Kenangan

Kenangan
Chapter 12-Garis Dua


__ADS_3

Aku benar-benar akan melupakannya, tekadku kian membara.


Syarif harus tahu aku tidak main-main dengan ucapanku. Dengan kenyataan bahwa Rani adalah istrinya dan anak itu anaknya, akan lebih mudah untukku menjauhinya.


Syarif juga semakin jarang berada di depan rumahku, meski kadang aku masih melihatnya.


Setelah meradar depan rumah, tidak ada tanda-tanda kedatangan Syarif, aku memilih menaiki sepeda.


Ini hari Minggu, Iriana mengajakku menghabiskan weekend bersama. Dari arah yang sama aku melihat sebuah mobil menjajariku, bahkan memelankan lajunya. Kaca mobilnya perlahan terbuka. Aku langsung mengenali pengemudinya.


"Hai, Putri Nirmala."


"Apa?" sahutku ketus.


"Ketus amat. Mau ke mana?"


"Jangan ganggu."


Pria itu malah tertawa. "Aku akan tunggu kamu di persimpangan sana, Oke." Pria itu melajukan mobilnya lebih cepat.


Sungguh, aku merasa kurang nyaman dengan perlakuan manis Syarif selama ini. Bukannya aku tidak menyukainya, hanya saja dia terlalu tampan, baik, dan sangat manis. Wanita mana pun yang diperlakukan baik oleh pasti akan salah paham. Ya, Syarif yang ini sangat berkebalikan dengan pria berengsek, manusia es, kaku, dan tidak peka.


Selama ini Syarif yang lain diam-diam memperhatikanku. Misalkan saja ketika aku mendapat kesulitan, entah itu untuk mengerjakan tugas mau pun hal sesepele tidak kebagian buku referensi.


Ketika aku melupakan makan, kadang ada beberapa teman yang tiba-tiba mengantarkanku makan berdasarkan suruhannya.


Berarti dia selama ini begitu memperhatikanku. Jujur, aku merasa takut dengan semua perlakuannya. Aku takut mengecewakannya, juga akan menyakitiku nantinya. Mau tak mau aku harus mengatakan yang sesungguhnya kepadanya.


Saat aku sampai di tempat janjian dengan Iriana, Syarif kembali menghampiriku. Entah dari mana dia tahu, aku berjanjian dengan Iriana di kafe Minum.


"Begini Syarif, Iriana adalah sahabatku. Aku tidak mau kamu menjadi perpecahan di antara kami."


"Perpecahan? Tenang saja, aku akan menjelaskannya dengan baik-baik." Syarif menatapku dengan yakin. "Aku mempertaruhkan hal besar di sini Putri. Aku benar-benar mencintai kamu. Untuk sekali ini jadilah milikku"


Aku menatapnya tanpa berkedip. Pernyataan cinta yang lainnya. Hanya mengingatkanku pada orang itu. Syarif memiliki lebam dipelipisnya setelah mengamatinya dengan jeli.


"Kamu berkelahi?"


"Apa?"


"Itu." Aku menunjuk ke arah pelipisnya. "Apa kamu sudah mengobatinya?"


Syarif malah tertawa. "Kamu khawatir? Kamu tahu, ketika kamu khawatir itu tandanya kamu mulai menyukai seseorang."


Aku terperangah mendengar teori Syarif. "Aku khawatir karena kamu sudah baik padaku."


"Begitukah?"

__ADS_1


"Tentu saja."


Iriana memanggilku heboh dari kejauhan. Wajahnya berubah, sewaktu melihat Syarif dduduk di depanku.


"Putri, kamu gak bilang ngajak Kak Syarif juga." Irian terlihat canggung dan malu-malu di dekat pria itu.


"Aku--"


"Silakan duduk, saya yang traktir kalian."


"Serius?" Irian bersorak girang dan segera memesan.


Aku terdiam saja menatap Syarif yang cengengesan. Tak menunggu lama, pesanan kami datang. Iriana memesan ayam bakar madu, Syarif memesan nasi goreng jawa.


"Putri kamu gak makan apa itu? Yakin gak mau ayam bakar?"


"Perutku gak enak mau makan yang berlemak, Ir. Baunya bikin aku mual."


"Perut kamu gak enak, tapi kamu malah milih rujak. Kamu lagi diet?"


"Lagi pengen aja."


"Memang kamu udah makan pagi tadi?"


Saat itu pelayan datang menginterupsi, mengantarkan pesanan minumanku yang tertinggal.


"Gak usah berlebihan gitu."


"Put, kamu aneh. Kamu paling benci jus durian. Jangan diminum!"


Iriana merebut gelasku, lalu meminumnya sampai tandas. Aku mengerang kesal.


"Apa yang salah dengan jus durian?"


"Kamu tuh kayak orang ngidam aja." Syarif dan aku langsung menatap Iriana yang seolah mengucapkan hal paling aneh di dunia. Syarif yang hanya mengikuti percekcokan kami justru beralih menatapku lekat. "Kamu pasti lagi taruhan untuk melawan hal yang kamu benci, kan? Hayo ngaku! Aku udah nyelametin kamu nih."


