
Kamar hijau mint lembut dengan banyak make up di meja rias yang
pertama kali tertangkap mataku. Bagaimana aku bisa sampai ke sini,
aku juga tak tahu. Yang kuingat, saat aku diminta masuk ke ruangan,
aku memilih berbalik pulang dan menelpon seseorang. Dan di sinilah
aku, tiba di kamar yang bukan kamarku.
Aku memindai sekeliling. Banyak bunga berjajar di jendela kecil di
sebelah tempat tidur dekat nakas kecil tempat lampu. Dan sebuah foto.
Kuambil untuk mengingat kembali di rumah siapa diriku saat ini.
Rani. Benar juga. Tadi aku menelponnya, memintanya menjemputku
dalam keadaan menyedihkan. Psikisku sangat labil saat ini.
Sampai-sampai harus mengganggu orang lain. Aku menghela napas lelah
dan hendak mengembalikan frame tersebut ke tempatnya. Baru
kuperhatikan, foto itu adalah foto Rani bersama seorang pria.
Keduanya berpakaian mantel tebal dengan background salju, tersenyum
ke arah kamera.
Siapa laki-laki ini? Apakah… tidak mungkin ini pacarnya, kan?
Lalu, bagaimana dengan Syarif?
Di dinding tidak ada satu pun poto lain yang dapat menjelaskannya.
Jadi, sebenarnya asumsiku selama ini salah.
Ah, aku menemukannya! Sebuah foto lain di tengah lemari bufet
berisi tas. Aku baru tahu bahwa Rani sangat suka mengoleksi tas.
Kulihat frame foto itu lebih dekat. Seperti poto pesta kelulusan
sekolah. Aku tersenyum kecil. Mungkin ini bisa membangkitkan memori
SMAku kembali.
Kurinci wajah mereka satu per satu, sebagian besar tak dapat
kukenali. Bahkan diriku saja tidak ada. Dahiku mengerut. Tidak ada
aku di dalamnya, apa kami berbeda kelas? Dan Jantungku berhenti
berdetak karena terkejut mendapati wajah yang sangat familier di
dalmnya. Syarif!
Jadi, kami pernah satu sekolah?
Entah ini karena aku yang kurang memperhatikan atau aku memang
sangat arang bergaul dan mengenal teman-teman sekolahku. Pintu
tiba-tiba terbuka, segera kuletakkan foto itukembali ke asalnya.
“Kamu sudah bangun, Putri.” Rani tersenyum manis, rambutnya
tergerai. Potongannya lebih pendek dari terakhir kuketahui. “Sudah
mendingan?”
“I-iya. Makasih banyak ya, Ran.”
“Enggak apa-apa, Putri. Aku senang karena akhirnya kamu
mengingatku saat kamu butuh sesuatu.”
Eh? Seingatku kami tidak sedekat itu, meski Rani hanya
satu-satunya temanku di sekolah, aku bahkan belum pernah ke rumahnya
atau berbagi rahasia dengannya.
“Ayo turun dulu, kita bicara sambil minum teh.”
Kami akhirnya turun, aku merasa sedikit mengenali tempat ini,
padahal seingatku ini yang pertama kali. Aku seolah tahu di bagian
dinding kanan adalah kamar-kamar, lalu di dekat ruang tengah memutar
sedikit ada dapur dan meja makan. Di atas ada kamar lain, saat aku
mencoba mengingatnya aku mendapatkan penglihatan tentang seorang pria
yang tidur. Tidak jelas wajahnya, hanya punggung dan tubuhnya yang
tinggi karena kakinya sedikit melewati ukuran ranjang.
“Rani, aku boleh tanya sesuatu? Tapi tolong jangan tertawa.”
Rani megerutkan dahi.
__ADS_1
“Ada apa memangnya?”
“Aku sekilas melihatnya. Kamu tinggal sama siapa? Apa ada cowok
yang selalu tidur di kamar atas?
Rani bereaksi tawa.
“Bukannya aku sudah bilang jangan ketawa.”
“Sorry, abisnya ternyata kamu masih ingat ya sama Reno.”
Ingat? Reno?
“Siapa Reno?”
Rani terdiam, matanya yang awalnya bingung berganti memaklumi dan
kembali dengan senyumnya.
“Sahabat masa kecilku, dia sering nginep di sini.”
“Oh gitu. Aku keinget dia pasti karena pernah ketemu dia.”
Aku pikir juga begitu, ini mungkin karena kami jarang bertemu atau
bertegur sapa sehingga aku jadi perlahan melupakan mereka.
“Duduklah, kamu bilang mau cerita sesuatu, bukan?”
