
Mendung yang menggelayut di langit kini berpindah ke wajahnya. Ia
tertunduk lemah, menyeret langkah tak tentu arah. Jiwanya seperti tak
berpijak pada bumi. Masalah pelik yang di hadapinya jelas bukan
sesuatu yang mudah. Dan sepertinya aku tahu penyebabnya.
Dia mengangkat kepala. Pandangan kami bertemu. Menatapku lama,
seolah memberitahuku untuk membaca apa yang berada di balik
kepalanya.
Ia memutus kontak terlebih dulu, lalu berjalan lurus
mengabaikanku. Kemudian duduk pada salah satu bangku taman sekolah.
Aku memperhatikan. Gerakan menutup wajah dengan kedua tangannya. Rasa
bersalah menghantamku dengan keras.
Ini salahku. Dia terlambat karenaku. Seharusnya aku
mengingatkannya, bukan menahannya lebih lama bersamaku.
Bukannya aku tak tahu tentang rencana beasiswa UK yang hendak
ditargetkannya. Ku akui, aku mungkin terlalu egois untuk ukuran
seorang teman yang tak ingin temannya pergi jauh ke negeri orang.
Sekalipun itu hanya alasan di balik alasan yang sebenarnya. Aku hanya
merasa takut akan kehilangannya. Berpikir terlalu jauh, padahal
hubungan kami tak lebih dari sekedar teman.
Penyesalan selalu datang terlambat. Dan kuharap belum sepenuhnya
terlambat.
Aku ingin menghiburnya, menenangkan dan menghapus kesedihannya
Kebahagiaan dan senyumnya adalah penenang bagiku. Kepedihan, dan
kesedihannya adalah lukaku. Membuatnya terluka adalah hal tak
termaafkan. Dan aku melukainya. Apa yang kuperbuat memang tak
termaafkan.
"Kamu boleh pulang Nirmala." Aku terkesiap, tanganku
yang hendak menepuk pundaknya terhenti di udara. Masih mencerna.
Terasa ribuan jarum menusuk diam-diam mendengar nada lirih dari
suaranya.
"Tapi—"
"Leave me alone,"ucapnya pelan.
"Niko, aku--"
"Please,"lirihnya lagi. Aku mengerjap, menahan
ketukan nyeri di ulu hati, juga bulir yang mulai mengaburkan
penglihatanku.
Mencoba mengerti. aku tahu dia butuh waktu sendiri untuk mencerna
semua yang terjadi. Semua ini di luar dari perkiraanku. Kenapa
beasiswa itu begitu berharga baginya, padahal dengan kemampuannya,
dia bahkan bisa mendapatkan yang lebih baik?
Ada alasan dalam setiap perbuatan. Aku hanya tak tahu bahwa
mengusik sesuatu yang kuanggap remeh dan kacangan justru mungkin
besar akibat yang harus di tanggung orang lain karenanya. Aku
menyesali sudah bertingkah kekanakan, ceroboh, dan tidak bijaksana
setiap kali mengambil keputusan. Apalagi ini dia, orang yang paling
tak ingin kusakiti.
"Niko, aku...aku minta maaf."
Aku berjalan memunggungi, mempercepat langkah, dan berlari sebelum
isak dan tangisku tumpah ruah. Meninggalkannya sendiri, berharap, dia
akan mengejarku untuk menjelaskan atau hanya sekedar menenangkan.
Tapi ini bukan drama. Dalam kehidupan nyata, selalu ada sebab dan
__ADS_1
akibat, selalu ada konsekuensi yang harus ditanggung dalam setiap
tindakan.
Dia tak mengejar. Perasaanku dihinggapi rasa takut, bahwa sesuatu
yang kuanggap benar, yang kuyakini akan mendekatkanku padanya, justru
menjadi boomerang yang menjauhkan dan membuatnya semakin sulit
dijangkau.
Meninggalkan perasaanku di sana. Ini bukan akhir. Biarlah. Aku
akan memberinya waktu sampai dia memutuskan.
Hujan kembali bersama kesedihan yang ikut dibawanya. Menyamarkan
tangisku.
Aku mengayuh dengan susah payah. Pandangan yang kabur dan medan
yang licin, turut meyumbang luka fisik yang tak kalah pedih.
Brakkk! Aku terjatuh sekali lagi. Terplanting keras. Kepalaku
terantuk aspal. Tidak ada darah. Hanya berdenyut, juga beberapa
goresan yang masih tak mampu menyaingi luka yang lain. Tetapi, aku
tak peduli. Aku bangkit berdiri dan mengayuh sepedaku lagi. Meski
banyak orang-orang yang mendatangi atau sekedar mengulur tangan
membantu. Aku tak ingin menambah perasaan baru, malu. Cukup benakku
yang semrawut, juga luka-luka yang tak seberapa menggenapi.
Sampai di rumah, aku disuguhi drama pertengkaran. Aku mendengar
suara kak Farel dan Oma.
Semua ini membuatku pening. Entah kenapa begitu banyak adegan
drama yang terjadi hanya dalam waktu sehari.
Bentakan, teriakan, adu nyaring, tak ada yang mau mengalah. Semua
terdengar samar-samar dari luar. Aku meletakkan sepeda asal. Melompat
cepat hendak masuk ke dalam. Terhenti di depan pintu. Mereka di ruang
tamu. Semua orang berwajah muram. Tak ada Papa yang menengahi. Kak
Sentakan, gemeretak gigi yang beradu. Aku tak pernah melihat
Oma semurka itu.
