Kenangan

Kenangan
Flashback 25-Suka


__ADS_3

Aku bersungut-sungut, menghampiri Ana yang masih anteng duduk sembari menyesap minumannya.


Ini keterlaluan!


Aku enggak bisa mengerti apa tujuan mereka melakukan ini. Se-absurdnya Oma melakukan sesuatu, hari ini adalah yang terparah. Ana malah tertawa setelah mendengar ceritaku.


"Tuhan itu Maha Adil, ya. Coba dulu aku masih di posisi kamu, aku pasti sudah kabur dari dulu, enggak tahan sama sikap kelewat posesif Oma."


Ya, mana tahan kalau Ana di posisiku yang anak rumahan dan banyak aturan. Ana mungkin berpikir begitu, tapi menurutku itu adalah salah satu bentuk kepdulian mereka.


Opposite dengan Ana, aku juga tak dapat tahan pada kehidupan Ana yang serba bebas. MaMon yang seperti abege, akan punya ayah ketiga, sedangkan ayah kandungnya sendiri, hanya berkunjung sebulan sekali.


Aku terdiam ketika wajah Ana berubah menerawang.


"Aku tau yang kamu pikirin. Kita pulang sekarang? Kayaknya kamu udah enggak mood ya, mau ngelanjutin penjelajahan."


Aku mengangguk dan mendesah lelah. "Tapi, kita bisa ngobrol di sini dulu sebentar."


"Ya sudah."


Aku menghela napas, menyesap minuman, dan mengalihkan dengan makan makanan cepat saji yang kami beli. Biji kismis itu pun sudah kubuang ke tempat sampah.


"Putri, kamu pernah suka sama seseorang enggak?" Aku tersedak karena Ana yang tiba-tiba bersuara.


"Su-suka?"

__ADS_1


"Iya, aku rasa kita bia bicarakan soal itu. Apa pertanyaanku terlalu vulgar?"


"Bu-bukan gitu, Ann."


Melihatku yang tampak berpikir Ana langsung menyela. "Siapa namanya?" Aku bingung, antara mengatakannya atau tidak. "Ayolah, Putri. Aku tahu, kamu pasti lagi dekat sama cowok."


Aku menyampir rambut ke belakang telinga, mengalihkan mataku dari pandangan Anna.


"Aku enggak tahu. Aku enggak bisa membedakan apakaha aku menyukainya atau hanya sekadar mengagumi."


"Kenapa bisa?"


"Soalnya... dia jauh dari jangkauanku."


"Sejauh apa?"


Ana terbahak saat aku mengatakan kami. "Semoga berhasil, Putri."


Aku mengernyit bingung, untuk apa dia mendoakan hal yang mustahil.


"Enggak ada yang mustahil di dunia ini. dan by the way, aku lagi suka sama seorang cowok, Put. Dia teman masa kecilku, tetapi di satu sisi ada kakak kelas yang selalu jahil sama aku, begitu aku bilang aku menyukai temanku, dia marah-marah dan enggak ganggu aku lagi."


"Harusnya kamu bersyukur, kan."


"Enggak," tukas Anna.

__ADS_1


"Hah?"


"Kayanya aku baru sadar kalu aku juga suka dia."


"Gimana kamu tahu dia suka kamu? Dia kan juga gak bilang apa-apa."


"Putri, kamu gak peka."


Aku mendengkus dibuatnya. "Kalau gitu, kamu tinggal bilang kan, enggak ada apa-apa sama temen masa kecilmu."


"Aku suka melihat dia cemburu, itu yang bikin aku tahu, Putri."


Begitu, toh. Ana masih bercerita tentang kakak kelasnya, tanpa terasa kami malah menghabiskan satu jam lebih lama. Anna mengajakku pulang, karena MaMon sudah menelepon.


Ketika bangkit dari duduk, mataku menangkap sekelabat penampakaan Niko.


Ah, enggak mungkin dia di sini.


Aku berbalik memastikan, tetapi dia tidak ada di mana pun.


Apa sekarang aku jadi berhalusinasi? Taraf kesukaanku pada dia sepertinya sudah melebihi batas wajar. Sekarang aku bahkan melihatnya di manapun.


Ahh! Aku kenapa sih!


Ana langsung menarik lenganku yang masih membeku, dan sekali lagi, aku melihat penampakannya.

__ADS_1


***


Tbc....


__ADS_2