
Sabtu pagi, aku sudah siap berangkat memenuhi janjiku pada Ana minggu ini.
Mengenakan dresscode Whitey Pinky, dari baju lengan panjang pink berbahan baby teri, celana kain putih kesukaanku, bando dan kuncir pita pink, sandal selop warna putih, dan terakhir sling bag berjaring
Beberapa langkah turun dari tangga, aku dihadang interogasi Mama.
"Mau kemana kamu udah dandan cantik pagi-pagi?" tanyanya dengan nada menyelidik. "Kok kamu jadi sering enggak di rumah sih, Dek? Enggak baik lo anak gadis keluyuran terus."
"Hmm. Mama apa sih. Sejak kapan aku jadi anak jalanan? Aku mainnya paling ke rumah Rani. Ini aku mau ke rumah Mama Mona."
"Oh iya, Mama lupa." Mama El cuma nyengir. Padahal dia sendiri yang menyuruhku pergi. "Ya udah, biar Farel yang nganter."
What? Ngajak kak Farel sama aja cari perkara.
"Aku gak mau ganggu semedinya Kak Farel. Biar aku dianter Pak Rudi aja ke stasiun."
Mama memberiku tatapan curiga.
Ini ada apa sih?
"Mama mau nitip keripik pisang kesukaan Ana. Bilang sama dia kalau di sini ada Mamanya juga." Mama terkekeh entah apa yang lucu. "Oh, tunggu deh tadi kayaknya Mama mau ngomong sesuatu. Bentar-bentar. Mmm... apa ya...."
Sambil mengingat-ingat, Mama mondar-mandir macem setrikaan.
"Aku udah telat, Ma. Aku pergi ya."
"An, sini!" Oma berteriak seolah aku ada di Papua, padahal jarakku dengan sofa hanya beberapa langkah.
Aku menghampiri Oma yang tampak mesem-mesem melihatku. Lalu, memperhatikan penampilanku dengan seksama.
Ini kenapa lagi? Apa ada upil nyangkut di hidungku atau ada bekas iler di pipiku?
__ADS_1
"Ada apa, Oma?"
"Enggak ada apa-apa. Oma baru sadar aja, ternyata cucuku cantik sekali."
Oma membelai pipiku penuh kasih. Ini ada apa sih? Kenapa semua orang jadi aneh begini?
"Kamu jadi ketemu sama-- Ouch, pinggangku."
"Mama!" pekik Mama El.
Oma mengaduh, membuat mama dan aku panik. Mama membimbingnya kembali duduk. Aku mengerjap, menyadari sesuatu ketika Oma mengedip ke arah mama penuh arti. Isyarat tersembunyikah?
"Oma gak apa-apa?"
"Enggak apa-apa. Biasa ini mah. Masalah lansia yang udah ngebet pingin ngeliat cicit."
Oma terkekeh kecil. Aku mengernyit bingung. Curiga akan ada sesuatu yang aneh-aneh selama perjalananku nanti.
"Ini, Oma mau nitip juga, ada baju kiriman dari Paris, kasih ke Mama Mona ya."
"An, kamu janjiannya kemana?"
"Jatim Park," balasku sekenanya.
***
Hanya membutuhkan 1,5-2 jam waktu perjalanan dengan kereta, aku sampai di stasiun kota Malang. Udara sejuk khas kota tersebut langsung memenuhi paru-paru. Aku mengenakan jaket, kurang terbiasa dengan cuacanya.
Di stasiun, aku disambut Mama Mona dan Ana. Mama Mona dengan tampilan luarbinasanya, kaos dan celan jeans gelandangan persis kayak Abege kurang jajan. Gak sadar umur banget.
Ana dengan setelan kemeja dan rok span. Kok berasa tuaan anaknya ya?
__ADS_1
Keduanya menghambur memelukku. Mama Mona yang paling erat padahal baru dua minggu lalu kami bertemu.
"Adoooh, anak Mama makin ayu saben hari ya. Sapa dulu Mamanya," ujar MaMon, sembari *n*guyel uyel mukaku.
"Mama El," celetuk Ana yang mendapat delikan dari Mamanya.
"Tapi kecipratan ASI Mami juga kan. Week."
Mama Mona menjulurkan lidahnya. Ana memutar bola matanya. Ampun deh, ini anak sama nyokap sudah seperti Tom and Jerry kalau bertemu.
"Udah, ah, aku laper nih," kataku menyela pertengkaran enggak penting mereka.
MaMon--panggilan buatanku menggamit lenganku dan berjalan cepat meninggalkan Ana di belakang.
Setelah sarapan bersama, aku menyerahkan titipan Mama dan Oma, main-main di kamar Ana, lalu bercerita beberapa hal.
Tepat pukul sembilan, Ana sudah berganti pakaian sesuai dresscode kami, sama persis sepertiku. Kami bertolak ke Jatim Park sesuai janji. Mama Mona gak bisa ikut karena ada urusan mendadak, jadi hanya ada aku dan Ana.
Terakhir kali aku kemari, sudah 5 tahun lalu. Ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki kembali ke Kota Batu. Banyak yang berubah tentunya.
Jatim Park 1 punya lumayan banyak wahana menarik, kami memilih yang aman-aman aja. Aman di sini, gak basah atau bikin keringetan, tetapi pilihan Ana yang memang kelewat obsesi sama permainan adu adrenalin enggak bisa kuajak kompromi.
Bah, lemas bangat ini badan.
Apesnya, bajuku kena tumpahan jus durian saat tak sengaja buru-buru mencari toilet. Bukannya minta maaf, ibu yang menabrakku malah marah. Aku menahan Ana yang hendak membalas. Kalau soal adu jontos anak MaMon satu ini memang pakarnya.
Akhirnya, aku memutuskan membeli kaos lengan panjang di bagian oleh-oleh, dan menggantinya di toilet cafe terdekat.
Ada yang aneh ketika aku membuka pakaian. Aku menemukan sesuatu seukuran kismis menempel di kerah bajuku
Apa ini?
__ADS_1
Hah! Alat penyadap?!
Tbc...