Kenangan

Kenangan
Flashback 40-Drama yang Lain


__ADS_3

Mendung yang menggelayut di langit kini berpindah ke wajahnya. Ia


tertunduk lemah, menyeret langkah tak tentu arah. Jiwanya seperti tak


berpijak pada bumi. Masalah pelik yang di hadapinya jelas bukan


sesuatu yang mudah. Dan sepertinya aku tahu penyebabnya.


Dia mengangkat kepala. Pandangan kami bertemu. Menatapku lama,


seolah memberitahuku untuk membaca apa yang berada di balik


kepalanya.


Ia memutus kontak terlebih dulu, lalu berjalan lurus


mengabaikanku. Kemudian duduk pada salah satu bangku taman sekolah.


Aku memperhatikan. Gerakan menutup wajah dengan kedua tangannya. Rasa


bersalah menghantamku dengan keras.


Ini salahku. Dia terlambat karenaku. Seharusnya aku


mengingatkannya, bukan menahannya lebih lama bersamaku.


Bukannya aku tak tahu tentang rencana beasiswa UK yang hendak


ditargetkannya. Ku akui, aku mungkin terlalu egois untuk ukuran


seorang teman yang tak ingin temannya pergi jauh ke negeri orang.


Sekalipun itu hanya alasan di balik alasan yang sebenarnya. Aku hanya


merasa takut akan kehilangannya. Berpikir terlalu jauh, padahal


hubungan kami tak lebih dari sekedar teman.


Penyesalan selalu datang terlambat. Dan kuharap belum sepenuhnya


terlambat.


Aku ingin menghiburnya, menenangkan dan menghapus kesedihannya


Kebahagiaan dan senyumnya adalah penenang bagiku. Kepedihan, dan


kesedihannya adalah lukaku. Membuatnya terluka adalah hal tak


termaafkan. Dan aku melukainya. Apa yang kuperbuat memang tak


termaafkan.


"Kamu boleh pulang Nirmala." Aku terkesiap, tanganku


yang hendak menepuk pundaknya terhenti di udara. Masih mencerna.


Terasa ribuan jarum menusuk diam-diam mendengar nada lirih dari


suaranya.


"Tapi—"


"Leave me alone,"ucapnya pelan.


"Niko, aku--"


"Please,"lirihnya lagi. Aku mengerjap, menahan


ketukan nyeri di ulu hati, juga bulir yang mulai mengaburkan


penglihatanku.


Mencoba mengerti. aku tahu dia butuh waktu sendiri untuk mencerna


semua yang terjadi. Semua ini di luar dari perkiraanku. Kenapa


beasiswa itu begitu berharga baginya, padahal dengan kemampuannya,


dia bahkan bisa mendapatkan yang lebih baik?


Ada alasan dalam setiap perbuatan. Aku hanya tak tahu bahwa


mengusik sesuatu yang kuanggap remeh dan kacangan justru mungkin


besar akibat yang harus di tanggung orang lain karenanya. Aku


menyesali sudah bertingkah kekanakan, ceroboh, dan tidak bijaksana


setiap kali mengambil keputusan. Apalagi ini dia, orang yang paling


tak ingin kusakiti.


"Niko, aku...aku minta maaf."


Aku berjalan memunggungi, mempercepat langkah, dan berlari sebelum


isak dan tangisku tumpah ruah. Meninggalkannya sendiri, berharap, dia


akan mengejarku untuk menjelaskan atau hanya sekedar menenangkan.


Tapi ini bukan drama. Dalam kehidupan nyata, selalu ada sebab dan

__ADS_1


akibat, selalu ada konsekuensi yang harus ditanggung dalam setiap


tindakan.


Dia tak mengejar. Perasaanku dihinggapi rasa takut, bahwa sesuatu


yang kuanggap benar, yang kuyakini akan mendekatkanku padanya, justru


menjadi boomerang yang menjauhkan dan membuatnya semakin sulit


dijangkau.


Meninggalkan perasaanku di sana. Ini bukan akhir. Biarlah. Aku


akan memberinya waktu sampai dia memutuskan.


Hujan kembali bersama kesedihan yang ikut dibawanya. Menyamarkan


tangisku.


Aku mengayuh dengan susah payah. Pandangan yang kabur dan medan


yang licin, turut meyumbang luka fisik yang tak kalah pedih.


Brakkk! Aku terjatuh sekali lagi. Terplanting keras. Kepalaku


terantuk aspal. Tidak ada darah. Hanya berdenyut, juga beberapa


goresan yang masih tak mampu menyaingi luka yang lain. Tetapi, aku


tak peduli. Aku bangkit berdiri dan mengayuh sepedaku lagi. Meski


banyak orang-orang yang mendatangi atau sekedar mengulur tangan


membantu. Aku tak ingin menambah perasaan baru, malu. Cukup benakku


yang semrawut, juga luka-luka yang tak seberapa menggenapi.


Sampai di rumah, aku disuguhi drama pertengkaran. Aku mendengar


suara kak Farel dan Oma.


Semua ini membuatku pening. Entah kenapa begitu banyak adegan


drama yang terjadi hanya dalam waktu sehari.


