Kenangan

Kenangan
Chapter 14-Fakta Lapisan Pertama


__ADS_3

Kamar hijau mint lembut dengan banyak make up di meja rias yang


pertama kali tertangkap mataku. Bagaimana aku bisa sampai ke sini,


aku juga tak tahu. Yang kuingat, saat aku diminta masuk ke ruangan,


aku memilih berbalik pulang dan menelpon seseorang. Dan di sinilah


aku, tiba di kamar yang bukan kamarku.


 


 


Aku memindai sekeliling. Banyak bunga berjajar di jendela kecil di


sebelah tempat tidur dekat nakas kecil tempat lampu. Dan sebuah foto.


Kuambil untuk mengingat kembali di rumah siapa diriku saat ini.


 


 


Rani. Benar juga. Tadi aku menelponnya, memintanya menjemputku


dalam keadaan menyedihkan. Psikisku sangat labil saat ini.


Sampai-sampai harus mengganggu orang lain. Aku menghela napas lelah


dan hendak mengembalikan frame tersebut ke tempatnya. Baru


kuperhatikan, foto itu adalah foto Rani bersama seorang pria.


Keduanya berpakaian mantel tebal dengan background salju, tersenyum


ke arah kamera.


 


 


Siapa laki-laki ini? Apakah… tidak mungkin ini pacarnya, kan?


Lalu, bagaimana dengan Syarif?


 


 


Di dinding tidak ada satu pun poto lain yang dapat menjelaskannya.


Jadi, sebenarnya asumsiku selama ini salah.


 


 


Ah, aku menemukannya! Sebuah foto lain di tengah lemari bufet


berisi tas. Aku baru tahu bahwa Rani sangat suka mengoleksi tas.


Kulihat frame foto itu lebih dekat. Seperti poto pesta kelulusan


sekolah. Aku tersenyum kecil. Mungkin ini bisa membangkitkan memori


SMAku kembali.


 


 


Kurinci wajah mereka satu per satu, sebagian besar tak dapat


kukenali. Bahkan diriku saja tidak ada. Dahiku mengerut. Tidak ada


aku di dalamnya, apa kami berbeda kelas? Dan Jantungku berhenti


berdetak karena terkejut mendapati wajah yang sangat familier di


dalmnya. Syarif!


 


 


Jadi, kami pernah satu sekolah?


 


 


Entah ini karena aku yang kurang memperhatikan atau aku memang


sangat arang bergaul dan mengenal teman-teman sekolahku. Pintu


tiba-tiba terbuka, segera kuletakkan foto itukembali ke asalnya.


 


 


“Kamu sudah bangun, Putri.” Rani tersenyum manis, rambutnya


tergerai. Potongannya lebih pendek dari terakhir kuketahui. “Sudah


mendingan?”


 


 


“I-iya. Makasih banyak ya, Ran.”


 


 


“Enggak apa-apa, Putri. Aku senang karena akhirnya kamu


mengingatku saat kamu butuh sesuatu.”


 


 


Eh? Seingatku kami tidak sedekat itu, meski Rani hanya


satu-satunya temanku di sekolah, aku bahkan belum pernah ke rumahnya


atau berbagi rahasia dengannya.


 


 


“Ayo turun dulu, kita bicara sambil minum teh.”


 


 


Kami akhirnya turun, aku merasa sedikit mengenali tempat ini,


padahal seingatku ini yang pertama kali. Aku seolah tahu di bagian


dinding kanan adalah kamar-kamar, lalu di dekat ruang tengah memutar


sedikit ada dapur dan meja makan. Di atas ada kamar lain, saat aku


mencoba mengingatnya aku mendapatkan penglihatan tentang seorang pria


yang tidur. Tidak jelas wajahnya, hanya punggung dan tubuhnya yang


tinggi karena kakinya sedikit melewati ukuran ranjang.


 


 


“Rani, aku boleh tanya sesuatu? Tapi tolong jangan tertawa.”


Rani megerutkan dahi.


 

__ADS_1


 


“Ada apa memangnya?”


 


 


“Aku sekilas melihatnya. Kamu tinggal sama siapa? Apa ada cowok


yang selalu tidur di kamar atas?


 


 


Rani bereaksi tawa.


 


 


“Bukannya aku sudah bilang jangan ketawa.”


 


 


“Sorry, abisnya ternyata kamu masih ingat ya sama Reno.”


 


 


Ingat? Reno?


 


 


“Siapa Reno?”


 


 


Rani terdiam, matanya yang awalnya bingung berganti memaklumi dan


kembali dengan senyumnya.


 


 


“Sahabat masa kecilku, dia sering nginep di sini.”


 


 


“Oh gitu. Aku keinget dia pasti karena pernah ketemu dia.”


 


 


Aku pikir juga begitu, ini mungkin karena kami jarang bertemu atau


bertegur sapa sehingga aku jadi perlahan melupakan mereka.