Aku duduk di sofa panjang, memilin jari-jariku, tanpa sadar
menyampirkan rambutku ke belakang telinga.
masih mengepul ke dalam cangkir.
Kuperhatian uapnya seperti memberi kehangatan, seketika membuatku
lebih mudah bicara.
“Aku...minta maaf jika sudah mengganggu kamu, Ran. Ya, aku tahu
kita enggak sedekat itu untuk berbagi rahasia, tetapi aku enggak tahu
lagi harus menceritakannya sama siapa.”
Aku menengadah, menatap langit-langit menahan air mataku tumpah.
Sangat melelahkan untuk terus-terusan menangis, aku harus lebih tegar
menghadapinya.
“Itu enggak benar, Putri.”
“Ya?” Aku menoleh ke arah Rani yang menyela.
“Kita… sangat dekat, Putri. Kamu bahkan sering menginap di
rumahku. Dan karena kamu juga aku berubah menjadi lebih baik. Kamu
sahabatku.” Pernyataan Rani membuatku menatapnya lekat. Dia
tersenyum sedih.
Aku masih tidak tahu bagaiamana merespon. Aku bahkan tidak
mengingat secara jelas. Dan sekarang aku jadi itu alasan tempat ini
sedikit familier.
“Aku?”
“Iya. Karena kamu juga aku pakai kerudung.”
Karenaku?
__ADS_1
Rani menatapku dengan yakin.
“Apa aku melupakan banyak hal? Kenapa aku enggak bisa
mengingatnya, Ran?
Ini aneh. Aku juga baru tahu kalau Syarif juga ada di sekolah
yang sama. Dan pria di foto dengan kamu rasanya tidak asing. Aku
tidak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi padaku?” Berbagai macam
perasaaan berputar-putar di benakku. Rani menggenggam tanganku
“Putri tenang. Perlahan-lahan kamu juga pasti bisa
mengingatnya.”
“Rani, bilang padaku, apa aku... mengalami semacam hilang
ingatan?”
Rani terlihat ragu untuk bicara. “Putri, maafkan aku. Ini bukan
hakku untuk mengatakannya. Jadi kamu bersabarlah tidak akan lama lagi
kamu pasti akan mengerti.”
Air mataku bergilir turun. “Kamu juga.”
“Putri maaf.”
“Kamu juga membohongiku. Ada apa dengan kalian? Lalu, siapa yang
harus kupercayai?!”
Aku menghempaskan genggaman Rani, bangkit dengan terburu-buru.
Kakiku terselip karpet dan jatuh. Aku tak bisa menghentikan tangisku,
Rani langsung memelukku, kami menangis bersama.
“Putri, kamu harus percaya padaku. Semua orang juga berpikir ini
yang terbaik untuk kamu. Kami tidak ingin membebani kamu, jadi jangan
menangis lagi. Bagaimanapun semua yang mencintai kamu tetap akan ada
di sisi kamu.”
Aku membalas lebih erat pelukan Rani. Aku sangat mengerti
perasaanku dan tangisku saat ini bukan hanya sebab kenyataan yang
baru kuketahui.
“Aku hamil, Ran.”
“Hah? Kamu apa?” Rani mengurai pelukan kami. Dia tampak shock.
“Aku bingung harus bagaimana. Apa yang harus kulakukan?”
“Putri….” Rani memeluk kembali. Yang sejujurnya memberiku
lebih banyak kekuatan. “Siapa dia? Bilang sama aku, Put.”
“Dia….”
Ketukan di pintu menginterupsi pembicaraan kami. Aku melepas
pelukan, rani membawaku duduk dan menyodorkan minum, memintaku tenang
selama dia melihat siapa yang datang. Rani memasang jilbabnya dan
berlalu.
Aku menghela napas panjang, lalu menyesap minumanku. Aku perlu ke
kamar mandi, pikirku.. tidak mungkin menghadapi tamu dengan
penampilanku yang seperti ini. Saat hendak ke kamar mandi aku
menjatuhkan frame foto lain. Sekumpulan anak laki-laki mengenakan
kaos tim basket. Mataku tercekat pada sosok seorang di dalamnya.
Seperti mengupas lapisan bawang, satu per satu kenyataan semakin
terlihat.
Aku mengurungkan niatku dan memutuskan menanyai Rani, tidak bisa
tidak, kali ini aku harus tahu alasannya. Rani terlihat berbicara
__ADS_1
dengan seseorang. Langkahku tersendat karena mengenali pemilik suara yang sangat tak ingin kutemui saat ini,
Syarif.