
Bibir yang terus melengkung, cuaca yang mendukung, dan jalanan menikung serasa ribuan kaki lebih menyenangkan jauhnya di banding hari lain.
Kenapa lagi, kalau bukan karena si doi.
Bersepeda bersama dengan jarak hanya beberapa centi, susahnya bikin mupeng sendiri.
Kenapa sih harus ada manusia--si doi yang wanginya ngalahin bunga kesturi.
"Gimana kalau kita lomba? Siapa yang sampai duluan, dia menang. Dan yang kalah harus mengabulkan satu permintaan."
celetukan khas Niko membalikkanku pada kenyataan.
Dia terlihat sangat riang dengan tantangannya barusan.
"Aku gak setuju," kataku, sengaja menggodanya. Senyumnya langsung pudar berganti wajah datar. Ngegemesin gak sih?
"Gimana kalau gini. Siapa yang sampai paling terakhir, dia yang menang, dan yang menang harus ngabulkan satu permintaan."
Aku terkikik mendapati wajah jengkelnya. Dia memutar bola mata.
"Itu samaaa, cuma beda kata. Dasar beo! Jadi deal nih?"
"Hihihi. Siap Om Jin."
Aku mengangkat tangan dan menirukan gerakan hormat ke kepala.
"Kita liat aja siapa yang bakal jadi Aladdin dan siapa yang bakal jadi Om Jin," ujarnya percaya diri.
"Wokeh. Siapa takut."
Jangan kira Nirmala bakal ngalah. Kendatipun si doi pemilik hati, tapi Nirmala juga punya nyali. Belum tau dia siapa Nirmala. Huh.
Kami memulai start tanpa pemandu, atau juri yang menilai.
Lomba balap sepeda dadakan kejuaran Internasional ala Niko-Nirmala mencuri beberapa perhatian pengendara lain.
Aku merasa terlalu banyak menatapnya. Menyusul untuk bisa menatapnya, mempercepat intensitas kayuhanku untuk menatapnya, menabrak pohon karena menatapnya. Untung gak parah jatuhnya.
Dia menertawaiku, tidak mengulurkan tangan ataupun berbalik setidaknya membantu.
Ngeselin! Awas aja dia!
Aku bangkit sendiri, membersihkan pakaian, Tidak ada luka, cuma sedikit goresan kecil di tangan, dan mengayuh sepeda kembali. Aku tersenyum mendapatinya memelankan laju untuk menungguku.
Berapa kali manik kami adu pandang, dengan senyum dan seringai jahil tersungging di bibirnya. Dan selalu punya efek yang sama padaku. Merinding. Dalam artian berbeda tentunya.
Jalanan yang sedikit lenggang mempermudah perlombaan kami. Kami sampai dengan selamat. Niko keluar sebagai pemenang, karena aku sudah kehabisan tenaga beberapa meter sebelumnya. Tenaga cowok sama cewek beda kan? Jadi, wajar aja kalau aku kalah, lebih tepatnya mengalah.
Ehem. Alasan sih. Hihihi.
Diam-diam mengamatinya. Peluh yang bergilir dari rambut basah ke hulu dahi ke hilir dagunya jatuh melewati jakun leher jenjangnya, bergulir jatuh ke dada. Efek visualisasi adiktif di sampingku, tanpa sadar merenggut detak dan napasku hingga terhenti dalam beberapa detik.
Niko yang tak sadar diamati, menyugar rambutnya ala cover boy majalah gadis. Dia bersorak girang dengan senyum lebar selayaknya anak kecil yang mendapat permen gratis.
Niko sarapan apa tadi ya? Kok makin cakep tiap detik. Haish, pikiranku!
"Wahai, Aladdin. Om Jin mengaku kalah, Jadi akan kukabulkan satu permintaanmu."
__ADS_1
Dia tersenyum(lagi).
Menahan nafasku (lagi). Aku mengalihkan pandanganku, bisa-bisa aku anfal di sini kalau terusan enggak bisa napas begini.
"Tapi jangan yang mahal-mahal yah," lanjutku memperingatkan.
Dia mendengkus tampak tersinggung. "Aku gak minta kamu beli sesuatu kok."
"Terus?" tanyaku, masih enggan menatapnya.
"Rahasia. Udah buruan anak-anak sudah datang kan?"
Aku mengangguk saja. Dia melangkah lebih dulu. Di belakangnya aku sibuk menghirup napas dan menenangkan debaran jantungku.
Kami bertemu teman-teman yang lain di entrance. Sekitar 5 orang, empat anak cewek dan satu anak cowok.
Pertemuan dengan teman-teman hanya untuk menghitung jumlah kami. Semua berpencar dengan kesenangan masing-masing.
Dan aku bersama dengan Niko yang aneh bin ajaib selalu tertarik pada sesuatu yang sama, disatukan untuk berkeliling bersama-sama.
Entah apa ini yang kuinginkan, tapi bagaimana kalau nanti beneran pingsan di tengah jalan, diinjek-injek di tengah keramaian, trus di buang sama tukang bersih- bersih karena di kira sampah masyarakat? Kok jadi ngawur sih.