Aku menghela napas dan diam saja dengan celotehan Iriana. Kepalaku seolah tercekat secara mendadak. Aku menyadari sesuatu yang salah.


Merasa risih dengan tatapan intens Syarif yang juga tak beranjak dari memandangku, aku permisi hendak menggunakan toilet.


Tubuhku merespon gugup ketika aku membuka aplikasi penaggalan pada ponsel. Benar, bulananku sdah terlambat tiga hari.


Tidak. Ini masih wajar karena aku sering terlambat selama lima hari. Ya, ini wajar. Aku meyakinkan diriku, mencuci tangan dan membasuh wajah di watafel. Dering ponselku brbunyi. Nomor anonim tanpa nama. Aku mengangkatnya.


"Putri, tolong temui aku."


Aku memutus sambungan tanpa mendengar lebih lanjut. Dadaku seperti hendak melompat karena ketakutan. Dia tidak boleh tahu. Syarif tidak boleh tahu. Semua ini belum tentu benar. Aku harus merahasiakannya sampai waktu yang tepat.

__ADS_1


***


Hari berikutnya rasa tak nyaman justru lebih parah dari kemarin. Aku tidak bisa menahan gejolak rasa ingin muntah dan mendadak tubuhku sangat lemas. Aku mengira hanya masuk angin karena sempat begadang menyelesaikan tugas.


Tepatnya seminggu kemudian, aku mulai khawatir. Pikiranku berkecamuk. Dilema antara memastikan atau tidak. Kuputuskan untuk mampir ke apotek, meski aku sendiri tak yakin apa yang kupikirkan benar.


Saat sampai di rumah, aku menyembunyikannya di dalam tas. Memegang tasku dengan erat.


Oma memanggilku, hendak berbincang sebentar. Dengan gugup aku menurutinya. Ini tidak akan lama karena sebentar lagi adalah waktu Oma meonton acara kesukaannya.


Di ruang tengah, di depan tv yang dibiarkan menyala, Oma memintaku memilih gaun yang akan ia hadiahkan, mengingat MaMon akan berulang tahun tak lama lagi. Kami sibuk memilih dan akhirnya memutuskan satu gaun yang tidak terlalu ramai namun tetap modis dan elegan.


 


Aku memilih mengutak-atik saluran TV sembari mendengar Oma berceloteh tentang Ana yang begitu manja padanya untuk menyamarkan kegugupanku.


Berita di TV menayangkan bayi yang ditemukan di tempat sampah. Telah diketahui motif pelaku yang merupakan ibunya adalah salah satu mahasiswi fakultas A akibat hamil di luar nikah bersama pacaranya yang merupakan salah satu dosen di kampusnya.


Oma menggerutu kesal, mendadak tertarik pada berita yang kutonton. Tubuhku serta merta menegang.


"Anak jaman sekarang sama sekali enggak bertanggung jawab. Berani berbuat enggak berani bertanggung jawab. Kalau memang mau melakukan harusnya mau menanggung konsekuensinya."


Aku tertegun. Meremas rokku dan menggigit bibir dalamku.


"Oma, kalau, kalau seandainya di keluarga kita ada perempuan yang hamil di luar nikah, bagaimana? Ini, ini seandainya saja."


Oma menengok ke arahku sebentar, lalu kembali menekuri katalog busana yang dibacanya. "Oma tidak bisa menoleransinya. Itu kesalahan fatal. Oma mungkin akan mengusirnya jika itu terjadi. Tapi naudzubillah semoga jangan sampai terjadi di dalam keluarga kita."


Wajahku semakin pias mendengar keputusan Oma. Aku pamit hendak istirahat setelahnya. Tubuhku lunglai menaiki tangga. Harusnya tidak seperti ini. Aku toh belum tahu kebenarannya.


Sore itu kepalaku dipenuhi dengan asumsi. Aku mencari beberapa informasi yang tampak semakin membuatku kalut. Semua tanda-tandanya mengindikasikan hal yang tak kuinginkan.


Alarm berbunyi tepat pukul tiga pagi. Aku terjaga dari tidur dalam posisi menumpu tangan di atas meja belajar. Tadi malam kuputuskan membaca apa saja, supaya bisa terlelap tanpa memikirkan hal-hal di luar sangkaanku. Aku bergegas ke kamar mandi, mengeluarkan lima alat dengan berbagi merk. Dari yang kubaca, urin pagi lebih menjamin hasil yang akurat.


Aku menunggu dengan harap-harap cemas. Memejamkan mata, takut dengan kenyataan yang bisa saja menjungkirbalikkan hidupku dalam sekejap.


Tanganku gemetar saat kali itu membuka mata, dua garis muncul. Aku mengecek kembali keterangan yang tertera pada kotak. Satu berarti negatif, dua berarti positif.


Dan ucapan Syarif kembali terngiang di benakku.


"*Sesuatu?"


"Misalkan... kamu terlambat datang bulan*."


Aku jatuh bersimpuh ke lantai yang dingin. Rasa takut menjalar sedemikian hebat. Aku menahan teriakan dengan membekap mulutku sendiri.


Apa yang harus kulakukan?!

__ADS_1


Tbc....


__ADS_2