Kenangan

Kenangan
Chapter 8-Mendung


__ADS_3

Beberapa kali aku melihatnya diam-diam menungguku, namun aku lebih memilih pulang bersama teman-temanku.


Suatu ketika dia berhasil mencegatku.


"Aku sibuk akhir-akhir ini. Maaf." Alasanku yang langsung dipercayainya.


"Baiklah, kapan-kapan ayo main bersama lagi."


Bermain ya. Aku hanya mengangguk dan meninggalkannya. Dia mungkin merasakan perubahanku tapi dia hanya diam.


Rasanya menyakitkan saat tahu bahwa dia tak lebih menganggapku sebagai seorang adik kecil mungkin. Sedangkan aku begitu menggebu-gebu dengan perasaan cinta yang bertepuk sebelah tangan.


Kadang saat ia melihatku bersama pria lain, dia mencegahku, namun aku bebal menolaknya. Aku mungkin telah menyakitinya. Dan ada apa dengan semua aksinya yang seolah merasa cemburu? Aku benar-benar tak memahaminya.


Sampai akhirnya dia benar-benar tak terlihat rimbanya. Aku tak bisa menyangsikan bahwa setiap saat aku menunggunya. Aku ingin ia tetap di sisiku.


Demi Tuhan, dia sudah menikah, Nirmala!


Aku tak pernah menyangka hubungan percintaanku akan berakhir seperti ini.


Aku patah hati. Hari-hariku mendadak diselimuti mendung berkepanjangan. Tak ada senyum, dan Syarif berubah menjadi candu. Aku bahkan diam-diam mencari tahu di mana ia tinggal.


Kurang seminggu mendekati ulang tahunku, Syarif kembalI menampakkan batang hidungnya. Dia mungkin hanya ingin aku tahu dia masih di sana, mungkin setelah dia kembali ke rumahnya bersama istri dan anaknya.


"Jika kamu ada masalah, jangan sungkan untuk bercerita."

__ADS_1


Aku rindu. Sangat merindukannya, tetapi aku menahannya.


"Dengar, Putri. Apapun yang kamu ketahui tentangku tidak semuanya benar."


Aku tertegun. Lalu apa bagian dirinya yang benar selain kenyataan bahwa dia sudah menikah?


"Aku harus pergi. Sampai jumpa."


Aku tidak tahu ada hubungan semacam ini. Kami ini apa? Tak lebih dari sekadar teman.


***


Lagi-lagi Oma memarahiku karena pergi dengan pria. Padahal selama ini Oma fine-fine saja melihat aku dan Syarif.


"Putri Nirmala, Oma peringatkan untuk tidak membawa laki-laki asing ke dalam rumah. Kamu itu sudah dewasa, seharusnya mengerti tentang etika dalam bergaul."


Oma memperingatiku dengan keras, tetapi aku tak lagi peduli.


Dan boom sebuah kenyataan pahit memporak-porandakan hidupku. Awan mendung semakin hitam. Petir kemudian menyambar saat tak sengaja aku mendengar percakapan Mama dan Kak Farel.


"Kita tidak bisa terus menyembunyikan kenyataan itu dari Nirmala, Ma."


"Anak itu belum terlalu kuat untuk menerimanya, Farel."


"Mau sampai kapan?"

__ADS_1


"Kita tidak boleh gegabah memutuskan, ini berbahaya untuk Nirmala."


"Ma...."


"Farel, Mama takut kehilangan adik kamu, setelah kehilangan Papa kamu, Nak."


"Mama, sudah. Papa sudah tenang di sana."


Aku tersentak dengan kenyataan itu. Tubuhku limbung dan aku kehilangan pegangan.


"Tega sekali membohongiku!"


"Nirmala?" Mama terkejut melihatku masuk. Air mataku tak terbendung.


"Kenapa kalian membohongiku!" Kukira aku bisa mempercayai keluargaku. Ternyata mereka sama.


"Nirmala, dengarkan kami. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan."


"Seperti apa! Dengan membuatku hanya tahu di akhir? Aku benci kalian! Aku benci!"


Aku tak ingin mendengar. Lari dari rumah, menembus hujan deras mengikuti kakiku melangkah untuk sampai ke sebuah kontrakan sederhana di pinggir kota.


Lama aku berdiri di sana dalam gigil tubuhku yang basah tanpa alas kaki. Tak berniat untuk sekadar mengetuknya, tetapi entah mengapa kakiku membawaku kemari.


Dan saat pintu dibuka, aku merasa lega.

__ADS_1


Tbc...


__ADS_2