
"Ah, aku jadi ingin es krim," ujarnya.
Niko beranjak meninggalkanku sendiri setelah haru biru kisahnya, juga perseteruan kecil kami.
Aku heran, kenapa rasanya tiada hari tanpa berdebat dengannya. Dia yang memang menyebalkan. Seperti selalu mengulik masalah sepele yang tak penting. Namun, sangat menyenangkan untuk tak dilewatkan.
Kulihat dia berbicara dengan penjual es krim sambil tertawa.
Ah, dia tertawa.
Sesuatu dalam diriku menghangat melihat tawa itu.
Kejengkelanku langsung sirna seketika.
Buru-buru kualihkan pandanganku. Dan aku justru menyaksikan hal menyedihkan.
Aku melihat seseorang gelandangan yang kumuh merangkak hati-hati mendekati sebuah minimarket yang tadi kami datangi. Pria itu mencuri beberapa roti di dekat pembuangan sepertinya sudah melebihi expired date. Rasa iba mau tak mau bergumul di benakku. Aku hendak membantunya. Anehnya, begitu melihatku, pria itu langsung bangkit dan berlari secepat kilat.
Aku masih bisa melihat jelas. Ada tanda di pundak pria itu yang terbuka karena bajunya yang penuh lubang dan kotor.
Eh. Apa aku baru saja melihat tanda?
Niko datang memecah lamunanku. Anak itu menyodorkan bungkusan es krim, dan kembali menelisik ke arah bawah tanah. Mungkin saja ia akan menemukan sesuatu yang berguna.
Aku membuka bungkus es tersebut. Wajahku berubah kembali memanas.
Es krim berbentuk hati. Apa dia bergurau?
Beruntung, tempat kami berdiri tak ada cukup penerangan, sehingga ia tak dapat melihat pipiku yang sudah seperti habis ditampar, merah muda.
Ah, apa yang kupikirkan sih?!
Hampir saja aku lupa. Orang tadi, dari seribu kemungkinan orang yang memiliki bekas luka di pundak, bukankah masih ada kemungkinan Reno salah satunya, apalagi ini tempat yang kami selidiki.
"Niko!"
Kulihat dia masih sibuk mencari-cari sambil sesekali mencecap es krimnya.
"Hmm?" gumamnya.
"Aku rasa aku melihat Reno," kataku pelan.
Dia menoleh ke arahku. Ekspresinya tak terlihat jelas karena penerangan yang buruk, dan sepertinya dia terkejut.
"Di mana?"
"Tadi aku melihat seorang berpakaian lusuh dan dia mengenakan topi. Pakaiannya sobek, terlihat jelas di pundaknya terdapat tanda. Aku tak tahu apa itu benar atau-"
"Kapan kamu melihatnya? Kemana orang itu pergi?" potongnya segera.
"Ke-ke arah sana. Tadi, ketika kamu bicara dengan penjual es krim," jawabku cepat, karena Niko langsung berlari ke arah gorong gelap yang kutuju.
Naasnya, yang kami temui hanya tembok besar batu bata yang licin dan menghijau karena lumut.
"Huuf. Bagaimana bisa kamu melepasnya begitu saja?!"
Wajahnya terlihat kecewa.
"Ma-maafkan aku," ujarku, menyesal.
__ADS_1
Dia menghela napas kesal. "Ayo kita pulang saja, ini sudah terlalu larut."
Aku tahu dia pasti kesal padaku, tapi aku merasa sungguh bingung tadi. Dan Ini masih jam delapan, belum terlalu malam, dan masih tersisa banyak waktu sebelum patroli pelajar di jam sepuluh.
Aku hendak berbalik ketika kukihat ada sepasang mata biru nyalang bercahaya menatap kami. Mahluk kecil berbulu itu berlalu masuk melewati dinding.
Bukan. Itu bukan hantu yang dapat menembus dinding. Tapi di sana memang ada sedikit celah.
