
Setelah menghadap Pak Yuris, kami diberi hukuman membersihkan gudang lab yang belum pernah terjamah tangan cleaning service sekolah. Bisa dibayangkan betapa kotornya tempat itu.
"Udah, kamu duduk aja! Ini juga salahku 'kan, kamu jadi kebawa-bawa."
Dia menodongkan tongkat sapu dan memaksaku duduk di bangku yang sudah dibersihkan. Entah aku harus senang atau sedih mendapat perlakuan gentle Niko.
Dia anak yang manis. Hanya ada perasaan bersalah yang terus mendominasi tiap kali bertemu dengannya.
Dia membersihkan dengan cekatan, sambil lalu aku ikut membantu sedikit supaya pekerjaannya lebih cepat selesai.
"Lets clear it. Jadi benar yang mereka bilang?"
Niko menghentikan aktivitas menyapunya, sedangkan aku, terpaku dengan perasaan tak nyaman. Jadi dia sudah tau?
"Kamu dibully?"
Dia melepas pegangan sapu setelah selesai dengan pekerjaannya, sepenuhnya menatapku. Aku menunduk, bingung antara menyangkal atau mengiyakan. Jangan sampai dia tau kalau semua itu karenanya. Aku bangkit dari duduk, menghadapinya.
"Apa itu semua karena--"
__ADS_1
"Nggak. Itu cuma hoax," potongku cepat.
"You're not good liar," bantahnya tak percaya.
"Aku gak bohong," tegasku, sok pasti.
Dia mengangkat kepalanya lagi, benar-benar menatapku. Aku melengos dan berjalan keluar tanpa berpamitan. Mengambil tas, berjalan cepat ke arah gerbang. Dia menungguku di sana.
Alamak! Macem mana ini?
"Aku buru-buru, Niko. Pak Rudi sudah nuggu dari tadi," jelasku bahkan walau dia tidak bertanya.
"Setidaknya jangan mencampurkan urusan sekolah dengan pribadi."
"Aku bener gak bisa untuk sekarang, aku harus nemenin Rani, dia gak enak badan," balasku tak kalah dingin.
"Ini sudah sepuluh kali kamu ngasih alasan yang sama."
Dia berhenti berjalan. Aku mengabaikan.
__ADS_1
"Kalau kamu memang gak punya waktu, aku bisa minta Nesya menggantikan kamu." Dan ucapannya menghentikan langkahku.
Nesya! Nesya! Nesya! Nenek lampir psiko! Seandainya dia tahu siapa Nesya yang sebenarnya.
Aku berbalik memberi tatapan es kepadanya. "Ya udah. I am quit. Jadi kamu bisa ngerekrut Nesya, fair?" Kemudian, mempercepat langkahku, meninggalkan dia yang masih mematung di belakang.
***
Aku sama sekali tak berniat hadir ketika sekali lagi Niko mengejutkanku, karena dia masih mempertahankanku dengan tidak mengganti Nesya sebagai pasangan lomba.
"Aku gak bakal biarin kamu istirahat sebelum tugas KI selesai," katanya tadi sepulang sekolah.
Tugas kami memang tinggal penyempurnaan. Dia saja yang terlalu perhitungan, padahal masih bisa dihandlenya sendiri. Bahkan ketika menikmati jalan-jalan cantik bersama keluarga, aku masih saja terus menimbang-nimbang.
Baru dua jam yang lalu kami sampai di mall, aku sudah merasa bosan setengah mati. Mondar-mandir kayak setrikaan, menatap ponselku dan berharap akan ada sesuatu yang terjadi supaya tak terjebak lebih lama lagi di sini.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Rani menelpon. Sayangnya, bukan sesuatu yang baik, karena yang terdengar hanya suara kaca pecah dan erang kesakitan dari seberang sana. Aku mematikan sambungan dan bergegas meminta izin mama yang tadinya memilih bahan makanan untuk meminjam Pak Rudi.
Singkatnya, kami sampai dalam 15 menit. Tak ada jawaban saat aku menggedor pintu. Pak Rudi mendobrak masuk dan kami mendapati Rani di bawah tangga, meringkuk memegangi perut dan bercak darah merembes di sekitarnya. Barang-barang pecah berserakan di lantai.
__ADS_1
Rani!
Tbc....