Kenangan

Kenangan
Flashback 31-Unpredictable Boy


__ADS_3

Midnit update.


_____________________


Jum'at sore kami bertemu di rumah Om Syafiq untuk persiapan lomba hari Senin.


Seperti biasa, weekend selalu kuhabiskan waktu dengan memikirkan anak itu.


Hari Senin aku dan Niko berkerja sama dengan baik, dan aku sangat berharap bisa mendapatkan kesempatan menang agar kami memiliki kenangan yang tak terlupakan nantinya.


Hari Selasa aku bersekolah seperti biasa, setelah lomba kemarin akhirnya berakhir. Pengumuman dua besar dan grand final akan diselenggarakan Senin depan.


Aku dan Abel sedang membahas kegiatan mengaji kami. Sudah berjalan seminggu. Setiap sore aku akan ke rumah Abel, atau Abel yang bergantian ke rumahku.


Aku senang karena Abel begitu telaten mengajariku.


"Makasih ya, Bel, sudah mau jadi guruku."


"Bukan masalah, Putri. Aku malah senang bisa bantu kamu. Meski bacaanku enggak seenak ustadzah, tapi Insyaallah bacaannya sudah benar kok."


"Aku jadi malu sendiri. Udah umur segini masih belum lancar ngaji."


"Enggak apa-apa lagi, Put. Alhamdulillah kamu sudah ada kemauan untuk belajar. Dulu, aku juga enggak bisa. Kamu pasti ada denger dari temen-temen tentang masa laluku."


Aku mengangguk."Kamu masih tinggal sama orangtua?" tanyaku, penasaran juga dengan apa yang diceritakan Rani.


"Udah enggak. Aku sekarang tinggal di kost putri dekat sekolah, dan kerja paruh waktu di restoran. Kamu tahu Put, apa yang menjadi motivasiku untuk berubah?"


"Karena Reno." Aku menebak. Dia blushing setiap aku menyebut namanya. Sepertinya, nama Reno sangat sensitif dan haram untuk dibahas di depan Abel.


"Bukan!"


Abel lalu menceritakan tentang pertemuannya dengan Reno dan bagaimana kejadian memalukan itu terjadi. Mereka berciuman seperti orang dewasa di dalam TV. Terbukti, bagaimana tontonan bisa begitu berpengaruh pada moral anak bangsa masa kini.


Mirisnya, banyak stasiun TV yang hanya mementingkan rating dan memberikan tayangan yang hanya menarik atau bersifat komersil semata, tanpa memikirkan dampaknya pada masyarakat. Di samping, diperlukan juga pengawasan orangtua tentunya.

__ADS_1


"Itu hari ketiga Reno berhenti bekerja di bar Papa. Aku sejujurnya sedikit kesal dengan keputusan Reno, jadi aku meng-smsnya berulang kali. Tiga hari kemudian seorang yang tidak kukenal tiba-tiba mengunjungi sekolahku, dan tanpa basa-basi langsung mencegatku. Di bilang gini, 'Semua orang itu baik, asalkan menjadikan kebenaran sebagai tolak ukur kehidupannya. Dan kebenaran tidak dapat hanya dengan dinanti, tapi dicari. Karena sesuatu yang kamu anggap baik belum tentu benar, tapi sesuatu yang benar sudah tentu baik.'


"Aku terkejut dan bingung kala itu, kukira dia orang kurang waras tapi wajahnya tidak memcerminkan itu. Sampai aku tahu kalau ternyata dia adalah teman Reno."


"Siapa?" Aku penasaran, tetapi sudah dapat menerkanya.


"Anak itu. The unpredictable boy."


Abel menunjuk ke arah Niko yang tengah mengajari adik kelas 2 yang bertanya.


"Aku jadi sadar. Dulu, kukira dengan minum aku merasa lebih baik, tapi itu hal yang tidak benar, karena diam-diam minuman itu menggerogoti di dalam diriku. Akhirnya, aku memutuskan mencoba berhenti minum-minum dan mulai menata diri menjadi lebih baik."


Terkagum? Tentu saja. Entah berapa banyak lagi aku akan bertemu dengan orang-orang baik yang dulunya berubah hanya karena perkataan seorang anak enam belas tahun kala itu.


Berbarengan dengan itu, masuklah Rangga yang urat lehernya sudah bermunculan, dengan langkah panjang, juga sorot mata tajam. Belum pernah aku melihat Rangga semarah ini.


"NIKOOO!"


Rangga menggebrak meja yang tak bersalah, membuat semua orang di ruangan itu terlonjak dari tempat duduk mereka.


"KAMU UDAH GILA YA?!"


Selama aku di sini, belum pernah aku melihat Niko bertengkar dengan anak lain. Aku hanya pernah melihatnya bergulat melawan penjahat, yang tentu tidak banyak diketahui orang lain.


Rasanya, terlalu mustahil kalau mereka sampai bertengkar. Yang kutahu, mereka sudah bersahabat sejak lama.


Niko bergeming, bahkan mencegat lengan anak kelas dua yang sudah gemetaran di sampingnya. Begitu tenang menulis serangkaian rumus yang tengah mereka kerjakan, yang otomatis memupuskan harapan anak-anak yang bertaruh.


Rangga masih mencak-mencak macam kelinci yang ditukar wortelnya dengan cabai. Menendang-nendang dinding, sampai akhirnya kelelahan sendiri.


Niko selesai dengan pekerjaannya dan membiarkan adik kelas di sampingnya pergi.


"Apa sih, Ga? Berisik tau," sahut Niko, malas.


Rangga menghela napas keras, mengusap wajahnya untuk mencoba menurunkan tensinya.

__ADS_1


"Apa masalahnya?"


Niko bangkit dan beranjak dengan tenang. "Ayo ikut!"


Rangga mengekori Niko sampai keluar.


Aku penasaran, tetapi Abel sudah kembali berbicara.


"Eh, Bel. Aku ke kamar kecil dulu, kalau dah masuk, misscall ya!"


Aku berlari menyusuri selasar, dan menemukan Aula lapangan basket yang sedikit terbuka.


Melihat sekeliling, tak ada murid karena ini masih pagi.


Saat mengintip, kulihat ada tiga orang di dalam, termasuk Reno yang tak bisa diabaikan keberadaannya.


Samar-samar kudengar suara Rangga yang naik oktaf.


"Kepala kamu kenapa sih?! Bisa-bisanya kamu kasih toko kamu sendiri ke Mas Bagas. Ko, itu semua usaha kamu. Kamu yang memulainya dari nol, toko itu gak ada sangkut pautnya sama Papa kamu. Aku saksinya, gimana kamu pontang-panting bangun toko itu, trus sekarang kamu mau ngelepasin gitu aja?"


Niko memberi tokonya?


Apa kepada seseorang yang kemarin dia bilang sudah diaggapnya abang?


Belum genap acara mengupingku, Abel berteriak mengganggu.


"Udah masuk ya?"


"Sejak kapan toilet pindah ke sini?"


"Eh itu, tadi--"


"Gawat, Put!" Abel, tidak biasanya memotong perkataanku.


"Nesya di DO!"

__ADS_1


***


Tbc....


__ADS_2