
Sesuai janji, duo boys menjemput kami. Tak ada yang bicara selama perjalanan. Semua terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing.
Rani yang mungkin memikirkan perkataan tante Ris, Rangga yang mungkin masih memikirkan perkataan Rani tadi, Niko yang memang tak banyak bicara, dan aku yang merasa bersalah karena telah membohongi Niko. Padahal aku memang dari awal sudah berencana melanggar janji untuk tak datang di pertemuan kami, bukan karena keadaan Rani yang tak terduga.
Dari semua, hanya satu nasehat Niko yang terdengar sebelum keadaan senyap kembali.
"Mungkin ini yang terbaik, Ran. Jangan terlalu bersedih. Anak kamu akan bisa jadi salah satu penunjuk kamu masuk ke syurga."
Byurr... seperti diguyur air dingin, kata-kata Niko selalu menyejukkan. Efeknya tentu mengenai Rani agar menjadi lebih tegar.
Tak berselang lama, kami sampai juga di rumah Rani. Aku memeriksa kulkas yang ternyata kosong melompong, dan berniat akan memasak setelah membeli bahan. Ketika akan bertanya kepada Rani hendak menitip apa, tak sengaja aku mendengar percakapan mereka.
"Maaf." Suara Rangga terdengar terluka.
"Ka kamu denger ya? I-itu gak bener, jangan--"
"Aku tahu, aku ini pengecut ya." ucap Rangga lebih seperti pernyataan pada diri sendiri.
Rani hendak menyangkal, tapi langsung dipotong Rangga. "Aku yang salah, seharusnya aku gak mikir kamu bakal lebih bermasa depan bersama orang lain. Sedangkan kita sama-sama tersakiti."
Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing.
"Aku yang bego, Ran, bukan kamu."
"Aga--"
"Maaf. Aku gak akan mengulangi hal yang sama. Aku gak akan mengulangi kesalahan itu. Aku akan di sini, gak akan pernah ngelepasin kamu lagi."
Aku bisa melihat senyum di balik tangis Rani, dan tawa malu Rangga di balik tundukan kepalanya. Rangga mendekat dan merengkuhnya dalam satu tarikan singkat.
Percakapan yang mungkin so sweet bagi Rani, terasa mulas di perutku?
Niko mendekat membawa tas perlengkapan Rani, aku langsung mencegahnya masuk ke dalam.
"Eh, kenapa?."
"U-udah, taruh sini aja!" Aku menunjuk lantai tak jauh dari kamar.
"Ayo anterin aku, aku mau belanja."
__ADS_1
Niko yang tampak ragu tapi mengangguk juga. Aku membuka pintu jok belakang, melempar tas, dan merebahkan diri.
"Aku mau tidur, Niko, semaleman aku jagain Rani. Kalau udah sampai bangunin ya!" Niko mengangguk tanpa suara.
Entah sudah berapa lama aku tertidur. Ketika membuka mata, Niko baru saja masuk dengan sekantung penuh bahan makanan.
"Kamu kok gak bangunin aku?"
"Kelamaan. kamu tidur dah kayak batang pohon." Aku berpindah ke jok depan di sampingnya dan meletakkan belanjaan di jok belakang.
"Eh, siapa yang nyuruh kamu duduk di jok depan? Ayo kembali ke belakang."
Aku sama sekali gak memahami anak ini. Aku akhirnya kembali turun dan duduk di jok belakang.
"Hmm. Tapi thanks ya."
Hening.Tak ada percakapan dan tak ada yang berniat memulainya. Saat Niko melajukan mobil dan kami mendapati lampu merah, aku berpindah ke jok depan. Niko akhirnya mengalah dan hanya berdecak sebentar. Niko memilih fokus pada jalan atau memandangi keluar jendela di sampingnya.
Dia kok tambah keren ya pas lagi nyupir? Hihihi. Aku berinisiatif menyalakan Mp3 untuk mencairkan suasana.
"Kamu suka musik apa?"
"Aku gak suka musik."