Aku berseru girang. Niko berdecak berkata aku kekanakan bersuara senyaring itu di tengah pencarian.
"Ada apa lagi?" tanyanya, malas.
"Lihat, ada sedikit celah di sana!"
Niko berjalan menghampiri dan mendekat ke temoat yabg kutunjuk. Memang ada jalan kecil di sana.
"Benar ternyata."
Huuf, akhirnya. Ah, aku jadi merindukan Bluffy sekarang. Tak ku sangka mahluk sejenisnya justru membantu kami.
Tanpa aba-aba, Niko mulai masuk dan berjalan miring layaknya kepiting. Tak seberapa dalam, kami telah sampai di pekarangan yang ternyata pintu belakang dari gedung tua yang tak terpakai.
"Nirmala, siapa yang menyuruhmu ikut masuk ke dalam?!"
Niko berkacak pinggang, menatapku geram.
"Tapi ini sudah setengah jalan. Semakin banyak orang semakin mempermudah pencarian, bukan? Lagi pula aku takut harus pulang sendiri."
Anak itu mendengkus sebal. Aku tak peduli. Bukankah aku yang menemukan jalan ini? Dia pikir dia siapa mengganggu investigasiku!
Beberapa langkah memasuki, mata kami selalu waspada juga mencari.
"Ini. Kita mungkin akan membutuhkannya. Aku sudah memperingatkan kamu. Jika terjadi apa-apa, itu bukan urusanku. Gunakan sebaik mungkin, dan jaga diri kamu sendiri!"
Aku manatap benda itu hingga tak sadar Niko telah berjalan lebih dulu.
Bangunan tua itu sudah lama tak terurus. Debu dan sarang laba-laba mengabut di sekitar kami. Kami melalui jalan yang telah sedikit lega karena sarang yang telah ditebas, menandakan jalan yang sudah pernah dilewati orang lain.
Tak jauh pandang, seseorang tengah meggerogoti roti busuk yang diambilnya tadi dengan rakus. Tanpa sadar, aku memegangi lengan Niko sejak tadi. Dia menepisnya dengan risih ketika sadar.
"Itu dia," bisikku.
Niko mempertajam matanya. Orang tersebut tak memakai topinya. Tapi aku tak dapat mengenali Reno, karena aku bahkan belum pernah mengenalnya secara personal. Mungkin aku pernah melihatnya, tapi juga tak terlalu paham.
Niko berjalan perlahan, semakin lama semakin melebarkan langkahnya, semakin cepat, dan berlari ke arah pria itu.
Orang itu mendelikkan matanya. Ia berdiri dengan tergesa menyadari derap langkah musuh memasuki wilayahnya.
Tubuhnya menjulang tinggi. Aku rasa sedikit lebih tinggi dari Niko. Tampak Kurus, otot lengannya menonjol karena sobekan di beberapa bagian. Matanya mengkilat menampakkan ketakutan. Aku dapat melihatnya meski minimnya penerangan yang hanya teremangi oleh cahaya bulan dari lubang pintu dan jendela.
Dia berjalan terhuyung-huyung. Niko tak kalah cepat, hampir saja ia dapat menangkap ujung pundaknya, ketika dengan gerakan gesit pria itu berlari tergopoh gopoh, lalu kembali stabil.
Kuputuskan mengikuti keduanya. Melewati runtuhan ruang-ruang tembus tak berpintu, tangga-tangga berkarat, belokan-belokan bersiku.
Aku mengurangi kecepatan ketika kudengar bunyi dering ponsel dan sepertinya bukan milikku. Niko yang berada di depanku mengangkat jamnya dan melakukan sesuatu dengannya, masih menjaga konstan larinya.
Jam? Aku tak tahu dia punya smartwatch. Ah, dia kan punya toko elektronik, dia pasti punya hal seperti itu kan?
Aku tak memanjakan pertanyaannku dan berlalu mempercepat langkah lariku kembali.
