
Nyatanya, keanehan itu menular juga pada Papa.
Entah ada apakah gerangan, hingga beliau sudi mengantarkan putrinya yang paling cantik--karena satu-satunya anak perempuan yang beliau punya-- pagi ini.
Kemarin, saat aku berniat menanyai Oma soal alat pelacak, aku langsung ciut mendengar Oma mengamuk karena suatu hal kepada Pak Rudi. Begitulah kemudian aku urung menanyakannya. Akan lebih mudah jika bertanya kepada Kak Farel. Mama El juga bungkam saja.
Setelah berbasa-basi dengan pembicaraan monologku tentang sekolah, kami sampai pada singgungan pokok pembahasan yang menjadi penyebab keanehan ini.
"Papa jadi penasaran sama yang nyelametin kamu waktu itu. Siapa namanya?"
Aku tersedak ludahku sendiri.
Sepertinya aku sudah menemukan titik terang.
Kak Farel! Pasti dia.
"Ni--Niko," gelagapan, aku menjawab. Papa hanya membalas dengan O.
"Papa balik aja! ntar telat ngantornya," dalihku, mengusir secara halus.
"Dek."
"Hmm?"
Beliau terdiam cukup lama, sukses membuatku kagok dan ingin buru-buru kabur saja.
"Gak apa-apa. Baik-baik ya di sekolah."
__ADS_1
Papa memberikan senyum terbaiknya. Hatiku terenyuh. Kenapa aku jadi merasa bersalah? Seolah-olah menyembunyikan sepihak hatiku pada dia adalah kesalahan besar.
Setelah membuka pintu mobil, aku terdiam sejenak, berbalik menatap penuh pengertian pada pria yang telah membesarkanku dengan segenap jiwa raga.
"Pa. Papa akan selalu pahlawanku. Akan selalu jadi cinta pertamaku. Aku sayang Papa."
Dan aku menyesalinya. Papa terlihat tegang setelah aku mengatakannya. Tentu saja melangkah preventif dengan meyakinkan terlebih dulu dapat menimbulkan kecurigaan. Perkataanku seolah-olah membenarkan asumsi mereka.
Aku mengecup pipinya, bergegas turun, melambai tangan, dan berlalu melewati gerbang.
Batinku was-was papa akan mencari tahu. Aku mengintip dari balik sela rumput hias halaman sekolah. Benar. Papa mendatangi, kebetulan Reno yang hendak melewati gerbang.
"Iya, ada yang bisa saya bantu, Pak?"
"Bisa tolong panggilkan siswa yang bernama Niko."
Reno mengerjap terkejut, memandang skeptis ke arah pria asing di hadapannya.
"Oh, tidak perlu. Terima kasih kalau begitu."
Papa kembali ke mobil dan melajukannya. Aku baru bisa bernapas lega sekarang.
Reno memanggilku yang sudah keluar dari tempat persembunyian dam memberikan surat izin milik Niko. Jadi dia benar-benar gak masuk? Syukurlah.
"Niko sakit apa?"
"Demam," balas Reno singkat dan berlalu hendak masuk ke kelas.
__ADS_1
Selama pelajaran pun perasaanku tak tenang. Masih bergelayut dibenakku mengenai sikap aneh semua orang.
Aku sangat menegenal Kak Farel. Meski comberan, dia tidak pernah melanggar janji. Tetapi, siapa yang mamunculkan isu tentang Niko ke permukaan, itu yang masih menjadi misteri.
Tak henti-hentinya aku menoleh sekadar melihat bangku kosong miliknya. Padahal pengen ketemu setelah dua hari libur. Mata mengerjap karena tiba-tiba sosok Niko ada di sana, setelah untuk sekian kalinya menoleh. Dia tersenyum sangat lebar. Senyum itu menular padaku.
Nirmala....
"Niko, bukannya kamu izin? Kok bisa ada di sini?"
"Kamu kangen kan? Baru juga sehari."
Aku terkejut, mana mungkin sosok Niko akan berakata semacam itu.
"Kenapa kamu bisa tahu?"
"Aku muncul dari kepalamu dan mewujud untuk membantu."
"Putri Nirmala, tolong perhatikan proyektor di depan, jangan bicara sendiri!"
Spontan aku langsung berdiri mendapat bentakan Pak Tris. Jantungku serasa lompat ke perut. Bayangan Nikk masih tersenyum tanpa malu. Entah mengapa itu membuatku tenang.
"Maaf, Pak."
Aneh, bahkan tanpa kehadirannya swcara nyata sudah membuat aku begini.
Niko apakah benar kamu adalah cinta pertamaku?
__ADS_1
***
Tbc....