Dugaanku keliru besar. Kami begitu menikmati jalan-jalan berfaedah kami, ilmu-ilmu yang tersebar di sana-sini. Dari mulai penemuan-penemuan terkini, seminar, kontes robotic dan sebagainya.
Niko tak lepas dari note tabnya, menyimak penuturan ataupun menuliskan kesimpulannya dari mengamati. Event ini semakin dimeriahkan dengan adanya bazaar dan festival seni yang menanti di luar gedung.
Satu setengah jam berkeliling, setelah membeli beberapa makanan kecil untuk branch, kami memutuskan istirahat di foodcourt terdekat.
Niko datang membawa minuman dingin. Aku meneguknya dengan rakus, mengusap bekas di bibir dengan lengan baju.
Dia tampak geli dengan kelakuanku. Aku jadi malu sendiri.
Aku berdehem untuk mencairkan suasana canggung yang kubuat sendiri."So, apa yang mau kami minta Aladdin?"
Niko menyudahi acara minum ala bangsawannya. Soalnya dia minum seperti pewaris kerajaan, anggun, sopan dan sama sekali tak ada bekas minuman menyerembet dari bibirnya.
Iyalah, dia kan pakai sedotan. Hihihi.
Dia tampak berpikir dalam, menggigit bibirnya sebelum menghela napas. "Mmm. Nanti deh," katanya. Dan kalau aku tak salah lihat, pipinya bersemu.
Dia blushing?
Menekan rasa penasaranku, aku mengabaikan topik yang sepertinya sedikit misterius tadi.
Mengalihkan dengan bincangan sedikit melenceng dan tak fokus.
Serius, dia bikin aku penasaran setengah mati.
Tak lama, aku memutuskan melihat-lihat beberapa souvenir dari beberapa pedagang kecil di luar gerbang.
Niko mengikuti. Pasalnya, anak-anak tadi tak ada nampak batang hidung sama sekali.
Selesai memilih beberapa jepitan rambut yang kurasa imut dan unyu, Niko mengajakku kembali ke parkiran, mungkin anak-anak sudah menunggu.
Tak ada siapa pun di sana. Aku dan Niko menunggu dengan sabar. Niko yang dari tadi seperti seorang bapak-bapak habis di PHK dan enggak dapet pesangon padahal listrik di rumah sudah menunggak. Maksudnya, pikirannya mendalam gitu, mulai mengeluarkan suara.
"Mmm. Ini. Kamu suka Hello Kitty, kan?"
__ADS_1
Dia menyodorkan sebuah sapu tangan yang terlihat murahan masih terbungkus rapi dengan plastik gocengan. Dia menatapku, menunggu reaksiku. Aku hanya terpana dengan mulut sedikit terbuka.
"Kalau enggak mau, ya udah."
Niko mengayun tangannya, hingga benda itu terbebas dari sorotanku. Aku segera tersadar dan merampasnya secepat kilat sebelum cowok itu mengangkat tangannya lebih tinggi dan sulit dijangkau olehku.
"Aku suka kok!"
Menatap berbinar, dan tawa lepas berderai dari bibirku.
Seketika waku berhenti. Mengernyitkan dahi, menyadari ada sesuatu berbeda darinya.
"Tapi, ini buat apa?" tanyaku penasaran juga dengan tingkahnya.
"Kamu suka Hello Kitty. Aku suka Bug's Bunny. Dulu sebelum punya Boy, aku punya kelinci, namanya Boy juga..."
Dia berbicara panjang lebar, berputar-putar keliling Monas tujuh kali. Aku menghentikannya segera sebelum aksi cerewet kambuhannya semakin mejadi.
"Tunggu dulu! Trus apa maksudnya kasih aku sapu tangan Hello Kitty?"
Dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Memutar matanya ke arah kiri. Mencari alasan?
"Bukan gitu. Gini gini, aku cuma ngerasa enggak enak aja, waktu itu kasih sapu tangan bekas, jadi aku kasih sapu tangan baru. Anggap aja hadiah pertemanan."
Aku terkejut. Bukan main. Fix Niko aneh banget kali ini.
"Hadiah pertemanan? Trus aku harus kasih kamu apa?"
Kalau dipikir lagi, aku gak pernah memberi apapun sama dia.
"Enggak perlu, aku kan cuma ngasih kamu."
"Gak bisa gitu dong." Aku memaksa. "Aku harus kasih juga. Ah, kalau gelang gimana?"
"Cowok enggak boleh pakai gelang."
"Mmm. Kalung?"
"Itu juga enggak boleh."
"Mmm. Cincin mau?"
"Ngapain kamu kasih cincin ke aku?"
Aku meringis sendiri. Iya ya pilihanku absurd banget deh.
"Jam tangan kamu udah punya. Trus apa dong?"
"Hmm Gak usah, Nirmala."
"Ah, aku tau, tunggu di sini!"
Aku bergerak cepat mencari toko perlengkapan terdekat. Setelah mendapat yang kumau, aku kembali ke tempat Niko berdiri, dan urung melakukannya karena teman-teman ternyata sudah berkumpul kembali.
Kami berbincang sekitar setengah jam sebelum satu-persatu memilih undur diri.
Aku mungkin harus menyimpannya untuk nanti.
__ADS_1
Tbc...