"Kalau gitu aku juga gak suka."
Dia menoleh sekilas."Jangan jadi beo terus!"
"Aku kan ngikut kamu. Apa salah?"
Dia terdiam. Whatever, kalimat andalannya. Senyap lagi. Rambu menunjukkan warna merah, mobil berhenti dan dia mulai mengajak bicara.
"Ada apa Rani sama Rangga?"
Jujur saja aku bingung harus menjawab apa.
"Mmm...."
"Seharusnya kita enggak ngebiarin mereka berdua."
__ADS_1
"Ihh kamu kenapa sih gak percaya sama temen sendiri?"
"Bukan gak percaya. Tapi ini pertama kalinya Rangga serius sama seseorang."
"Oh gitu?" Ucapanku sedikit terdengar sinis karenanya.
Tak ada yang meneruskan percakapan. Saat kami sampai di tujuan, Niko menghela nafas seolah memang mempersiapkan diri sejak tadi. Ia kembali bicara.
"Nirmala, dengar. Kalau kamu mau berubah lebih baik, hal yang pertama harus kamu lakukan adalah meluruskan niat kamu. Tanya pada diri kamu apa tujuan kamu berubah? Niatkan semua tulus ikhlas karena Allah, bukan karena ikut-ikutan, setidaknya kamu harus belajar untuk tahu yang benar dan salah."
Aku mengangguk gagu, kepalaku tertunduk mencerna perkataannya barusan.
"Aku gak bohong, saat bilang kamu itu sebenarnya pemberani. Jadi, siapapun itu, seberapa banyakpun, jangan lari! Jangan menghindar! Jangan menjauh! Setidaknya, supaya aku tau siapa-siapa yang sudah menyakiti teman-temanku."
Aku tersentil dengan kenyataan teman, dan satu hal yang mengganggu, apa Niko sudah tau?
Aku terpana. Untuk pertama kalinya manik kami bertemu. Dadaku bertalu, menyanyikan harmoni, merasa getaran halus di dada hingga senyum tulus tersulam di bibirku.
"Merci atas perhatian kamu."
Aku bergegas keluar dari mobil, kami sudah sampai, aku takut debaranku mungkin akan terdengar olehnya. Sesuatu yang asing menggelitik di benakku. Gejolak perasaan apa ini?
Niko pasti telah melakukan sesuatu untuk membantu, kenyataan bahwa ia peduli yang membuatku begini. Di dalam, sudah ada Reno yang duduk di ruang makan bersama Rangga dan Rani. Semua sibuk bercanda, tapi pandanganku tak bisa lepas darinya yang masih menekuni ponsel.
"Aku mau buat kopi. Kalian mau?" katanya, bangkit dari duduk. Semua mengangguk, kecuali aku.
"Jangan lupa, Ko, yang satu kasih sianida buat si Putri," celetuk sengak Rangga. Aku mendelik padanya.
"Kamu minta disantet ya, Ga," balasku tak kalah sadis.
"Wuih, ati-ati, Ga. Bapaknya dukun," celetuk Reno dan mendapat tawa semuanya, kecuali Niko yang hanya geleng kepala.
Untung dia gak senyum, bisa-bisa aku anfal karena jantung kelelahan.
***
Trio boys akhirnya memilih menginap di rumah Rani. Tidur di kamar tamu khusus Reno, karena dia memang sering bermalam di rumah Rani yang hanya tinggal dengan pembantunya. Mbok Sri baru seminggu ini pulang kampung. Aku masih bergelung tak nyaman di ranjang, teringat percakapan Rani tadi.
"Kamu tau 'kan rencana Rangga yang aku bilang waktu itu. Niko ngelabrak Nesya, Put. Double wow. Kamu gak heran apa, anak itu berubah blakangan ini karena kamu, Put."
__ADS_1
Rani membahas dengan mimik khas penggosip yang ekspresif, mau tak mau mempengaruhiku.
Boleh gak aku kegeran merasa dia punya rasa yang sama?