Kenangan

Kenangan
Flashback 30-Old Soul


__ADS_3

Hari Jum'at, aku berangkat lebih pagi. Aku merasa harus berbicara dengan dia. Ini membuat tidurku tak nyaman.


I Feel sad when he sad. Ini kan yang orang bilang cinta?


Dia duduk sendiri di bangku kantin. Rambutnya masih basah dengan sisiran rapi. Dia duduk dalam posisi tegap, wajahnya menyiratkan pemikiran mendalam. Penampilannya selalu stunning di mataku, kecuali muka sedih yang ditempelkannya di wajah.


"Hai. Jangan lupa senin depan kita ada lomba," sapaku berbasa-basi. Dia terkejut dengan kehadiranku. Wajahnya kembali datar.


"Hmm."


Dia menarik napas panjang sebelum menatapku yang duduk di hadapannya.


"Harus berapa kali aku bilang, jangan bikin perkara yang gak perlu."


"Tapi mereka--" Hendak menyangkal tapi dia potong.


"Kamu tau itu benar."


"Tapi Rangga--"


"Dia gak tahu. Cuma kamu dan Reno yang tahu."


"Kamu gak kasih tau Rangga?"


"Sudah. Susahnya kasih tahu dia, dia gak bakal dengar sebelum ada bukti konkret. Percuma bilang kalau dia sudah punya presepsi sendiri."


Membuang muka, merasa tidak nyaman karena dia tahu tentang masalah di kantin kemarin.

__ADS_1


"Nenek lampir aja tu yang kebanyakan ngunyah beling, makanya omongannya tajam-tajam. Isinya sampah semua."


Dia meletakkan kepalanya di atas meja. "Emang kuda lumping suka ngunyah beling?" Aku bisa melihat senyum tipis setelah dia mengucapkannya.


Ketertegunanku belum berakhir. "You look so pale. Kamu kurang tidur?" Dia menggeleng pelan tetap dalam posisinya. "Ada yang mengganggu pikiran kamu? Gak biasanya kamu terpengaruh. Mmm... mau cerita?"


Aku berucap hati-hati, takut dia tersinggung nanti.


"Aku gak peduli apa yang satu sekolah bilang tentangku,"Dia menjeda, menghela nafas. "tetapi, ketika seorang yang kuhormati sebagai Abang mengatakan hal yang sama rasanya punya efek berbeda. Then i though, Why it was bothered me?"


Aku tak ingin menyela. Membiarkan dia menumpahkan pemikirannya padaku. Itu suatu kehormatan, mengingat betapa introvertnya dia.


"Lalu aku berpikir, betapa dangkalnya pemikiran ibuku, kalau seandainya dia mau menerima pinangan orang lain dan bukan justru lari membawaku yang belum genap 3 bulan, hanya karena alasan setia menjaga hatinya untuk ayahku yang sudah tiada setengah tahun sebelumnya.


"Aku benar-benar tak bisa mengerti dengan jalan pemikiran wanita. mereka mematrri diri hanya pada satu orang dan berharap, that would be enterely. Even they knew it would never happpened, becaused Their lover had burried to the grave."


Kalau sampai dia tak mengeluh, aku akan mengira dia bukan manusia, tapi malaikat. Karena manusia sejatinya tak ada yang sempurna, semuanya punya kelebihan dan kekurangan.


Dia menjadi dirinya sendiri, seorang anak yang rapuh dan menyalahkan masa lalu akan kemalangan yang menimpanya kini.


Dia terlihat buruk, tapi justru menunjukkan sebuah kemajuan. Dia menjadi lebih terbuka. Di samping juga membuka mataku, tentang dia yang tidak sesempurna yang terlihat, dia punya kekurangan yang harus kugenapi. Dan aku berjanji, akan menjadikan ini sebagai pengalaman untuk menghadapinya ke depannya.


Dari suara lirihnya, sangat kentara bahwa masalah yang dihadapinya teramat pelik.


"Raga mereka mungkin terkubur, tapi cinta tidak akan mati dan ikut bersamanya. Itu bukan akhir, Niko."


"End." Dia memaksa.

__ADS_1


"Bukan the end. Cinta enggak akan mati, karena itu ada pada setiap dada yang memiliki hati. Perpisahan itu, bukanlah sebuah akhir, tetapi sebagai pengukuhan awal dari cinta sejati." Dia menegakkan tubuhnya, tampak tertarik dan berpikir. "Kamu harus mulai mencoba berdamai dengan masa lalu, karena itu juga bagian dalam diri kamu. Seberapa kali pun kamu mencoba menghapusnya, itu semua akan tetap menjadi bagian dari kisah hidup kamu. Ketika kamu mengandai untuk memutar masa lalu, itu mustahil. Tetapi melangkah maju menghadapi masa depan, akan jauh lebih mudah daripada terus menoleh ke belakang.


"Itu terjadi, tidak bisa kamu menyalahkan ibu kamu, karena beliau mungkin juga tak pernah menginginkannya. Wanita itu... punya hati yang lembut, juga kecenderungan lebih untuk setia. Kamu harus ingat, semua yang terjadi pasti akan ada hikmah di sebaliknya"


Dia tertegun untuk beberapa detik yang terasa lama. Keinginanku untuk menguatkannya yang mendorongku mengatakan hal-hal di luar skenario yang kubuat.


Apa dia akan tersinggung? Aku merasa sudah terlalu frontal, karena dia hanya diam meresapi.


Bel masuk berdering nyaring. Sudah banyak anak-anak yang datang, bahkan ada sebagian yang memandang heran ke arah kami.


Dia bangkit, aku mengikutinya.


"Tumben. Abis makan apa kamu jadi pinter ngomong begitu?"


Dia memuji, kan? Poin yang terpenting, dia tidak tersinggung dengan ucapanku.


"Aku belajar dari ahlinya." Kamu.


Kami melangkah beriringan. "Thanks. You make me feel better."


Dia berhenti melangkah, tersenyum sampai matanya menyipit saking lebarnya. Senyum yang membuatku menahan napas tanpa sadar.


Dia berjalan mendahului, dengan ringan seolah tanpa beban. Dia bahkan membalas sapaan segerombolan siswi adik kelas, yang langsung riuh begitu dia lewati.


Dia terlihat teramat senang.


Apa aku berhasil? Aku kira, ya.

__ADS_1


Masih terpana, membeku di tempatku berdiri, karena dahsyatnya deruan jantungku hanya karena sebuah senyum. I melted. And i know, i am not just feel, but fall for him.


Tbc...


__ADS_2