
Sungguh, apa yang sebenarnya kupikirkan sampai harus mendebat pertentangan keras dari Oma, hanya untuk naik sepeda ke sekolah?
Sejak UKS kemarin, aku memang sudah bertekad akan naik sepeda hingga lulus.
Aku malah selalu terlambat pada hari-hari MOS. Alhasil, hukuman hampir selalu kudapat, tiga hari berturut-turut!
Huuf.
Dan, o ya, ini pengalaman pertamaku mengikuti "ritual aneh" anak sekolah, karena tahun kemarin aku tidak sempat mengikutinya. Pake atribut aneh segala. Serunya, bisa ketawa dan menghibur diri sendiri tiap berkaca depan wastafel toilet, mirip orang gila.
Dengungan dan kehebohan anak baru, ngalahin ceriwisnya presenter infotainment--sayang enggak ada sponsor yang merekrut mereka. Benar-benar mengganggu. Tiap hari selalu mirip kandang tawon. Ngueng ngueng, enggak jelas.
"Kyaa. Ya ampun, itu kakak siapa sih, kok kece badai?"
Itu salah satunya. Kakak yang dimaksud tentunya kakak-kakak OSIS yang berjejer di depan memberikan sambutan.
Heran deh, mereka ke sini mau sekolah apa ngecengin cowok-cowok sih?
Kok kamu sewot, Nirmala? Hell, no! Maksudku, semua keriuhan ini membuatku sedikit terganggu. Aku beringsut diam-diam pindah tempat. Apesnya, mereka juga pada ngeriwis cogan dari anak baru!
Tepok jidat.
Diam-diam aku mundur cantik ke barisan paling belakang, niatnya kabur, daripada dengerin mereka, sumpek iya.
Tok!
Aku merasakan sebuah benda tumpul menekan bahuku pelan. Gak sakit sih.
"Kembali ke tempat duduk sampai acara selesai. jangan kabur!"
Orang itu berucap santai, dan tanpa perlu menoleh pun, aku sudah tau siapa sang pemilik suara. Rupanya, dia berjaga di belakang.
Bagooos! Sekarang aku gak akan bisa keluar kalau begini.
Aku terpaksa kembalu maju tanpa banyak bicara. Beberapa murid tampak menengok sekedar melihat kejadian kecil tadi. Ada juga yang tersenyum kecil, tentu saja bukan untukku, karena anak itu langsung berbisik tapi histeris, jadi masih bisa kudengar.
"Gila! Kak Niko ganteng banget. Lesung pipitnya itu loh, pas lagi senyum."
Lesung pipit? Aku tak pernah tau dia punya. Karena jujur, aku tak pernah memperhatikan. Dia bahkan jarang tersenyum di depanku.
Tapi kenapa dia tersenyum? Apa karena tingkah konyolku tadi?
Aku mengintip sebentar, dan yang kutemukan hanya dia yang mempertahankan wajah sok coolnya. Whatever lah. Gak penting!
***
Hari kedua MOS, cukup melelahkan. Aku sungguh tak mengerti, buat apa sih, ada kegiatan se-enggak penting ngeparaf ttd orang?
Untungnya, pencarian ttdku berjalan mulus, semulus kaki artis abis di wax dari salon-aih, bahasaku kok jadi kayak Rangga sih.
Gak ada hambatan berarti. Beberapa OSIS yang kukenal memberinya secara cuma-cuma tanpa harus di beri syarat ngawur. Misalkan; nyari daun mangga ijo 7 lembar; beliin es kelapa muda; nyanyi potong bebek angsa, pake gerakan bebek-bebekan.
__ADS_1
Cuma satu orang yang bisa bikin mood kuhancur hari itu. Minta ttd Niko, sama ribetnya kayak ngadepin Oma yang lagi ngambek.
Aku maju mundur, menyiapkan mental dan berusaha gak kecele dengan tingkahnya.
Rangga si bawel ada di situ.
"Niko mana, Ga?"
Dia mendongak dari entah kegiatan apa yang dia lakukan.
"Kenapa cari-cari, Niko?"
"Mmm mau minta ttd, tte, ttf, ttg, tth-"
"Tts. Teman tapi suka, ya?"
Rangga tekekeh dengan lelucon garingnya. Aku menatapnya dengan tatapan "apa sih, gak mutu", yang dibalas cengiran khasnya.
"Udah buruan," ujarku tak sabar.
"Kalau mau ttd Niko, kudu ngelewatin aa' Rangga, Put, garing(garis miring) badak bercula satu." Baiklah, dia mulai bertingkah konyol lagi. "Tapi, aku punya syarat buat kamu."
Rangga menyeringai dan membuat firasatku tak nyaman.
"Apa?"tanyaku was-was.
"Syaratnya gampang, kamu... harus nyatain cinta ke Niko."
Dari semua perkataannya yang konyol, ini loh yang paling goblok.
"No. I am waqaf," balasnya yang tak kumengerti. Tapi itu pasti lelucon. "Boleh kok pake surat atau isyarat," tambahnya, dengan seringai giginya yang enggak kering-kering.
"Niko dah punya Rani," jawabku teringat hal penting. Anak itu langsung diam
membeku, wajahnya terlihat sedih.
Ooops, aku kelepasn dan kembali menguliti luka Rangga. Setelah kejadian beberapa bulan lalu, semua kacau. Juur aku terus menghindari Niko, dan entah bagimana dengan yang lain. Aku memutuskan untuk berada di samping Rani.
