Kenangan

Kenangan
Chapter 7-Deceived


__ADS_3

Salah. Syarif tidak menghilang seperti saat terakhir kali. Senyumnya masih dapat kulihat saat aku membuka gerbang di pagi hari.


"Selamat pagi," sapaku.


Dia melambaikan tangan dan tersenyum kecil. Sepeda putih dalam genggamannya. Kembali seperti saat awal-awal sebelum dia berubah aneh dan menjauhiku.


Senyumku tak dapat kutahan tiap mengingat yang kukatakan hari itu.


"Jangan pergi. Aku... membutuhkan kamu."


Tanpa kusadari efek kehadirannya bukan hanya sekedar hanya pelengkap hari-hariku. Dia lebih dari sekadar itu.


Wajahku terlihat lebih bersinar dari biasanya. Syarif Syarif Syarif. Ahh i got mad of him.


Rasanya seperti mimpi, saat ia bilang akan mempertimbangkannya dan menepuk kepalaku kembali.


Seperti sebuah pengesahan, meski aku tak pernah mengatakan dengan jelas bahwa tentang perasaanku, tetapi dia tentu menyadari.


"Aku menyukai Syarif. Tidak, bukan begitu seharusnya. Ekspresiku tidak seperti itu." Aku menghela napas."Kenapa susah sekali hendak menyatakan perasaan?"


Aku menggerutu di depan cermin yang jadi lebih sering kulakukan belakangan ini. Ya, aku mungkin harus mengatakannya cepat atau lambat. Walaupun Syarif tidak akan pergi lagi. Aku merasa moodku sangat baik belakangan ini.


Kuputuskan menyudahi acara mengacaku pada wastafel kampus dan bergegas menemui Iriana untuk kelas yang sama.


"Putri!" Ia memanggilku dengan riang. Sepertinya suasana hatinya sedang baik.


"Putri kamu bilang apa sama Kak Syarif. Dia nyamperin aku, lalu minta maaf segala. Ya, aku masih sedih dia nolak aku, tapi aku gak nyangkan dia bakal minta maaf juga kan.


Aku sedikit tercengang sejujurnya. Otomatis otakku me-replay apa yang ia katakan hari itu.


"Kenapa, Put?"

__ADS_1


"Eh, enggak apa-apa kok. A-aku ikut senang kalau kamu lega."


Iriana tersenyum sangat lebar.


"Btw, kamu gak mendekati si kunyuk Syarif yang waktu itu kan? Aku sempat lihat kalian ngobrol di depan perpus."


Tampaknya aku harus membohongi Iriana. Bukannya memutus hubungan, kamu justru semakin dekat.


"I-iya kok. Tapi kami beneran cuma teman kok dan aku gak mau cari musuh dengan ngejauhin dia."


"Putri, kamu suka ya sama itu orang?"


"Apa? E-enggak kok."


"Aku enggak pingin lihat kamu kecewa, Put. Jadi mending jauhin dia."


Aku tidak memahami jalan pikiran Iriana. Apa hal yang bisa membuatku kecewa tentang Syarif?


Kami tengah bersiap-siap, ketika Syarif mendapat telepon dan memberi jarak sedikit jauh. Sepertinya telepon penting yang tak boleh kuketahui. atanpa sengaja ia menjatuhkan dompetnya. Aku berniat mengembalikannya, saat kemudian aku mendengar dia mengatakan sayang sayang dan tertawa. Aku jarang melihatnya tertawa, tetapi firasatku benar-benar tak enak.


Dompet Syarif kembali terjatuh, terbuka tepat di depan mataku. Sebuah foto yang membuatku hancur.


Tidak salah lagi. Syarif dalam balutan jas pengantin warna abu.


Dia sudah menikah?


Lututku mendadak lemas dan hatiku bak dipukul dengan keras.Untuk sekali ini aku berharap buta dan tak pernah melihatnya.


Siapa istrinya? Buru-buru aku mengeluarkan kartu lain yang bertumpuk menutupi foto pengantinnya.


"Putri?"

__ADS_1


Aku tercekat. Langsung menyembunyikannya di belakang punggung. Syarif tersenyum, lalu senyumnya berubah bingung mendapati ekspresi pucatku.


"Apa ada yang salah? Apa ada yang sakit?"


Aku hanya bungkam. Hampir saja aku akan mengatakan cinta pada suami orang.


Astaga! Apa maksud dari semua ini.


Syarif tak bisa menahan diri untuk tidak bertemu denganku. Dan juga pernikahan.


"A-aku ingin minum."


"Kamu mau minum lagi?"


"Tidak. Maksudku, aku mendapat telepon dan aku bingung."


"Apa yang terjadi?"


"Aku harus pulang sekarang. Juga... ini dompet, punya kamu atau bukan?"


"Ah, dompet. Terima kasih."


"Dah, aku pulang dulu."


"Tunggu, Putri tunggu!"


Aku berlari. Tak memedulikan panggilannya, hanya mengkayuh sepedaku dengan kecepatan tinggi. Air mataku deras, saat hujan kemudian juga datang dengan deras.


Rasanya tubuhku sangat lemas. tapi aku harus pergi sejauh mungkin darinya.


Selamat tinggal, Syarif.

__ADS_1


Tbc...


__ADS_2