 


 


“Duduklah, kamu bilang mau cerita sesuatu, bukan?”


 


 


Aku duduk di sofa panjang, memilin jari-jariku, tanpa sadar


menyampirkan rambutku ke belakang telinga.


 


 


masih mengepul ke dalam cangkir.


 


 


Kuperhatian uapnya seperti memberi kehangatan, seketika membuatku


lebih mudah bicara.


“Aku...minta maaf jika sudah mengganggu kamu, Ran. Ya, aku tahu


kita enggak sedekat itu untuk berbagi rahasia, tetapi aku enggak tahu


lagi harus menceritakannya sama siapa.”


 


 


Aku menengadah, menatap langit-langit menahan air mataku tumpah.


Sangat melelahkan untuk terus-terusan menangis, aku harus lebih tegar


menghadapinya.


 


 


“Itu enggak benar, Putri.”


 


 


“Ya?” Aku menoleh ke arah Rani yang menyela.


 


 


“Kita… sangat dekat, Putri. Kamu bahkan sering menginap di


rumahku. Dan karena kamu juga aku berubah menjadi lebih baik. Kamu


sahabatku.” Pernyataan Rani membuatku menatapnya lekat. Dia


tersenyum sedih.


 


 


Aku masih tidak tahu bagaiamana merespon. Aku bahkan tidak


mengingat secara jelas. Dan sekarang aku jadi itu alasan tempat ini


sedikit familier.


 


 


“Aku?”


 


 


“Iya. Karena kamu juga aku pakai kerudung.”


 


 


Karenaku?

__ADS_1


 


 


Rani menatapku dengan yakin.


 


 


“Apa aku melupakan banyak hal? Kenapa aku enggak bisa


mengingatnya, Ran?


Ini aneh. Aku juga baru tahu kalau Syarif juga ada di sekolah


yang sama. Dan pria di foto dengan kamu rasanya tidak asing. Aku


tidak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi padaku?” Berbagai macam


perasaaan berputar-putar di benakku. Rani menggenggam tanganku


 


 


“Putri tenang. Perlahan-lahan kamu juga pasti bisa


mengingatnya.”


“Rani, bilang padaku, apa aku... mengalami semacam hilang


ingatan?”


 


 


Rani terlihat ragu untuk bicara. “Putri, maafkan aku. Ini bukan


hakku untuk mengatakannya. Jadi kamu bersabarlah tidak akan lama lagi


kamu pasti akan mengerti.”


 


 


Air mataku bergilir turun. “Kamu juga.”


 


 


“Putri maaf.”


 


 


“Kamu juga membohongiku. Ada apa dengan kalian? Lalu, siapa yang


harus kupercayai?!”


Aku menghempaskan genggaman Rani, bangkit dengan terburu-buru.


Kakiku terselip karpet dan jatuh. Aku tak bisa menghentikan tangisku,


Rani langsung memelukku, kami menangis bersama.


 


 


“Putri, kamu harus percaya padaku. Semua orang juga berpikir ini


yang terbaik untuk kamu. Kami tidak ingin membebani kamu, jadi jangan


menangis lagi. Bagaimanapun semua yang mencintai kamu tetap akan ada


di sisi kamu.”


 


 


Aku membalas lebih erat pelukan Rani. Aku sangat mengerti


perasaanku dan tangisku saat ini bukan hanya sebab kenyataan yang


baru kuketahui.


 


 


“Aku hamil, Ran.”


 


 


“Hah? Kamu apa?” Rani mengurai pelukan kami. Dia tampak shock.


 


 


“Aku bingung harus bagaimana. Apa yang harus kulakukan?”


 


 


“Putri….” Rani memeluk kembali. Yang sejujurnya memberiku


lebih banyak kekuatan. “Siapa dia? Bilang sama aku, Put.”


 


 


“Dia….”


 


 


Ketukan di pintu menginterupsi pembicaraan kami. Aku melepas


pelukan, rani membawaku duduk dan menyodorkan minum, memintaku tenang


selama dia melihat siapa yang datang. Rani memasang jilbabnya dan


berlalu.


 


 


Aku menghela napas panjang, lalu menyesap minumanku. Aku perlu ke


kamar mandi, pikirku.. tidak mungkin menghadapi tamu dengan


penampilanku yang seperti ini. Saat hendak ke kamar mandi aku


menjatuhkan frame foto lain. Sekumpulan anak laki-laki mengenakan


kaos tim basket. Mataku tercekat pada sosok seorang di dalamnya.


 


 


Seperti mengupas lapisan bawang, satu per satu kenyataan semakin


terlihat.


 


 


Aku mengurungkan niatku dan memutuskan menanyai Rani, tidak bisa


tidak, kali ini aku harus tahu alasannya. Rani terlihat berbicara

__ADS_1


dengan seseorang. Langkahku tersendat karena mengenali pemilik suara yang sangat tak ingin kutemui saat ini,


Syarif.


__ADS_2