"Rangga, aku... ma--"
Mengejutkan. Niko mengambil kertas itu dari tanganku. "Jangan datang terlambat lagi!" katanya, selepas membubuhkan ttd dan menyematkannya di tanganku.
"Sudah, kan?" tanyanya, bermaksud mengusirku.
"Ma-makasih."
Aku berjalan cepat tanpa berbalik, meninggalkan tumpahan kejengkelanku di sana.
Nyatanya, aku kalah. Entah kenapa aku jadi lebih sensitif belakangan ini. Apalagi, setelah pernyataan dia, yang menjatuhkan bola mata sampai menggelinding, kalau bukan karena ini mata buatan Tuhan, jadi masih merekat pada tempatnya.
Aku tak ingin membahasnya, tapi cairan mata sudah merembes dari mataku.
__ADS_1
Nirmala egois, kenapa juga kamu nangis, huh? Abis dia dodol banget, pake acara nyindir segala. Aku memang sengaja menjauhinya, entah kenapa, aku enggak ngerti sama diriku sendiri.
Bikin pusing!
Aku mengayuh sepeda dengan pandangan berkabut, rasanya, hanya ingin merebah dan nangis sepuasnya di atas bantal dengan segera. Rumah yang menjadi surgaku saat ini.
***
Hari terakhir MOS akan diisi dengan penyerahan hadiah dan sebagainya, aku berharap dapat cepat pulang. Entah mengapa aku tidak betah lagi berada di sekolah. Semua ini gara-gara dia!
Hatiku sangat amat labil. Saat itu juga aku memikirkan kalau dia yang telah menyelamatkanku juga di gudang waktu itu. Dan tidak alasan untuk membencinya. Aku benci diriku.
Seseorang mencolek bahuku. Ketika aku menatapnya, Ina, gadis IPS yang waktu itu kutanya tentang Robby, menunjuk ke arah panggung aula sembari tersenyum-senyum.
"Di persilahkan naik, Putri Nirmala! Pangeran Gagak Niko, sudah menunggu untuk memberikan hadiah spesial pake telor!"
Aku memicingkan mata tak percaya, anak itu meninju lengan Fey, Ketua OSIS, rautnya meringis geli. Bulu kudukku juga meremang, seiring dengungan cie cie jadi satu sekolahan.
Pasalnya, aku pun bingung, menang lomba apa pakai dikasih hadiah?
Ina mendorongku, beberapa anak menyingkir untuk memberiku jalan.
Aku terjengkang ke depan, dan akhirnya dibantu naik ke atas panggung.
"Wah Putrinya cantik juga meski penampilannya coreng-moreng. Sayangnya bukan anak kelas satu ya? Hayo, siapa ngincer nih?" ujar Fey heboh, menambah kegaduhan.
Aku tersipu mendengar pujiannya. Jujur, aku merasa gugup berhadapan dengan orang sebanyak ini. Suasana semakin riuh, saat anak itu memberikan kado yang disiapkan dengan wajah datar, dan aku dengan pose monyet, garukan di kepala yang tak gatal, mengundang tawa tentunya.
"Ya, ini dia, the konyolest couple of the year. Serasi banget sih. Cie...!" tambahnya dengan nada suara ibu-ibu rempong, memancing tawa anak-anak se-aula. Anak itu tampak memutar bola mata. Aku bergegas turun, tak ingin dipermalukan lebih lanjut, meski mereka masih memanggilku untuk ke sekian kalinya.
Pulang sekolah, aku masih mendapat siutan dari beberapa teman, dan membuat pipiku terus-terusan merah bak habis ditampar. Ini benar-benar konyol. Mereka asik sendiri menjodoh-jodohkan tanpa tahu apa yang terjadi.
Aku berjalan cepat-cepat dan tanpa sengaja bertabrakan dengan Abel yang memegang jus durian.
"Aduh, maaf, Putri. Gak sengaja."
Aku menenangkannya. Kuputuskan mengganti rokki dengan celana olahraga dari loker. Meski cuma sedikit, aku benar-benar tak tahan baunya, membuatku jadi terlambat pulang.
Tak ada yang menungguku, karena Rani belum masuk sekolah lagi. Males, gak ada pelajaran juga, katanya.
Benar-benar di luar perkiraanku, kalau Rani akan menerima nasib, dan justru menikmati kehamilannya. Kami masih terus berhubungan. Aku juga sering bermalam di rumahnya. Sampai saat ini rahasia itu masih tak terusik sama sekali.
Aku turut bersedih untuknya.
Ku lihat segerombolan anak-anak komunitas sepeda baru beranjak pulang. Aku mengikuti saja.
Pandanganku tercekat pada beberapa anak yang menghadang laju sepeda anak itu.
Aku menatap jijik. Sudah kesekian kalinya, aku memergokinya menerima suap dari bandar-bandar genit, yang tak tahu kalau mereka sudah kalah sejak awal sebelum mulai bertaruh. Hey, Rani sudah di-taken sama dia, ok. Jadi aku punya hak untuk merasa geram karena dengan begonya dia masih menerima.
Ah, jangan-jangan dia gak serius dengan Rani?
__ADS_1
Hmmm. Aku merasa harus membuat perhitungan dengannya. Kukayuh sepedaku. Mengikuti dia yang memecah ke arah lain.
Tbc....