
Hujan berhenti seketika kami membuka mata. Mendesah, bahuku
merosot karena kecewa.
Kenapa hujan enggak bisa diajak kerjasama sih.
Berhentinya nantian dong.
Huh, sebal!
"Kenapa?"
Aku menegakkan tubuhku spontan, menggeleng cepat dengan sebuah
senyum.
"Hujannya berhenti. Pulan, yuk!"
Kembali cemberut, aku mengikuti Niko mengambil sepeda.
Kami mampir di sebuah warung kopi pinggir jalan. Membeli segelas kopi jahe hitam dalam wadah gelas
plastik, lalu memilih duduk di pinggir jalan yang terasa sepi akibat ulah hujan tadi.
Aku menyukai bau segar dari hujan dan tanah yang
masih mendominasi. Terasa segar seperti embun di pagi hari.
Menyeruput kopi hangat di cuaca seperti ini begitu terasa nikmat. Apalagi ditemani.
"Dulu, aku sama Kak
Farel juga suka hujan-hujanan, Terus minum kopi di pinggir jalan
sambil ngeliatin bangunan-bangunan yang sama. Kak Farel orangnya serius, yang dia omongin pasti hal-hal aneh."
"Hmm,"balasnya.
"Jadi kangen masa-masa itu."
"Hmm." Lagi.
"Eh, kamu kok tau aku bisa nembak? Aku juga bisa berenang, memanah juga
bisa. Kamu juga suka nembak ya?"
Niko tersenyum miring, menyeruput kopinya lagi, tak berniat membalas.
"Hmm." Cuma itu yang keluar pada akhirnya.
"Ham hem ham hem. Kamu enggak mendadak bisu gara-gara kena hujan kan?"
__ADS_1
Dia tergelak ringan sampai muncul dekik di kedua pipinya.
"Eh, Niko mantan tunangannya Rani! Kamu ketawa, ya?"
"Enggak, Lagi tidur,"candanya. "Jangan panggil aku begitu Nirmala. Kamu juga gak mau kan
kalau dipanggil macem-macem?"
Dia terlihat kesal.
"Siapa dulu yang mulai panggil aneh-aneh. Kamu, kan?"
Dia mendengkus sebal. Giliran aku yang tertawa.
"Lucu deh. Kamu kalau merengut begitu jadi mirip Squidward temennya
Spongebob."
"Squidward siapa?" Pandangan polos. Niko terlihat bingung.
"Jangan bilang kami gak pernah nonton kartun."
Dia menggeleng, Clueless.
"Ya ampun kamu bukan hidup di jaman batu, Niko.
Gimana bisa kamu enggak tau?"
"Itu kan enggak penting. Lagian dari kecil aku mainnya di jalan, emang gak di biasakan nonton TV. Lebih banyak efek negatifnya buat anak-anak."
"Wow. Salut sama orangtua kamu. Tapi kamu
bisa ketinggalan informasi dong."
"Kata siapa? Nggak juga."
"Oke, aku tes."
Aku menarik nafas
secara dramatis.
"Jeng jeng jeng. Siapa nama kucing
tetanggaku?"
Dia menghela nafas jengah. Hafal betul kalau sudah moodku bercanda.
"Doyok."
"Seratus! Selanjutnya, siapa nama penjual jamu depan rumah?"
__ADS_1
Aku menahan tawa.
"Mbok Jamu," jawabnya datar.
"Limaratus! Pertanyaan selanjutnya, Siapa nama temennya Doyok?"
Aku tertawa kecil melihatnya masih meladeni kicauanku.
"Kadir mungkin? Aku boleh minta pilihan enggak? Nanti
dapat satu M, enggak?"
"Gak ada. Pertanyaannya Essay semua. Kamu bukan cuma dapat satu M, tapi tiga M! Menguras, menutup
dan mengubur."
"Emang nyamuk demam berdarah."
"Hahaha, Jawab dulu pertanyaan tadi."
"Ini quiz apa sensus sih sebenernya?"
"Lagi ngelindur kayaknya."
Kami tertawa lepas. Tawaku yang lebih dulu mereda,
memperhatikannya.
Aku tersenyum damba. Imutnya! Jadi pingin
punya lesung pipit juga.
"Kamu imut deh. Ternyata kalau
senyum kamu keliatan manis. apalagi kalau abis potong rambut. Kalau...Eh."
Aku memukul mulutku yang keceplosan. Merutuki diri sendiri. Lagi-lagi kelepasan di saat tidak tepat.
Begoo! Ngapain muji-muji, ntar dia illfeel lagi.
Aku menoleh padanya yang terbatuk karena meminum kopinya dengan cepat. Memeletkan lidah
dan mengipasinya karena efek panas membakar lidah.
Aku tertawa lagi. Ya iyalah, kopi panas di sruput sekali teguk. Niko aneh aja
kelakuannya.
Hidung dan telinganya memerah karenanya.
Dia kemudian bangkit, menuju sepeda, dan kami meneruskan perjalanan pulang yang tertunda.
__ADS_1
***