
Aaah... kepalaku berdenyut lelah setelah melewati malam tanpa tidur sama sekali.
Pagi itu, trio boys memang langsung kembali pulang setelah shubuh. Rani masih membutuhkan istirahat dan memaksaku untuk tetap masuk sekolah. Padahal, kukira akan meliburkan diri dan balas dendam dengan tidur sampai siang. Setengah mengancam ia membangunkanku. Aku kalah, anak itu memang tak bisa dibantah.
Jadi, setelah membuatkannya sarapan dan makan siang, di sinilah aku, mendapat bimbingan pelajaran dengan mata berkedut dan pikiran berkelana ke antah berantah.
Hembusan AC seperti membelaiku untuk menempelkan kepala ke atas meja. Semua murid sedang berada di perpustakaan. Menyalin dan menggenapi buku tugas Bahasa Indonesia lalu mengirimkannya melalui surel kepada guru mapel kami.
Lagi-lagi pikiranku tak bisa lepas pada malam itu. Rasa kagum yang membuncah begitu juga rasa sakit dan malu, karena dikhianati ketidakberdayaan kembali menderaku.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah tiga pagi, ketika aku menuruni tangga untuk menenangkan diri. Tak sengaja melewati kamar the boys yang terbuka, di dalam hanya ada Rangga yang mendominasi ranjang dan Reno yang terhimpit sampai ke tepi.
Rangga si ajaib itu, bahkan saat tidur pun masih aja bertingkah. Aku tertawa kecil dan kembali melanjutkan langkahku ke lantai bawah untuk membuat camilan. Tidak seperti di rumah, mana boleh aku makan mie pukul tiga malam.
Ketika sampai di ruang keluarga, aku justru menemukan Niko tengah khusyu', duduk di atas hamparan sajadah dengan muka yang memerah seperti habis menangis. Di tangannya ada buku kecil... eh, bukan buku, itu Al-Qur'an kan?
Dia melakukan gerakan mengusap pipinya. Ya Tuhan, dia menangis? Ini pengalaman pertamaku mendapatinya menangis. Perasaanku campur aduk mengamatinya.
Dia tergugu ketika melantunkan dari yang kudengar ayat seperti "Wa ashhabusssyimal" dan seterusnya.
Lantunan ayat yang cukup panjang, tapi seolah menarikku untuk mendengar lebih lama.
Ketika dia selesai dan memulai sepertinya surah yang berbeda, wajahnya lebih tenang dan cerah. Dari yang kudengar ada ayat yang di ulang berkali-kali seperti "Fabiayyi alaai robbikuma tukadzdziban" memikatku untuk mendengar suara merdunya lebih lama.
Aku terpaku dengan pemandangan di hadapanku. Menyadari ada jurang yang begitu besar diantara kami. Membantingku pada kenyataan bahwa dia berbeda, kami berbeda. Seujung kuku pun aku merasa tak pantas untuk memiliki perasaan ini. Dia yang sholeh, tentu punya kriteria yang sama dengannya.
Hal ini menciutkan kepercayaan diriku yang sering menyia-nyiakan waktu setiap kali pelajaran mengaji yang telah mama fasilitasi. Malu tiba-tiba dengan makna ayat yang kini menjadi ayat favoritku.
Nikmat Tuhan yang mana lagi yang kamu dustakan?
Nikmat kesehatan, keselamatan, kebahagiaan, dan tak terhitung jumlahnya adalah bukti Tuhan Yang Maha Baik tak pernah pamrih menyantuni hamba-NYA yang selalu lalai, selalu lupa, dan begitu serakah, merasa bahwa semua kebaikan yang kita dapat dari usaha kita sendiri.
Malu karena telah menyia-nyiakan waktu selama 17 tahun ini dengan hal yang kurang perlu. Sepertinya aku harus mulai belajar mengaji.
__ADS_1
"Putri. Kamu denger kan yang aku omongi?" Suara Syarif yang berceloteh entah tentang apa, karena sedari tadi pikiranku sibuk mengembara, mengembalikanku pada kenyataan.
"Eh, i-iya. Kamu mau tanya apa tadi?"
Dia tersenyum. Untung jawabanku tak melenceng. Bikin enggak enak hati nantinya.
"Ah, Putri. Jadi, dari tadi aku ngomong sama raganya doang nih?"
Gubrak. Jadi salah ya?
"Kamu ada masalah?"
"E-enggak ada kok, aku cuma kelelahan aja abis begadang." Ini alasan bener tapi gak bener-bener amat.
Aku mengalihkan perhatianku pada laptop, kembali mengetik seperti pegawai kantor dikejar deadline, taruhannya potong gaji.
"Aku suka deh liat kamu pas lagi serius." Dia tersenyum penuh arti. Aku menundukkan kepala lebih dalam. Geli aja dia ngomong begitu. "Kamu ngingetin aku sama seseorang."
Aku tertawa kecil untuk menyembunyikan kegugupanku. Beneran deh ini anak bikin aku enggak nyaman aja.