"Dengar, Farel!--"
"Enggak, Oma yang harus dengarkan aku!"
Semua berebut, ingin didengar lebih dulu. Tidak ada yang mau
mendengar, bahkan Mama yang mencoba mencegah perseteruan hanya
dianggap sebagai pajangan. Terakhir, Kak Farel yang mengalah,
mendengarkan Oma berbicara panjang dengan intonasi menggebu-gebu..
"Dia gadis yang membuat Opa kamu meninggal! Apa itu kurang,
untuk membuat kamu berhenti?!--" Aku tersentak dengan perkataan
Oma barusan. Farah yang membuat Opa meninggal?. "--Ayahnya, yang
menyabotase mobilnya. Ibunya ******* yang selalu menggodanya. Opa
kamu tetap bersabar. Tapi apa balasan yang mereka berikan?. Musuh
dalam selimut. Menikung dari belakang untuk mencuri kekayaan. Picik.
Bahkan rela mengorbankananaknya sendiri untuk membunuh orang!!"
Oma berujar dengan mata dan nada penuh kebencian.
Aku menelan ludah mengamati ekspresi gelap dari wajah penuh
dendam. Oma jelas tak kan memaafkan dengan mudah. Kak Farel
mendengkus lelah, tak tahan hendak melontarkan sumbatan yang selama
ini berkerak dari dalam dadanya.
"Pada kenyataannya, gadis itu tidak membunuh siapapun.
Dia juga korban Oma. Dia bahkan harus menanggung rasa bersalah yang
membayanginya seumur hidup, hanya untuk sebuah hal yang bukan
kesalahannya."
__ADS_1
"Dia bahkan sudah berani mencuci otak kamu untuk
menentang keluarga kamu sendiri. Hebat nian ******* itu. Tidak
orangtuanya, anaknya sama saja!"
"Bukan dia, tapi aku yang baru menyadari sekarang, bahwa
gadis itu layak untuk diperjuangkan. Aku tak kan membiarkan Oma
mengganggunya, tidak juga mencelanya. Apapun keputusan Oma, aku akan
tetap pada pendirianku."
"Jika itu yang kamu mau, Oma tidak akan mencegah kamu.
Tapi ingat satu hal, selangkah kamu keluar dari rumah ini, jangan
harap kamu bisa kembali! Kamu bukan lagi bagian dari keluarga ini!"
Sensasi dingin yang menggerayap di punggung. Ekspresi wajah
yang tak pernah kutahu pernah ada, menghias wajah mereka tanpa jeda.
Semuanya terlalu sulit dipercaya. Terlalu banyak luka pada setiap
fakta.
Menutup telinga. Tubuhku semakin menggigil tatkala sebuah
keputusan di ambil.
"Aku keluar. Sekalipun Oma mencoretku dari daftar
keluarga. Satu hal yang pasti, semua itu juga tak dapat menghapus
hubungan darah kita. Aku akan tetap menghargai Oma sama seperti
sebelumnya."
Oma menggeram. "Jangan memanggilku Oma! Kau bukan
cucuku lagi! Silahkan keluar dari rumah ini!"
Semua orang terkesiap. Tak menyangka perkataan itu akan
keluar dari lisan Oma sendiri. Ini tidak benar. Ini semua salah! Aku
tak sanggup menyaksikan lebih jauh. Jeritan histeris Mama terdengar
pilu.
"Jangan Farel. Farel, jangan pergi! Mama mohon, nak.
Fareeell!"
Aku terisak semakin kencang. Kudengar suara langkah kaki
berjalan tergesa ke luar rumah. Raungan Mama tak juga menghentikan
langkahnya. Kak Farel melewatiku. Terseok-seok, aku mengejarnya.
"Kakaaak!" Kucegat lengannya, memeluk punggungnya.
Aku menggeleng cepat. "Jangan pergi! Jangan pergi!"
Dia menghentikan langkahnya. Tubuhnya yang menegang mulai
mengendur Dia membalikkan badan menghadapku. Wajahnya yang syarat
akan luka. Kak Farel tersenyum sendu. tangan kokohnya mengelus kedua
pipiku "Terima kasih. karena kamu menyandarkan kakak pada satu
hal yang penting.
Ingat! Jangan berlarut pada lingkaran
kebohongan. Karena sekali kamu masuk ke dalam, maka tak ada jalan
keluar. Kebohongan kecil hanya akan melahirkan kebohongan yang lain.
Jujurlah pada diri kamu sendiri! Percayalah pada hati kamu! Biar
kebenaran yang membimbingnya. Jujurlah sepahit apapun kebenaran itu.”
Aku masih memeluknya dalam tangis. Dia menghela napas panjang sebelum
melanjutkan perkataannya. “Dengarkan Kakak, Nirmala. Berjanjilah
satu hal. Turuti apapun kata Oma. karena cuma dia yang tau yang
terbaik untuk kamu."
Kak Farel mengurai pelukanku, dia berbalik pergi meninggalkanku.
Menghentikan taksi dan menghilang dengan cepat.
Aku bersimpuh. Tergugu.
__ADS_1
***