__ADS_1
***
Entah sudah sejauh mana kami berlari. Rambut dan seragam almamaterku telah basah dengan peluh. Perutku sakit, nafasku menderu, kakiku sudah tak kuat lagi berlari.
Kedua orang di depanku pun tak jauh beda dengan keadaanku.
Melihat kesempatan, Niko bergegas meringkusnya. Memelintir lengannya, mendampratkan tubuhnya ke dinding. Pria itu meronta, tapi kekuatannya kalah saing dengan si ingenuo yang sepertinya lebih mahir dalam pergulatan.
"Reno, gue bilang berhenti! Ini gue, Niko!"
Pria itu berhenti meronta. Ia memiringkan kepalanya ke arah belakang mencoba memastikan.
Niko melepas kunciannya, ketika dirasa anak itu telah cukup tenang.
Pemuda itu membalikkan tubuhnya. Sekali lagi kulihat matanya mengkilap penuh harap. Niko memberi anggukan dan sebuah senyuman hangat.
Reno memeluknya, menggumamkan desah kelegaan dan isakan. Sangat mengharukan menurutku, aku bahkan hampir saja menangis tadi.
Reno melepas pelukan singkatnya. Ia meletakkan tangan-menutupi wajahnya frustrasi. Tak ada kata, hanya suara pilu yang semakin menjadi. Pemuda itu menjatuhkan diri berlutut ke lantai. Kami merasa prihatin dengan keadaannya. Niko turut berlutut menepuk pundaknya, untuk menyalurkan kekuatan dan ketenangan.
"Sudahlah, Ren. Kita harus segera pergi dari sini."
"Gue gak bisa."
"Reno. Semua sudah menunggu kamu. Teman-teman, ibu kamu, semua orang menunggu kamu. Ayo, kita harus pergi!"
"Gue gak bisa. Gue... udah bunuh orang."
Aku tersentak tak percaya. Kukira ini hanya kecelakaan yang melibatkannya dan dia bersembunyi. Takut dituduh berasalah hanya karena berhasil selamat.
Aku baru tahu bahwa masalahnya akan sepelik ini. Niko tak menampakkan ekspresi kejut. Aku bisa menebak bahwa ia sudah tahu sejak awal.
"Itu bukan kesalahan kamu, Ren."
Reno menatap Niko. Dia menyeka kabut yang menghalangi pandangannya. Air mata terus keluar tanpa kontrol.
"Tapi, gue yang salah."
"Lalu?"
Reno menautkan alisnya. Bingung mungkin. Lalu? apa maksudnya?
"Apa kamu akan terus bersembunyi dan menjadi buronan padahal kamu gak bersalah? Ren, ini kayak bukan diri kamu. Kamu yang selalu bilang untuk menghadapi masalah. Kamu, si ember tahan banting akan menyerah hanya karena hal ini? Ayo bangkit Reno! Di balik semua orang jahat itu, masih ada orang-orang yang menyayangi kamu. Kami akan selalu mendukung kamu. Kami, percaya kamu gak salah. Jangan bikin dunia berakhir lebih cepat cuma karena ini, Ren."
Aku mungkin akan memberikan standing ovation atas kata-kata motivasi dari sang orator ulung di dekatku ini. Karena Reno bahkan langsung bangkit menghapus sisa air matanya, menatapnya dan tersenyum meski ada sedikit kegetiran di sana.
Diam-diam aku turut tersenyum melihat kejadian manis ini.
Niko merangkul pundak Reno, membimbingnya berjalan kembali ke arah kami pergi tadi, dan aku mengikutinya di belakang.
Krieeet Krieeet....
Kami terhenti sejenak. Mencoba mendengar dengan jelas suara yang mengusik pendengaran kami. Bunyi layaknya goresan-goresan di dinding. Semakin lama semakin dekat terdengar semakin pilu. Deritnya membuatku menutup telinga.
Kami berbalik secara serempak dan terlonjak dengan kengerian.
Bunyi itu....
***
__ADS_1
* Polyglot : seseorang yang menguasai beberapa bahasa.