Kenangan

Kenangan
Flashback 28-Silent Lover


__ADS_3

Bruakkk!


Tak peduli gebrakanku pada pintu yang mungkin dapat mengejutkan seisi rumah, tapi pemilik kamarnya bahkan hanya mendongak sekilas, kemudian melanjutkan entah merakit kabel-kabel apa di atas ranjang.


Kamar kak Farel memang lebih pantas disebut bengkel, karena perkakas-perkakas, kabel-kabel, alat-alat entah apa, semua kocar-kacir di seluruh penjuru kamar. Dasar anak teknik!


"Jadi, kita musuhan sekarang?"


"Apa sih, Dek? Aku sibuk, jangan ganggu!" balasnya terkesan malas bahkan tanpa repot mendongak ke arahku.


"Aku serius. Kak Farel kan yang ngadu ke Oma? Jawab yang jujur!"


"Elah. Itu lagi. Bukan."


"Jangan bohong! Kenapa semua pada aneh nanyain dia coba?"


Dan jawaban kak Farel sungguh diluar dugaan. "Makanya, kalau ngapel jangan pake ngajak sopir. Ketahuan deh kamu," jawabnya enteng.


Jadi, jadi, jadi... Pak Rudi biang keroknya?


"Sumpah, aku ke rumah Niko, cuma mau nyelesaikan tugas."


"Ya mana kita tahu, kamu sendiri yang main api, pakai bikin skandal segala."


Aku bertambah jengkel dengan olok-olakannya.


"Aku gak ngerti. Aku ini kan cuma jatuh cinta, bukan pake narkoba."


"Sekarang, baru ngaku kamu?"


Kak Farel sudah tak fokus pada pekerjaannya, dia mengirisku dengan tatapan tajamnya, sekaligus mencemooh kebodohanku mengakuinya.


"Ya, aku memang suka sama Niko, trus apa masalahnya?" balasku menantang.


"Oh gitu. Masalahnya cuma satu, Putri Nirmala, kamu masih SMA, belum dewasa untuk menyikapi hal seperti ini. Kamu juga enggak tau apa-apa tentang dia."

__ADS_1


"Ini gak seperti yang kakak kira. Niko itu anak baik-baik, dia gak mungkin berbuat macam-macam." Jangankan begitu, melirikku pun dia enggan.


"Siapa yang bakal jamin? Cuma karena dia pernah nolong kamu? Kalau dia memang anak alim, enggak bakal dia deketin kamu. Kita liat aja, kalau sampai setelah lomba dia tetep ngecengin kamu, itu berarti dia punya maksud tertentu." Kak Farel menatap serius. :Kamu cuma enggak tau aja, kalau, jatuh cinta itu lebih memabukkan dari khamr, dan lebih candu dari narkotika. Ketika kamu terpedaya, cuma penyesalan yang akan kamu terima." Kali ini Kak Farel membalas dengan meledak-ledak.


Aku tertunduk diam. Paham betul kekhawatiran mereka. Aku benar-benar kehabisan kata untuk meyakinkannya.


"Lupain dia. Banyak hal yang lebih penting kamu pikirkan daripada cinta monyet sepihak kamu."


Dadaku jadi sesak memikirkan akan menjauh lagi darinya. Apa aku bisa?


"Aku... aku... akan ngelakuin apapun, tapi tolong jangan suruh aku menjauhi dia, karena aku gak bisa."


Sungguh, semua ini membuatku frustasi. Aku tak tau lagi harus bagaimana. Aku hanya ingin mengungkap kegundahanku.Tak peduli apa yang dipikirkan orang lain, Niko seolah menjadi moodbooster bagiku.


Menjauh darinya, sama dengan membuatku menangis tiap hari. Apalagi rindu, sehari tak bertemu, serasa jauh lima tahun berlalu.


Ah cinta, bisa merubah batu kali jadi batu permata. Ajaib ya. Mengapa aku baru menyadarinya sekarang?


"Sehebat apa sih dia sampai bikin kamu jadi pembantah, huh?" Kak Farel sudah tak memegang kabel-kabelnya dan fokus denganku.


Kak Farel berdecak. "Whatever. Tapi Kakak gak akan bela kamu apa pun yang akan terjadi nanti."


Kami terdiam, dia lalu mendekat dan duduk di sampingku.


"Kemarin, aku udah liat calon Kakak di toko bunga."


Kak Farel sangat terkejut saat aku mengatakannya.


"Bukan dia." Dan tatapannya berubah sedih.


"Jadi, siapa perempuan itu?"


"Dia..."


Menarik napas panjang, kak Farel bercerita dengan ringan sesekali terlihat frustrasi.

__ADS_1


Orang bilang, cinta dapat mengubah orang waras menjadi gila begitu juga sebaliknya. Maka kegilaan apalagi yang lebih romantis seperti diam-diam melakukan hal-hal di luar nalar, mencintai sampai mengakar, merasa cinta tak perlu diungkapkan, karena bukan balasan semata yang diinginkan?


Mencintai dalam diam, dan diam-diam mencintai, itu melelahkan. Lalu, mematri diri hanya pada satu orang. Hanya orang dungu yang melakukan. Tetapi, tanpa sadar, kita mungkin pernah merasakan, pernah melakukan, atau pernah mengalami juga. Meski waktu mengobati dan memudarkan, lalu menghilangkannya dari kenangan.


Hanya orang tak beruntung yang harus mencintai dalam diam. Dan aku tak dapat percaya, The Silent Lover adalah kakakku sendiri, seorang yang digilai banyak wanita!


Dia menatap dengan pandangan menarawang. Matanya berbinar terang, secerah pagi, seperti ada ribuan kupu-kupu terbang, bahkan aku bisa mencium bau harum bermekaran di puncak hatinya. Sekali dia menyebut namanya, "Farah".


Siapakah gerangan?


Seperti rubi merah di tengah lubang meteor, gadis buta yang dapat melihat dunia yang luas bukan hanya dari mata. Nyatanya, orang buta melihat lebih banyak dan merasa lebih peka ketimbang orang normal lainnya.


"Lantas kenapa kakak menerimanya?"


"Masalahnya enggak sesimpel itu."


"Oh, come on! Kakak itu Farel, pembangkang kelas satu! Hello, kamu itu kakaknya Nirmala. Apa kata dunia, kalau Kakak jadi lemah hati begini?!"


"Ini masalah orang dewasa yang enggak akan bisa dimengerti bocah 17 tahun," sindir Kak Farel.


"Apa yang gak aku ngerti? Kalau Kakak bakal milih orang lain dan melepas semuanya. Iya? Kakak punya pilihan. Be brave! Jemput dia dan bertaruh dengan segenap jiwa untuk mendapatkan cinta Kakak. Silent lover cuma untuk orang pecundang yang enggak punya pilihan. Kalah sebelum berperang itu gak masuk jejeran pejuang."


Dia mendengkus lagi. "Dan aku memang enggak punya pilihan," ujarnya pasrah.


Heran. Kak Farel saat ini terlihat begitu menyedihkan di mataku.


"Kemana kak Farel yang oportunity? Cowok tengil yang penuh strategi?" Dia tak menanggapi. "Dan tanpa kakak sadari, kita senasib. Kalau bukan karena terhalang usia, aku mungkin sudah enggak kebanyakan mikir lagi."


Dia masih terdiam. Aku memutuskan keluar dan memberinya waktu berpikir.


"Dapatkan dia, sebelum Kakak menyesalinya!"


Dan gebrakan pintu volume kedua menyusul setelahnya.


Tbc....

__ADS_1


__ADS_2