Bentakan, teriakan, adu nyaring, tak ada yang mau mengalah. Semua


terdengar samar-samar dari luar. Aku meletakkan sepeda asal. Melompat


cepat hendak masuk ke dalam. Terhenti di depan pintu. Mereka di ruang


tamu. Semua orang berwajah muram. Tak ada Papa yang menengahi. Kak


Sentakan, gemeretak gigi yang beradu. Aku tak pernah melihat


Oma semurka itu.


"Dengar, Farel!--"


"Enggak, Oma yang harus dengarkan aku!"


Semua berebut, ingin didengar lebih dulu. Tidak ada yang mau


mendengar, bahkan Mama yang mencoba mencegah perseteruan hanya


dianggap sebagai pajangan. Terakhir, Kak Farel yang mengalah,


mendengarkan Oma berbicara panjang dengan intonasi menggebu-gebu..


"Dia gadis yang membuat Opa kamu meninggal! Apa itu kurang,


untuk membuat kamu berhenti?!--" Aku tersentak dengan perkataan


Oma barusan. Farah yang membuat Opa meninggal?. "--Ayahnya, yang


menyabotase mobilnya. Ibunya ******* yang selalu menggodanya. Opa


kamu tetap bersabar. Tapi apa balasan yang mereka berikan?. Musuh


dalam selimut. Menikung dari belakang untuk mencuri kekayaan. Picik.


Bahkan rela mengorbankananaknya sendiri untuk membunuh orang!!"


Oma berujar dengan mata dan nada penuh kebencian.


Aku menelan ludah mengamati ekspresi gelap dari wajah penuh


dendam. Oma jelas tak kan memaafkan dengan mudah. Kak Farel


mendengkus lelah, tak tahan hendak melontarkan sumbatan yang selama


ini berkerak dari dalam dadanya.


"Pada kenyataannya, gadis itu tidak membunuh siapapun.


Dia juga korban Oma. Dia bahkan harus menanggung rasa bersalah yang


membayanginya seumur hidup, hanya untuk sebuah hal yang bukan


kesalahannya."

__ADS_1


"Dia bahkan sudah berani mencuci otak kamu untuk


menentang keluarga kamu sendiri. Hebat nian ******* itu. Tidak


orangtuanya, anaknya sama saja!"


"Bukan dia, tapi aku yang baru menyadari sekarang, bahwa


gadis itu layak untuk diperjuangkan. Aku tak kan membiarkan Oma


mengganggunya, tidak juga mencelanya. Apapun keputusan Oma, aku akan


tetap pada pendirianku."


"Jika itu yang kamu mau, Oma tidak akan mencegah kamu.


Tapi ingat satu hal, selangkah kamu keluar dari rumah ini, jangan


harap kamu bisa kembali! Kamu bukan lagi bagian dari keluarga ini!"


Sensasi dingin yang menggerayap di punggung. Ekspresi wajah


yang tak pernah kutahu pernah ada, menghias wajah mereka tanpa jeda.


Semuanya terlalu sulit dipercaya. Terlalu banyak luka pada setiap


fakta.


Menutup telinga. Tubuhku semakin menggigil tatkala sebuah


keputusan di ambil.


"Aku keluar. Sekalipun Oma mencoretku dari daftar


keluarga. Satu hal yang pasti, semua itu juga tak dapat menghapus


hubungan darah kita. Aku akan tetap menghargai Oma sama seperti


sebelumnya."


Oma menggeram. "Jangan memanggilku Oma! Kau bukan


cucuku lagi! Silahkan keluar dari rumah ini!"


Semua orang terkesiap. Tak menyangka perkataan itu akan


keluar dari lisan Oma sendiri. Ini tidak benar. Ini semua salah! Aku


tak sanggup menyaksikan lebih jauh. Jeritan histeris Mama terdengar


pilu.


"Jangan Farel. Farel, jangan pergi! Mama mohon, nak.


Fareeell!"


Aku terisak semakin kencang. Kudengar suara langkah kaki


berjalan tergesa ke luar rumah. Raungan Mama tak juga menghentikan


langkahnya. Kak Farel melewatiku. Terseok-seok, aku mengejarnya.


"Kakaaak!" Kucegat lengannya, memeluk punggungnya.


Aku menggeleng cepat. "Jangan pergi! Jangan pergi!"


Dia menghentikan langkahnya. Tubuhnya yang menegang mulai


mengendur Dia membalikkan badan menghadapku. Wajahnya yang syarat


akan luka. Kak Farel tersenyum sendu. tangan kokohnya mengelus kedua


pipiku "Terima kasih. karena kamu menyandarkan kakak pada satu


hal yang penting.


Ingat! Jangan berlarut pada lingkaran


kebohongan. Karena sekali kamu masuk ke dalam, maka tak ada jalan


keluar. Kebohongan kecil hanya akan melahirkan kebohongan yang lain.


Jujurlah pada diri kamu sendiri! Percayalah pada hati kamu! Biar


kebenaran yang membimbingnya. Jujurlah sepahit apapun kebenaran itu.”


Aku masih memeluknya dalam tangis. Dia menghela napas panjang sebelum


melanjutkan perkataannya. “Dengarkan Kakak, Nirmala. Berjanjilah


satu hal. Turuti apapun kata Oma. karena cuma dia yang tau yang


terbaik untuk kamu."


Kak Farel mengurai pelukanku, dia berbalik pergi meninggalkanku.


Menghentikan taksi dan menghilang dengan cepat.


Aku bersimpuh. Tergugu.


 

__ADS_1


 


***


__ADS_2