Kenangan

Kenangan
Flashback 10-Lost


__ADS_3

Wangi ini... wangi yang kukenal.


Perasaan jeruk lemon hangat.  Aku merasakan sesuatu yang menggelikan membelai hidungku hingga gatal.


Kepalaku pening dan berat, seolah ada tumpukan batu bata di atasnya.


Mataku mengerjap perlahan, hanya gelap yang terlihat, aku memfokuskan pada sebagian siluet cahaya kecil rembulan di balik bayangan hitam di depan dada.


Astaga!


Bau ini miliknya.


Di depan dada?


Jantungku tanpa perintah, berdentam riuh bak stadion GBK.


Dia menyadari dan mengangkat kepalanya. Buru-buru pergi dari hadapanku.


Apa itu tadi?


Batinku was-was. Setelah tubuhku mulai beradaptasi kembali, aku bangkit duduk.


Jantungku sampai harus mempelajari kembali caranya berdetak dengan benar. Beruntung kami berada di tempat gelap, wajahku pasti sudah sepupu warnanya dengan saus tomat.


Sosok Reno berjalan mendekat. Seulas senyum ia perlihatkan. Ah, aku hampir lupa, bahwa kami sedang dalam pelarian maut.


"Anak itu minta berganti jaga," katanya, seolah menjawab rasa ingin tahuku.


"Kamu gak kenapa-kenapa kan?"


Aku menggelang pelan, kepalaku masih pening jika di gerakkan.


"Syukurlah kalau begitu. Oh ya, terima kasih sudah menyelamatkanku tadi. Kamu Nirmala kan? Salam kenal ya."


Masih bersama senyumnya.


Ralat semua pikiran negatifku tentangnya. Semua itu sungguh tak beralasan. Kurasa istilah "don't judge a book by his cover", sangat sesuai dengan situasi ini.


Adakah anak tak tahu diri yang berterima kasih bahkan menanyakan kabar? Tak ada.


"Kamu jangan salah paham tentang anak itu ya. Dia hanya mencoba membantu tadi."


Dia tertawa kecil. Aku yakin dia pasti anak yang periang dan friendly. Sangat suka tertawa, tapi apa yang lucu dengan kata "dia hanya mencoba membantu"?


Pandanganku melayang pada luka di lengannya. Sekelumit pertanyaan muncul di kepala.


Jadi, siapa yang membawaku kemari?


Sekali lagi pipiku bersemu tak tahu malu. Semoga saja dia tak memperhatikan. Dan sekarang aku jadi tahu apa yang dianggapnya lucu. Aku membalasnya dengan senyum canggunh.


"Kamu ada hubungan apa sama dia?"


" Hubungan? Gak ada sih. Aku teman Rani. Dia teman Rangga. Rani berteman dengan Rangga, begitulah kami mengenal. Tapi kita juga gak dekat amat kok."


"Oh gitu. Sorry ya, aku nanya gini. Soalnya dia itu anti cewek banget. Dan kamu tau panggilannya di sekolah itu apa?" Dia menjeda sok penting. Ceritanya bikin penasaran gitu. "Gagak," lanjutnya.

__ADS_1


"Gagak? Kok bisa? "


"Iya gagak, ganteng-ganteng karatan." Dia tertawa, hampir saja kelepasan.


Coba lihat, siapa yang hampir mati tadi, sekarang malah tertawa seolah tak ada bahaya yang mengincarnya.


Tapi syukurlah, setidaknya hal ini dapat mengurangi efek traumatis akan kematian yang membayang di depan mata kami tadi. Kami juga tak pernah tau kan, apakah ini akan jadi senyum terakhir kami nantinya.


"Soalnya, aura dia surem kalau deket sama cewek. Meski kecenya dia dah ngelebihi expired date tapi belum juga punya gebetan. Jadi dia di panggil begitu deh ma temen-temen."


Aku tertawa kecil mendengarkannya bercerita tentang ia. Satu hal lagi yang dapat kutahu tentangnya.


Bayangan seseorang yang kami bicarakan tampak mendekat.


Dia duduk di sebelah Reno. lagi-lagi aura canggung mendekapku.


"Kita gak punya waktu banyak. Ini saatnya bergerak. Aku punya rencana."


"Tunggu dulu!" Reno menginterupsi. "Nirmala, apa kamu udah kuat?"


Sepertinya anak itu menatapku tajam dalam kegelapan. Aku mengangguk cepat. "I-iya," jawabku gelagapan.


Dia melanjutkan. "Aku pikir kita harus berpencar. Aku akan mengalihkan perhatian mereka dan kalian pergi cari bantuan."


Kami terperanjat dengan rencana aneh ini. Mengorbankan dirinya. "Enggak. Gue gak setuju, lo mau nyerahin diri untuk nyelametin kita berdua. Lo jangan gila deh!"


Reno tampaknya juga menentang keras hal ini.


"Kita gak punya pilihan lain. Harus ada yang dikorbankan untuk menyelamatkan yang lain. Dan di antara kita, cuma aku yang masih segar bugar." Reno tampak mendecak frustasi. "Tapi aku gak bakal jadi korban. Kita bakal ketemu lagi. Kalian pergi cari bantuan. Ringkus mereka dan selamatkan aku," tambahnya lagi membuat kami reflek mendongak padanya. "Semua ada di tangan kalian."


Mau tak mau kami terpersuasi dengan penjelasannya. Kami mendengar dengan serius arahan-arahan yang ia berikan, seperti ahli siasat pengatur strategi perang.