"Mungkin enggak, tapi kamu ngingetin aku dengan kebiasaan kamu begitu."
Dia menunujuk gerakan merapikan rambut kebelakang telinga yang sudah menjadi kebiasaanku ketika merasa gugup. Aku makin gugup sekarang.
"Ah, bisa sama gitu ya," kataku menenangkan diri.
"Put, aku mau tanya boleh?"
"Hmm?"
"Kamu mau gak... mmm... maksudku gimana pendapat kamu tentang nikah muda?"
Dan dia membuatku mendongak sepenuhnya.
__ADS_1
Aku melihat sekeliling, anak-anak masih sibuk sendiri. Menatapnya lagi. Kali ini dia serius.
Beda dengan Niko yang ragu-ragu, bicara tanpa menatap lawan bicaranya, kecuali pada laki-laki. Syarif tidak akan ragu bahkan memperlihatkan tatapan memuja dan berharap.
Terbesit niat jahil, seperti memberi tantangan pada cowok di hadapanku ini. Jika jawaban yang diberikannya sesuai dengan keinginanku, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk melepas perasaanku pada Niko--yang terlalu jauh untuk di jangkau--dan memberikan kesempatan padanya. Toh, Syarif yang kuperhatikan bukan anak yang nakal.
"Mmm. Itu pikiran kolot banget 'kan ya, masa perempuan cuma bakal di rumah ngurus kerjaan rumah tangga sama anak. Dipikirnya perempuan akhirannya juga kawin, gak perlu sekolah tinggi. Persis sama pikiran Omaku. Kalau menurut kamu gimana?" tanyaku memancing reaksinya.
Sangat berbeda dari jawaban Niko, yang mungkin hanya akan dibenarkan kaum konservatif dan anak alim. Kedewasaan dan bagaimana Niko menempatkan diri menjadi bagian dari masalah dan memecahkan kepelikan dengan bijak. Sungguh aku tak bisa berhenti untuk mengagumi.
Dan seolah terlempar kembali pada saat pertanyaan yang sama ku ajukan.
"Kamu tau, Bluffy ternyata udah menikah dan udah bunting sama si Doyok, kucing tetangga. Padahalkan dia masih muda, apa jangan-jangan Omanya Bluffy yang nyuruh ya? Sama kayak Omaku, pikirannya kolot."
Dia mengernyit bingung dengan pernyataanku.
"Pertama, aku mau tanya. Memang Bluffy punya nenek, ya? Dan lagi menurutku Oma kamu gak kolot kok, justru berpikiran maju."
"Hah? Apaan? Kok bisa sih?"
Dia tersenyum manis sekali.
"Pernah enggak kamu denger perkataan'di balik kesuksesan seorang pria ada wanita hebat di belakangnya?' Meskipun dibalik layar, wanita mampu merubah dunia. Jadi salah kalau kamu berpikir dengan hanya di rumah kamu merasa tidak ambil bagian, karena justru kalian kunci dari pencapaian mereka.
"Kamu tau, menyegerakan pernikahan itu anjuran. Banyak manfaatnya. Menjaga kehormatan, menjadi ladang pahala juga, karena setiap tetes keringat yang dihasilkan dari pekerjaan rumah menjadi tabungan pahala untuk kalian para wanita di akhirat. Belum lagi kemuliaan menjadi seorang Ibu. Wanita itu telah mulia sesuai kodratnya, jadi gak perlu disamakan dengan dalih kesetaraan gender yang jelas berbeda.
"Banyak orang salah memahami. Menganggap emansipasi dengan hal-hal kebablasan, padahal harusnya emansipasi dimaksudkan untuk membantu para wanita mendapatkan hak yang sesuai porsi. Coba deh bayangin kalo yang ngelahirin itu pria, memang akan ada manusia hidup di muka bumi? Enggak. Wanita itu ditakdirkan lemah lembut, cakap dan multiprofesi, bisa segala hal bahkan tanpa belajar di sekolah. Masalah muda atau tua, kedewasaan itu tak dapat diukur dengan usia. Dah itu aja."
"Mmm. Iya juga sih," jawab Syarif pasrah.
Aku menunggu kelanjutan jawaban Syarif, tapi selesai hanya sampai di situ. Sekali lagi aku harus menelan kecewa. Karena bukannya menyangkal, dia justru membenarkan. Jawabannya terkesan manut. Dia hanya ingin tau jawabanku iya atau tidak dan tak ingin membahas lebih jauh atau sekedar meluruskan pandanganku. Huuf bikin Kzl.
Tapi sekarang aku jadi tahu, bahwa Niko memang tak terganti. Sosok sempurna yang membuat hatiku jumpalitan tak keruan. Dan aku benar-benar butuh bantuan, sebelum jatuh terlebih dalam. Help!
__ADS_1
Keesokannya aku menceritakan perihal mengaji kepada Abel, yang disambut dengan penawaran antusias olehnya. Tentu saja kuambil, daripada orang lain, lebih baik teman sendiri, kan?
Tbc....