Kenangan

Kenangan
Flashbac 33-Surat Cinta


__ADS_3

Aku merebahkan diri di kasur queen putih pink bergambar Hello Kitty kesukaanku.


Hari yang melelahkan.


Teringat dengan amplop biru, aku bangkit duduk, merogohnya di dalam tas. Amplopnya warna biru dengan garis border dan pita. Mengeceknya dengan teliti, tidak ada nama pengirimnya.


Aku mengeluarkan kertas binder berwarna pink dari dalamnya.


Tanganku bergetar, dan dadaku serasa membuncah.


Apa ini surat cinta?


Seumur hidup, ini pertama kalinya aku dapat surat cinta. Biasanya juga surat biasa dari sahabat penaku, Kinar Adityosopati di Bogor. Eh, dia gimana kabarnya ya?


Kembali fokus, aku memandangi surat itu, membukanya perlahan. Ada tiga lembar.


Lembar pertama berisi sebuah puisi.


Purnama Rindu


*Kau...


Bibirmu


Senyummu


Tawamu


Menggoda


Manis


Manikmu sewarna madu


Alismu


Kerlipan lentikmu.


Merayu.


Kulitmu.


Putih kekuningan.


Cerah tanpa cela


Selembut bulu.


Aku terbuai.


Kau...


Bersinar


Suraimu


Hitam kecoklatan

__ADS_1


Mendayu-dayu


Indah


Kau yang sempurna


Ketika tiba saatnya, tak ada yang dapat kalahkan cantikmu


Aku berjalan mengangkat dagu


Tak takut terjatuh lagi dengan kelamnya


Karena separuh hatiku telah kembali


Karenamu yang terangi jalanku


Purnama*


Tubuhku langsung panas dingin. Aku bisa melihat pipiku yang memerah terefleksi di dalam cermin.


Tanpa sadar aku mengamati diri. Semua ciri di sana seolah mendeskripsikan diriku.


Manik sewarna madu.


Kulit putih kekuningan.


Surai hitam kecoklatan.


Apa yang dimaksud adalah aku?


Aku mengenyahkan pemikiran itu dan membuka lembar kedua. Isinya coretan-coretan, banyak tulisan dokter yang tak dapat dibaca.


Hati untuk merasa


Pikiran untuk di baca


Dan kepala untuk di pentung pakai kaca


#Kepala bahkan bukan indera. Ah ada apa dengan diriku*.


Aku tertawa, absurd kali-lah. Baris-baris selanjutnya hanya coretan-coretan garis lintang bujur, dan banyak rotasi huruf zigzag. Ini huruf N kah?


Aku jadi ragu, ini bener surat cinta?


Di baris akhir ada sebuah kalimat yang ditulis kecil, aku bahkan harus memicingkan mata untuk membacanya.


Kamu kamu kamu


Aku mungkin tak pandai berkata-kata


Tetapi bolehkah kuakui?


Kalau setiap malam kamu datang di mimpiku


Menjadi dreamcatcher yang membuatku terlelap


Seperti purnama yang bersinar terang, kau mengusik ketenangan gelap yang menyerap senyap

__ADS_1


Sampai mungkin baru kini ku sadari,


aku kini telah jatuh


Deg


Aku tecekat untuk sesaat. Jantungku seketika lupa bernapas, saat aku sadar untuk mengambil napas pun, jantungku berdentuman-dentuman tak keruan, mengusik ketenanganku.


Siapa dia?


Mungkin jawabannya ada di lembar ketiga.


Pupus sudah harapanku, kertas ketiga hanya berisi kertas putih polos. Otakku tak mampu menerka siapa pengirimnya.


Syarif, expert di bidang Sains. Aku tidak tahu apa dia juga pandai membuat puisi.


Memikirkannya membuatku pening, lebih baik aku mandi untuk menenangkan diri. Mungkin air dingin mampu membuatku berpikir jernih.


Setengah jam memanjakan diri, aku dikejutkan dengan pintu kamar yang sedikit terbuka dan... astaga! Ada yang membuka lipatan surat dan menutupnya secara asal.


Aku celingukan melihat kanan kiri bahkan bergegas menutup pintu. Batinku was-was. Ini buruk.


***


Masih kepikiran semalam aku sampai meninggalkan dompet di kelas.


Berjalan tergesa karena meminta the girls menungguku sebentar. Langkahku terhenti seketika, mendapati Niko dan Syarif berdebat tentang sesuatu di bangkuku dan Abel.


Ada apa ya? Mencurigakan.


Mereka kompak berpencar mendapati seseorang memasuki kelas.


Dan benar saja, suratnya menghilang!


Apa mungkin salah kirim? Tidak ada tertanda dari siapa pengirimnya memang, tapi tetap saja membuatku penasaran.


Syarif atau Niko?


Atau mungkin mereka berniat mengirimnya pada orang lain?


Aku menggendikkan bahu, toh itu hanya puisi, meski batinku menolak. Itu bukan hanya.


***


Jum'at pagi, Papa Rasya mengantarku ke sekolah. Sekali lagi membuatku cemas. Tanganku hampir gemetard sejak tadi. Papa terus saja tersenyum cerah tanpa jeda, bahkan sampai kami tiba di sekolah.


"Dek."


Aku gugup. "Hmm."


Beliau terdiam cukup lama. Kukira Papa akan mengatakan hal yang sama," jadi anak yang baik disekolah ya." Tebakanku meleset. Papa mendekat dan memelukku dengan erat.


"Jauhi Niko! Dia berpengaruh buruk buat kamu."


Dan kurasa, aku tau siapa yang masuk ke kamarku semalam.


***

__ADS_1


Tbc....


__ADS_2