Aku tak bisa hanya diam tanpa mengatakan apa yang menggelayut dalam likiranku.


"Niko... jangan mati! Kita bakal nungguin kamu kembali."


Aku sudah mencoba bicara sedatar mungkin. Tapi tetap saja ada nada pilu dan kekhawatiran pada sebagian kata.


Dia menghela napas tanpa menjawabku, sebelum melangkah lebih dulu


.


Kami berpencar arah. Lalu, terdengar suara teriakan komando bersahutan, dan beberapa pasang kaki berlari. Apakah musuh kami bertambah lagi?


Dia pasti telah ditemukan dan sekarang mengalihkan perhatian mereka. Entah kenapa aku jadi bingung sendiri. Firasat buruk menghantuiku sejak dia pergi.


Setelah cukup aman, aku dan Reno dengan segera berlari melawan arah.Niko sudah memberitahu bahwa dia sempat meninggalkan jejak sebelumnya, dan dari situ kami hanya perlu melewati beberapa koridor sebelum menuju keluar. Anak itu berfikir cepat sekali, pengendalian dirinya sangat luar biasa.


Kami tak dapat berlari lebih cepat karena lengan Reno yang terluka. Terlalu banyak gerak membuat semakin banyak darah yang keluar. Kami sudah hampir sampai, jaring laba-laba itu masih di situ. Sedikit lagi. Tapi jantungku mendadak berhenti.


Duarr Duarr Duarr


Dari jarak yang tak diketahui, suara adu tembak beruntun masih dapat tertangkap indera pendengaran kami.


Kukuhan kekhawatiran begitu pekat kurasakan. Rasa was-was menyelimutiku. Takut, firasat burukku benar terjadi.

__ADS_1


Tidak! Jangan mati! Kumohon!


Aku berbalik arah mencoba mendengarnya lebih jelas.


"Nirmala. Tunggu, jangan ke sana! Kita harus mencari bantuan!"


Aku mempercepat langkahku, tak kuhiraukan teriakan Reno untuk menghentikanku.


Berlari mengikuti naluriku.


Kamu dimana, Niko? Kumohon, bertahanlah!


Perasaanku campur aduk. Mencari ke sana ke mari, kebingungan bagai ayam kehilangan induknya.


Aku baru dapat bernapas dengan benar, lega seketika, mendapatinya masih tegak berdiri, meski dalam posisi kurang menguntungkan.


Di sekitar pria itu ada sekitar 5 orang tergeletak dengan luka tembak.


Apa yang sebenarnya terjadi?


Pria itu kembali mengongkang senjatanya mengarah padanya yang masih terbuntu tembok di belakang.


Tidak bisa di biarkan! Aku memperhatikan sekeliling, mencari alat bantu melawannya.


Tampak beberapa kayu yang hampir lepas. Aku mengambil satu kayu dengan satu paku yang korosi, cukup pas untuk kugenggam.


Aku melompat singkat, memukulkan kayu lapuk di tengkuknya, hampir patah, seolah lehernya itu terbuat dari besi, bahkan tak menggoreskan luka sedikit pun. Dia menoleh ke arahku berikut tatapan tajam. Aku mengulanginya di lengan, hingga pistol dalam genggamannya terlepas dan jatuh menggelinding jauh.


Dengan sigap aku menghalang dalam posisi deffensive di depan Niko yang masih tercengang dengan kedatanganku.


Pria itu secepat kilat hendak mengambil senjatanya kembali, bersamaan dengan ia yang menarik tanganku berlari menjauh. Satu tembakan yang sempat dilayangkannya meleset ke arah atas. Huuf, selamat.


"What are you doing?!" Dia berdecak jengkel. "Stupid."


Aku juga sama sekali tak mengerti dengan sikap impulsif yang kulakukan. Pikiran dan nuraniku tak sejalan. Aku menunduk menyesali kebodohanku. Aku bukannya menyelamatkannya, justru membuat kami berada dalam masalah.


Tangan kokoh yang begitu kuat menggenggam tangan kecil dan lemahku. Setiap skinship yang diberikannya selalu mampu membuat jantungku berolahraga berat, dan nafasku terhela tak beraturan.


Aku pun tak tahu sebenarnya aku ini kenapa. Semoga saja itu bukan hal yang akan yang berdampak buruk buatku nantinya.


Tanpa memelankan langkah lari, kami berbelok arah setelah beberapa kali berputar-putar. Tak ada koridor lain.


Jalan buntu!  


 "Aah!" Dia mengerang frustasi. Menggigit bibir bawahnya.


Pria itu ternyata sudah mendekat. Kami mundur perlahan. Sekali lagi kami terjebak di sudut. Tanpa sadar, genggaman tangannya menguat. Perutku semakin mulas saja. Ditambah setruman-setruman kecil yang terus mengganggu fokusku tak kenal waktu.


Kami berpagut dengan ketegangan luar biasa. Aku menutup mata, melafalkan do'a seadanya. Pergerakan offensive sedikit saja, maka tamatlah riwayat kami.


Tanpa melepasku, Niko memundurkanku lebih dalam, seolah melindungi. Hatiku menghangat. Genggaman tangan dinginnya justru membuat adrenalinku yang membuncah, seolah diberi ketenangan seketika. Aku harus menghadapi apa pun yang akan terjadi nanti. Ketika pistol dikongkang, maka yang terjadi selanjutnya adalah...


Duarrr!


Aku merasakan kehilangan ketika ia melepas pegangan dan dia... memegang dadanya.

__ADS_1


***  


Tbc....


__ADS_2