jadi jangan mengharapkan yang iya-iya."


Dustamu, Nirmala!


Senang bukan main mendapat kesempatan mengenalnya lebih dekat. Pasalnya, bahkan setelah berteman, kami masih sama asing, tak saling kenal. Tak ada yang memulai untuk menyapa atau berbicara lebih dulu, semua sama seperti sebelumnya.


Di jam istirahat, Niko memberitahukan jadwal pertemuan kami. Dan begitulah waktu berjalan. Dari pertemuan kami selama 3 minggu, aku jadi paham bahwa Niko orang yang praktis, disiplin, monoton, tak banyak bicara.


Malah di setiap pertemuan, akulah yang selalu mendominasi percakapan. Dimulai dari pembicaraan ringan seperti krisis kemanusiaan Palestina, Suriah atau Etnis Rohingya di Myanmar yang tak ada ringannya sama sekali, sampai acara jayus-jayusannya yang hanya menghibur diriku sendiri, juga kadang mengenai hubungan Bluffy dan Boy.


Aku yang berbusa, sedangkan dia masih lempeng dengan good listener, no comment atau pengoreksi beberapa perkataanku yang nyleneh. Belum lagi gelar kehormatan darinya, kesetbulukan, beo, petakilan. Nyesek, Guys.


Aku banyak mengambil pelajaran tentang masalah seputar agama atau beberapa sikap baik yang ditunjukkannya--setelah mencari tahu arti mahrom dan istiqomah yang belum pernah aku tahu selama ini.


"Semua orang baik, hanya bagaimana cara mereka memilih kebaikan itu dengan ukuran yang paling benar."


Terlepas dari sifat sikat cucian yang selalu bersinggungan dengan sisi kasarnya, menyamakanku dengan teman-teman laki-lakinya, dan membuatku kembali merana kesekian kali, Niko punya sikap old soul dan kebijaksanaan, juga kharisma yang tak dimiliki orang lain. Sikap yang membuat nyaman orang lain untuk menjadi diri sendiri. Aku tak malu menampakkan sikap absurd yang jelas sering kulakukan di depan Rani, menganggapnya teman yang asyik untuk berkeluh kesah.


Tak bisa dipungkiri bahwa di dunia ini ada saja orang baik, dan ada pula orang sirik. Kedekatan kami membawa dampak gemparnya sekolah dan isu-isu tak menyenangkan tentangku.


Membasuh wajah di wastafel kamar mandi cewek menjadi hal yang salah, ketika segank cewek-cewek nakal nyelonong masuk dan mendampratku ke tembok.

__ADS_1


Aku bahkan tak pernah membayangkan adegan bully yang hanya ada dalam drama kini terjadi padaku sebagai korbannya.


Yang mengejutkan, ketuanya adalah Nesya, anak pintar yang selalu juara umum.Kuku-kuku panjangnya mencengkram bahuku ketat. Aku meringis menatap sengit wajah menyeramkan di hadapanku.


"JANGAN DEKETIN KAK NIKO, NGERTI LO!"


Aku menatapnya tak gentar meski kakiku sudah gemetar.


"Boleh aku tahu apa hubungan kamu dengannya?"


Dia tampak sedikit terganggu dengan keberanianku.


"GAK USAH SOK SUCI DEH LO! SUCI AJA DAH GAK SUCI LAGI!"


Aku mengernyit bingung, apa hubungannya dengan


Suci?


"Sorry ya, Mbak Nesya. Sepertinya anda salah orang. Nama saya bukan Suci, jadi minggir!"


Dia tertawa mengerikan, merenggangkan cekalannya, mendorongku jatuh hingga terantuk dinding di belakang.


"Kak Niko itu GEBETAN GUE!"


Dia menunduk, mencengkram dagu dan pipiku, memberiku tatapan mengintimidasi. Dan aku terpengaruh.


"Lo gak usah kecentilan ya. Lo pasti inget kan yang dibilang Kak Niko, lo itu bukan tipenya dia, ngaca, muka kayak pecut kuda aja songong."


Aku menahan diri untuk tidak meledak-ledak, meski darahku sudah sampai ke ubun-ubun.


"Memangnya kamu kayak Meriam Belina? Sesama jenis gak perlu saling mencela," balasku tak kalah sengit.


PLAKKK!


Rasa panas menjalar di pipiku setelah satu tangan berkuteks mengecupnya. Kemarahanku tersulut juga. Aku sudah hampir menjambak rambut salon berkutunya, kalau bukan karena para kawan budak Nesya mencegatku. Dia bersedekap, memperhatikan kuku jarinya dengan angkuh. Rahangku mengetat, geraman lolos dari bibirku sejak tadi.


"Guys!"perintahnya.


Byuuur. Seember air pel meluncur dari atas kepalaku. Bau sangit dan tanah. Mereka tertawa-tawa seperti Mak Lampir.


Ingin sekali kucekik. Tapi aku tahu tak kan menang, karena mereka main kroyokan.


"Denger, Putri! Kalau sampai gue ngeliat lo deket Kak Niko lagi, lo bakal ngerasain yang namanya neraka bahkan sebelum lo mati!"

__ADS_1


Mereka berlalu meninggalkanku yang terpaku syok dengan baju kotor dan basah. Dan mataku kembali menggelap. Aku ketakutan.


Tbc....


__ADS_2