Kenangan

Kenangan
Flashback 17-Badak Bercula Satu


__ADS_3

Rani terus mengutuk Gank cewek-cewek gila yang membullyku, setelah aku menelpon dan menyuruhnya menjemputku. Untungnya tak ada saksi mata yang melihat, karena memang kejadiannya sepulang sekolah.


Aku tak memberitahu apa pun kepada Rani, masih merasa sanggup menghadapinya sendiri. Gertakan Nesya tak bisa menyurutkan keteguhanku. Tidak semudah itu menyingkirkan, Nirmala!


Nesya hanya anak manja yang menganggap segalanya bisa didapatkan semaunya. Dia harus tau diri bahwa tidak semua hal bisa didapatnya dengan mudah.


Aku menjalani hari berikutnya seperti biasa, meski mulai menjaga jarak dan komunikasi dengan dia--Niko. Banyak mata-mata sinis yang mulai melirikku. Perlakuan kasar, seperti dengan sengaja menabrakku, menumpahkan jus, bahkan mencorat-coret buku catatanku mulai gencar disarangkan.


Bahaya, karena aku tidak memiliki tameng untuk berlindung dari amunisi yang mereka siapkan. Nesya tak main-main dengan ancamannya. Dia lebih mirip psikopat daripada anak pejabat. Bikin geleng-geleng kepala.


Dua hari sebelum Festival dan bazaar yang selalu diadakan setiap tahun, aku sudah merasakan firasat buruk ketika menginjakkan kaki di sekolah. Ketika tiba di penghujung gladi resik, aku yang tengah membereskan panggung disuguhi drama perkelahian Nesya dengan teman budaknya.


Aku mencoba melerai perkelahian yang mungkin saja hanya gimmick. Benar saja, aku yang dipojokkan pada akhirnya terdorong dari panggung, melayang beberapa detik di udara dan...


Bugh!


Aku mengerjap, merasakan sesuatu mengganjal di kepalaku sehingga tak terantuk lantai. Mendapati wajah khawatir Niko yang menolongku. Punggungku menyentuh lantai dengan keras, meski kepalaku masih selamat terlindungi. Rintihan keluar dari bibirku. Rasanya remuk, mungkin juga ada yang patah. Dengungan orang-orang memekikan namaku


"PUTRI!"Rani yang datang membantuku duduk, ada yang menyodorkan air sampai minyak kayu putih. Aku menyandarkan kepala pada pundak Rani, merintih lagi, menangis tak tahan karena sakitnya.


"Sa-kit, Ran."


Dadaku terasa semakin sakit, terlebih karena kekalahanku, bahkan ketika baru diawal perang aku sudah kalah duluan. Aku masih tergugu dengan nafas putus-putus ketika pak guru membopongku menuju UKS.


***


Setelah kejadian hari itu, akhirnya aku menceritakan kebenarannya kepada Rani. Tak ada gunanya untuk disembunyikan, setidaknya hal ini bisa sedikit mengurangi rasa sesakku. Aku benar-benar menghindari Niko, bahkan untuk alasan lomba KI yang kami persiapkan.


Selama masa diam kami, aku mulai bisa berteman dengan Syarif, anak OSN yang baru kukenal. Anak itu bahkan terang-terangan menyatakan menyukaiku walaupun kusangkal juga.


Aku jadi bergidik sendiri. Kenapa aku seolah mencari pelarian dari masalah? Tapi tentu bukan itu tujuanku 'kan? Meski terus menghindar dan menjauh, Niko yang seolah tak peka justru makin gencar memburuku. Bahkan untuk pertama kalinya dia berbicara padaku di sekolah.


"Kamu gak pulang ke rumah?"

__ADS_1


"A aku nginep di rumah--" aku tergagap, kemudian tersadarkan sesuatu. "Heh, darimana kamu tahu aku gak pulang?"


Aku memicingkan mata, menatapnya dengan curiga. Dia terlihat salah tingkah dengan mengulangi pekerjaan menata buku yang sebenarnya sudah rapi. Kami memang ada di perpustakaan. Semenjak awal belajar bersama, aku sudah berjanji akan membantunya mengurusi perpus sekolah yang memang tempat favorit kami.


"Kamu sudah sembuh?" jawabnya mengalihkan pembicaraan.


"Ah, jangan-jangan..." aku menutup mulut dramatis, "I hate you, Niko."


"Lah, apa salahku? Aku kan cuma mengembalikan sepatu ke rumah kamu."


Akhirnya dia mengaku juga. Tapi ini sungguhan Niko ke rumahku? Ya ampun, dia gak lagi mabok micin, kan?


"Tuh, 'kan! Terus, kamu ketemu Oma, dan nyeritain semuanya, gitu? Ya ampun Niko, kamu bikin aku dapet masalah tau!" cerocosku histeris.


"Bukan begitu. Aku tuh-- Nirmala, mau kemana? Belum selesai ngomong juga!"


Aku berlalu, mengabaikan decakannya. Sejujurnya aku tak benar-benar marah padanya, hanya agar dia mengerti batasannya dan paham bahwa aku harus menjauh darinya. Tapi memang dasar gak peka, dia masih saja mengusikku. Seperti sekarang, lima menit sebelum pelajaran Fisika berakhir, sebuah SMS mampir di smartphone yang kuprofile silent.


[Rangga Bawel


Ini jelas bukan pesan Rangga. Sesengaknya Rangga dia tak pernah memanggilku dengan panggilan aneh. Ini pasti kerjaan manusia kaktus.


[Me


Niko, huh? I can't. Kalo yang kamu maksud belajar bareng.]


Sent


Pesan baru


[Rangga Bawel


Lets talk. Sepulang sekolah.]

__ADS_1


[Me


Aku gak bisa. Lain kali.]


Aku menoleh ke arah Niko yang berdecak sebal.


[Rangga Bawel


Lets clear it, Nirmala. Aku tunggu.]


Pemaksaan!


[Me


Gak ada yang perlu diomongin.]


Baru beberapa detik setelah mengirimnya, aku mengangkat kepala, terkejut dengan suara kesiap anak-anak dan HP Niko sudah raib ditangan Pak Yuris. Mampus!


HP itu berkedip kedip yang menandakan pesanku telah terkirim dengan selamat, langsung dibaca oleh beliau.


"Mana tugas kamu?" Pak Yuris mengalihkan perhatian pada Niko. Untuk sesaat aku merasa mendapati lirikan tajam beliau. Aku menggigit bibir, menutupi wajah dengan buku untuk menghindari tatapannya.


Mati aku!


Niko menyodorkan bukunya ragu-ragu. Pak Yuris tersenyum puas setelah melihatnya.


"Kamu tahu, kan peraturan sekolah, dilarang bermain handphone ketika jam pelajaran berlangsung! Setelah ini kamu menghadap saya, sama temen kamu, si badak bercula satu, mengerti!"


Niko tampak hendak protes, yang langsung ditepis dengan tatapan tak terbantahkan Pak Yuris.


Badak bercula satu?


Ranggaaa!

__ADS_1


Tbc....


__ADS_2